A Dominant

A Dominant
Cemburu



"Gantungan tas berbentuk aneh kayak gitu, masih aja kau jadikan cantolan di tas kerja kamu" Macarena bertanya dengan nada sinis.


Ares melihat gantungan tasnya lalu tersenyum semakin lebar dan berkata, "Karena gantungan tas ini sangat spesial bagiku. Hana yang memberikannya" Ares menggoyangkan gantungan tasnya dengan raut wajah gembira.


"Kenapa kau tampak semringah? Dari tadi aku perhatikan wajah kamu, berseri-seri terus" Tanya Macarena.


"Aku memang sedang bahagia. Hana sudah kembali ke sini dan aku sudah bertemu dengannya"


"Hana sudah kembali?" Macarena bertanya dengan wajah kecewa.


"Hmm" Ares tersenyum lebar ke Macarena.


"Apa kau yakin benar-benar mencintainya? Apa kau yakin itu bukan hanya obsesi belaka? Kau, kan, tidak pernah mengenal apa itu cinta sebelumnya?" tanya Macarena karena ia masih menyimpan harapan bisa merebut Ares kembali ke pelukannya. Macarena kehilangan separuh jiwanya sejak berpisah dengan Ares. Dan Macarena berubah menjadi wanita yang lebih pendiam dari Macarena yang sebelumnya.


"Kau tahu kalau di dalam dadaku ini, ada jantung bodoh yang sudah berhenti berdebar dan berdetak sejak Mama kandungku mati di tangan Papa kandungku sendiri. Dan aku baru sadar kalau ada organ tubuh unik yang namanya jantung saat jantung bodoh ini kembali berdetak waktu aku pertama kali bertemu dengan Hana. Dan jantung bodoh ini seringkali membuatku malu karena sering bergerak kencang dan berdebar tanpa mengenal tempat dan waktu setiap kali aku berada di dekatnya Hana. Dan hanya saat bersama dengan Hana, aku menjadi seperti orang idiot dan pengecut yang tidak tahu harus berbuat apa. Aku rasa itulah yang dinamakan cinta" Ares berkata dengan nada yakin dan wajah bangga di depannya Macarena.


"Lalu kenapa kau menceraikannya?" Tanya Macarena.


"Karena, aku ingin Hana menikah lagi dengan Ares yang baru. Ares yang sudah berubah menjadi Ares yang jauh lebih baik. Kau tahu, Hana itu cinta pertamaku dan bagi laki-laki, cinta pertama itu tidak akan pernah mati dan akan terus ada di hatinya" Ares menepuk dadanya dengan senyum bangga.


Macarena tersenyum mengejek lalu berkata, "Kau yakin, seorang dominan bisa berubah? Itu sudah mendarah daging di dalam diri kita Res. A dominant, selamanya adalah a Dominant. Dan cinta pertama? Cih! Cinta pertama itu hanyalah sebuah dongeng untuk bocah ingusan"


"Jangan salah! Cinta pertama itu benar-benar ada. Aku sudah merasakannya. Dan aku adalah Ares Laco. Entah watak ini aku dapatkan dari DNA Papa atau Mamaku, tapi aku memiliki watak tidak mudah menyerah. Aku akan berubah jika aku memiliki niat untuk berubah. Buktinya, aku sudah membiarkan Hana menyentuh dadaku pas aku menemuinya tadi siang. Dan wanita pertama yang aku ijinkan menyentuh dadaku selain Mama asuhku dan nancy, itu adalah Hana. Kau pun belum pernah aku ijinkan menyentuh dadaku, kan? Walaupun kamu adalah Dominanku" Ares berkata dengan entengnya.


Macarena langsung merasa kecewa dan ia langsung bertopang dagu lalu membuang muka secara pelan ke arah kiri. Macarena tersentak kaget saat ia melihat Hana bersama dengan adiknya Ares, tengah bercengkerama dengan dua orang laki-laki.


Macarena langsung menegakkan badannya lalu menatap Ares dan dengan senyum tipisnya, ia kemudian berucap, "Wanita yang kau cintai, tengah bercanda ria dengan pria lain di sana" Macarena menjulurkan wajahnya ke arah kiri.


Ares mengikuti arah pandangnya Macarena dan saat ia terlonjak kaget melihat Hana bercanda ria dengan Leon, ia bangkit berdiri dan melangkah lebar menuju ke mejanya Hana.


Leonard Buana tiba-tiba nyeletuk, "Kenapa mendadak bulu kudukku berdiri dan aku merasakan dingin yang luar biasa di sekitarku, ya? Apakah ada setan di sekitar sini?"


"Aku setannya" Ares berucap dengan nada berat, menatap tajam ke Hana, dan berdiri di belakangnya Leonard dengan mengepalkan kedua tangannya.


Leonard langsung bangkit dan berputar badan lalu tertawa lepas, "Hahahahaha, kamu yang bilang sendiri kalau kamu setan lho, Res"


Nancy langsung tersenyum lebar dan berkata, "Kak Ares mau gabung dengan kita? Sini duduk di sebelahnya Nancy, Kak"


Alih-alih merespons sapaannya Nancy, Ares menatap tajam wajah ayunya Hana dengan bertanya, "Kenapa kau ada di sini dengan Leon?"


Leonard Buana langsung berkata, "Kami di sini........"


"Kenapa memangnya?" Hana berdiri dan bertanya ketus ke Ares.


"Hah!? Kenapa kau bilang? Kau itu wanitaku dan......."


"Siapa wanitamu di sini? Bukankah wanitamu ada di sana!" Hana menunjuk sebuah meja di mana ada Macarena di sana.


Semua menoleh ke arah jari telunjuknya Hana dan Nancy langsung berucap, "Aku kecewa sama Kak Ares. Kenapa Kak Ares masih menemui wanita itu?"


Elijah menghela napas panjang dan setelah mendapatkan kode dari Leonard untuk membawa pergi Nancy dari sana, Elijah langsung menarik pergelangan tangannya Nancy dan mengajak Nancy menghirup udara segar di taman belakang resto tersebut.


Hana langsung melangkah lebar dan menusuk-nusuk dadanya Ares dengan ujung jari telunjuknya dengan berucap, "Kau berani membentak Nancy adikku? Kau yang bersalah di sini, tapi kau berani membentak Nancy?!" Hana melotot ke Ares.


Ares hendak menggenggam jari telunjuknya Hana dan dengan cepat Hana menarik jari telunjuknya dengan sorot mata penuh dengan amarah.


Leon terpaksa diam karena dia tidak ingin semakin memperuncing masalah.


"Kau yang salah! Kau sudah berselingkuh, Hana!" Ares berteriak kesal.


"Cih! Berselingkuh? Siapa yang berselingkuh? Kau gila atau mabuk sih, Mas? Kita sudah bercerai. Kita sudah tidak punya hubungan apapun saat ini. Jadi, kenapa kau tidak urus wanitamu saja! Dia duduk menunggu kamu, tuh"


"Aku dan Macarena nggak ada hubungan apa-apa. Aku bertemu dengan Macarena hanya untuk masalah bisnis"


"Aku tidak peduli" Hana berputar badan dan Ares langsung menahan lengannya Hana dengan tanya, "Lalu bagaimana denganmu? Kau ada hubungan apa dengan Leonard?"


Leonard Buana memijit keningnya melihat kekonyolannya Ares.


Hana menarik lengannya lalu ia menarik tangannya Leonard Buana untuk ia genggam.


Leonard tersentak kaget dan tersenyum lebar saat ia melihat tangannya digenggam oleh Hana.


Hana menatap kedua bola matanya Ares dengan kesal dan berkata, "Aku dan Kak Leon berkencan. Kau puas? Kau ingin jawaban yang seperti itu, kan, Mas? Sekarang aku pamit. Kau urus saja wanitamu, dasar brengsek!" Hana bejalan meninggalkan Ares sambil menarik tangannya Leonard Buana yang tanpa Hana sadari masih terus ia genggam.


Ares terpaku menatap punggungnya Hana.


"Mau kau genggam sampai sejauh mana tanganku ini?" Suara Leonard Buana mengagetkan Hana dan secara spontan Hana melepaskan tangannya Leonard Buana.


Ares kembali ke mejanya dan berdiri di depannya Macarena dengan kata, "Wulan akan menghubungimu dan urusan uang, Handoko akan menemuimu. Pembagian hasil, kau serahkan ke Handoko saja dan mulai sekarang, untuk segala urusan bisnis kita, Handoko yang akan menemuimu. Jangan menghubungiku lagi! Aku tidak ingin Hana salah paham lagi"


Macarena menatap Ares dalam diam dan Ares langsung meraih tas kerjanya lalu melangkah meninggalkan Macarena begitu saja.


Ares keluar dan menemukan Hana sendirian di tempat parkir. Ares melangkah mendekati Hana , "Kenapa sendirian di sini?"


Hana memilih untuk diam membisu.


"Kamu cemburu ya? Ah! senangnya dicemburui"


"Siapa yang cemburu" Hana mendelik ke Ares.


Saat Ares hendak menarik Hana masuk ke dalam mobilnya, Leon, Elijah dan Nancy datang. Nancy langsung membuka kunci mobilnya dan langsung masuk ke jok kemudi karena ia masih sangat kesal sama Ares dan Hana pun langsung masuk ke dalam mobilnya Nancy dan memerintahkan Nancy untuk lekas melajukan mobilnya.


Ares dengan langkah gontai masuk ke dalam mobilnya dan mengemudikan mobilnya untuk pulang ke Kondominiumnya. Ares memang sudah terbiasa menemui Macarena tanpa adanya Handoko.


Ares sampai di Kondominiumnya dan langsung menuju ke kamarnya. Ia merebahkan diri di kasur lalu memeluk celengan ayamnya Hana yang tertinggal di sana, sambil bergumam, "Sampai kapan aku akan memeluk celengan ayam ini di setiap malam? huffttt! berjuang mendapatkan kembali wanita yang kita cintai itu ternyata berat banget, Yam" Ares mengajak celengan ayamnya Hana mengobrol. "Kau tahu, juraganmu galak banget sekarang, Yam"


Ares memukul pelan kepala celengan ayamnya Hana, "Wah! Kau mirip Handoko, Yam. Kalau diajak ngobrol serius bisanya cuma melancipkan bibir dan diam membisu" lalu Ares memejamkan matanya dan berharap bisa bertemu dengan Hana di dalam mimpinya.