A Dominant

A Dominant
Aturan-aturan



Ares sampai di rumahnya dan langsung menunggu Hana di meja makan. Dia ingin memberitahukan peraturan-peraturan penting untuk Hana.


Hana keluar dari kamar mandi berbalut jubah mandi. Dia celingukkan mencari tas ransel butut yang ia miliki, yang sering ia pakai jika bepergian jauh dan tas ransel itu tidak ada di sana. Jika tas ransel butut itu ada, pasti akan tampak mencolok untuk membuat buruk dekorasi di kamar mewah yang sudah dihibahkan oleh Ares untuk ia tinggali.


Hana kemudian menoleh ke kanan dan ke kiri, tidak ada lemari pakaian di sana. Hana hanya menemukan satu pintu dengan model digeser seperti pintu-pintu yang sering ia lihat di film-film samurai Jepang. Hana menautkan alisnya sambil berjalan mendekati pintu itu. Ia geser pintu itu ke kanan dan ia langsung menarik rahangnya ke bawah lebar-lebar tatkala kedua manis hitamnya menangkap ruangan besar penuh dengan beraneka macam baju yang terpasang di hanger dan tersusun rapi berjejer di sekeliling tembok. Di tengah-tengah ruangan, Hana melihat meja etalase besar berkaca.


Hana semakin takjub saat ia menunduk ke meja etalase dan melihat berbagai macam bentuk tas dan dompet bermerk. Dan di meja etalase yang lebih mungil, Hana melihat ada berbagai macam aksesoris wanita, mulai dari gelang, kalung, giwang, jam tangan dengan berbagai warna dan syal yang semuanya cantik.


Hana lalu berjalan menyusuri tembok sambil tangannya menyentuh deretan baju yang ada di sana. Ada rak yang berisi khusus baju tidur yang lebih bisa dikatakan sebagai lingerie karena baju tidur itu baju tidur yang seksi dan terbuka, Hana mengernyit melihat salah satu lingerie yang ia ambil, lalu ia gantung kembali lingerie itu di tempatnya semula.


Hana lalu berjalan ke deretan baju pesta dan berdecak kagum saat ia melihat barcode harga yang masih tergantung di salah satu baju pesta itu, tertulis angka rupiah yang sangat fantastis bagi Hana Prakas dan Hana bergumam, "Jika satu baju ini saja berharga enam puluh lima juta rupiah, lalu bagaimana dengan baju-baju yang lainnya?"


Hana lalu berjalan ke rak yang memamerkan kaos santai dan beberapa celana santai dai yang pendek, setengah pendek sampai panjang dan Hana heran saat ia mencoba celana panjang yang ia ambil secara acak, panjangnya pas di badan dia. Hana bergumam, "Kenapa bisa pas di badan aku, ya? Apa ini semua memang untuk aku?"


Lalu Hana bergegas mengambil kaos secara acak dan menyambar jaket denim yang ada di sana lalu memakainya dengan tergesa-gesa kala pintu kamarnya diketuk dan suaranya Handoko berteriak memanggil namanya beberapa kali.


Hana kemudian keluar dari kamar yang penuh dengan barang-barang favoritnya para kaum Hawa itu dan berlari menuju ke pintu yang terus diketuk oleh Handoko. Hana membuka pintu itu dan bertanya, "Ada apa Pak?"


"Tuan Ares Laco sudah datang dan menunggu Anda di meja makan"


"Ah! Iya. Emm, saya akan mengambil tas saya dulu untuk......."


"Kalau untuk kuliah Anda, semuanya sudah siap di dalam mobil, Nyonya. Anda bergegaslah ke ruang makan karena, Tuan Ares Laco tidak suka menunggu terlalu lama"


Hana menganggukkan kepalanya dan bergegas turun ke lantai satu dengan berlari kecil dan setelah sampai di ruang makan, ia kembali terjatuh karena tatapan tajam kedua manik birunya Ares membuatnya takut.


Ares menghela napas panjang lalu bangkit dan melangkah lebar untuk membantu Hana berdiri.


Hana mengucapkan kata terima kasih lalu berjalan ke sebuah kursi yang berjejer ramping mengelilingi meja makan bulat yang sangat besar. Hana bertanya dalam hatinya, Kalau hanya tinggal sendirian, kenapa ia memilih meja makan yang sangat besar seperti ini.


Ares yang telah duduk di depannya Hana membuka suara, "Tidurmu nyenyak?"


Hana menurunkan matanya saat ia menemukan pandangan tajamnya Ares yang tidak pernah lepas menatapnya. Hana menganggukkan kepalanya dengan sorot mata menatap meja makan.


"Aku punya peraturan yang harus kau patuhi dan jika kau melanggarnya, maka kau akan menerima hukuman di kamar ungu yang kemarin kau lihat"


Hana langsung menciut nyalinya mendengar kamar ungu dan bayangan akan semua Yanga di kamar ungu yang kemarin ia lihat, membuat kakinya gemetaran dan membuat kedua tangannya mencengkeram kedua ujung jaket denim yang ia pakai.


Ares terus memandangi Hana dan melanjutkan kalimatnya, "Aturan pertama, kau hanya dibolehkan keluar rumah untuk ke kampus dan setelah itu, kau harus langsung pulang. Mirna akan menunggui kamu selama jam kuliah kamu"


Hana mengangkat wajahnya secara perlahan untuk bertanya, "Siapa Mirna?"


Seorang wanita dengan setelan necis maju ke depan sampai terlihat oleh Hana dan berkata, "Saya Mirna, Nyonya. Saya adalah supir pribadi Anda mulai dari sekarang"


"Dia sekaligus bodyguard kamu. Dia jago bela diri" Sahut Ares.


"Aturan kedua, kau tidak boleh menyentuh dadaku. Aku tidak pernah mengijinkan siapa pun menyentuh dadaku kecuali keluargaku" ucap Ares tanpa mengalihkan pandangannya dari Hana.


Hana menoleh ke Ares dan berkata di dalam hatinya, Cih! Siapa yang ingin menyentuh dada kamu.


"Aturan ketiga, kau harus mengepang rambut kamu jika aku datang ke kamar kamu. Camkan itu! Setiap kali aku datang di saat aku membutuhkanmu, kamu harus mengepang rambutmu"


"Ke...kenapa? Dan ka......kapan Anda membutuhkan saya dan......un.....untuk apa?" Hana bertanya dengan suara gemetar.


"Kau akan tahu nanti. Aku akan butuh kau di hari Jumat, Sabtu dan Minggu. Di hari itu kepanglah rambutmu!"


Sabtu? bukankah itu besok? A......apa yang harus aku lakukan besok? Dan apa yang akan dia lakukan? Hana bergidik ngeri dan ingin rasanya ia berdiri dan berlari pergi untuk bersembunyi tapi, kakinya terus gemetaran dan tidak bisa ia perintahkan untuk berdiri dan berlari.


"Aturan keempat, kamu dilarang bicara dengan lawan jenis! Aku tidak suka itu"


"Ta.....tapi jika dosenku adalah laki-laki, saya tidak boleh berbicara dengan dosen saya? Lalu bagaimana jika ada pertanyaan yang ingin saya ajukan ke dosen saya nanti?"


Ares menggeram kesal dan Hana langsung menyesali kalimatnya. Hana langsung mendudukkan wajahnya karena takut melihat tatapannya Ares yang mengerikan bak seekor Singa yang hendak menerkamnya.


"Kalau kau ingin bertanya ke dosen kamu, undang dosen kamu ke sini jika dia laki-laki. Bertanyalah ke dosen kamu di depanku" sahut Ares dengan nada suara penuh dengan kecemburuan.


Hana masih menunduk dan berkata di dalam hatinya, Mana bisa mengundang dosen ke sini hanya untuk bertanya. Bagaimana jika yang akan kutanyakan nanti hanya masalah sepele? Masak harus mengundang dosen ke sini? Emang gila nih orang.


"Peraturan kelima, kau tidak boleh membantah semua perintah dan aturan yang aku buat. Kau juga tidak boleh melanggar semua yang tertulis di kontrak kita!" Ares melemparkan sebuah map cokelat di atas meja. "Simpan kontrak itu! Baca dengan lebih teliti lagi!"


Hana mengambil map cokelat dari atas meja lalu ia dekap map cokelat itu.


Ares memanggil Handoko tanpa mengalihkan pandangannya dari Hana, "Han! Ambil map itu dan taruh di kamarnya Hana! Aku dan istriku akan mulai sarapan"


Hana menyerahkan map itu ke Handoko dan Handoko segera berlalu untuk menyimpan map itu di kamarnya Hana.


Hana sarapan bersama dengan Ares dan dia memberanikan diri untuk bertanya, "Saya ingin menengok Nenek saya, boleh? Dari kemarin, saya belum mengetahui keadaan Nenek saya. Dan maaf, di mana tas selempang saya dan ponsel saya?"


"Sore nanti, aku akan temani kamu menengok Nenek kamu dan tas kamu udah aku buang dan semua isinya. Uang kamu aku suruh Handoko masukkan ke rekening kamu. Aku bukakan rekening baru untuk kamu"


"Ta....tapi ponsel saya?"


"Aku sudah kasih kamu ponsel baru, pakai itu. Nomer kamu juga baru jadi, si pria brengsek yang kau sebut sahabat itu, tidak bisa lagi menghubungimu"


Hana hanya bisa menghela napas panjang.


Setelah sarapan, Ares meninggalkan Hana begitu saja untuk berangkat ke kantor bersama dengan Handoko dan Hana berangkat ke kampus bersama dengan wanita yang bernama Mirna.


Hana masuk ke dalam mobil dan tercengang, ada tas ransel yang sangat bagus, lengkap dengan laptop mini yang sering disebut sebagai notebook bermerk dan masih baru. Di dalam tas ransel itu juga terdapat ponsel baru berbaur dengan alat tulis lainnya yang semuanya baru. Hana membeku di sana, tidak tahu harus memiliki rasa apa, gembira ,bersyukur atau bersedih karena di detik itu juga, kebebasannya terenggut.