A Dominant

A Dominant
Ketakutan Hana



Ares terus menatap Hana dan Hana melangkah ke belakang dengan pelan dan ragu-ragu.


Ares mengerutkan alisnya dan bertanya ke Hana, "Kau kenapa?" Ares melangkah maju untuk mendekati Hana dan Hana langsung berputar badan dan berlari.


Mirna hendak mengejar Hana dan Ares langsung berteriak, "Kau di sini aja! Biar aku yang mengejar Hana"


Leon bersitatap dengan Mirna untuk sepersekian detik lalu ia menoleh ke Wulan, "Aku akan pulang. Jadwalkan lagi meetingku dengan Ares Laco dan kabari aku!"


"Baik, Tuan Leonard Buana" Sahut Wulan.


Ares berlari kencang mengejar Hana dan berhasil menangkap lengannya Hana lalu menarik Hana untuk berputar menghadap dia, "Kenapa kau berlari?"


Hana menarik lengannya lalu mundur selangkah dan menatap Ares dengan tubuh bergetar dan sorot mata ketakutan.


"Kamu takut padaku?" Ares menatap Hana dengan sorot mata sedih.


Hana melangkah mundur lagi ke belakang sambil menganggukkan kepalanya.


"Kenapa? Apa yang membuatmu takut padaku?"


"Se...semua yang aku lihat tadi, Mas. Aku takut kalau aku tidak bisa takluk dan menjadi submissive-mu yang sangat penurut seperti wanita tadi. Apa yang akan Mas lakukan padaku? Mas akan mengirimku ke penjara atau Mas akan mengirimku ke rumah sakit jiwa. Oh! Tidak, tidak!" Hana menggeleng-gelengkan kepalanya, "Apa Mas, akan membunuhku?"


Ares melangkah maju dan Hana langsung berteriak ketakutan, "Jangan dekati aku, Mas!"


Ares merasa sangat sedih melihat Hana takut padanya dan menoleh untuk ia dekati.


"Aku tidak bisa menjadi seperti wanita tadi, Mas. Aku ini manusia bukan kucing yang harus selalu menurut dan takluk pada tuannya. Aku tidak mau jadi seperti wanita tadi, Mas" Hana mulai mengeluarkan air mata dan isak tangisnya.


Ares menghela napas panjang sambil meraup kasar wajah tampannya. Kemudian dia berucap, "Aku sudah bilang ke kamu kalau aku bukan orang baik. Aku juga udah cerita ke kamu tentang masa laluku dan........."


"Dan Mas nggak cerita soal wanita-wanita di luar sana yang pernah menjadi Submissive kamu Mas" Hana berteriak kesal ke Ares.


"Karena mereka adalah masa lalu. Mereka sudah nggak penting lagi bagiku. Bahkan aku nggak pernah menikahi mereka. Tiga bulan kontrak selesai, aku putuskan hubunganku dengan mereka"


"Berapa orang Mas?"


"Sudah lima tahun aku menjadi dominan. Kau bisa hitung sendiri ada berapa jika tiap tiga bulan, aku berganti wanita" Sahut Ares dengan wajah lesu. Karena, baru pertama kalinya bagi Ares, dia merasa sedih melihat wanitanya sedih, ia merasa kecewa dan membenci dirinya sendiri saat ia melihat wanitanya menangis dan itu akibat dari perbuatannya.


Hana tersenyum lalu berkata, "Ternyata banyak juga wanita di masa lalu kamu, Mas. Dan akan ada kejutan apalagi yang akan aku terima setelah ini?"


"Aku berjanji padamu, tidak akan ada lagi kejutan. Aku bahkan sudah tidak pernah menemui mereka semua. Mereka semua hanyalah masa lalu bagiku, Hana"


"Lalu apa yang akan terjadi padaku setelah dua tahun kontrak pernikahan kita selesai, Mas? Aku terlalu muda untuk berpikir lebih jauh saat aku menandatangani kontrak pernikahan kita. Tapi, kejadian barusan membuka mataku, Mas. Kalau kontrak kita selesai, aku akan jadi janda dan apa yang akan terjadi pada Nenek? Nenek akan shock. Lalu, apa gunanya juga bagi kita untuk saling belajar mengenal cinta dan apa..........."


Ares melihat Handoko melangkah ke arahnya dan Ares langsung berteriak, "Han! Ambilkan kontrak pernikahanku dengan Hana sekarang juga! Ada di laci mejaku!"


Handoko menganggukkan kepalanya dan segera berbalik badan kemudian berlari menuju ke ruang kerjanya Ares Laco.


Hana berdiri mematung dan membisu di depannya Ares dengan derai air mata dan isak tangis


Ares melangkah mendekati Hana dan entah kenap, Hana tidak sanggup lagi berlari dari Ares.


Ares berhasil mendekap Hana dan sambil mengelus punggungnya Hana ia berucap, "Jangan menangis! Aku mohon Hana, jangan menangis! Aku tidak sanggup melihatmu menangis seperti ini"


Hana diam mematung dan membisu tanpa kata, namun air matanya semakin deras mengalir dan isak tangisnya semakin kencang.


Ares mendekap Hana semaki erat dan ia menciumi pucuk kepalanya Hana sambil berucap, "Maafkan aku, Hana?! Aku bersumpah! mulai detik ini, aku nggak akan membuatmu menangis lagi"


Handoko datang dengan terengah-engah sembari membawa sebuah map mewah berwarna merah. "Maaf Tuan, Ini kontrak pernikahan Anda dengan Nyonya"


Hana tersentak kaget dan langsung menarik diri dari dalam pelukannya Ares, "Apa maksud, Mas?"


Hana melihat Handoko merobek kontrak pernikahan dia dengan Ares Laco.


Ares mengusap air mata di kedua pipinya Hana sambil berucap, "Han sudah merobek kontrak kita. Jadi, kita akan menikah untuk selamanya. Bukan hanya untuk dua tahun. Kita nggak akan pernah bercerai dan kamu nggak akan pernah jadi janda"


"Be...benarkah? Mas serius?"


Ares menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat dan menatap Hana penuh dengan keseriusan.


Handoko yang masih berdiri di depannya Hana dan Ares, tersenyum lebar dan hatinya merasa bahagia, Bos besarnya bisa berubah menjadi manusia normal.


"Tapi kenapa, Mas? Mas nggak akan menyesal hidup seatap denganku seumur hidup?"


"Aku nggak akan menyesal. Aku akan terus belajar mengenal cinta bersama denganmu. Dan aku hanya ingin belajar mengenal cinta denganmu bukan dengan yang lainnya"


"Kenapa, Mas?"


"Karena belajar denganmu lebih mengasyikan. Dan aku nggak mau kamu jauh dariku. Aku pikir rasa itu cukup menjadi jaminan kalau aku nggak akan menyesali keputusanku ini. Kita akan hidup seatap seumur hidup sambil terus belajar mengenal cinta"


Hana langsung tersenyum lebar dengan sorot mata berbinar-binar. Lalu Hana bertanya, "Kalau aku tidak bisa jadi seperti wanita tadi?"


Ares langsung menangkup wajahnya Hana, "Kau hanya cukup menjadi dirimu. Aku menyukai kamu apa adanya"


"Mas serius?"


"Hmm. Aku sangat serius"


"Lalu apakah sekarang, aku boleh menyentuh Mas? Aku ingin memeluk Mas dan menyentuh dada, Mas"


"Maaf. Aku masih perlu waktu untuk yang satu itu. Tapi, aku janji tidak lama lagi, aku akan belajar untuk menerima sentuhanmu"


"Benarkah?" Hana melonjak gembira.


Ares tertawa senang melihat keceriaannya Hana lalu ia berucap, "Hmm! Aku janji tidak lama lagi aku akan ijinkan kamu menyentuhku"


Hana berucap, "Terima kasih, Mas"


Wulan berjalan mendekat dan berucap, "Pak Han? Pak Han akan menjemputku jam berapa?"


"Mbak Wulan mau ke mana?"


"Kencan dengan Pak Han" Sahut Wulan.


Dan Handoko langsung menutup wajah tampannya dengan helaan napas panjang.


"Mas! Aku juga ingin berkencan dengan Mas, boleh?"


"Boleh dong. Ayok kita pergi" Ares merangkul bahunya Hana, tapi Hana langsung menahan langkahnya.


"Kenapa?" Ares menoleh ke Hana.


"Aku ingin double date. Kita berkencan bareng dengan Pak Han dan Mbak Wulan. Kita bisa belajar cara berkencan dari mereka. Mereka kan pasangan" Hana berucap dengan wajah ceria dan raut wajah lugunya.


"What!?" Ares, Handoko, dan Wulan langsung berteriak secara bersamaan.