A Dominant

A Dominant
Ares Cemburu



Di saat mata kuliah yang disampaikan Wintang telah berakhir, Nora harus berdiri dengan sabar melihat banyak mahasiswi mengerumuni Wintang.


Wintang melirik Nora sambil memberikan beberapa penjelasan ke mahasiswi yang belum begitu paham di beberapa bab yang dia sampaikan sebelumnya. Wintang mengehla napas panjang di sela penjelasannya ke para mahasiswinya saat ia melirik kembali ke Nora dan lirikannya menangkap ada banyak sekali mahasiswa yang mengelilingi Nora. Semua mahasiswa itu minta berkenalan dengan Nora.


Di sudut kerlingan matanya Wintang, dia bisa melihat kalau Nora mulai terlihat jengah dan canggung. Di saat sudut matanya melihat Nora mundur, berkata tidak, dan melambaikan tangan ke para.mahasiswa itu, Wintang langsung menguak kerumunan mahasiswi yang mengelilinginya lalu menguak kerumunan mahasiswa yang mengelilingi Nora dengan kata, "Cukup!"


Nora tersentak kaget saat Wintang menggenggam tangannya dan menarik Nora keluar dari kerumunan para mahasiswa itu, lalu mengajak Nora berlari menuju ke parkiran motornya.


Nora terpaku di pelataran parkir motor dan pandangnya terarah ke tangannya yang masih digenggam erat oleh Wintang.


Wintang tersenyum canggung lalu ia segera melepaskan tangannya Nora dengan kata, "Maaf"


Nora menggerakkan bola matanya untuk menatap wajah gantengnya Wintang, lalu tersenyum dan berkata, "Oh, emm, nggak papa. Dan terima kasih sudah melarikan aku dari kerumunan yang bikin sesak tadi"


Wintang melebarkan senyumannya lalu berkata, "Aku juga butuh melarikan diri dari kerumunan yang bikin sesak kok, jadi santai aja"


Nora melebarkan senyumannya lalu berkata, "Kita makan ke mana nih? Kamu bisa antarkan aku ke parkiran mobil, aku bawa mobil, tadi. Kita ke resto mana, kita ketemuan di sana saja"


"Siapa bilang kita akan ke resto?" Wintang tersenyum jahil ke Nora.


Nora terkekeh geli lalu berkata, "Jangan ajak aku ke tempat aneh!"


"Aku hanya akan mengajakmu ke warung makan sederhana yang ada di belakang kampus yang menyajikan aneka macam sayur yang menawarkan kearifan lokal. Kamu mau?"


Nora yang belum pernah makan di sebuah warung makan sederhana, merasa tertarik untuk mencobanya. Paling enggak mencobanya sekali saja. Akhirnya Nora menganggukkan kepala.


"Maka dengan sangat terpaksa aku akan membuatmu pegal kembali karena, kita akan naik motor ke sana. Jalan menuju ke warung makan itu, sempit. Lebih enak pakai motor"


"Oke deal" Nora melompat ke motornya Wintang setelah Wintang naik ke atas motor. Dan di dalam laju motornya, Wintang berkata, "Setelah makan, aku akan antarkan kamu kembali ke mobil kamu"


Nora memajukan wajahnya ke depan dan berkata dengan sedikit berteriak, "Oke"


Sesampainya di depan warung sederhana, Nora melompat turun dari motor sportnya Wintang dan berdiri di depan warung yang terbuat dari bambu, bangku dan mejanya pun terbuat dari bambu. Nora cukup heran melihat banyak yang mengantre di warung makan sederhana yang tidak begitu luas itu.


"Warung Makan Pawone Mbok Tum? Nama warung makannya cukup unik, ya?"


"Pawon artinya........."


"Dapur" Sahut Nora dengan cepat.


Wintang tersenyum dan bertanya, "Kok kamu bisa ngerti bahasa Jawa?"


"Ngerti dong. Mamaku orang Jawa" Sahut Nora.


"Wah, Mama kamu pasti cantik seperti Putrinya"


Nora merona malu dan secara spontan menepuk bahunya Wintang dengan kata, "Mamaku jauh lebih cantik dari aku"


"Tapi, yang ini belum ada yang punya, Kan?" Goda Wintang dan Nora kembali tersipu malu lalu menepuk kembali bahunya Wintang dengan gelengan kepalanya.


Wintang terkekeh geli lalu ia meminta Nora untuk duduk, "Aku akan mengantre. Kamu ingin makan apa? Akan aku ambilkan dan kamu duduklah! Nanti kalau ikut mengantre kamu capek. Antreannya cukup panjang, nih"


Nora menggelengkan kepalanya, "Aku ingin melihat makanan dan sayuran apa aja yang tersaji di warung makan ini. Kenapa kok serame ini. Dan aku ingin memilihnya sendiri"


Wintang tersenyum senang dan memberikan nilai plus untuk Nora karena wanita sekaya Nora tidak keberatan mengantre. Wintang lalu teringat dengan istrinya di rumah. Wanita yang telah menjadi istrinya selama tiga bulan itu selalu cemberut kalau harus mengantre. Jenar Ayu memang selalu dimanja oleh mamanya dan oleh mamanya Wintang sedari kecil. Selalu dilindungi dan tidak pernah diijinkan memilih teman. Jadi, wanita uang bernama Jenar Ayu itu, tumbuh menjadi wanita yang manja, pendiam dan kaku.


Wintang menyayangi Jenar Ayu karena, mereka tumbuh bersama sejak kecil, tapi Wintang hanya menganggap Jenar Ayu sebagai adiknya, tidak lebih.


Setelah mengantre selama hampir lima belas menit, Wintang dan Nora akhirnya bisa duduk berhadapan di sebuah meja di dekat jendela yang tidak berpintu.


Wintang bertanya ke Nora saat ia melihat Nora mencicipi sayur sop yang Nora pilih, "Gimana, enak nggak?"


"Syukurlah kalau kamu suka. Dan kamu memesan es jeruk tawar?" Wintang mengarahkan pandangannya ke gelas kaca berukuran jumbo yang tampak berembun.


"Hmm. Aku tidak suka manis. Apapun yang berasa manis, aku tidak begitu menyukainya" Nora tersenyum ke Wintang.


"Ah, sial! Berarti kamu tidak menyukai aku, dong. Aku, kan, manis?" Wintang kembali menggoda Nora.


Nora langsung melambaikan tangannya dan berkata, "Aku suka kok sama kamu, serius"


Wintang tertegun mendengar kata suka meluncur dari bibir merahnya Nora dan dia kemudian berkata dengan sorot mata penuh arti, "Aku juga menyukaimu"


Nora langsung menundukkan wajahnya karena, malu.


Wintang tersenyum senang karena ia sempat melihat rona malu di wajah Nora sebelum Nora menunduk. Wintang lalu bertanya, "Kamu cantik, cerdas, punya selera humor yang tinggi, kaya, dan aku lihat cukup banyak kaum adam yang gandrung sama pesona kamu, tapi kenapa kamu masih jomblo?"


Nora mengangkat wajahnya dan berkata, "Itu karena, aku memiliki selera yang unik dan aku belum menemukan pria yang bisa memenuhi selera unik aku itu. Lalu kamu sendiri? Kamu juga memiliki banyak penggemar cewek, kenapa masih jomblo?"


Wintang tersenyum lebar lalu menghela napas panjang dan berkata, "Aku juga memiliki selera yang unik. Aku suka hal yang ekstrem. Aku pernah punya pacar dan kami kemudian memutuskan untuk hidup satu atap selama beberapa bulan karena, kami pikir kami benar-benar saling mencintai. Tiga bulan pertama, aku masih bisa mengendalikan diri menyembunyikan selera unikku dan di bulan berikutnya, saat aku mulai menunjukkan selera unik aku itu, pacarku ketakutan lalu kabur begitu saja"


"Jadi, kalian sudah melakukan hubungan di luar batas?"


Wintang tertawa lirih lalu berkata, "Kita hidup di jaman modern, jadi kalau berpacaran nggak mungkin cuma main catur aja, kan? Apalagi jika kita tinggal satu atap selama beberapa bulan dan........" Wintang menghentikan ucapannya saat ia melihat Nora terus menatapnya dengan aneh.


"Jangan bilang kalau kamu masih........?"


Nora menggangguk pelan.


Wintang langsung meraup wajah tampannya dan berkata, "Maafkan aku. Aku bercerita secara gamblang tentang pengalaman percintaanku yang liar karena, kamu bilang kalau kamu punya selera yang unik dan aku lihat kamu adalah wanita modern yang mandiri, jadi aku kira kamu.........."


"Aku masih menjaga segelku dengan baik walaupun aku memiliki selera yang unik"


Wintang tertegun dan terus menatap wajah cantiknya Nora dengan banyak keraguan dan tanya di dalam hatinya. Dia sangat membenci Ares Laco dan setuju membalaskan dendam ibunya dengan cara mendekati Nora Laco. Namun, saat ia mengetahui segala rumor negatif tentang Nora Laco tidaklah benar, dia menjadi ragu untuk tetap menjalankan misi balas dendamnya ke Nora Laco.


Ares mengajak Hana menemui seorang klien yang datang dari Italy. Mereka bertemu di sebuah restoran mewah yang ada di dalam hotel bintang lima.


Ares hendak memperkenalkan Hana sebagai istrinya, namun kliennya langsung menyuruhnya duduk dan langsung membahas bisnis mereka. Dan di saat Ares ingin memperkenalkan Hana sebagai istrinya di menit berikutnya, selalu saja terhalang dengan pembicaraan serius mengenai bisnis. Dan kliennya Ares menganggap Hana adalah sekeretarisnua Ares selama mereka terus membahas bisnis mereka.


Dan tanpa Ares duga, kliennya meminta penerjemah yang hadir di tengah mereka, berbisik ke Ares, "Tuan Torento, ingin berkencan dengan sekretaris pribadi Anda, Tuan Ares Laco. Jika Anda mengijinkan wanita cantik di samping Anda itu berkencan dengan Tuan Torento, maka Tuan Torento akan menginvestasikan semua uangnya ke bisnis Anda"


Ares langsung menyiramkan air di gelasnya ke wajah Torento dan ia bangkit berdiri. Hana kaget dan ikutan berdiri. Tuan Torento lun ikutan berdiri dan menatap Ares dengan wajah bingung.


Ares lalu merangkul bahunya Hana dan mendelik ke penerjemah itu, "Katakan ke Tuan Torento kalau ini adalah Istriku dan jangan sampai aku bertemu dengannya lagi. Kalau sampai aku bertemu dengannya lagi, aku akan membuatnya babak belur" Ares lalu menggenggam tangannya Hana dan menarik Hana pergi dari sana.


Sepanjang perjalanan menuju ke Graha Laco, Ares terus diam dan Hana tidak berani mengusiknya.


Begitu masuk ke dalam ruang kerjanya, Ares langsung duduk, menatap Hana yang tengah berdiri di depannya dan berkata, "Itulah kenapa aku nggak suka kamu menjadi asisten pribadiku"


"Tapi kenapa?" Hana duduk di atas pangkuan suaminya.


"Klien tadi, ingin berkencan denganmu. Dia......."


Cup! Hana mengecup bibirnya Ares dan bertanya, "Oh, kamu cemburu ternyata"


"Oh, hanya, Oh?" Ares meraup wajahnya dengan kesal dan cup! Hana kembali mencium bibirnya Ares dan langsung menarik tengkuknya Ares untuk memperdalam ciumannya.


Ares menghela napas panjang dan sebelum ia mengimbangi permainannya Hana dengan liar, tidak lupa ia menekan remote untuk mengunci pintu ruangannya. Tangannya mulai menarik kasar blus yang dipakai Hana hingga kancing blus itu berserakan di lantai lalu ia mulai menyusupkan wajahnya di titik kenyal favoritnya. Lalu tangannya bergerak ke bawah, menarik sesuatu dari bawah sana lalu ia membuka ritsleting celana kainnya dengan terus mengajak istrinya berciuman. Mereka akhirnya menyatukan raga mereka berkali-kali di kantornya Ares dengan berbagai gaya di beberapa sudut ruangan itu.


Mereka akhirnya mengakhiri pekik lirih kepuasan mereka berdua dengan berpelukan mesra di atas lantai. Ares tersenyum nakal ke Hana lalu dengan napas yang masih terengah-engah, ia berkata, "Kamu luar biasa, Hana"