
Ares meraup kasar wajah tampannya lalu keluar dari kamarnya bablas menuju ke lift tanpa pesan untuk para asisten rumah tangganya dan tanpa mengajak Handoko.
Handoko paham betul, jika tuan besarnya bersikap seperti itu pasti tuan besarnya pergi untuk menenangkan hatinya dan mencari Nyonya Macarena.
Nyonya Macarena adalah sahabat mama angkatnya Ares Laco dan ia pula yang merenggut keperjakaannya Ares. Mengajari Ares tentang menjadi dominan dan submissive di umur Ares yang masih delapan belas tahun kala itu.
Mungkin itulah alasan kenapa ia sangat tertarik pada Hana Prakas. Karena, Hana berumur sama seperti dirinya dulu kala keperjakaannya terenggut dan Hana tampak rapuh seperti dirinya dulu yang rapuh dan tak berdaya di bawah kendalinya Nyonya Macarena.
Ares adalah Submissivenya Nyonya Macarena. Nyonya Macarena yang cantik dan seksi di umur tiga puluh tahun kala itu, menyihir seorang bocah yang masih berumur delapan belas tahun dan berhasil menjerat bocah laki-laki itu untuk menjadi submissivenya selamanya, mungkin.
Ares dan Nyonya Macarena secara sembunyi-sembunyi berkencan untuk memuaskan nafsu liar mereka yang tidak normal. Ares selalu rela diikat tangannya ke belakang, dicambuk, atau terkadang diikat kedua tangan dan kakinya di ranjang sebelum Nyonya Macarena mengajaknya menyatukan raga mereka.
Mereka terus berkencan tanpa sepengetahuannya Putri tunggalnya Nyonya Macarena dan tanpa sepengetahuannya mama angkatnya Ares Laco. Padahal, Macarena Lordess bersahabat karib dengan Elizabeth Laco.
Sampai sepuluh tahun berlalu, Ares Laco belum mampu lepas dari kendali kuatnya Nyonya Macarena.
Dan di hari itu, untuk melepas kekecewaannya ketika submissivenya pingsan dan tidak bisa bermain dengannya, dia berkencan dengan Nyonya Macarena di vila pribadinya Nyonya Macarena yang penuh dengan 'mainan asyik' yang justru membuat Ares merasa kecanduan.
Nyonya Macarena langsung menyuruh Ares untuk bersimpuh dan ia langsung mengikat tangan Ares dengan tali dadung ke belakang, menempel ke punggungnya Ares. Kemudian, wanita yang masih terlihat sangat cantik di usianya yang sudah menginjak empat puluh tahun itu, membungkam bibir Ares dengan bibirnya. Mereka berciuman sembari terus melangkah masuk ke dalam vila. Macarena memagut bibir Ares sambil menarik kedua bahunya Ares untuk melangkah masuk ke bangunan mungil bergaya klasik yang berhadapan langsung dengan pantai.
Deburan ombak di pantai, selalu memberikan sensasi tersendiri bagi Ares dan memberikan debaran jantung yang tidak biasa di dadanya Macarena.
Nyonya seksi, istri dari dokter Damian Lordess melepaskan ciumannya lalu ia menurunkan melemparkan Ares di lantai marmer vila itu.
Macarena mengusap bibir Ares dengan ibu jarinya. Bibir yang masih basah karena ulahnya kembali mengundang wanita dengan make-up tebal itu untuk mengecapnya lagi.
Ares membalas gerakan liarnya Macarena dengan mencium lembut bibir ranum bagaikan buah Cherry dan terasa sangat manis bagaikan gulali itu dengan intens dan semakin menuntut ketika kemudian, kedua kelopak matanya Ares ditutup dengan syalnya Macarena.
Ares mengerang dengan senyum lebar di bibirnya saat Macarena membantunya berdiri dan mendorongnya kuat sampai tubuhnya terjatuh dengan sangat keras di atas empuknya kasur mewah.
Macarena lalu naik ke atas tubuhnya Ares,membuka ikatan di kedua tangannya Ares, tapi tidak tutup matanya Ares. Tangan Ares yang telah bebas, melayang-layang di udara mencari wajahnya Macarena. Macarena mendekatkan wajahnya dan saat tangan Ares menemukan untuk kemudian menangkup wajah Macarena, ia menarik wajah hingga bibirnya menemukan kembali kehangatan bibirnya Macarena.
Mereka lalu berguling di atas ranjang sambil terus berciuman dalam gairah yang semakin lama semakin membara.
Hawa dingin di sekitar vila yang melesak masuk ke dalam kamar mereka, tidak mampu memadamkan api gairah yang ada di pasangan 'tidak normal' itu.
Sampai akhirnya, beberapa menit kemudian, pasangan liar itu menyelesaikan. permainan asyik mereka dengan menggemakan suara puas mereka ke udara.
Macarena lalu membuka tutup matanya Ares dan setelah itu ia merebahkan dirinya di atas di sebelahnya Ares. Karena ia tahu, Ares tidak suka dadanya disentuh dan dipakai untuk rebahan. Ares memang tidak mengijinkan siapa pun menyentuh dadanya kecuali keluarga Laco.
"Aku sudah menikah" sahut Ares.
Macarena tersentak kaget. Dia bangun menoleh ke Ares dan menampar keras pipinya Ares. "Aku kan selalu melarangmu untuk menikah. Kau boleh mencari Submissivemu, tapi aku melarangmu menikah" Macarena menghunus tatapan tajamnya ke Ares.
Ares ikutan bangun dan duduk di belakangnya Macarena lalu menatap Macarena, "Maafkan aku! Aku sangat terobsesi pada gadis ini. Dia beda dan unik dari wanita-wanita lainnya yang pernah menjadi submissiveku"
Ares bergumam, "Sial! Dia marah" Ares lalu bangkit, memakai kembali celananya dengan cepat lalu berlari menyusul Macarena.
"Kau pulanglah!" Macarena berucap tanpa menoleh ke Ares yang sudah berdiri di samping kanannya. Wanita empat puluh tahun yang masih sangat seksi dan cantik itu, menghisap rokoknya dalam-dalam.
"Aku ingin tidur di sini" sahut Ares.
"Kau tidak suka tidur dengan wanita manapun, kan? Kenapa sekarang kau ingin tidur denganku? Kau hanya suka bermain di atas ranjang, tapi tidak pernah tidur dengan wanita di atas ranjang. Kenapa sekarang kau menginginkannya?"
"Sebagai permintaan maaf?" sahut Ares dengan nada bersalah.
"Pulanglah! Aku tidak tertarik dengan permintaan maaf kamu"
Ares yang selalu menuruti perintahnya Macarena, akhirnya berbalik badan, menyambar kemejanya dan ia pakai kemejanya itu sambil berjalan lebar keluar dari vila dan masuk ke dalam mobilnya.
Ares memutuskan untuk pergi ke rumah dokter Christian Laco, Papa asuhnya. Karena ia masih belum tahu mesti bersikap bagaimana di depan istrinya. Berkali-kali Ares bergumam, "Apa aku salah menikahi Hana Prakas? Kenapa aku menjadi sangat ceroboh di depannya Hana Prakas?"
Sesampainya di rumah orang tua angkatnya, Ares disambut dengan tangan terbuka. Dan karena hari sudah sangat larut, Ares dipersilakan untuk langsung beristirahat.
Keesokan harinya, Hana terbangun dengan wajah bingung. Dia langsung melompat rurun dan berlari keluar dari dalam kamar pribadinya Ares Laco.
Handoko langsung menyambutnya, "Selamat pagi, Nyonya Laco. Sarapan sudah siap"
"A....apa semalam suamiku, emm, maksudku Tuan Ares Laco, tidur denganku?"
Handoko menggelengkan kepalanya, "Tuan keluar kemarin"
"Dan apakah Tuan Ares tengah menungguku di meja makan?" tanya Hana.
Handoko kembali menggelengkan kepalanya, "Tuan Ares tidak pulang ke rumah dari semalam"
Hana tidak tahu harus mengeluarkan ekspresi yang bagaimana. Gembira karena ia belum menunaikan kewajibannya sebagai Istri di malam pengantinnya kemarin atau haruskah bersedih karena suaminya justru pergi meninggalkannya sendirian di malam pernikahan mereka.
Hana lalu berucap, "Aku ingin mandi terlebih dahulu. Aku lupa di mana kamarku"
"Mari saya antarkan, Nyonya" Handoko berjalan di depannya Hana untuk menyuntik langkah Hana menuju ke kamarnya Hana yang ada di lantai dua.
Hana bertanya ke Handoko saat ia telah berdiri di depan pintu kamarnya, "Apakah aku boleh ke rumah sakit menengok Nenekku?"
"Kita tunggu Tuan Ares Laco dulu, Nyonya"
Hana menghela napas panjang lalu berbalik badan untuk masuk ke dalam kamarnya.