
Jeglek! Bunyi itu terdengar nyaring sebagai tanda bahwa tombol cooking telah berganti ke tombol warm dan menandakan kalau masih sudah matang, membuat kaget Ares dan Hana.
Kedua sejoli itu langsung melepaskan bibir dan lekukan mereka satu sama lain.
Hana berdiri di depannya Ares dan untuk sepersekian detik, mantan istrinya Ares itu mendadak linglung dan tampak kebingungan. Hana mengerjapkan kelopak matanya beberapa kali dengan bibir sedikit melongo dan terus menatap Ares yang terus tersenyum ke arahnya dengan penuh cinta.
Setelah tersadar dari kebingungannya, ia segera berputar badan untuk melangkah ke rice cooker dengan wajah merona sembari berkata di dalam hatinya, kenapa sekujur tubuhku lemban (lemah tak berdaya) sekali, sih? Kena tatapan sendu sedikit saja udah klepek-klepek. Dasar lemah kau, Hana.
Ares menatap punggungnya Hana sambil mengusap bibirnya dengan ibu jari tangan kanannya. Senyum bahagia terlukis di wajah tampannya. Ares lalu bergumam, "Aku lepaskan kau sebentar, Cintaku. Karena, kau butuh makan saat ini"
Hana lalu melangkah ke kompor elektrik untuk mengecek semur daging sapinya dan setelah ia menambahkan satu sendok teh kecap manis, satu pucuk sendok teh garam dan gula, ia mematikan kompor elektrik lalu berjinjit untuk mengambil wadah yang ada di lemari dapur bagian atas, namun gagal terus."Ah! Kenapa aku terlahir pendek. Dan kenapa wadah bagus selalu aja ditaruh di lemari paling atas. Huufftt!"
Ares melihat kesulitannya Hana dan bergegas melangkah lebar untuk berdiri di belakangnya Hana. Ares kemudian menjulurkan tangannya untuk mengambil wadah dari lemari dapur paling atas dan menunduk ke Hana.
Hana yang tengah menengadahkan wajahnya ke atas tersentak kaget. Wanita cantik itu segera menundukkan wajah dan langsung menyentuhkan telapak kakinya kembali ke lantai lalu berputar badan dengan cepat sambil berucap, "Tolong Mas yang taruh semur sapinya di wadah yang barusan Mas ambil. Aku akan mengambil nasi bumbunya"
Ares menyadari rona wajahnya Hana saat Hana kembali beradu pandang dengannya barusan. Senyuman di wajahnya Ares semakin melebar dan ia bergumam, "Hana menggemaskan sekali kalau malu-malu meong" sembari menuangkan semur daging sapi ke dalam wadah yang barusan ia ambil dari lemari dapur paling atas.
Saat Ares berputar badan sambil membawa wadah tahan panas itu, ia melihat Hana sudah duduk di depan meja makan. Ares tersenyum dan melangkah ke meja makan. Ares meletakkan wadah tahan panas yang berisi semur daging sapi di atas meja makan lalu ia duduk dan langsung berucap, "Kenapa wajahmu memerah? Kamu demam lagi?"
Hana menundukkan wajahnya semakin dalam dan berucap, "Kalau makan, nggak boleh buka mulut! Entar tersedak"
"Oh! Berarti buka suara, boleh dong?" Ares tersenyum lebar menahan tawa.
"Nggak boleh" Sahut Hana tanpa mengangkat wajahnya karena Hana masih merasa sangat malu telah membiarkan Ares menciumnya dan malu karena kebodohannya, ia justru membalas ciuman itu dan lebih bodohnya lagi, ia menikmatinya.
"Kalau berkomentar, boleh?" Ares.terus mengoceh karena, ia semakin gemas melihat Hana yang semakin kikuk di depannya.
Hana menggelengkan kepalanya sembari terus makan dan tanpa mengangkat wajahnya karena ia masih merasakan wajahnya terasa panas dan itu tandanya, ia masih merona malu.
"Kalau gitu nyanyi aja deh, boleh?" Ares bertanya sambil mengulum bibir menahan geli.
Hana tanpa sadar menganggukkan kepalanya dan Ares langsung bernyanyi, "Beta janji Beta jaga Ale untuk selamanya. Beta janji akan setia hanya untuk satu cinta. Ini cinta......."
"Mas!" Hana langsung mengangkat wajahnya dan mendelik ke Ares, "Jangan nyanyi lagu itu!"
"Kenapa? Lagu ini lagi viral lho dan aku menyukainya karena lagu ini mewakili perasaanku untuk kamu"Ares tersenyum lebar.
Hana menggaruk kepalanya dengan wajah kesal lalu berucap, "Kenapa nggak makan aja, Mas? Mas ngoceh terus dari tadi"
"Aku cuma ingin melihatmu, Hana. Aku masih tidak percaya kalau akhirnya aku bisa melihatmu lagi. Aku..........."
"Aku akan cuci piring" Hana langsung bangkit sembari mengangkat piring kotornya dan berlari kecil ke dapur kotor.
Ares langsung bangkit dan menyusul Hana. Ares merebut piring kotor yang ada di tangannya Hana sambil berkata, "Biar aku yang cuci piringnya"
Hana bergeser sambil bertanya, "Mas bisa mencuci piring?"
"Aku ini bisa melakukan semua hal kecuali memasak, hehehehe" Ares berucap sembari mulai mencuci piring kotornya Hana.
Hana berucap, "Iya. Mas akan sangat sempurna jika Mas bisa memasak"
"Aku mau belajar memasak jika kamu mau mengajariku dan aku mau belajar apapun dari kamu, Hana. Ajari aku menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan........" Ares menoleh ke samping kanannya dan langsung melongo, "Lho, Hana mana?" Hana ternyata diam-diam telah meninggalkan Ares sendirian di dapur kotornya. Ares terkekeh geli dan menggeleng-gelengkan kepalanya sembari bergumam, "Oh, Hana, kamu semakin ke sini, semakin menggemaskan"
"Oh! Ternyata Mas Han membatalkan sarapan bareng karena, cewek ini?" Wulan berkacak pinggang di depannya Handoko yang tengah berdiri di depan mobilnya Hana bersama dengan seorang wanita.
"Kok kamu bisa ada di sini?" Handoko terkejut melihat Wulan berdiri di depannya.
Alih-alih menjawab pertanyannya Handoko, Wulan menunjuk wanita yang ada di antara dia dan Handoko, "Dia siapa?"
"Saya, Susan, Mbak" sahut wanita itu.
"Dia siapa?!" Wulan melotot ke Handoko.
"Bohong! Kenapa Tuan Ares tidak bersama denganmu?"
"Ini kunci mobilnya Tuan Ares" Handoko menunjukkan kunci mobilnya Tuan Ares. "Kau tahu, kan, Tuan Ares selalu membawa kunci serep mobil yang kami pakai. Tadi, Non Hana pingsan dan Tuan Ares bergegas membawa Non Hana ke rumah sakit membawa mobilnya dan aku akan ke rumahnya Tuan Ares mengantarkan mobilnya Non Hana"
"Oh!" Wulan langsung ber-O dengan wajah malu karena, ia telah cemburu buta dan marah tanpa alasan yang jelas. "Maafkan, aku Mas dan maafkan saya, Mbak" Wulan menoleh ke wanita yang masih berdiri di antara dia dan Handoko
"Nggak papa, Mbak" Susan tersenyum lalu melangkah masuk ke kliniknya Hana.
Handoko menghela napas panjang lalu bertanya, "Kamu naik apa ke sini?"
"Naik mobil kantor. Aku ke sini karena Tuan Ares menyuruhku untuk memeriksa kesiapan resto barunya yang ada di sebelah klinik itu " Sahut Wulan.
"Baiklah, lakukan tugasmu. Nanti sore pulang kerja aku akan menemuimu" Wulan menganggukkan kepalanya dengan wajah tersenyum manja dan Handoko mencium keningnya Wulan lalu masuk ke dalam mobilnya Hana.
Ares menemukan Hana tengah duduk di ruang keluarga sembari menonton drama Korea lewat saluran tv kabel.
Ares duduk di sebelahnya Hana dan sengaja menempel erat dan di saat Ares mengangkat tangannya untuk memeluk bahunya Hana, Hana langsung menggeser letak duduknya sambil berkata, "Jangan terlalu dekat, Mas" Hana lalu menoleh ke Ares dan berkata, "Aku harus balik ke klinik"
"Aku butuh bicara dengan kamu, Hana"
"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi"Sahut Hana dengan nada dingin sambil mengecilkan volume tv.
"Setelah ciuman kita barusan?" Ares bertanya dengan nada serius.
"Ciuman barusan adalah kesalahan, Mas. Aku hanya terbawa suasana"
"Hana. Aku menceraikan kamu karena aku ingin kita menikah lagi. Aku ingin kamu menikah lagi dengan Ares yang baru. Aku ingin mendekati kamu lagi dengan cinta. Aku sudah memiliki rasa cinta di hatiku dan itu pertama kalinya bagiku. Dan kau tahu, cinta itu untukmu Hana. Hanya untukmu"
"Cih! Lalu Macarena?"
"Macarena? Aku udah nggak ada hubungan apapun dengan Macarena sejak penyatuan raga kita pertama kali, dulu. Aku udah bilang ke kamu, kan?"
"Benarkah, itu? Lalu kemarin apa? Aku melihat Mas, makan malam berdua dengan Macarena"
"Itu hanya pertemuan bisnis. Kamu bisa nanya ke Handoko dan Wulan" Sahut Ares.
"Mas bisa mengingat nama Mbak Wulan sekarang?"
"Sejak kehilangan kamu, aku banyak berubah Hana. Aku terus melatih diriku untuk tidak lagi membenci kaum Hawa dengan mencoba mengingat nama setiap wanita yang aku temui. Kamu banyak membawa perubahan positif di dalam hidupku, Hana"
"Lalu tentang a Dominant dan a Submissive? Aku masih belum bisa menerima tentang itu semua dan aku masih trauma, Mas"
"Aku juga sudah membuang semua yang ada di kamar ungu dan aku rubah kamar ungu menjadi bioskop mini. Kamu belum pernah nonton film di bioskop, kan? Aku akan menemanimu nonton film di bioskop mini kita"
"Kau mau melihatnya sekatng?"
Hana menggelengkan kepalanya.
"Aku bahkan membeli rumah ini karena, aku rasa kamu lebih menyukai suasana rumah daripada tinggal di kondominiumku. Di rumah ini, aku juga membuat bioskop mini"
Hana menatap Ares dengan sorot mata ragu-ragu.
"Katakan sesuatu, Hana. Dan tolong, jadilah wanitaku! Aku mau belajar berkencan denganmu, aku mau belajar apapun darimu. Seperti memasak, belajar menjadi Ares yang kau suka, aku mau melakukan apapun demi kamu, Hana"
Hana masih terus menatap Ares dengan sorot mata ragu-ragu dan masih diam membisu.
"Oh! Iya gimana kabarnya Nenek. Aku sagat kangen dengan beliau. Ajak aku menemui Nenek, Hana"
"Nenek sudah meninggal, Mas. Nenek terus bersedih karena aku kisah dengan Mas dan bahkan Mas menceraikan aku" sahut Hana dengan genangan ai mata di kedua pelupuk matanya.
Ares langsung menarik Hana masuk ke dalam pelukannya sambil berkata, "Maafkan aku, Hana. Maafkan aku"