A Dominant

A Dominant
Senyum Bahagia



Sore hari akhirnya tiba. Hana telah siap di depan lift menunggu kepulangannya Ares karena ia ingin segera pergi ke rumah sakit untuk menengok neneknya.


Ting! Pintu lift terbuka dan keluarlah Ares dan Handoko dari dalam lift. Ares memandangi Hana dari ujung kepalanya Hana sampai ujung kakinya Hana dan berakhir di wajahnya Hana, "Ada apa kau berdiri di depan lift?"


"Saya menunggu Anda, Tuan"


Ares menyerahkan tas kerjanya ke Handoko dan Handoko segera berlalu meninggalkan Ares dan Hana untuk meletakkan tas kerjanya Ares ke ruang kerjanya Ares.


Ares menautkan alisnya, "Kenapa menungguku?"


"Anda kan janji akan mengantar saya ke rumah sakit untuk menengok Nenek saya. Bisakah kita berangkat sekarang, Tuan? Saya sangat merindukan Nenek saya dan saya sangat mengkhawatirkan Nenek saya"


Ares mendengus kesal. Dia kecewa mendengar jawabannya Hana. Dia berharap Hana menunggu dia karena Hana merindukannya. Lalu Ares berlalu meninggalkan Hana sambil berucap, "Tunggu lima belas menit! Aku mandi dulu"


Hana menghela napas panjang karena dia masih diharuskan menunggu lagi.


Handoko memanggil Mirna dan meminta penjelasan dari Mirna perihal alat penyadap di mobilnya Hana yang tiba-tiba mati. "Apa alat penyadap di mobilnya Nyonya Hana mati?"


Mirna langsung menjawab, "Tidak Tuan"


"Tapi, kenapa Tuan Ares tidak bisa mendengarkan jawabannya Nyonya Hana?"


"Itu karena Nyonya Hana memang tidak menjawab pertanyaan dari temannya itu, Tuan" sahut Mirna.


"Oh! Baiklah kau boleh pergi" sahut Handoko.


Mirna lalu keluar dari ruang kerjanya Ares dan pergi meninggalkan Handoko.


Handoko segera bersiap kembali di depan lift untuk mengantarkan Tuan besar dan Nyonya besarnya ke hanggar pribadi miliknya Ares Laco yang menyimpan helikopter dan jet pribadinya Ares Laco. Hanggar pribadi itu berada cukup jauh dari pusat kota. Ares Laco membelinya tiga tahun silam dari seorang pensiunan penerbang yang membutuhkan uang untuk biaya pengobatan penyakit diabetes yang diderita oleh istri pensiunan penerbang tersebut.


Ares Laco memang arogan, dingin, dominan di dalam segala bidang kehidupan, dan terkenal tidak memiliki hati, namun sebenarnya Ares Laco adalah orang yang murah hati. Dia gampang trenyuh dan suka menolong.


Ares lalu keluar dari dalam kamarnya dan tampak sangat tampan sampai membuat Hana tercengang. Hana menatap Ares tanpa henti dan tanpa Hana sadari.


Ares lalu memajukan wajahnya ke wajah Hana lalu berkata, "Sudah cukup menatapku?"


Hana tersentak kaget lalu ia secara spontan mundur selangkah ke belakang dan hampir terjatuh. Dengan sigap Ares menopang punggungnya Hana, menariknya dan mendekap Hana. Kening mereka menyatu lekat dan Ares tersenyum penuh arti.


Hana langsung menarik diri dan langsung melangkah ke lift.


Ares tersenyum lebar lalu ia menoleh ke Handoko, "Kau pakai mobil sendiri saja! Aku ingin berduaan saja dengan istriku saat ini"


"Baik, Tuan"


Di dalam mobil, Hana tidak banyak bicara. Hana hanya membuka suara jika Ares bertanya Kepadanya.


"Kau pernah berpacaran?" Tanya Ares.


"Belum Tuan" jawab Hana.


"Tapi kau paham soal Dominan dan Submissive, kan?"


"Tidak, Tuan"


Sial! Dia ternyata sangat polos. Apa aku berdosa jika aku menginginkan gadis sepolos Hana?


"Apa kau pernah berfantasi liar soal lawan jenis?"


Ares menoleh tajam ke Hana, "Kau berani membentakku?"


Hana langsung mengalihkan pandangannya ke depan kembali sambil berkata, "Maafkan saya, Tuan. Saya belum pernah berfantasi macam-macam, apapun itu. Hidup saya sudah cukup sulit jadi, selama ini saya hanya fokus pada belajar dan mencari uang"


Ares kembali fokus menyetir dan berkatalah dia, "Mulai besok, kau tidak perlu memikirkan soal uang. Kau hanya perlu kuliah dan melayani suami kamu"


"Lalu Nenek saya?" Hana kembali menoleh ke Ares.


"Nenek kamu akan aku belikan rumah di dekat apartemen yang kita tempati dan aku akan menyuruh seseorang untuk menjaga Nenek kamu"


"Tapi, kenapa begitu? Kenapa Nenek saya tidak tinggal bersama kita saja, Tuan?"


"Karena aku tidak mau perhatian kamu terbagi. Aku tidak mau kamu lebih peduli pada Nenek kamu"


"Tapi, bagaimana bisa saya hidup terpisah dengan Nenek saya?" Hana lalu menundukkan wajah, memainkan tangannya di atas pangkuannya dan menghela napas panjang.


"Aku akan belikan rumah untuk tempat tinggal Nenek kamu dan rumah itu juga akan menjadi tempat tinggal kamu nanti setelah kontrak dua tahun kita selesai. Rumah itu dekat dengan apartemenku"


Hana masih menundukkan wajahnya dan kembali menghela napas sambil berkata di dalam hatinya, Yeaahhh! kita hanya akan tinggal satu atap selama dua tahun. Setelah itu aku akan bisa tinggal bersama dengan Nenek lagi selama-lamanya. Aku harus bisa bersabar.


Satu setengah jam kemudian Ares dan Hana sampai di hanggar pribadinya Ares. "Turun!"


Hana turun dari dalam mobilnya Ares dan tempat kebingungan lalu ia menoleh ke Ares, "Kenapa ke sini? Katanya kita akan menjenguk Nenek"


"Kenapa kamu itu cerewet sekali, sih!?" Ares melotot ke Hana. Lalu ia merangkul bahunya Hana, mengajak Hana menunduk saat ia mengajak Hana berjalan mendekati helikopter miliknya yang telah siap untuk mengudara.


Ares mengantarkan Hana ke pintu penumpang dan menyuruh Hana untuk naik. Setelah memasangkan sabuk pengamannya Hana dan menutup pintu penumpang itu dengan rapat dan aman. Ares turun lalu berlari menuju ke pintu kemudi. Anak buahnya Ares membukakan pintu kemudi itu dan Ares langsung melompat naik. Ares memasang sabuk pengaman dan mulai menerbangkan helikopternya.


Hana terkesima melihat Ares bisa menerbangkan helikopter. Ares menoleh sekilas ke Hana dan berkata, "Kau seharusnya berterima kasih padaku dengan pantas. Karena baru pertama kali ini aku mengajak seorang wanita naik helikopterku"


"Benarkah itu?" tanya Hana dengan wajah merona.


"Kau boleh tanya ke Handoko. Bahkan Mama dan adik Perempuanku belum pernah aku ajak naik helikopter ini"


"Anda punya adik perempuan?" tanya Hana.


"Punya. Memangnya kenapa?" tanya Ares.


"Nggak papa, Tuan"


Hana lalu bertanya di dalam hatinya, Kalau Tuan Ares punya adik perempuan, kenapa dia selalu kasar dan dingin pada wanita?


"Kita kapan ke rumah sakit, Tuan. Saya sangat merindukan Nenek Saya dan Nenek saya pun juga pasti sangat merindukan saya"


"Kamu cerewet banget ya, ini kita menuju ke rumah sakit" sahut Ares.


"Hah?! Ke rumah sakit aja kenapa harus pakai helikopter, Tuan?"


"Karena aku menginginkannya" Sahut Ares ketus.


Hana hanya bisa menghela napas. Lalu ia menatap ke depan dan memekik senang, "Indah sekali pemandangannya!"


Ares melirik Hana dan entah kenapa, hatinya merasa nyaman melihat senyuman bahagia yang terpancar dari wajahnya Hana.