A Dominant

A Dominant
Buah Berry



Wintang Kembali masuk ke dalam halaman belakang kediaman megahnya Ares Laco dengan cara memberikan sogokan uang ke penjaga gerbang belakang rumahnya Ares.


Wintang mengganti tanaman Mistletoe yang sebelumnya dia berikan ke Nora dengan tanaman Mistletoe yang baru, yang sudah mengeluarkan buah dan menggantungnya di pohon Cemara menggantikan tanaman Mistletoe yang belum berbuah yang digantungkan di pohon yang sama oleh Nora Laco. Setelah itu, Wintang berlari keluar dan melangkah dari gerbang belakang rumahnya Ares Laco dengan wajah semringah.


Sementara itu, Nora langsung duduk di meja kerjanya, membuka laptop dan mencari tahu mengenai tanaman Misletoe, "Sebelumnya kita mulai dari awal tentang tradisi "Mistletoe" yang menyatakan bahwa seorang pria diizinkan untuk mencium wanita mana pun yang berdiri di bawah rangkaian "Mistletoe" dan jika ciuman ditolak, nasib buruk akan menimpa orang yang menolaknya?" Nora membaca artikel yang muncul di layar laptopnya itu dengan menautkan alisnya. "Jadi, benar apa yang dikatakan oleh Wintang tadi?"


Lalu Nora senyum-senyum dengan sendirinya saat ia mengingat kembali ucapannya Wintang. Nora kemudian bergumam, "Dasar gila. Apa karena itu, karena kegilaan kamu itu, aku tidak bisa dengan mudah membenci kamu dan melupakan kamu, walaupun kamu sudah melukai perasaanku dan membuatku sangat kecewa"


Nora lalu terkekeh geli dan kembali bergumam, "Ciuman apa? Dasar gila! Kenapa dia bisa seyakin itu kalau tanaman yang ia berikan ke aku tadi, tidak akan layu dan mati? Dan kapan tanaman itu akan menghasilkan buah?" Nora kembali browsing di internet dan dia menghela napas lega, "Masih lama. Masih setahun lagi. Jadilah batu kau Wintang, hahahaha, dasar gila! Kau akan kembali setahun lagi dan menciumku saat itu? Cih! Aku kira kau sudah jadi batu saat tanaman nggak jelas kamu itu berbuah nanti"


Nora lalu bangkit berdiri memutar badan dan langsung melompat ke atas kasur empuknya dan terus tersenyum membayangkan kenekatannya Wintang menerobos masuk ke rumah Papanya yang ketat penjagaannya dan hanya demi memberikan sebuah tanaman aneh dengan ucapan yang aneh pula.


Keesokan harinya, seperti biasa, Nora berangkat joging di pagi hari dan walaupun akal sehatnya mengatakan untuk mengabaikan tanaman itu, tapi hatinya menyuruhnya untuk menengok tanaman itu.


Nora melangkah ke pohon Cemara dengan bergumam kesal, "Aku udah tahu kalau tanaman itu akan berbuah setahun lagi, tapi kenapa aku masih saja melangkah ke sana? Dasar Wintang gila! Dia udah membuatku jadi gila sekarang ini"


Nora berdiri di depan pohon Cemara dan berjinjit. Dia terkejut saat ia melihat ada buah berwarna merah di tanaman itu dan keterkejutannya itu membuat kakinya selip di saat ia ingin kembali menapakkan kakinya di atas rumput dan terhuyung ke belakang.


Sebuah lengan kekar menangkap tubuhnya dan Nora terkejut bukan main saat ia melihat ke belakang, Wintang tersenyum manis di depannya.


Nora langsung melepaskan diri dari pelukannya Wintang dan di saat ia ingin melangkah maju, Wintang menahan lengannya Nora, menarik lengan itu hingga Nora menghadap ke arahnya dan dengan cepat ia mendorong tubuh Nora ke belakang sampai punggung Nora membentur pelan batang pohon Cemara. Kemudian dengan sigap, Wintang mengungkung tubuhnya Nora di sana.


Nora menggeram kesal dan berkata, "Lepaskan aku! Aku akan teriak jika kau tidak mau melepaskan aku!"


"Teriak aja! Semua penjaga gerbang rumah kamu, tengah sarapan di warung burjo. Aku yang traktir mereka pagi ini" Wintang tersenyum lebar di depannya Nora.


"Kau! Mau apa kau?!"


"Mengambil buah berry" Tangan kanan Wintang naik dan saat tangan itu turun, buah berry sudah ia genggam dan ia perlihatkan buah berry itu di depan Nora sambil berkata, "Satu buah berry untuk satu ciuman"


"Lho, aku nggak kepedean. Aku mengingatkan kamu karena, aku yakin kamu udah browsing soal Misletoe di internet, bahwa siapa yang menolak dicium oleh pasangannya di bawah tanaman Mistletoe, maka dia akan mengalami nasib buruk seumur hidupnya. Kau mau itu terjadi padamu?"


Nora langsung memekik kesal, "Tentu saja kau nggak mau bernasib buruk seumur hidup!"


"Kalau gitu, buka mulut kamu dan makan buah ini. Setelah itu, ijinkan aku mencium kamu" Wintang menatap Nora dengan senyum menggoda.


"Nggak mau! Hentikan permainan kamu yang mendominasi nggak jelas ini! Lebih baik aku joging dan...........Hap!" Nora mendelik kaget saat Wintang memasukkan buah berry ke dalam mulutnya.


"Manis, kan, seperti cinta kita?" Wintang mencubit dagunya Nora dan tanpa menunggu lama, Wintang menempelkan bibirnya ke bibirnya Nora. Ia menggigit bibir atasnya Nora dan menariknya pelan. Lalu ia menggigit bibir bawahnya Nora dan menariknya pelan. Kemudian, laki-laki ganteng dan seksi itu, menatap Nora. Dia tersenyum penuh arti saat ia melihat Nora memejamkan mata dengan napas memburu.


Wintang mendekati bibirnya Nora engan perlahan dan lembut. Wintang kemudian menyatu bibir manisnya Nora yang beraroma buah berry secara perlahan, menangkup pipi Nora, memiringkan sedikit kepalanya ke kiri kemudian ke kanan, membuka mulut, lalu Wintang memejamkan mata di saat ia akhirnya ******* bibirnya Nora.


Napas Nora semakin menderu dan di detik berikutnya, justru Nora yang menguasai keadaan. Nora mencium Wintang dengan menggebu-nggebu dan mengajak Wintang berbaring di atas rumput dan dengan posisi di atas tubuhnya Wintang, Nora terus menyerang Wintang dengan puluhan ciuman panasnya. Wintang sampai panas dingin dibuatnya.


Kesadaran bahwa dirinya masih berada di halaman belakang kediamannya Ares Laco, Wintang mendorong pelan tubuhnya Nora dan dia kemudian duduk untuk memangku Nora untuk berkata, "Aku menikmati ciuman kita dan jika kau lanjutkan, aku takut kalau aku tidak akan bisa mengendalikan diriku untuk meminta lebih. Aku rasa hari ini cukup. Aku akan kembali lagi besok dan saat Kelian buah berry di yang ada di atas udah habis, aku akan menemui Papa kamu dan melamar kamu"


Wintang Kemudian membopong tubuhnya Nora, menurunkan Nora dengan pelan di atas rumput dan setelah mencium keningnya Nora, Wintang langsung berputar badan untuk berlari pergi meninggalkan Nora.


Nora melongo menatap punggungnya Wintang dan dengan napas yang masih menderu diiringi detak jantung tidak beraturan, Nora berteriak, "Dasar gila!!!!!"


Nora kemudian berjongkok dan bergumam, "Kau bahkan belum menjelaskan soal Istrimu kenapa kau justru bertindak senekat dan segila ini"


Nora kemudian bangkit berdiri dan alih-alih meneruskan langkahnya untuk joging, dia memutar badan untuk melangkah masuk ke dalam rumah dan memilih merenungkan semua kegilaannya Wintang sambil mengguyur kepalanya dengan air hangat.


Wintang yang cerdas, memang sengaja mencari tanaman Mistletoe yang memiliki enam buah berry. Enam buah berry itu sesuai dengan jumlah hari yang ia butuhkan untuk mendapatkan surat pembatalan pernikahannya dengan Jenar Ayu. Dan bukanlah Wintang namanya kalau dia tidak menciptakan sebuah permainan dan mendominasi permainan itu.


"Tunggu tanggal mainnya, Nora dan aku akan menjadikanmu milikku seutuhnya" Gumam Wintang sambil sambil melajukan motor kesayangannya. Dan di sepanjang jalan menuju ke kampus, Wintang terus tersenyum kemudian bergumam, "Aku sangat mencintaimu, Nora Laco"