
Ares mengajak Hana menemui Amara, mamanya Wintang.
Awalnya Hana menoleh ajakan Ares karena, ia merasa takut terbakar cemburu melihat wanita di masa lalunya Ares. Namun, Ares berhasil meyakinkan Hana untuk menemaninya menemui Amara.
Sementara itu, Wintang menyusul Nora ke kantornya Nora. Dia masih berusaha memperjuangkan cintanya pad Nora. Namun, Nora tidak bersedia menemui Wintang. Nora takut jika ia menemui Wintang lagi, dia justru akan membenci Wintang dan dia tidak mau jika ia akhirnya membenci Wintang. Dia bertekad untuk tidak pernah menemui Wintang lagi walaupun tidak ada rasa benci untuk Wintang.
Wintang akhirnya kembali ke kampus dengan langkah gontai dan wajah sayu yang digelayuti hati remuk redam. Namun, Wintang tetap bertekad untuk terus memperjuangkan cintanya.
Beberapa jam setelah Wintang pergi dari kantornya Nora Laco, telepon intern yang menghubungkan Moses dengan semua bagian di kantornya termasuk dengan sekretarisnya, berbunyi cukup nyaring. Nora memencet angka satu yang ada di pesawat telepon internalnya dengan mengeluarkan kata, "Halo, Lin, ada apa?"
Lina sekretaris pribadinya Nora Laco menyahut dari ruangannya, "Ada tamu ingin bertemu dengan Anda, Non"
"Siapa?" Tanya Nora sambil membubuhkan tanda tangan ke berkas yang sudah ia baca dan teliti dengan baik.
"Seorang wanita. Dia tidak bersedia menyebutkan namanya, tapi katanya, dia membawa berita yang sangat penting, Non" Sahut Lina.
"Dia sudah dicek nggak membawa senjata tajam atau senjata berbahaya lainnya, kan?" tanya Nora.
"Security kita sudah mengeceknya dan dia steril dari segala senjata berbahaya" Sahut Lina.
"Oke, antarkan dia ke ruanganku sekarang!" Sahut Nora.
"Baik" Lina kemudian bangkit berdiri untuk mengantar seorang wanita cantik ke ruang kerjanya Nora Laco.
Nora bangkit dari kursinya saat ia mendengar pintu ruang kerjanya terbuka dan sambil melangkah menuju ke sofa ia mempersilakan wanita cantik yang menjadi tamunya di siang menjelang sore itu, lalu setelah duduk di depan wanita cantik itu, ia menoleh ke Lina, sekeretaris pribadinya, "Lin, tolong bawakan dua teh dan camilan"
"Baik, Non" Lina menganggukan kepalanya lalu melangkah mundur dan menutup rapat pintu ruang kerjanya Nora Laco.
Pertemuannya Ares dan Amara hanya menyisakan kemelut dan amarah yang tidak berujung. Bahkan Hana yang menyukai kelembutan dan kedamaian, berulangkali menahan dirinya untuk tidak merobek wanita di masa lalunya Ares itu.
Amara bangkit berdiri dengan wajah garang dan sebelum ia melangkah pergi, dia berucap, "Air mata tetap harus dibayar dengan air mata dan darah harus tetap dibayar dengan darah"
Sepeninggalnya Amara, Ares menerima luapan kemarahannya Hana, Hana menggeram ke Ares, "Sekarang bagaimana, Tuan Ares Laco yang terhormat?"
Ares menautkan alisnya ke Hana, "Kau marah?"
"Tentu saja aku marah. Marah besar. Kau bilang hanya masalah kecil dan ternyata masalah yang ada di antara kamu dan wanita brengsek tadi, sangatlah besar. Pantas saja kalau dia menyimpan dendam yang sangat besar padamu!" Hana mulai meninggikan nada suaranya dan setelah mengatur napas ia kembali membuka suara, "Dan sekarang, keselamatannya Nora terancam. Sekarang bagaimana, Tuan Ares Laco?"
Ares diam dengan rahang berkedut. Dia tidak tahu harus bagaimana menanggapi amarahnya Hana karena, masalah Amara dia sudah menemukan solusinya. Bagi Ares, di dunia ini, hanya Hana yang terpenting di dalam hidupnya. Dan setiap kali ia mendapatkan amarahnya Hana, Ares akan mematung, kebingungan, dan otaknya langsung membeku tidak bisa berpikir lagi.
"Kenapa diam?" Hana mendelik ke Ares
Ares ngapurancang dan menundukkan wajahnya ke bawah dengan kata, "Maafkan aku, Istriku. Aku bersalah sangat besar padamu, pada Nora dan pada semua orang di dunia ini kurasa"
Timbul rasa welas asih di hari Hana saat ia melihat suaminya menunduk dengan sikap pasrah dan kata maaf yang sangat dalam. Hana menghela napas panjang lalu memeluk suaminya dan berkata, "Maafkan aku, Mas. Tidak seharusnya aku melampiaskan kemarahanku padamu. Lagian itu masa lalu dan semua orang pernah melakukan kesalahan. Maafkan, aku"
Hana menghela napas panjang dan menggeleng-gelengkan kepalanya sambil terkekeh geli karena, dia paham betul apa maksud dari ucapan yang dilontarkan oleh suaminya.
"Siapa Anda dan kenapa Anda ingin menemui saya?" Tanya Nora.
Wanita cantik yang duduk manis di depannya Nora itu, tersenyum lalu berkata, "Nama saya Jenar Ayu. Saya adalah istri sahnya Wintang Devoss dan saya yakin kalau Anda tahu siapa Wintang Devoss yang saya maksud"
Nora langsung menghapus senyum ramah di wajah cantiknya dan berkata dengan wajah datar, "Kalau maksud Anda datang ke sini hanya untuk memberitahukan hal itu ke saya, saya tidak tahu apa untungnya bagi Anda dan saya, tapi menurut saya itu useless"
Dia wanita rumahan yang sederhana, tapi cukup cantik. Nora memberikan penilaian di dalam hatinya untuk Jenar Ayu.
Dia sangat cantik, elegan, modis, dan sangat cerdas. Pantas kalau Mas Wintang terpesona padanya. Batin Jenar Ayu.
"Bu....bukankah Anda dan Mas Wintang punya........"
"Punya apa? Kami nggak ada hubungan apa-apa. Anda boleh cari suami Anda di luar sana dan tanyakan kebenaran dari ucapan saya ini" Sahut Nora Laco. Nora kemudian bangkit bediri dan berkata, "Maaf, saya terpaksa meninggalkan Anda. Saya ada rapat penting. Permisi"
Jenar Ayu mengikuti arah perginya Nora Laco yang melangkah anggun meninggalkannya. Jenar kemudian menghela napas panjang dan menatap layar ponselnya dengan helaan napas kecewa. Dia berniat memberikan gambar seprei dengan bercak darah lalu ia akan menceritakan ke Nora karangan ceritanya mengenai malam pertamanya dengan Wintang Devoss, tapi, semuanya gagal. Jenar lalu bangkit berdiri dan melangkah pergi meninggalkan ruang kerjanya Nora.
Sesampainya di rumah, Nora.nergegas mandi dan setelah mandi,.dia melangkah ke teras belakang rumahnya yang sangat luas yang ditumbuhi beraneka ragam pohon buah dan duduk di bangku yang ada di bawah pohon Cemara untuk menikmati senja. "Matahari yang tenggelam, memang sangat indah dan menenangkan" Gumam Nora sembari bersandar di bangku dan bersedekap.
Nora tersentak kaget saat ia mendengar ada bunyi gedebuk! tidak jauh dari tempatnya duduk.
Dan lebih terkejut lagi, saat ia melihat sosok Wintang melangkah mendekatinya dengan membawa tanaman yang diberi pita di atasnya.
"Ke....kenapa.kau bisa sampai di sini dan kau........"
Wintang tersenyum lalu menyerahkan tanaman berpita yang dia bawa sambil berucap, " Ini tanaman Mistletoe yang dipercaya merupakan simbol cinta dan persahabatan. Aku minta dari temenku yang baru saja pulang dari Inggris dan temenku mulai membudidayakan tanaman ini di rumahnya Mistletoe sebenarnya adalah tanaman semi-parasit seperti benalu. Ia tumbuh pada pohon apa aja. Kalau kau letakkan tanaman ini misalnya di pohon cemara ini, dia akan tumbuh dan akan menghasilkan buah berry. Aku akan kembali lagi saat tanaman ini berbuah"
Nora menerima tanaman itu dengan menautkan alisnya dan bertanya, "Lalu apa untungnya aku menerima tanaman aneh ini?"
"Pasangan yang berciuman di bawah tanaman Mistletoe, dipercaya akan langgeng hubungannya. Akan tetapi, saat berciuman juga tak bisa sembarangan karena jumlah buah beri di Mistletoe, menentukan jumlah ciuman yang diperbolehkan. Sebelum mencium, salah satu pasangan harus memetik satu buah beri. Jika buah beri itu habis dan tak tersisa lagi di Mistletoe, maka ciuman harus berakhir dan di saat itu juga, aku akan langsung melamar kamu karena, aku yakin di saat itu juga, kamu pasti sudah memaafkan aku" Wintang lalu berbalik badan dan pergi meninggalkan Nora Laco begitu saja setelah ia menyelesaikan kalimat panjang lebarnya.
Nora Laco melongo dan terus menatap punggungnya Wintang kemudian dia bergegas berteriak sebelum punggungnya Wintang semakin menjauh, "Aku membencimu! Jangan kembali lagi! Urus saja Istri kamu!"
Wintang hanya melambaikan tangannya tanpa menoleh ke belakang.
Nora bergumam, "Dasar gila!" dan tanpa sadar ia tersenyum melihat tingkah konyolnya Wintang.
Nora lalu menatap tanaman aneh dan dengan asal, dia lalu berjinjit dan menggantungkan tanaman itu di salah ranting pohon Cemaranya dengan asal-asalan, kemudian dia melangkah lebar untuk masuk kembali ke dalam rumah.
Anak buah dan detektif sewaannya Ares, tersebar di segala aspek hidupnya Amara. Area memerintahkan mereka untuk terus mengawasi Amara dan jika ada satu saja tindakan Amara yang mencurigakan, Ares meminta mereka untuk langsung meringkus Amara dan menjebloskan Amara ke dalam penjara.