
Hana mendelik ke Ares, "Mas,.masuk ke kamar dan tunggu aku di sana! Kalau nggak, aku akan mendiamkan Mas seumur hidup"
Ares langsung berputar badan dan melangkah menuju ke kamar dengan langkah malas-malasan dan sesekali menoleh ke belakang untuk melihat Deo dan Leon.
Hana langsung mendelik dan berucap dengan sabar, "Nggak usah nengok ke belakang, Mas!"
Lalu Hana menoleh Deo, "Kenapa kamu masih di sini? Kamu harus ambil obat, kan?"
Deo menghela napas panjang lalu ia berkata ke Leon "Ingat ucapanku, tadi!' Lalu komandan tampan itu berbalik badan dan berjalan dengan malas-malasan ia mengajak anjing kesayangannya ke meja asistennya Hana.
Hana lalu menoleh ke Leon, "Mini, sakit apa?"
"Nggak sakit. Yang sakit aku. Aku sakit malarindu tropi kangen sama kamu"" Sahut Leon dengan wajah dan senyum santai.
"Jangan main-main, ya! Aku nggak suka" Hana bersedekap di depannya Leon. Hana lalu berputar badan dan Leon langsung berkata, Aku bercanda. Mini sakit flu"
Hana menghentikan langkahnya lalu berputar badan dan berdiri kembali di depannya Leon. "Sejak kapan Mini kena flu? Udah dikasih obat apa?"
"Udah seminggu ini dia bersin-bersin terus. Aku udah periksakan ke dokter hewan di dekat rumahku, tapi belum sembuh"
Hana melihat Mini dan menautkan alisnya, "Mini aku lihat nggak bersin. Kamu nggak sedang mempermainkan, aku, kan?"
"Sumpah. Mini flu. Kamu bisa memeriksanya" Sahut Leon.
Hana lalu memeriksa anjing pudel kesayangannya Leon dengan cepat dan berkata, "Mini udah sembuh flunya. Aku akan kasih vitamin aja untuk Mini. Silakan ke meja asisten saya untuk melakukan pembayaran dan pengambilan vitamin"
Leon merengkuh Mini, anjing pudel kesayangannya ke dalam pelukannya lalu berkata, "Aku masih menagih janji kamu untuk berkencan denganku"
"Kapan aku berjanji padamu soal itu?"
"Sejak kamu menggenggam tanganku. Orang berjanji kan kalau saling menggenggam tangan" Leon terus menatap Hana sambil mengelus-elus kepalanya Mini.
Hana merapatkan bibirnya sambil bersedekap lalu ia berucap, "Aku tidak berminat untuk berkencan dengan siapapun saat ini. Maaf, aku tidak bisa memenuhi undanganmu" Hana langsung berputar badan dan melangkah lebar masuk ke dalam kamarnya untuk menenangkan pasien terakhirnya di hari itu.
Macarena menemui seorang laki-laki yang seumuran dengan Christian Laco. Laki-laki berbola mata biru itu menatap Macarena dan bertanya dengan nada dingin, "Ada apa kau menemuiku di sini?"
Ruangan sempit di dalam penjara yang terpisahkan kaca dan jika ingin berbicara dengan pengunjung harus di depan mikrophone itu, memisahkan Macarena dan laki-laki itu.
Macarena duduk di depan kaca lalu berbicara di depan mikrophone, "Aku butuh bantuanmu"
"Apa?" tanya laki-laki itu.
"Siapa dia?" tanya laki-laki itu.
Macarena menarik ponselnya dan memasukannya kembali ke dalam tas jinjingnya lalu menatap kembali laki-laki di balik kaca bening transparan dan berkata, "Dia mantan istri putramu. Kau ingin balas dendam pada putramu, kan? Balas dendam lah dengan cara membunuh wanita yang sangat dicintai oleh putramu"
"Aku mau. Kalau kau bisa membebaskan aku dari sini, aku bersedia melakukan apapun untukmu" Sahut laki-laki yang memiliki bola mata yang sama dengan bola matanya Ares Laco.
"Oke. Aku akan bebaskan kamu nanti malam juga dan laksanakan tugasmu esok harinya" Macarena tersenyum lebar lalu bangkit berdiri dan berbalik badan meninggalkan laki-laki berbola mata biru yang masih terus menatap arah perginya Macarena.
Hana membuka pintu dan langsung ditarik tangannya oleh Ares dengan tangan kiri dan tangan kanannya Ares langsung menutup dan mengunci pintu.
Hana tersentak kaget saat Ares mengungkungnya. Hana bersandar di pintu, lalu dengan cepat ia mencoba untuk melarikan diri dari Ares dengan cara bergerak ke kiri dan Ares langsung menahan Hana. Begitu pula saat Hana bergerak ke kanan, lengan Ares juga menahan Hana. Hana tidak diijinkan oleh Ares untuk lepas dari kungkungannya Ares.
Ares lalu mencubit dagunya Hana dan mengangkat wajahnya Hana untuk bersitatap dengannya, "Kau tahu Hana, aku sangat merindukanmu selama ini. Aku bisa mengistirahatkan kedua mataku di malam hari, tapi hati dan pikiranku sama sekali tidak bisa beristirahat karena terus merindukanmu"
Hana merona malu dan di saat ia hendak menundukkan wajahnya, Ares menahannya dan Ares kembali berucap, "Saking rindunya aku menjadi bodoh. Aku kecolongan kalau Mamaku menyekolahkan kamu dan Nancy ke Jepang. Aku sungguh tidak memikirkan soal itu saking frustasinya. Kamu bahkan tidak pernah membalas pesan text dariku dan tidak pernah mengangkat teleponku"
Hana diam membisu, namun hatinya terus berdebar-debar tidak karuan. Dia juga ingin mengatakan betapa ia juga sangat merindukan Ares, namun kata rindunya untuk Area ia tahan karena ia masih takut mempercayakan cintanya ke Ares. Dia takut kecewa lagi"
Napas Ares menderu karena menahan gairah dan ia terus menatap Hana. Lalu Ares bertanya, "Apa yang harus aku lakukan agar kau menjadi milikku lagi? Aku tidak tahan melihatmu dikerubuti banyak pria. Aku tidak tahan melihat wanita yang aku cintai, tapi belum menjadi wanitaku, didekati banyak pria" Ares lalu melepas cubitannya di dagunya Hana dan dengan cepat ia menangkup pipinya Hana dia tahan wajah Hana agar terus berhadapan dengan wajahnya.
Hana memejamkan kedua matanya. Dia memilih untuk memejamkan kedua matanya karena di saat ia mulai melemah tak berdaya melihat pesonanya Ares.
Ares menundukkan wajahnya semakin dalam dan menempelkan bibirnya di atas bibirnya Hana. Dia menunggu reaksinya Hana dan beberapa detik ia menggerakkan bibirnya dengan lembut dibatas bibirnya Hana dan tidak ada perlawanan dari Hana, membuat Ares semakin menggila.
Dan terus menggila saat ia merasakan Hana membalas ciumannya dengan ragu dan malu-malu. Ares membuka mulut untuk mengambil napas dan tanpa Ares sangka, Hana menelusupkan lidah ke dalam mulutnya Ares. Ares mengikuti permainannya Hana sambil terus mengelus punggungnya Hana, lalu tangan Ares turun ke bawah dan melakukan gerakan meremas di sana sambil terus membelikan lidahnya dengan lidahnya Hana.
Hana tanpa sadar menggerakkan tangannya mengangkat kaosnya Ares dan Ares langsung menarik sebentar bibirnya untuk menarik lepas kaosnya. Kemudian ia menatap Hana yang masih memejamkan mata dan tanpa Ares perintah, Hana berjinjit dan mengajak Ares berciuman kembali
Ares kemudian mengangkat pantatnya Hana dan Hana langsung membelitkan kedua kakinya di pinggang kekarnya Ares. Ares mulai menggila dan naluri dominannya yang sudah lama ia kubur, kembali bangkit. Dia terus mencium Hana dan menggendong Hana menuju ke ranjang. Dia rebahkan Hana di atas ranjang dan dia bertanya saat jemarinya menyentuh kancing dressnya Hana, "Aku boleh melakukannya? Untuk menguasai permainan karena naluri dominanku bangkit lagi oleh pesona kamu"
"Apakah akan ada cambuk dan......"
Ares tersenyum dan menggelengkan kepalanya lalu berucap, "Tidak akan ada cambuk kali kali ini. Hanya akan ada ribuan ciuman dariku"
Mulut Hana merekah lalu ia memejamkan kedua matanya. Ares melanjutkan aksinya membuka satu persatu kancing blusnya Hana sambil terus mengajak Hana berciuman.
Luapan rindu dari kedua sejoli itu, langsung membuat udara di sekitar menjadi panas dan terasa seksi.