A Dominant

A Dominant
Menggemaskan



"Kamu udah empat puluh tiga lebih, masih aja liar, Mas. Kamu yang luar biasa, tadi" Hana lalu menyusupkan wajahnya ke dadanya Ares karena, malu.


Ares tertawa geli dan sambil mengelus punggungnya Hana yang masih polos, Ares bertanya dengan nada heran, "Kenapa kau selalu berkata kalau umurku empat puluh tiga tahun lebih padahal yang umurnya empat puluh satu, kan, kamu? Apa kamu lupa kalau suami kamu ini udah lima puluh satu umurnya?"


Hana tergelak geli lalu berucap, "Tahu dong. Masak sama umur suami sendiri, lupa"


"Kalau gitu kok kamu sering bilang aku ini empat puluh tiga plus?" Ares menunduk dan melihat belahan rambut di kepalanya Hana.


Hana menarik kepalanya dari dalam dada bidangnya Ares lalu menatap suaminya dengan senyum geli, kemudian berucap, "Biar rasanya, kita ini masih seumuran, Mas. Habisnya kamu juga sih, slalu bilang aku ini masih muda dan kamu udah tua"


Ares membenamkan kepalanya Hana ke dalam dadanya dan tergelak geli lalu berucap, "Ah, kenapa kau sangat menggemaskan begini sih, Istriku. Aku akan kasih kamu hadiah" Ares lalu menggulingkan Hana dan menghujani Hana dengan ciuman.


Nora langsung bangkit berdiri dan berlari menyusul Wintang sambil berteriak, "Biar aku yang bayar!"


Wintang menghentikan langkahnya dan menoleh ke Nora yang sudah berdiri di samping kirinya, "Udah biar aku aja. Nggak enak, kan, kalau cewek yang mbayarin"


"Aku harus mentraktir kamu karena, kamu udah banyak membantuku hari ini" Nora tersenyum ke Wintang lalu menoleh ke mbak penjaga meja kasir dengan tanya, "Berapa Mbak habisnya?"


"Lima puluh tujuh ribu rupiah, Mbak?" sahut mbak kasir itu dengan senyum ramahnya.


Nora tersentak kaget dan langsung mematung di depan meja yang bertuliskan KASIR itu, "Berapa habisnya, mbak?"


"Lima puluh tujuh ribu rupiah, mbak" mbak penjaga kasir mengulangi perkataanya.


Wintang tersenyum geli melihat ekspresi tidak percaya di wajah cantiknya Nora saat Nora mengeluarkan selembar uang kertas berwarna merah.


Setelah Nora menerima kembaliannya, Nora langsung menggandeng lengannya Wintang, menarik Wintang keluar lalu berbisik saat ia sampai di depan motor sportnya Wintang, "kenapa murah banget? Baru kali ini aku makan siang semurah ini"


Wintang melirik tangannya Nora yang ada di lengannya dan Nora langsung menarik tangannya sambil berkata, "Maaf"


Wintang tersenyum lalu berkata, "Harganya memang receh banget, tapi rasanya nggak receh, kan?"


"Iya kamu benar. Rasanya top, nggak receh. Besok kalau kamu ajak ke sini lagi, aku mau" Nora berkata dengan sorot mata berbinar-binar dan Wintang tanpa sadar mengusap ujung rambutnya Nora lalu pria ganteng bertubuh atletis itu, naik ke motornya. Wintang tidak menyadari kalau usapannya di rambutnya Nora meninggalkan kesan hangat dan mendalam di hatinya Nora


Nora melompat naik ke motor sportnya Wintang dengan dada berdebar kencang. Wanita modern berbola mata biru itu, masih bertanya-tanya dengan hatinya karena, hatinya belum pernah berdebar sekencang itu.


Saat Nora akhirnya berdiri di depan pintu mobilnya, Wintang berkata, "Aku akan menunggumu di tempat kemarin, jam tujuh, oke?"


Nora tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Lalu masuk ke dalam mobilnya setelah motor sport yang ditumpangi Wintang telah menghilang dari jarak pandangnya.


Nora memasang sabuk pengamannya dan tersentak kaget dengan bunyi kencang ponsel pintarnya, "Halo? Ada apa, Pa?"


"Kamu di mana ini?" Tanya Ares.


"Masih di kampus, Pa. Habis makan siang. Kenapa, Pa?" Sahut Nora dengan kerutan di keningnya.


"Tolong kalau ke sini, bawakan bajunya Mama, komplit" kata Ares.


"Lho, emangnya Mama di kantornya Papa?" tanya Nora.


"Oke, Pa" Sahut Nora.


Beberapa jam kemudian, Nora berdiri di depan meja kerja papanya dan melirik tempat sampah bersih, "Kok ada blus di tempat sampah itu?"


"Itu blus Mama kamu" Sahut Ares acuh tak acuh Karen, kerjaannya yang menumpuk mengharuskan dia untuk tetap fokus menatap layar laptopnya.


"Kenapa kok dibuang? Rusak apanya?" Nora mulai menautkan alisnya dan menatap papanya dengan penuh tanda tanya.


"Mama kamu ada di kamar. Cepet ke sana! Mama kamu menunggu baju ganti dari tadi" Ares berucap tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptopnya


Dengan masih menautkan alisnya, Nora menenteng paper bag dan melangkah masuk ke dalam kamar. Ia menemukan mamanya rebahan di balik selimut.


Nora duduk di tepi ranjang, memberikan paper bag ke mamanya dan bertanya, "Mama sakit?"


Hana menggelengkan kepalanya lalu keluar dari balik selimut, dan memakai setelan yang dibawakan oleh Nora.


"Apa Mama habis berkencan sama Papa?"


Hana menganggukkan kepalanya dengan tersipu malu.


Nora langsung masang telapak tangannya di depan mulutnya dan menatap Hana dengan sorot mata penuh arti.


Hana kembali menganggukkan kepalanya dan wajahnya semakin memerah karena, malu.


Nora langsung menarik telapak tangannya dari mulutnya dan terkekeh geli lalu berkata, "Wah, Mama sama Papa emang kayak ABG aja, ya. Tidak kenal tempat dan waktu, selalu aja berkencan"


Hana mengerucutkan bibirnya sebentar lalu berkata, "Makanya, kamu cepetan cari pacar. Bawa ke Mama dan Papa biar dapat restu dan kamu bisa merasakan indahnya menikah"


"Entar kalau aku bawa cowok lagi di depannya Papa, Papa akan memukulinya lagi kayak Dokter tampan, cowok pertama kali dan terakhir kali yang aku bawa di depannya Papa" sahut Nora.


"Itu karena Dokter itu ketahuan hanya ingin main-main aja dengan kamu makanya Papa kamu marah besar waktu itu"


"Tapi, terus terang sejak saat itu, Nora jadi takut berhubungan serius dengan cowok dan takut mengenalkan seorang cowok lagi ke Papa, Ma"


Hana memeluk Nora lalu berkata, "Kalau cowok yang kamu pilih serius sama kamu, Papa kamu pasti akan welcome. Papa kamu tuh sebenarnya lembur kok hatinya, cuma ia terlalu sayang sama kamu, nggak ingin kamu salah pilih cowok" Hana mengelus rambut indahnya Nora.


Nora mengelus punggungnya Hana dan berkata, "Sepertinya sebentar lagi, Nora akan kenalkan seorang cowok ke Mama sama Papa"


Hana langsung mendorong kedua bahunya Nora dengan pelan dan bertanya, "Benarkah? Siapa cowok itu? Seperti apa dia? Kalian udah berapa lama berpacaran?"


"Kami baru kenal, Ma. Belum juga jadian. Tapi, Hana yakin ada sesuatu di antara aku dan dia. Emm, dia seorang dosen dan dia orang yang sangat menarik" Nora tersipu malu di depan mamanya saat ia membayangkan wajah gantengnya Wintang.


Hana langsung memekik senang dan kembali memeluk Nora lalu berkata, "Mama tunggu kabar baik dari kamu. Cepetan bawa pria itu ke Mama dan Papa. Mama nggak sabar pengen melihatnya"


"Iya, Ma. Doakan saja, ya" Sahut Nora.


Hana mempererat pelukannya dan berkata, "Mama selalu mendoakan kamu"