
Handoko mempersilakan Hana untuk masuk ke dalam ruang kerjanya Ares. Hana membuka dua daun pintu berwarna abu-abu yang sangat besar itu dengan ragu dan keraguannya itu membuat kakinya selip lalu ia jatuh tersungkur di atas lantai tepat di saat kedua daun pintu besar itu terbuka lebar.
Handoko terkejut melihat Hana tersungkur, ia segera mendekati Hana, membungkukkan badan hendak menolong Hana untuk berdiri, tapi suara melengkingnya Ares, "Jangan sentuh wanitaku, Han!" mengurungkan niat Handoko untuk menolong Hana berdiri.
Hana mendengus di antara rasa malu dan kesal sembari berdiri.
Hana lalu melihat ke depan dan tampaklah Ares Laco berdiri dengan sangat elegan di belakang meja yang sangat besar, gagah dan tampak sangat mahal.
"Duduklah di depanku!" Ares terus menatap Hana tanpa berkedip.
Hana melangkah menuju ke meja kerja super mahal itu lalu duduk di kursi single yang ada di depan meja kerjanya Ares dan langsung memberanikan diri untuk bertanya "Siapa yang Anda maksud dengan wanita Anda?"
Ares mengangkat jari telunjuknya lalu ia arahkan ke Hana tanpa mengeluarkan kata-kata dan ia terus memandangi Hana.
Hana merasa aneh dan rapuh saat ia melihat Ares terus memandanginya.Ia menjadi salah tingkah dan lidahnya pun tiba-tiba menjadi kelu. Beberapa kali menelan ludah dan membasahi bibirnya untuk mengusir rasa gugupnya.
"Aku rasa aku berhak menyebutmu sebagai wanitaku saat ini" Ares masih saja terus memandangi Hana.
Hana hanya bisa menghela napas panjang dan tidak berniat membahas lebih lanjut soal itu. Karena ada bahasan yang lebih penting yang harus ia sampaikan ke Ares Laco selain soal sebutan wanitaku.
Ares menarik kembali jari telunjuknya lalu ia meletakkan kedua tangannya di atas meja kerjanya dan bertanya, "Kenapa kau ingin menemuiku?"
Hana meletakkan lembaran kertas yang ia genggam di atas meja kerjanya Ares lalu mendorong kerat itu sampai berada tepat di bawah pandangannya Ares.
"Apa ini?" Ares menunduk sekilas untuk melihat beberapa lembar kertas yang ada di depannya lalu dengan cepat ia menatap Hana kembali.
"Harusnya saya yang bertanya, Tuan. Apa maksud semua itu? Kenapa Graha Laco bisa membayar lunas semua biaya pengobatan Nenek saya?"
"Karena kau wanitaku" Sahut Ares dengan nada ringan tanpa beban.
"Anda memiliki banyak uang dan tampan. Kenapa Anda memilih saya untuk Anda usik terus? Masih ada banyak wanita yang jauh lebih cantik daripada saya di luar sana tapi, kenapa Anda mengganggu hidup saya?!" Hana mulai meninggikan nada bicaranya karena kesal.
Handoko secara spontan melangkah maju untuk menegur Hana tapi, tangan Ares langsung terangkat untuk menahan langkahnya Handoko. Handoko menghentikan langkahnya dan kembali berdiri tegak dengan sikap sempurna di belakang kursinya Hana.
"Kau berani membentakku? Tapi, aku memaafkanmu karena kau sudah memujiku tampan barusan"
Hana menarik napas dalam-dalam untuk meredam emosinya yang mulai naik ke ubun-ubun kepalanya. Kemudian ia menatap tajam Ares dengan tanya, "Kenapa Tuan?"
"Karena itu kamu" Sahut Ares dengan santainya.
Hana ingin berteriak dan mencekik Ares saat itu juga andai ia memiliki keberanian dan kuasa yang lebih besar dari Ares Laco.
"Saya akan membayar semuanya dengan mencicilnya. Saya besok sudah mulai bekerja di kafe ......"
"Kafe Bintang di Hotel Prince? Aku akan tutup kafe itu jika kau nekat bekerja di sana" Ares berucap dengan menghunus tatapan tajam ke Hana.
"Anda bahkan bisa menutup kafe itu?" Hana bertanya dengan wajah heran.
"Tentu saja bisa. Hotel Prince di bawah kendalinya Graha Laco" ucap Ares tanpa mengalihkan pandangannya dari Hana.
"Bisakah Anda tidak memandangi saya terus, Tuan?"
"Tidak bisa" Sahut Ares dengan nada datar.
"Baiklah. Saya akan pinjam uang ke teman saya untuk membayar..........."
Hana bergidik ngeri mendengar ucapannya Ares Laco. Kemudian ia berkata, "Saya mohon jangan usik keluarganya Deo!"
"Kamu mencintainya?" tanya Ares dengan wajah dan nada bicara yang sangat dingin sedingin kutub utara.
"Saya tidak ada waktu untuk membiarkan hati saya jatuh cinta" sahut Hana.
"Lalu kenapa kau bisa begitu peduli padanya?"
"Karena, Deo sudah banyak membantu saya. Karena, Deo sahabat saya"
"Sahabat? Cih! Wanita dan Pria itu tidak mungkin bisa bersahabat" Ares berucap sambil menghunus tatapan tajamnya ke Hana.
Hana menghela napas panjang laku berucap, "Lalu apa yang bisa saya lakukan agar saya bisa lepas dari Anda, Tuan?"
"Sudah pernah aku katakan padamu,kan? Aku selalu mendapatkan apa yang aku inginkan"
"Apa yang harus saya lakukan, Tuan?" Hana akhirnya berkata dengan nada lemas dan putus asa karena segala upaya yang akan ia lakukan sudah dihadang oleh Ares Laco. Hana juga tidak ingin jika sampai Deo dan keluarganya terkena amarahnya Ares gara-gara dirinya.
"Tanda tangani kontrak ini!" Ares menyodorkan sebuah map di depannya Hana.
"Jika saya menandatangani kontrak ini, saya bisa bebas dari Anda?"
Ares terkekeh geli, "Baca dulu semuanya!"
Hana langsung menutup map tersebut dan berkata, "Saya tidak mau hidup satu atap dengan seorang pria tanpa menikah"
"Tapi, aku tidak berniat menikah. Aku juga tidak pernah menikah"
"Kalau begitu lupakan saja Tuan, saya akan mencari pekerjaan di luar sana yang tidak ada kaitannya dengan Ares Laco" Hana bangkit dan berputar badan. Ares langsung berteriak, "Berhenti!"
Hana menghentikan langkahnya dan kembali menatap Ares.
Ares merasa tertantang untuk memiliki Hana seutuhnya saat itu juga saat ia menerima penolakannya Hana dan baru kal itu ia menerima penolakan dari seorang wanita. Lalu Ares berkata, "Baiklah. Kita akan menikah saat ini juga tapi, kau harus tandatangani dulu kontraknya"
Hana tiba-tiba menyesali ucapannya sendiri dan merasa ragu untuk menandatangani kontrak itu.
"Aku sudah menyetujui permintaanmu. Kita akan menikah sekarang juga tapi, kau harus tandatangani kontrak itu. Jika kau menolak dan pergi meninggalkan aku maka aku akan bertindak kejam padamu dan pada orang-orang yang ada di sekitarmu" Ares melotot dan nada bicaranya berubah menjadi sangat dalam dan tegas.
Hana bergidik ngeri dan tanpa banyak bicara lagi, ia meminta pulpen ke Ares. Ares memberikan pulpennya ke Hana dan Hana langsung menandatangani surat kontrak itu tanpa membaca dan mempelajarinya lebih dalam lagi.
"Bagus! Sekarang kita akan pergi ke kantor pencatatan sipil untuk mendaftarkan pernikahan kita"
"Ta....tapi, saya tidak membawa surat-surat saya"
"Handoko sudah pergi untuk mengurusnya"
Hana menoleh ke belakang dan benar saja, Handoko sudah menghilang dari ruang kerjanya Ares.
"Ayo kita pergi sekarang!" Ares menarik pergelangan tangannya Hana dan Hana hanya bisa pasrah mengikuti langkahnya Ares.
Apa yang akan terjadi padaku setelah ini? Baru. Hana.