A Dominant

A Dominant
Tiga Tahun Kemudian



Hana berlari keluar dari dalam kamar president suite kamarnya Ares Laco sambil menunduk menangis dan ia bertabrakan dengan Elizabeth Laco.


Elizabeth Laco langsung memeluk Hana, "Hei! Ada apa Sayang? Are you okay? Why are you crying so bad like this?"


Hana mengangkat wajahnya untuk melihat siapa yang telah ia tabrak dan ia bernapas lega saat ia melihat wajah lembutnya Elizabeth Laco. Dan Hana langsung berucap, "Tolong bawa saya pergi dari sini, Ma! Sebelum Mas Ares mengejar saya"


Tanpa banyak tanya Elizabeth Laco lanagung membawa Hana berlari kecil menuju ke parkiran mobilnya dan membawa Hana pergi dari Hotel Grand Laco


Ares tersadar dari kebekuannya dan konglomerat muda nan tampan dan gagah itu langsung berlari keluar, ia berharap masih bisa mengejar Hana. Namun, sesampainya di depan pintu kamar, Ares tidak melihat sosok Hana di sana. Ares mengusap ujung kepalanya dan mengumpat, "Sial kau Res! kenapa kau lambat sekali, kenapa tidak langsung kau kejar Hana Tadi? Dasar brengsek kau Res, brengsek!!!!!"


Handoko mengantarkan Wulan pulang ke rumahnya Wulan. Handoko mulai merasakan sedikit percikan-percikan unik di dalam hatinya saat ia menikmati film di gedung bioskop VVIP bersama dengan Wulan. Handoko tidak menyangka kalau Wulan yang super ceriwis ternyata wanita yang cerdas. Handoko dan Wulan bersitatap di dalam mobil.


Apa dia akan menciumku?!Wulan bertanya-tanya di dalam hatinya.


Apa aku salah jika aku menciumnya di kencan pertama ini? Handoko bertanya-tanya di dalam hatinya.


Dan secara tidak sadar, Handoko memajukan wajahnya dengan pelan dan Wulan langsung memejamkan kedua kelopak matanya dengan hati berdebar-debar dan...............Kring!!!!!! nada dering djadoel terdengar sangat nyaring dan berhasil mengagetkan Wulan dan Handoko.


Handoko langsung menegakkan Kembali badannya sembari mengambil ponsel.dari dalam saku kemejanya untuk menerima panggilan di ponselnya. "Baik, Tuan. Saya segera meluncur ke sana"


Handoko mematikan sambungan ponselnya sambil menoleh ke Wulan, "Maaf, kau harus turun sekarang. Tuan Ares memanggilku. Urgent"


Wulan menghela napas panjang dan sebelum turun dia berkat, "Kalau Pak Han selalu mengutamakan Tuan Ares di atas segalanya, Pak Han bisa jomblo seumur hidup" Lalu Wulan turun dari dalam mobilnya Handoko dengan wajah kesal dan Handoko hanya bisa menghela napas panjang lalu melajukan kembali mobilnya.


Elizabeth Laco membawa Hana ke vila pribadi keluarga Laco. Elizabeth menelepon suami dan putrinya untuk datang ke vila pribadi mereka sementara Hana tertidur lelap karena


kelelahan.


Tiga jam kemudian, Christian Laco dan putrinya masuk ke vila pribadi mereka dan mereka terkejut melihat Hana tengah duduk di ruang tengah mengobrol dengan Elizabeth Laco.


Christian dan nancy duduk bersebelahan di depannya Hana dan Elizabeth Laco dan Christian langsung bertanya, "Hon, ada apa ini? Kenapa Hana bisa ada di sini? Apa Ares juga ada di sini?"


Elizabeth Laco menggelengkan kepalanya, "Hana lari dari Ares Laco karena, Ares mengakui di depan Hana kalau Ares dan Macarena punya hubungan gelap selama ini"


"What!?" Christian Laco dan Nancy Laco terkejut secara bersamaan dan memekikkan kata itu dengan kompak.


"Dan Macarena telah merenggut keperjakaannya Ares saat Ares masih remaja. Aku nggak nyangka kalau sahabat yang aku percayai dan aku sayangi selama ini telah tega merusak Putraku" Elizabeth menunduk sedih. Lalu ia mengangkat Kembali wajahnya untuk menatap suami dan anaknya, "Walaupun Ares sudah memutuskan hubungan dengan Macarena sejak ia menyukai Hana, tapi aku tetap merasa bersalah pada Ares. Karena kelalaianku, masa depan Ares menjadi seperti ini"


"Itu bukan salah kamu, Hon. Kamu, kita, sudah melakukan hal yang terbaik untuk Ares" Sahut Christian Laco.


"Iya, Ma. Jangan menyalahkan diri sendiri. Itu tidak baik, Ma" Sahut Nancy.


Elizabeth tersenyum saat ia menatap suami dan putri kandungnya secara bergantian. Kemudian ia berucap, "Alasan utama aku memanggil kalian ke sini bukan soal Hana dan Ares"


"Lalu apa?" tanya Christian Laco.


"Mas sudah tahu kan, pas Mas dijodohkan denganku, aku mengatakan sejujurnya kalau aku pernah menikah dan memiliki seorang putri dan orangtuaku memisahkan aku dengan suami dan putriku"


"Iya. Dan aku tidak mempermasalahkan hal itu sampai sekarang. Aku sangat mencintai kamu dan menerimamu apa adanya, Hon. Lalu sekarang apa?" Sahut Christian Laco.


Nancy bersitatap dengan Hana dan saling melempar senyum penuh kasih dan tulus.


"Aku sudah menemukan putriku, Mas" Elizabeth Laco berucap sembari mengusap rambutnya Hana.


Hana tersentak kaget dan secara spontan ia menoleh ke Elizabeth Laco dengan penuh tanda tanya.


Christian menoleh ke Nancy dan mereka bersitatap dengan wajah penuh tanda tanya. Lalu papa dan anak itu menoleh ke Elizabeth Laco kembali.


"Itu benar, Mas. Aku baru tahu saat aku mengobrol panjang lebar dengan Neneknya Hana petang tadi" Elizabeth berucap sembari terus menatap Hana dengan senyumannya.


"Benar, Sayang. Kalau kamu ingin lebih yakin lagi, kita bisa melakukan tes DNA" Sahut Elizabeth Laco.


Hana langsung mematung dan Christian langsung mengeluarkan kata, "Kalau itu benar. Aku tidak keberatan menambah Putri lagi dan Aku akan menyayangi Hana seperti aku menyayangi Nancy dan Ares"


"Aku juga senang banget akhirnya aku memiliki Kakak perempuan. Kak Hana, apa Kakak mau punya adik bawel dan ceriwis kayak aku?" tanya Nancy.


Hana menitikkan air mata sambil menganggukkan kepalanya dan nancy langsung bangkit mendekati Hana dan memeluk Hana. Kedua putri kandungnya Elizabeth Laco berpelukan di dalam tangis bahagia mereka.


Christian pun bangkit dan mendekat Elisabeth. Dia memeluk bahu istri tercintanya sambil menciumi pucuk kepalanya Elizabeth Laco dan Elizabeth Laco mengecup bibir suaminya lalu berucap, "Terima kasih, Mas. Aku mencintaimu"


"Aku juga mencintaimu" Christian mengecup bibirnya Elizabeth Laco.


Setelah puas melepas rindu dan rasa bahagia mereka dengan menikmati makan malam bersama, Christian Laco kemudian berucap, "Macarena berarti orang yang sangat berbahaya. Jangan dekat-dekat sama dia, lagi Ma"


"Iya kamu benar, Mas" Sahut Elizabeth.


"Lalu gimana dengan Kak Hana?" tanya Nancy.


"Maukah kamu menemani Kakak kamu dan Neneknya Kakak kamu untuk tinggal di Jepang. Kalian tinggal di sana sampai kalian menyelesaikan pendidikan kalian di sana" sahut Elizabeth Laco.


"Mau. Aku suka Jepang" Sahut Nancy.


Nancy yang lebih muda tiga tahun dari Hana dan sudah duduk di bangku kelas sebelas karena memiliki kecerdasan di atas rata-rata memekik kegirangan.


"Papa setuju kalau kamu menyukainya. Dan Tinggalah di sana bersama dengan Kakak kamu di Jepang. Papa dan Mama akan mengurus Macarena" Sahut Christian Laco.


"Mama akan sembunyikan hal ini dari Ares sampai Hana siap untuk bertemu kembali dengan Ares" Sahut Elizabeth Laco.


"Han, kenapa di saat aku sudah bisa membuka tirai hatiku untuk mencintai seorang wanita, aku justru membuat wanitaku merasa tidak nyaman berada di sampingku dan aku membuat wanitaku pergi dari sisiku, Han" Ares bertanya ke Handoko dengan wajah kusut.


"Anda berarti harus berubah total Tuan dan kejar Non Hana lagi. Mulai dari nol lagi, Tuan. Dekati Non Hana dengan karakter yang baru!" Sahut Handoko.


"Ide bagus itu Han. Tidak sia-sia aku menggajimu dengan sangat mahal. Kalau begitu, rombak kamar ungu yang ada di kondominiumku dan yang ada di kamar hotel ini! Buang semua alat-alat yang ada di dalamnya!"


"Baik, Tuan" Sahut Handoko. "Lalu akan dijadikan apa nantinya kamar ungunya kalau mau dirombak?"


"Jadikan bioskop mini" Sahut Ares.


"Baik, Tuan" Sahut Handoko.


Ares mencari keberadaannya Hana Prakas ke mana pun dan tidak berhasil menemukan Hana Prakas. Karena, Neneknya Hana pun juga menghilang. Ares hampir frustasi karena ia harus menanggung kerinduan yang sangat besar pada istrinya itu.


Dan berkat kecerdasan Elizabeth dan christian Laco di dalam berakting, Ares tidak mencurigai kalau Elizabeth dan Christian ada di balik hilangnya Hana Prakas.


Tiga tahun kemudian..................


Hana telah menjadi seorang dokter dan ia memilih untuk menjadi dokter hewan karena, ia menyukai hewan. Neneknya Hana akhirnya meninggal dunia karena penyakit jantung yang dideritanya sejak masih muda. Nancy dan Hana kembali ke Indonesia dengan prestasi fantastis di bidang akademik yang berhasil mereka raih.


Hana membuka klinik dokter hewan dan Nancy yang juga mengambil kuliah kedokteran, banyak membantu kakak perempuannya di waktu luangnya.


Dan di suatu sore yang cerah, tanpa sengaja Hana hampir ditabrak oleh sebuah mobil mewah di saat ia tengah menyelamatkan seekor kucing yang menyeberang dengan sangat ceroboh di tengah jalan.


Hana menegakkan badannya dan terkesima saat ia melihat laki-laki yang turun dari dalam mobil mewah yang hampir menabraknya.


Hana dan laki-laki itu bersitatap di dalam kebekuan mereka..................