A Dominant

A Dominant
Memulai Penyelidikan



"Mas, berhenti menciumku! Susan dan Mbak Mirna masih ada di sini?"


Ares menarik bibirnya dari bibirnya Hana lalu ia meletakkan bibirnya di keningnya Hana dan berucap di sana, "Aku ingin menculikmu saat ini juga dan membawamu ke tempat terpencil. Aku ingin bersama denganmu berdua saja. Tapi, sayangnya masih ada banyak masalah yang harus aku selesaikan"


Krucukkkkk! Ares menunduk untuk melihat ke arah suara dan suara itu berasal dari perutnya Hana. Ares langsung mengulum bibir menahan geli lalu berucap, "Perut kamu belum berubah, ya? Kalau minta diisi pasti ribut cari perhatian dan merajuk kencang banget"


Hana tersenyum malu dan menepuk pelan dada bidangnya Ares. Hana kemudian menarik diri dari pelukannya Ares dan berputar badan untuk mengambil tas kerjanya setelah itu, ia menoleh ke Ares kembali, "Aku laper banget, Mas. Kita makan, yuk?!"


Ares langsung merangkul bahunya Hana dan berkata ke Mirna, "Kamu ikuti kami dari belakang. Hana akan masuk ke mobilku"


"Baik, Tuan" Sahut Mirna.


"Saya akan rapikan klinik lalu menguncinya, Dok" Teriak Susan.


Hana menoleh ke Susan, "Terima kasih" Lalu ia melambaikan tangan ke Susan dengan senyuman manisnya.


"Maafkan aku, kita belum jadi berbulan madu dan harus menunda jalan-jalan kita ke panti asuhan" Ares memasangkan sabuk pengamannya Hana lalu ia mengelus pipinya Hana.


Hana tersenyum lalu mengecup bibirnya Ares dan berkata, "Nggak papa. Kita masih punya banyak waktu, Mas"


"Betapa beruntungnya diriku bertemu dengan wanita sebaik kamu" Ares terus mengusap pipinya Hana dengan ibu jari tangan kanannya.


Hana kembali mencium bibirnya Ares lalu ia menggigit bibir bawahnya karena, malu.


"Kau menggigit bibir kamu, Hana. Kau tahu akibatnya bagiku, kan? Aku tidak bisa lagi menahan hasratku saat ini" Ares langsung mencium bibirnya Hana dan ciuman itu menuntut sedangkan tangan kirinya melepas sabuk pengamannya Hana dan tangan kanannya menyentuh titik kenyal kegemarannya. Tangan kanannya Ares meremas titik kenyal itu sambil terus mengajak Hana berciuman.


Hana menahan tangannya Ares saat tangan itu berhasil membuka satu kancing blusnya dan hendak bergerak ke kancing berikutnya dengan kata, "Mas, kita di area parkir"


Ares menempelkan dahinya ke dahinya Hana dan dengan tangan yang terus bergerak membuka kancing blusnya Hana dia berucap, "Kaca mobilku reflektif. Orang luar nggak akan bisa melihat ke dalam. Jadi, kita bebas melakukan apa saja sekarang ini" Tangan Ares bergerak turun sambil berbisik ke Hana, "sekarang naiklah ke atas pangkuanku dan kuasailah permainan!"


Hana naik ke atas pangkuannya Ares dengan malu-malu dan bertanya, "Setelah ini apa? Maksud Mas dengan menguasai permainan itu apa?"


Ares terkekeh geli lalu dengan cepat ia mengajari Hana dan wajah Hana terus merona malu saat ia menyatukan raganya dengan raga Ares dan terus bergerak di atas pangkuannya Ares.


Ares terus menatap Hana dengan lenguhan dan mengelus pipi Hana sambil sesekali bibirnya bermain di titik kenyal favoritnya. Dan beberapa menit berikutnya, setelah keduanya melepaskan pekik kepuasan mereka, Hana kembali ke jok penumpang dan Ares langsung membantu Hana mengancingkan kembali semua kancing blusnya Hana dan merapikan rambutnya Hana. Setelah itu, Ares mencium keningnya Hana lalu memasangkan sabuk pengamannya Hana dengan senyum bahagia.


Di saat Ares memasang sabuk pengamannya ia melihat Hana masih tertunduk malu dan konglomerat muda nan tampan itu tergoda untuk berkata, "Kenapa malu. Kamu hebat kok tadi. Aku suka Hana. Sangat suka. Aku mencintaimu"


Hana semakin menundukkan wajahnya dan Ares langsung menggemakan tawanya sembari melajukan mobilnya.


Mirna yang sejak tadi mengerutkan dahi saat ia melihat mobil tuan besarnya bergoyang-goyang cukup lama padahal ia merasakan tidak terjadi gempa, akhirnya menghidupkan mobil dan menekan gas untuk menyusul mobil tuan besarnya.


"Kita makan di rumah saja, ya. Evi sudah aku suruh masak tadi. Situasi masih belum aman untuk makan di luar" Ares menoleh sekilas ke Hana.


"Baiklah" Sahut Hana.


Sesampainya di rumah, Ares langsung menemani Hana makan dan Hana bertanya , "Kenapa dari tadi aku lihat, Mas, terus mengerutkan kening Ada apa, Mas?"


"Mellisa Lordess, putrinya Macarena, jatuh dari atas rooftop Graha Laco"


Hana langsung menutup mulutnya yang ternganga dengan tangan kanannya, lalu bertanya, "A....apakah dia ........"


"Iya. Dia meninggal seketika itu juga"


"A....apakah dia........dia bunuh diri, Mas?" tanya Hana.


"Kenapa bisa ada kejadian seperti ini?"


"Nggak usah kamu pikirkan. Makan aja yang banyak. Aku akan menyelesaikan semuanya"


"Apa yang bisa aku bantu, Mas?" Hana menatap Ares dengan serius.


"Makan dengan baik, nurut sama aku dengan tidak pergi ke mana-mana, dan tidur dengan cukup" Sahut Ares dengan senyum penuh cintanya.


"Aku serius, Mas. Bukankah Suami dan Istri itu harus saling bantu dalam suka maupun duka?"


"Iya kamu benar. Aku bagian duka dan kamu bagian sukanya aja ya, jadi imbang, kan?"


"Mas, mulai deh bercanda nggak jelas"


"Kalau aku nggak jelas, kenapa kau mau menikah denganku?" Ares tersenyum jahil ke Hana.


"Mas?" Hana mulai bersedekap dan merengut.


Ares terkekeh geli dan berucap, "Kamu nurut aja tinggal di rumah dan jangan pergi ke tempat lain selain ke klinik kamu, itu sudah sangat membantuku. Aku akan baik-baik saja. Jangan khawatir! Aku udah terbiasa menghadapi masalah serumit ini bahkan lebih rumit dari ini pun pernah"


"Baiklah. Tapi, janji, kalau ada apa-apa langsung telpon aku"


Ares tersenyum lalu berkata, "Aku sangat mencintaimu" Setelah menyelesaikan makanannya, ia bangkit, menghampiri Hana mencium kening, pelipis, kedua pipi, dan bibrinya Hana, lalu berucap, "Aku ada urusan di luar. Aku akan pulang larut malam. Tidurlah nggak usah menungguku! Mirna akan menemanimu di sini dan di bawah, aku sudah pasang puluhan anak buahku untuk menjaga kamu. Jangan keluar kalau tidak bersama denganku!"


Hana menganggukkan kepalanya laku bangkit dan mengantarkan Ares sampai di depan lift karena Ares melarang Hana ikut turun ke parkiran mobil.


Ares langsung masuk ke dalam mobil dan saat ia telah memasang sabuk pengamannya, Handoko langsung meluncurkan mobil itu.


Ares memeriksa rekaman CCTV dan ia mengumpat kesal karena, rekaman CCTV-nya terhenti di saat Mellisa Lordess berdiri di tepi rooftop dengan menangis histeris.


"Kenapa hanya ini isinya?" tanya Ares.


"Saya rasa, ada yang menutupi kamera CCTV-nya, Tuan" Sahut Handoko


"Kau benar, Han. Kau lihat bayangan yang terlihat di tembok? Bayangan seseorang yang tidak begitu tinggi dan ramping dengan rambut cepak. Itu laki-laki atau perempuan?"


"Ah! Anda jeli juga, Tuan. Iya benar. Ada bayangan orang di tembok. Berarti pelakunya bukan Papa kandung Anda, Tuan. Karena, Papa kandung Anda memiliki postur tubuh tinggi besar"


"Aku belum yakin juga sih. Itu kan bayangan di tembok, penampakannya kadang tidak sesuai dengan kenyataan" Sahut Ares sambil terus menatap rekaman CCTV tersebut.


"Dan Tuan. Satpam kita menemukan ini"


Ares menoleh ke Handoko dan menerima sebuah giwang, "Di mana benda ini ditemukan?"


"Di area tidak jauh dari kamera CCTV, Tuan. Apa itu giwangnya Non Mellisa Lordess?"


Ares yang memiliki penglihatan yang sangat jeli, menggelengkan kepalanya, "Mellisa menemuiku, tidak memakai giwang. Jadi, ini bukan giwangnya Mellisa"


"Berarti, bayangan di tembok itu adalah bayangan seorang wanita, pemilik giwang itu?"


Ares menganggukkan kepalanya di depan Handoko dan berucap, "Kau memang cerdas, Han"