A Dominant

A Dominant
Gedung Bioskop



"Sudah berapa lama Pak Han dan Mbak Wulan berpacaran?" Tanya Hana.


"Baru kok. Emm, baru seminggu. Iya kan, Pak Han?".Wulan menyenggol perutnya Handoko dengan sikutnya.


Handoko hanya diam membisu dan menghela napas panjang.


"Kok tadi, Mbak Wulan bilangnya, masih jomblo dan nggak laku?" Hana bertanya lagi.


"Itu karena saya lagi kesal sama Pak Han" Wulan menoleh ke Handoko. Handoko melotot ke Wulan dan Wulan meringis tanpa dosa.di depannya Handoko.


Handoko bergumam lirih, "Aku kesal tingkat dewa nih. Kamu dari tadi, ngomongnya ngawur banget"


"Ah! Mereka so sweet ya, Mas. Mereka saling menatap"


Area langsung menangkup wajahnya Hana dan mengajak Hana bersitatap dengan tanya, "Aku nggak so sweet? Aku juga menatapmu sekarang ini"


"Iya. Mas juga so sweet kok"


"Kamu suka?" Tanya Ares.


Hana mengangukkan kepalanya diiringi senyuman manisnya dan Ares tersenyum lebar dan terus menatap wajah ayunya Hana dengan memerah wajahnya karena, malu.


"Mumpung mereka bersitatap, sekarang katakan apa rencana kamu? Kamu harus bertanggung jawab karena, kamu telah muncul tak diundang dengan suara berisik unfaedah kamu, tadi" Bisik Handoko.


"Wah! Pak Han ternyata gaul juga, ya. Tahu kata unfaedah" bisik Wulan.


"Wulan!" Handoko menggeram lirih dengan wajah geram.


Wulan terkikik geli.


"Kita mau ke mana?" tanya Hana dengan wajah cerah ceria.


Suara Hana mengagetkan Handoko dan Wulan dan membuat pelipis mereka beradu. Handoko dan Wulan mengelus pelipis mereka sambil menatap tuan dan nyonya besar mereka yang masih menunggu jawaban dari pertanyaannya Hana dengan mengaduh pelan.


"Ke mana?" Handoko menoleh lalu mendelik ke Wulan.


Wulan meringis lalu berucap, "Mau makan?"


Hana menggelengkan kepalanya, "Aku belum lapar Mbak. Makannya agak nanti aja"


"Tuan mau ke mana?" Tanya Wulan.


Ares merangkul bahunya Hana mengangkat kedua pundaknya sambil berkata, "Aku ikut apa maunya Hana. ke mana pun Hana ingin pergi, aku akan ikut"


"Bioskop. Kita ke bioskop aja kalau gitu Bioskop adalah tempat paling romantis untuk berkencan"


"Aku belum pernah ke bioskop, Mbak. ide bagus tuh" Pekik Hana dengan wajah ceria sambil menoleh ke Ares.


Handoko langsung kaget dan berkata, "Tapi, Tuan Ares tidak, emm, bukankah Anda takut........"


Ares terpesona akan senyum cerianya Hana yang sangat cantik dan ia mengabaikan Handoko. Ares mengusap pipinya Hana saat Hana menoleh padanya dan berucap, "Ayok kita ke bioskop kalau gitu"


Hana menoleh ke Handoko lalu kembali menatap Ares "Mas, takut apa? Pak Han bilang Mas takut. Takut apa?"


"Takut kehilangan kamu" Ares menoleh ke Hana dengan senyum terbaiknya sambil terus mengelus pipinya Hana.


Handoko mematung kebingungan melihat reaksi tuan besarnya. Dan di saat Handoko melangkah untuk mendekati tuan besarnya dan memberikan peringatan perihal fobianya Ares akan kegelapan, Wulan berteriak, "Tunggu dulu!"


Handoko tersentak kaget dan menoleh ke Wulan dengan kesal, "Kamu pakai batere apa sih? suara kamu kok selalu full power? Dasar! selalu aja bikin orang kaget"


Wulan meringis.


Ares menatapnya dengan sorot mata tajam dan bertanya dengan nada kesal, "Ada apalagi?"


"Kita harus bergandengan tangan seperti ini" Wulan langsung meraih tangannya Handoko lalu menggenggam erat tangannya Handoko dengan semua jari saling terkait. Kemudian Wulan berucap, "Pegangan sepertiĀ  ini menunjukkan bahwa orang yang kita genggam tangannya adalah milik kita"


Ares tersenyum senang mendengar ucapannya Wulan, "Wah! oke juga ide kamu" Ares lalu meraih tangannya Hana dan menggenggam erat tangannya Hana dengan semua jari saling terkait. Hana dan Ares bersitatap dengan senyum manis mereka lalu Ares berkata, "Ayok kita berangkat!"


"Kau ngawur! Kalau sampai Tuan Ares Laco pingsan di dalam gedung bioskop, kau harus bertanggung jawab" Handoko berucap sambil mengemudikan mobilnya menyusul laju mobilnya Ares Laco.


"Kenapa?" tanya Wulan.


"Tuan Ares Laco fobia sama ruangan gelap" sahut Handoko dengan nada kesal tanpa menoleh ke Wulan.


"Apa Tuan Ares Laco nggak pernah nonton di bioskop?"


"Nggak pernah. Kau tahu sendiri kan, Tuan Ares itu gila kerja. Mana ada waktu untuk menonton bioskop" Sahut Handoko masih dengan nada kesal.


"Hah?! Terus gimana dong?"


Handoko diam membisu dan menghela napas panjang alih-alih merespons pertanyannya Wulan karena kekesalannya kepada Wulan sudah berada di ujung tanduk.


Ares belum pernah pergi ke gedung bioskop dan ia belum menyadari keputusannya mengiyakan keinginannya Hana pergi ke bioskop. Ares belum pernah mengetahui kalau saat film di bioskop diputar, ruangan akan menjadi gelap. Konglomerat muda itu justru terus mengulas senyum bahagia karena ia akan kembali berkencan dengan Hana Prakas alih-alih merasa takut dan khawatir.


"Dan kenapa kau menghabiskan snack-ku? Udah makan tanpa ijin, dihabiskan dan tidak kamu buang bungkusnya" Handoko melirik Wulan dengan tajam.


Wulan menoleh ke Handoko sembari berucap, "Darurat, Pak Han. Maafkan saya, hehehehehe"


Sesampainya di bioskop, Ares dan Hana tampak kebingungan karena keduanya belum pernah nonton di bioskop dan belum pernah pergi ke bioskop.


"Tuan dan Nyonya duduk aja? Biar saya dan Pak Han yang membelikan tiketnya. Nyonya pengen nonton film apa?"


"Aku nggak pernah lihat film, Mbak. Jadi, nggak tahu mau milih film apa" sahut Hana.


"Kau pilihkan aja sekalian! dan Han, sini!" Ares mengayunkan tangannya ke Handoko dan Handoko langsung menundukkan kepalanya di samping Ares.


Ares membisikkan sesuatu ke Handoko dan Handoko menganggukkan kepalanya.


Handoko mengajak Wulan menemui manajer gedung bioskop tersebut untuk membeli semua kursi di gedung 2 yang akan menayangkan film horror, film pilihannya Wulan.


"Kenapa film horror?"


"Karena, film horror itu film yang tepat untuk orang berpacaran atau bagi pasangan pengantin baru karena nanti si cewek pasti berteriak manja, lalu menyusupkan wajah di bahu si cowok dan kemudian......Ah! begitulah" Wulan menepuk bahunya Handoko sambil menggigit bibir bawahnya. Handoko langsung berucap, "Kalau kamu nanti kayak gitu di dalam, aku akan pindah tempat duduk"


"Iya! Iya! tenang aja Pak Han, Wulan nggak takut sama film horror jadi, bahu Pak Han akan aman dari penyusupan"


Handoko langsung berbalik badan meninggalkan Wulan dan Wulan langsung bergumam, "Cih! tampan sih, tapi aneh"


"Mas, aku pengen popcorn. Boleh beli?"


"Boleh"


Hana langsung berdiri dan saat Hana melangkah, Ares langsung berdiri dan berucap, "Kamu duduk aja! Biar aku yang beli"


"Tapi..........."


"Udah duduk aja!" Ares langsung berdiri di barisan paling belakang dan itu adalah pertama kalinya bagi seorang Ares Laco, mengantre.


Ada lima orang berdiri berderet di depannya dan Ares terus menoleh ke Hana karena, ia khawatir ada.laki-laki asing yang mendekati dan menggoda Hana. Hana tersenyum lebar dan melambaikan tangannya kalau Ares menoleh ke arahnya.


Wajah Ares cerah ceria melihat lambaian tangan dan senyumannya Hana. Wajah Ares tiba-tiba berubah masam saat ia melihat laki-laki yang berdiri mengantre di depannya membalas lambaian tangannya Hana sambil berkata ke teman yang berdiri di sebelahnya "Gadis manis itu melambaikan tangannya ke aku. Setelah dapet popcorn, aku akan mendekatinya. Aku akan mengajaknya berkenalan"


"Yang pakai dress bunga-bunga itu, ya? Bener kata kamu, dia manis, ayu dan imut" sahut temannya.


"Dia juga tampak lugu dan polos. Pasti gampang untuk kita dekati dan kita ajak jalan-jalan"


Ares langsung menarik pundak dari salah satu pria yang berdiri di depannya dan saat pria itu menoleh, Ares langsung mendaratkan bogem mentahnya ke wajah laki-laki itu...............