
Pilot utama private jet miliknya Ares Laco yang diberi nama Thunder, akhirnya keluar dari Kokpit atau Flight Deck yang adalah sebuah ruangan khusus yang biasanya terdapat di bagian depan pesawat yang dari sana pilot biasa mengendalikan pesawat.
Pilot dengan nametag, Syahid Aken itu terkejut saat ia tidak menemukan penumpang utamanya. Pilot yang sangat gagah dan tampan bernama Syahid itu langsung menoleh ke pramugarinya, "Di mana Tuan Ares Laco dan Istrinya?"
"Di kamar mandi" sahut pramugari dengan nametag Rina.
"Dari tadi?" tanya pilot tersebut.
Pramugari yang masih berdiri di depan pintu kokpit yang rencananya akan memberikan instruksi yang harus dilakukan para penumpang sebelum pesawat lepas landas, menghela napas panjang dan menganggukkan kepalanya dengan senyum bosan. Dia sudah bosan menunggu selama setengah jam tanpa melakukan apapun di sana.
"Ya sudah. Kalau mereka kembali ke bangku mereka, langsung kau kasih instruksinya!" Pilot itu kembali masuk ke dalam kokpit setelah menerima anggukkan kepala dari pramugarinya.
Setelah satu jam berada di dalam toilet pesawat yang sempit, namun justru memberikan sensasi yang luar biasa bagi Ares Laco. Ares terpaksa menyudahi kegiatannya mencumbui istri muda yang sangat cantik dan menyatukan raga dengan istri tercintanya itu di sana saat ia melirik jam tangannya.
Ares lalu merapikan kemeja dan menarik ritsleting celana kainnya setelah ia merapikan rambut dan baju yang dipakai Hana.
Ceklek! Akhirnya suara pintu toilet yang terbuka, memberi angin segar bagi Rina sang pramugari yang sudah sangat lelah dan bosan berdiri selama satu jam di depan ruang kokpit.
Begitu melihat kedua penumpang utamanya telah duduk kembali, Rina langsung memberikan instruksi dengan cepat dan sang pilot langsung melepas landaskan private jet-nya Ares Laco.
Hana tiba-tiba ternganga dan langsung menutup mulutnya yang ternganga dengan kedua telapak tangannya saat ia melepas sabuk pengamannya.
Ares langsung panik dan menangkup kedua pipinya Hana, "Ada apa? Apa yang terjadi?"
"Aku lupa nggak pakai......." Hana menurunkan kedua tangannya ke pangkuan dia lalu menoleh ke Ares dengan ekspresi aneh.
"Oh, aku memang sengaja memasukkannya ke dalam saku celana kainnya" Ucap Ares dengan senyum santainya.
"What!? Tapi, untuk apa, Mas? Berikan! Aku akan ke toilet untuk memakainya kembali. Rasanya aneh nih kalau nggak pakai"
Ares langsung merangkul Hana, menggelengkan kepalanya lalu memejamkan kedua matanya sambil berucap, "Jangan berisik! Kau akan tahu alasanku, nanti. Sekarang tidurlah! Kita butuh tidur sejenak untuk melanjutkan keliaran kita, nanti"
Hana hanya bisa menghela napas panjang dan menepuk dada bidang suaminya dengan senyum geli.
Dan para pembaca yang Budiman, perjalanan panjang selama tujuh jam dua puluh menit dipenuhi dengan drama dan suara-suara horror yang berasal dari kedua pasangan pengantin baru yang unik itu.
Semua kru penerbangan yang masih lajang, seringkali mengerutkan kening, menautkan alis dan saling pandang dengan ekspresi aneh di saat mereka mendengar suara lenguhan, rintihan, dan pekik yang terdengar lebih seru dari pekik kemerdekaan.
Sedangkan kelima anak buahnya Ares Laco yang sudah menikah, hanya bisa menghela napas panjang, tidak berani menoleh ke kanan dan kiri sambil sesekali meraup wajah mereka masing-masing karena suara-suara horror itu membuat mereka cukup merasa frustasi karena di saat itu juga mereka merindukan istri mereka, namun tidak bisa berbuat apa-apa.
"Mas! Kau nakal, ih!" Hana menepuk dada Ares dengan gemas saat ia tahu alasannya Ares mengantongi segitiga pengamannya. Ares menjadi leluasa memainkan jari jemarinya di titik kenikmatannya Hana yang membuat Hana meremas pegangan kursi, merintih pelan, menggigit bantal, dan tanpa sadar memekikkan kepuasannya dengan kencang.
Dan akhirnya semua kru pesawat beserta semua anak buahnya Ares Laco bisa bernapas lega dan menetralkan kembali degup jantung mereka masing-masing kala private jetnya Ares setelah sang pilot yang handal itu mendaratkan private jetnya Ares di hangar pesawat pribadinya Ares yang ada di Seoul-Korea Selatan.
Ares dan Hana menuruni satu per satu anak tangga private jet yang bernama Thunder dengan bergandengan tangan dan senyum semringah.
Kedua pasangan pengantin yang unik itu, langsung disambut oleh seorang wanita yang sangat cantik, muda dan menarik.
Wanita itu langsung mengulurkan tangannya ke Hana terlebih dahulu dan saat Hana menyambut uluran tangannya, ia berkata, "Nama saya Laura. Saya adalah teman kuliahnya Handoko. Saya kuliah di sini cukup lama dan karena saya menguasai bahasa Korea dengan sangat baik, Handoko memberi pekerjaan ke saya untuk menjadi tour guide Anda selama Anda tinggal di Korea"
Hana tersenyum dan sambil menarik tangannya, ia berkata, "Senang berkenalan dengan Anda"
Wanita itu lalu memutar badannya untuk menghadap ke Ares. Ia mengulurkan tangannya ke Ares dan saat Ares menyambut uluran tangan itu, wanita itu mengucapkan kata yang sama dan sebelum wanita itu menyelesaikan kalimatnya, Ares langsung menarik tangannya, merangkul Hana dan berucap, "Nggak usah terlalu panjang perkenalannya. Sekarang kita akan ke mana dulu, nih?"
Wanita yang bernama Laura langsung bersikap sok akrab dengan Ares dan ia menyentuh pundaknya Ares dan dengan senyum menggoda ia berkata, "Kita makan siang dulu, Tuan"
Ares melihat tangan wanita itu di pundaknya lalu dengan segera ia menoleh ke Hana dan mencium pelipisnya Hana dengan kata, "Aku akan mengikuti semua kata Istriku. Kau mau ke mana dulu, Sayang?"
Laura menarik tangannya dari pundak Ares dengan wajah sedikit kecewa dan Hana bisa menangkap gelagat aneh dari Laura, namun Hana bisa menguasai diri dan emosinya dengan sangat baik saat itu karena Hana menyadari, mereka berada di keramaian. Lalu Hana menatap tajam Laura dan berkata, "Aku ingin ke hotel dulu, Sayang. Untuk melanjutkan kegiatan kita yang tertunda tadi"
Ares langsung mengecup bibirnya Hana, lalu berkata, "As you wish, my beloved Hana" dan langsung melangkah lebar sambil merangkul Hana menuju ke mobilnya dengan senyum semringah dan ia meninggalkan Laura begitu saja.
Laura menatap Hana dengan kesal dan bergumam, "Lihat aja, nanti. Aku akan membuat Tuan Ares melihatku dan hanya melihatku"
Laura menyetir mobilnya Ares dan berkata ke Hana, "Maaf Kak Hana, kita tidak menuju ke hotel. Tuan Ares punya rumah di sini, jadi kita akan ke rumahnya Tuan Ares"
Hana mengernyit mendengar Laura sok akrab dengannya dan memanggil dia Kakak bukannya Nyonya Ares Laco. Hana mulai merengut.
Ares yang asyik menciumi telapak tangannya Hana langsung berucap, "Istriku ingin ke hotel. Itu berarti kita ke hotel"
Hana langsung mengecup bibirnya Ares dan berkata, "I love you, my beloved Ares"
"Baik, Tuan" Laura terpaksa menuruti titah Ares.
Dan melalui rear-mirror vision di mobil yang ia kemudikan, Laura terbakar cemburu melihat Hana terus diperlakukan penuh cinta oleh laki-laki yang ia kagumi. Laura mengagumi pebisnis tampan, konglomerat muda, Ares Laco sejak ia melihat Ares Laco datang ke kampusnya di Seoul-Korea Selatan untuk berinvestasi di sana. Dan di hari itu, di saat ia akhirnya bisa berhadapan langsung dengan Ares Laco dan berjabat tangan dengan Ares Laco, ia langsung jatuh cinta.
Hana mulai memasang alarmnya untuk menjaga suaminya dari wanita tidak tahu malu semacam Laura. Hana bertekad untuk terus waspada dan tidak akan lengah sedikit pun.
*Aku akan merebut perhatiannya Ares Laco, Hana. Batin Laura.
Aku akan terus mengawasimu Laura. Kau belum tahu siapa aku. Batin Hana*