
Burung-burung bernyanyi, Mentari menyapa ceria penuh kehangatan, langit tersenyum cerah, Ayam jago mengumandangkan suara merdunya, kupu-kupu memberikan keindahannya dan bunga-bunga merekah sempurna, membentuk harmoni yang indah seolah alam semesta ikut merasakan indahnya rasa di antara Hana dan Ares yang belum mereka sadari.
Ares terbangun lalu ia menarik lengannya yang menjadi bantal empuk bagi Hana. Ares meraup wajah tampannya lalu ia memiringkan badannya, mengangkat kepalanya, lalu menopang kepalanya dengan telapak tangannya yang bertumpu pada sikunya.
Ares mengamati wajah Hana. Polos, putih, hidung kecil dan lancip, memiliki alis mata yang terbentuk alami menyerupai bulan sabit, dan memiliki bulu mata alami yang lentik. Umur Hana sama dengan umur Mellisa Lordess, putri tunggalnya Macarena dan Damian Lordess, tapi sifat dan karakter mereka sangat jauh berbeda.
Pandangan Ares lalu beralih ke rambut bergelombangnya Hana yang berwarna tidak sepenuhnya hitam. Rambut Hana agak kecoklatan, bukan karena pewarna rambut, tapi karena sering terpapar sinar matahari saat Hana berjualan nasi uduk di pasar tradisional yang berada tidak jauh dari rumah neneknya.
Ares mengangkat tangan kirinya dan saat ia hendak menyentuh rambutnya Hana, Hana membuka kedua matanya dan Ares langsung menarik kembali tangannya.
Hana mengerjap-ngerjapkan kedua bola matanya lalu menoleh ke Ares dan Hana langsung membeku tidak berani bergerak sedikit pun kala ia menatap kedua bola matanya Ares. Hana seperti tersihir menatap kedua bola matanya Ares yang berwarna biru langit, indah, namun bak samudra yang sangat luas, dalam, dan penuh misteri.
"Apa yang kau lakukan padaku?" tanya Ares.
Hana tampak kebingungan dan mencekal kedua ujung selimut yang masih menutupi tubuh polosnya, dengan erat. Lalu Hana memberanikan diri untuk mengeluarkan suara, "A.....apa yang Tuan...Eh! Mas, Maksud?"
"Baru kali ini aku terbangun di pagi hari sambil memeluk seorang wanita. Baru di malam kemarin aku tidur satu ranjang dengan seorang wanita. Apa yang telah kau lakukan padaku?"
"Bu...bukankah, Mas yang kemarin......." Hana lalu memerosotkan tubuhnya dan menyembunyikan wajahnya di balik selimut.
Ares menarik kedua sudut bibinya dan tanpa ia sadari, ia mengulas senyum di wajah tampannya melihat tingkah lugunya Hana. Ares lalu berucap, "Aku masih ingin menatap wajah Istriku. Kenapa malah kau sembunyikan wajah itu?"
Hana langsung menjulurkan kepalanya dari dalam selimut dan kembali bersitatap dengan suaminya.
"Apa kamu mencintaiku? Atau setidaknya menyukaiku?" tanya Ares.
Hana tampak kebingungan mencari jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh Ares Laco.
"Kalau kau belum tahu pasti akan perasaanmu, kenapa kau tidak menolakku?"
"Karena, kata Nenek dan Mama kamu, seorang Istri harus menuruti kemauan suami"
"Elizabeth Laco bukan Mama kandungku. Elizabeth Laco adalah Mama yang mengadopsi aku sejak aku berumur lima tahun lebih"
Hana menatap Ares dengan sorot mata sendu. Ada bermacam emosi di dalam sorot mata yang Hana pancarkan ke Ares.
"Untuk apa aku tanyakan pertanyaan bodoh tadi. Mustahil mencintaiku dan aku juga nggak akan mungkin jatuh cinta kepadamu atau wanita manapun di luar sana"
"Kita cuma belum saling kenal aja, Mas. Aku, eh saya, emm......."
"Pakai aku aja nggak papa"
"Emm, aku yakin kalau kita saling kenal, kita bisa saling suka dan siapa tahu, cinta akan menyapa kita suatu saat nanti"
"Sesungguhnya aku sangat membenci makhluk ciptaan Tuhan yang bernama wanita. Tiga orang wanita di masa laluku adalah wanita yang egois dan aku sangat membenci mereka" Yang Ares maksud adalah Mama kandungnya yang terobsesi pada pekerjaannya sebagai primadona kupu-kupu malam dan terobsesi pada lelakinya yang adalah papa kandungnya Ares, lalu ibu kepala panti asuhan yang sering memukuli Ares tanpa alasan yang jelas, kala Ares masih tinggal di panti asuhan, dan Macarena yang menjebak Ares kala masih remaja, di dalam permainan A Dominant and A Submissive, tanpa mempertimbangkan perkembangan psikologisnya Ares yang sudah kehilangan keperjakaan, di usia remaja.
Hana menatap Ares dengan dalam dan ada kasih di sorot matanya.
"Aku Ingin memiliki kasih dan merasakan cinta seperti manusia lainnya, tapi aku justru lebih sering dibenci dan dibuang atau hanya sekadar dijadikan lelucon bagi mereka"
"Iya itu benar. Keluarga Laco sangat baik padaku, sangat mengasihiku dan sangat menyayangiku"
"Dan kamu tidak mengasihi mereka, tidak mencintai mereka"
Ares menatap Hana dengan gamang, lalu ia menggelengkan kepalanya dan berucap, "Aku baik pada mereka karena mereka baik padaku. Itu aja. Hatiku tetap kosong dan tidak ada rasa kasih dan cinta"
"Maukah kita saling belajar mengenal apa itu cinta, Mas? Karena, aku juga tidak pernah mengenal apa itu cinta. Sejak kecil kau juga udah kehilangan kedua orangtuaku dan aku hanya punya Nenek. Sejak kecil, kemiskinan, membuat orang-orang merendahkan aku dan membenciku. Aku rasa, kita ada persamaan, Mas"
"Baiklah"
Hana yang asal berucap menjadi terkejut dengan jawabannya Ares, "Hah?! Baiklah?"
"Iya. Aku juga ingin belajar mengenal cinta. Kita belajar bareng"
"Dan kita mulai darimana?"
"Mulailah dengan tidak takut padaku. Mulai detik ini, bersikap santailah padaku" sahut Ares.
"Baiklah. Sekarang bolehkah, aku minta Mas, tutup mata?"
"Kenapa aku harus tutup mata?" Ares menautkan alisnya.
"Ka.....Ka....karena aku mau bangun dan ke kamar mandi. Aku rasa aku butuh mandi, Mas"
"Bangunlah!"
"Tapi, privasi, Mas" Hana berucap sembari duduk di depannya Ares, lalu menarik selimut untuk ia lilitkan ke tubuhnya.
"Privasi apa? Setelah semalam kita menyatu, kamu masih butuh privasi? Aku udah hapal setiap bagian lekuk tubuh kamu"
Hana langsung memerah wajahnya karena, malu. Lalu dengan cepat, ia berbalik badan, melompat dari atas tempat tidur dan berlari ke kamar mandi diiringi gema tawa renyahnya Ares.
Satu jam berikutnya, pengantin baru yang masih bingung dengan rasa yang ada di hari mereka, berjalan keluar dari dalam kamar. Ares melirik tangannya Hana. Hatinya tidak bisa menahan dorongan rasa ingin meraih dan menggenggam tangan itu, tapi gengsi membuatnya meragu.
Ares mencoba menggerakkan tangannya dengan pelan untuk meraih tangannya Hana dan tanpa Hana sadari, Hana mengangkat tangannya untuk menggaruk hidungnya.
Ares menarik tangannya dan menghela napas panjang. Dan di saat Hana menjatuhkan kembali tangannya di samping badan, Ares langsung memakai kesempatan itu untuk meraih dan menggenggam tangannya Hana.
Hana tersentak kaget dan langsung menoleh ke Ares
Area berucap tanpa menoleh ke Hana, "Kata Handoko, bergandengan tangan adalah salah satu cara untuk mengenal cinta"
Hana langsung menunduk malu dengan debaran jantung dan memerah wajahnya.
Ares tetap menatap lurus ke depan dan berjalan sambil menggenggam tangannya Hana diiringi debaran jantung yang mulai terbiasa ia rasakan sejak ada Hana di hidupnya.