A Dominant

A Dominant
Akar Kepahitan



Ares mengetuk pintu kamar neneknya Hana dengan ragu. Di saat Ares memutuskan untuk berbalik badan dan pergi, terdengar sahutan lemah nan lirih dari dalam kamar, "Masuk!"


Ares membuka pintu dengan pelan, menutup pintu itu tanpa mengeluarkan suara dan melangkah ragu mendekati neneknya Hana.


"Duduk sini, Nak! Nenek senang kamu datang lagi ke sini. Hana mana?"


Ares duduk dan berusaha untuk mengulas senyum karena senyuman memang sesuatu yang jarang Ares berikan ke orang lain. Ares lalu berkata, "Hana masuk kuliah, Nek"


"Oh! Nenek senang akhirnya Hana bisa berkuliah. Dia bekerja keras selama ini, mengumpulkan uang dan belajar giat selama ini untuk mendapatkan beasiswa, agar bisa berkuliah. Dia cucunya orang miskin, anak yatim piatu, tapi berani memiliki impian yang besar"


Ares kembali berusaha untuk mengulas senyum di wajah tampannya lalu berucap, "Hana itu wanita yang sepeti apa, Nek?"


"Lho! Kok nanya Nenek" Neneknya Hana terkekeh geli lalu melanjutkan ucapannya, "Kamu kan suaminya. Sebelum menikahi Hana, pasti kamu udah tahu Hana itu wanita yang seperti apa"


Ares mengelus tengkuknya lalu berkata, "Maksud saya, Hana belum menceritakan masa kecil dia ke saya"


"Nenek mau nanya dulu kalau gitu, apa yang membuat kamu memilih Hana untuk kau jadikan sebagai pendamping hidup kamu?"


Deg! Ares bingung mau menjawab apa karena, ia memang tidak memiliki alasan kenapa ia menikahi Hana. Dia menikahi Hana hanya berdasarkan insting semata.


"Kok diam?" tanya Neneknya Hana.


"Emm, anu, emm, saya malu untuk mengatakannya"


"Tidak usah malu sama Nenek" Neneknya Hana meraih tangannya Ares, lalu di tepuk-tepuk punggung tangannya Ares dan Ares menatap tangannya dan anehnya di saat itu juga, ia merasa kehangatan menyusup indah ke dalam seluruh atmanya.


"Saya menikahi Hana karena, Hana wanita yang tegas, mandiri, berani, memiliki tekad yang kuat, dan lugu" Ares teringat kembali perjumpaan pertamanya dengan Hana dan Hana dengan sangat berani melawan, berdebar dan bahkan menamparnya.


"Nenek lihat, kamu memiliki banyak beban. Dan memiliki akar kepahitan di dalam hidup kamu karena, Nenek lihat, kamu sangat sulit untuk memberikan senyuman kamu ke orang lain" Neneknya Hana berucap sembari tanpa hantu menepuk-nepuk pelan punggung tangannya Ares lalu ia membuka suara kembali, "Buanglah akar kepahitan di dalam hati kamu agar hidup kamu terasa damai dan tenteram"


Deg! Ares memandangi wanita renta itu dengan sorot mata penuh kasih sayang dan karena terdorong rasa kasih sayang yang sangat tulus itulah, Ares memeluk neneknya Hana dan entah kenapa, dia bisa terisak menangis di sana.


Hana keluar dari dalam ruang kuliahnya bergandengan tangan dengan Sandra sahabat barunya, namun angan Hana memikirkan Doni. Doni belum bisa ia hubungi dan Hana mengkhawatirkan Doni setelah Ares memergoki dia dan Doni mengobrol bersama semalam.


"Yang mana di antara kalian yang bernama Hana Prakas?" Seorang wanita berumur empat puluh tahun dengan penampilan fantastis menghadang langkahnya Hana dan Sandra untuk menuju ke parkiran mobil.


"Saya Hana Prakas. Anda siapa?"Tanya Hana sambil melepaskan tangannya Sandra dan melangkah maju satu langkah.


"Senang berjumpa denganmu" Wanita dengan tubuh seksi dan berbalut dress yang memperlihatkan lekuk indah tubuhnya, mengulurkan tangannya ke Hana.


Hana menyambut uluran tangan wanita itu dengan senyum tulus dan hangat.


"Namaku Macarena. Aku sahabat dekatnya Mamanya Ares" Wanita berumur empat puluh tahun dan mengaku bernama Macarena itu berucap sembari menarik tangannya dan tersenyum ambigu ke Hana.


Hana tidak menyadari senyum ambigu yang terlukis di wajah penuh cantiknya Macarena dan tidak bisa merasakan hal jahat yang terpancar dari dalam hatinya Macarena, namun Sandra yang berdiri netral di sana, bisa menemukan keganjilan di sikapnya Macarena dan Sandra tidak menyukai wanita yang mengajak Hana berkenalan.


Beberapa jam sebelumnya, Macarena datang ke kondominiumnya Ares Laco dan bertanya ke salah satu asisten rumah tangganya Ares, "Di mana Tuan kalian?"


"Tuan sudah berangkat ke kantor, Nyonya" Semua asisten rumah tangganya Ares mengetahui kalau Macarena adalah sahabat dekat dari mamanya Ares Laco.


"Dia sudah menikah, kan? Baru saja. Beberapa hari yang lalu. Apa itu benar?"


"Iya benar, Nyonya"


"Lalu di mana sekarang? Istrinya Ares?"


"Nyonya Ares Laco sudah berangkat kuliah, Nyonya"


"Kuliah?"Macarena tersenyum sinis lalu ia melangkah menuju ke kamarnya Ares dan asistennya Ares langsung melengkingkan kata, "Jangan ke kamarnya Tuan, Nyonya!"


"Kenapa jangan? Berani kau melarangku sekarang?" Macarena menoleh ke belakang dan memberikan tatapan tajamnya ke asisten rumah tangganya Ares.


"Bukan maksud saya untuk melarang Anda, Nyonya. Maafkan saya! Tapi, kamarnya Tuan Ares belum sempat kami bersihkan"


Macarena tertegun saat ia berdiri di depan ranjang mewahnya Ares yang bergaya klasik. Macarena menemukan adanya noda darah di atas sprei berwarna biru langit bermotif polos.


Macarena langsung melemas kakinya dan bersimpuh di atas lantai sambil bergumam, "Ares melakukan banyak pelanggaran. Dia tidak berkencan denganku kemarin malam, dia tidak menerima teleponku, tidak menghubungiku balik, tidak membalas pesan text yang aku kirim, dia bahkan memutuskan untuk menikah dan dia bermain cinta dengan submissivenya di kamar pribadinya, sial!"


Macarena lalu bergegas bangkit dan pergi dari kamar pribadinya Ares sambil berkata, "Cepat angkat spreinya dan bersihkan kamarnya Ares!"


"Baik, Nyonya"


Dan bukanlah Macarena namanya kalau dia tidak bisa menemukan keberadaanya Hana Prakas.


Macarena mengamati Hana dari ujung rambutnya Hana sampai ke ujung kakinya Hana dan dia tersenyum tipis saat ia menyadari, Hana mengenakan baju berkerah panjang menutupi leher di cuaca yang sangat panas.


Sial! Dia memang menarik dan cantik karena, lugu dan aku mencintai Ares dan menjadikan Ares menjadi submissive-ku karena Ares menarik, polos, dan lugu. Tapi, jangan sampai Ares menyadari cintanya pada Hana Prakas. Nggak akan aku ijinkan. Batin Macarena


"Aku ingin mengobrol panjang lebar denganmu. Kita makan siang bareng?"


"Maafkan saya Nyonya, tapi saya dan Hana ada tugas dan harus ke perpustakaan" Sandra menganggukkan kepalanya lalu menarik lengannya Hana untuk pergi meninggalkan Macarena.


Kedua manik hitamnya Macarena mengikuti arah perginya Hana dan temannya Hana.


Hana menoleh ke belakang lalu menoleh ke Sandra, "Apa tidak apa-apa kalau kita meninggalkan wanita itu begitu saja? Beliau kan sahabat dari Mamanya Ares"


Sandra berbisik di telinganya Hana, "Aku tidak menyukainya. Feelingku, wanita itu punya maksud jahat sama kamu"


Hana kembali menoleh ke belakang dan masih menemukan sorot mata Macarena menatap tajam ke arahnya. "Dia masih melihat kita"


Sandra berbisik kembali di telinganya Hana, "Makanya itu. Aneh, kan?"


Hana menganggukkan kepalanya dan mendekati Mirna, "Mbak Mirna, maaf! Aku sama Sandra akan mengerjakan tugas kelompok terlebih dahulu di perpustakaan"


"Baik Nyonya. Tapi, apa Nyonya sudah meminta ijin sama Tuan Ares?"


"Oh iya, lupa" Hana laku mengetikkan pesan text ke Ares yang memberitahukan bahwa dia dan Sandra temannya, mengerjakan tugas kelompok di perpustakaan dan pulangnya agak terlambat.


Ares yang masih duduk di samping bed neneknya Hana, menyipitkan kedua kelopak matanya membaca pesan text dari Hana. Dia kemudian bangkit dan melangkah keluar meninggalkan neneknya Hana yang sedang tidur.


Ares langsung menelepon Hana, "Sampai jam berapa?"


Hana yang tengah menapaki anak tangga perpustakaan beriringan dengan Sandra langsung menghentikan langkahnya, "Emm, berapa lama, San?"


"Dua jam" Sahut Sandra.


"Kata Sandra, hanya butuh waktu dua jam, tapi saya usahakan lebih cepat lagi"


"Ada cowoknya nggak?"


"Nggak ada. Hanya ada aku dan Sandra"


"Nggak bohong, kan?"


"Nggak Tuan, kalau tidak percaya, Tuan nanti jemput aja Hana ke sini. Dua jam lagi" Sahut Sandra sambil menempelkan bibirnya ke ponselnya Hana.


Klik! Ares mematikan sambungan teleponnya dan bergumam kesal, "Temannya Hana itu benar-benar nggak punya sopan santun, cih!"


Ares lalu menelepon Mirna, "Mir, kamu balik aja ke rumah. Aku akan menjemput Hana sekarang. Apa dia bersama seorang cowok?"


"Tidak ada cowok, Tuan. Nyonya ke perpustakaan hanya berdua saja dengan Non Sandra, teman barunya"


Klik! Ares mematikan sambungan teleponnya dan tersenyum lega mendengar Hana tidak pergi dengan seorang laki-laki. Ares kemudian bergegas menuju ke area parkir untuk masuk ke mobilnya dan meluncur untuk menjemput gadis manis bernama Hana Prakas yang telah berhasil mengacak-acak hati dan pikirannya.