A Dominant

A Dominant
Hana Pingsan



Hana berjalan menuju ke mobil mewahnya Ares dengan keraguan yang sangat besar. Dan rasa takut yang kental menyergap jiwa raganya. Hana lalu menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari celah untuk melarikan diri dari Ares tapi, celah itu tidak ia temukan.


Di sisi kanan ada tiga orang berjalan di sampingnya, sisi kiri pun sama. Hana menoleh ke belakang dan ada lima orang berjalan mengikuti dia dan Ares lalu, di depan sudah berdiri dengan sikap sempurna, tiga orang laki-laki tegap dan salah satunya membukakan pintu jok penumpang untuk Ares dan Hana.


Hana melangkah masuk terlebih dahulu dan bergeser sampai menempel ke pintu mobil. Hana lalu menyandarkan kepalanya di sana dan menghela napas panjang.


Aku ingin lari dan bersembunyi dari laki-laki ini tapi, tidak ada celah sama sekali. Dan jika aku bisa lari dan bersembunyi dari laki-laki mengerikan ini, bagaimana nasib Nenek dan Deo? Hana memejamkan kedua kelopak matanya rapat-rapat lalu menarik napas dalam-dalam untuk melepaskan rasa frustasinya.


Ares menoleh ke kanan untuk melihat Hana dan mengerutkan alisnya, "Kenapa kau bersandar ke pintu mobil dan memejamkan kedua mata kamu?"


Hana lalu menegakkan badannya dan membuka kedua kelopak matanya tanpa bersuara.


"Kau ingin menjadi dokter, ya?" Ares membuka suara dan supirnya, melirik ke rear-mirror vision dengan heran karena, baru pertama kalinya supir itu menemukan tuan besarnya mengajak bicara wanitanya.


Hana menganggukkan kepalanya masih belum mengeluarkan suara. Hana takut pecah tangisnya jika ia bersuara di tengah rasa frustasinya.


Ares masih memandangi Hana dari samping. Lalu ia kembali bertanya, "Kenapa?"


Hana mengusap wajahnya, menghela napas panjang dan berkatalah dia tanpa menoleh ke Ares, "Karena saya ingin menyelamatkan orang"


"Kenapa suara kamu bergetar? Kau ingin menangis?" tanya Ares.


Hana menganggukkan kepalanya dengan jujur. sambil mengulum bibir untuk menahan air matanya.


"Apa kau takut padaku?"


Hana mengangukkan kepalanya.


"Kenapa?"


Hana menggelengkan kepalanya tanpa menoleh ke Ares.


Ares menghela napas panjang lalu ia kembali berkata, "Mulai besok, kau sudah bisa berkuliah di universitas impianmu. Di kedokteran, sesuai dengan minat kamu"


Hana tersentak kaget dan secara spontan ia menoleh ke Ares, "Benarkah? Saya belum menandatangani berkas beasiswa yang saya terima"


Ares mengangkat tangannya dan Hana memejamkan matanya. Hana berpikir kalau Ares akan menamparnya. Tapi, yang ada justru elusan lembut yang mendarat di pipinya. Hana merasakan kehangatan di sana dan untuk beberapa saat ia terlena.


Ares lalu menarik tangannya dan berkata, "Buka mata kamu dan tatap aku!"


Hana membuka secara perlahan kedua kelopak matanya dan ia memberanikan diri untuk menatap Ares Laco.


"Aku akan baik padamu jika kau menuruti semua keinginanku. Jadilah Submissive yang baik maka kau akan memiliki aku sepenuhnya"


Gila! Siapa yang ingin memilikimu sepenuhnya. Batin Hana.


Deo memekik girang di saat Dokter jaga ICU mengabarkan ke dia bahwa Neneknya Hana tidak mengalami komplikasi, sudah sadarkan diri dan bisa dipindahkan ke kamar rawat inap.


"Kenapa?" tanya Dokter itu dengan nada heran.


"Karena, kami sanggupnya membayar kamar kelas tiga, Dok" sahut Deo serius.


"Lho! Kamu ini aneh. Nenek kamu udah dapat kamar VIP dan sudah dibayar penuh untuk satu Minggu ke dapan kok malah pilih pindah ke kelas tiga dan bilang kalau sanggupnya bayar di kamar kelas tiga?"" Dokter itu mengerutkan dahinya di depan Deo.


"Bukan pihak keluarga yang membayar kamar VIP itu, Dok. Dan......."


"Kamu ke bagian pendaftaran rawat inap saja! Aku masih banyak kerjaan" Dokter itu kemudian memutar badan untuk pergi meninggalkan Deo.


Deo menggaruk-garuk kepalanya dengan wajah bingung. Akhirnya ia pun melangkah ke bagian pendaftaran rawat inap dan di sana, Deo meminta kamar kelas tiga untuk pasien atas nama Hartati Prakas.


"Wah! Saya tidak berani. Graha Laco penyokong terbesar rumah sakit ini dan pihak rumah sakit tidak berani melawan permintaannya Tuan Ares Laco" Sahut petugas di bagian pendaftaran rawat inap dari balik kaca.


Deo kembali menggaruk kepalanya dan setelah berdebat lebih lama dan tidak mendapatkan apa yang ia mau, ia pun bangkit dan pergi meninggalkan bagusan pendaftaran rawat inap, masuk ke dalam lift dan memencet lantai lima menuju ke kamar VIP, bangsal selatan lantai lima, nomer kamar S505.


Deo berdiri di depan pintu kamar S505 dan menggesekkan kartu chip yang ia terima dari suster jaga bangsal VIP itu sembari bergumam, "Ares Laco memang hebat. Dia bahkan memilihkan nomer cantik untuk kamar rawat inapnya Nenek"


Deo melangkah masuk, mencopot sepatunya dan ia taruh sepatunya di rak sepatu yang tersedia di samping pintu masuk, berganti sandal khusus yang disediakan khusus untuk kamar VIP. Deo lalu duduk di bangku di samping bed neneknya Hana dan tersenyum saat ia melihat neneknya Hana masih lelap tidurnya.


Deo menelepon Hana berkali-kali tapi tidak diangkat oleh Hana. Lalu laki-laki tampan yang masih berumur delapan belas tahun itu, memberitahukan ke Hana kalau neneknya telah membaik dan sudah dipindahkan ke kamar rawat inap VIP nomer S505.


Deo lalu melangkah ke sofa dan merebahkan diri di sana sambil menonton televisi tanpa menghidupkan suara Televisi. Dia tersenyum dengan sendirinya saat ia berasa menonton film bisu.


Hana telah resmi menjadi istri sahnya Ares Laco dan Ares Laco langsung membawa Hana ke kondominium mewahnya. Sesampainya di sana, Ares membawa Hana ke sebuah kamar yang ada di lantai dua. "Ini kamar kamu. Kamu bisa mendekorasinya sesuka hati kamu"


"Dan......a......apakah Anda juga akan tidur di sini?"


"Aku tidur di lantai satu. Aku tidak pernah tidur dengan Submissive-ku" sahut Ares.


Hana bernapas lega mendengar jawabannya Ares.


Lalu Ares menutup pintu kamar itu dan mengajak Hana ke lantai tiga. Ada sebuah pintu besar berwarna ungu gelap. Saat Ares membuka kedua pintu itu, jantung Hana berdegup kencang dan ia hampir mati ketakutan saat ia melihat ada ranjang besar berwarna ungu di dalam kamar yang bernuansa ungu itu dan di samping kiri dan kanan ranjang besar itu, tercentel berbagai macam alat penyiksa. Seperti, cambuk, borgol, tali dadung, plester dan alat mengerikan lainnya.


Hana menoleh ke Ares dan Ares langsung bertanya, "Kau ingin mencobanya?"


Hana bergidik ngeri lalu jatuh pingsan.


Ares langsung menangkap tubuhnya Hana dengan wajah panik dan bergegas membopong Hana dan tanpa ia sadari, ia berlari cepat membopong Hana ke lantai satu dan ia rebahkan di atas kasurnya.


Handoko dan dua asisten rumah tangganya Ares saling pandang dengan heran. Karena memang baru pertama kalinya itu, tuan besar mereka membawa seorang wanita masuk ke dalam kamar pribadinya.


Semoga Nona Hana Prakas bisa membawa dampak positif bagi Anda, Tuan. Batin Handoko