
"Mas, stop!" Hana menahan tangannya Ares dan Ares menatap Hana dengan sorot mata hampir frustasi karena ia merasa tidak sanggup lagi menahan gairahnya.
"Ada apa?"
"Kita menikah sekarang aja, Mas" Hana menatap Ares dengan kedua bola mata berbinar-binar serius.
"Hah?! Apa kau........"
"Aku nggak peduli lagi dengan semua keraguanku padamu, Mas. Aku hanya akan mengikuti kata hatiku dan aku ingin jujur. Aku mencintaimu, Mas dan aku ingin menikah denganmu sekarang juga, bisakah?" Hana menatap penuh selidik kedua bola mata birunya Ares dengan wajah riang.
"Bisa" Ares berucap sembari mengancingkan kembali semua kancing dressnya Hana lalu ia menggenggam tangannya Hana, "Kita akan menikah sekarang juga"
Hana dan Ares lalu keluar dari dalam kamar dengan langkah lebar dan senyum bahagia. Hana menoleh ke Susan, "Tutup dulu kliniknya. Aku ada urusan yang sangat penting"
"Baik, Dok" Teriak Susan karena Hana berucap sembari berlari kecil mengikuti langkah lebarnya Ares.
Ares mengajak Hana ke kantor pencatatan sipil untuk mendaftarkan pernikahan mereka dan beberapa jam kemudian, mobilnya telah mendarat sempurna di depan pintu kantor pencatatan sipil. Hana melepas sabuk pengamannya begitu pula dengan Ares dan Ares langsung menarik lengannya Hana saat Hana membuka pintu mobil. Hana menoleh ke Ares dan bertanya, "Ada apa, Mas?"
"Kamu yakin? Kamu nggak akan menyesal, kan? Ini bukan hanya hasrat semata yang mendorongmu untuk bertindak impulsif, kan?"
Hana menarik lengannya lalu berucap, "Aku yakin. Ayo kita turun!" Hana lalu membuka pintu mobil dan turun. Ares mengikutinya.
Kedua sejoli itu melangkah masuk ke dalam kantor pencatatan sipil dengan tangan saling bertaut dan sesekali saling pandang dengan senyum cerah dan wajah penuh cinta. Bahkan saking semangatnya, Ares tidak menelepon Handoko hanya untuk duduk manis menerima semuanya tinggal jadi seperti biasanya.
Ares mondar-mandir dan rela mengantre tanpa bersungut-sungut dan tanpa cemberut. Karena, ia ingin menunjukkan ke Hana kalau dia serius dan bisa diandalkan.
Hana duduk di bangku di sebelah seorang gadis manis yang tampak lebih muda darinya
Hana tersenyum ke gadis itu dan gadis itu membalas senyumannya Hana lalu bertanya, "Mbak mau mendaftarkan pernikahan dan membuat surat nikah?"
Hana menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat dan tersenyum lebar lalu menjawab, "Iya benar"
"Siapa nama mbak? Saya Ayu" gadis manis itu mengulurkan tangannya ke Hana dan Hana menyambut uluran tangan hadis itu, "Saya Hana"
"Mbak sangat cantik"
"Terima kasih. Kamu juga manis" Sahut Hana.
"Berapa umur, Mbak?" tanya gadis manis itu.
Hana tersenyum lalu berkata, "Dua puluh satu tahun dan Adik?"
"Saya masih delapan belas tahun" sahut hadis manis itu.
"Kenapa menikah semuda ini?" tanya Hana. Ia teringat akan dirinya dulu. Dia dulu menikah dengan Ares Laco di umur yang sama dengan gadis itu, delapan belas tahun lebih beberapa bulan.
"Karena, saya udah isi Mbak. Satu bulan usia kandungan saya ini" Gadis manis itu mengelus perutnya yang masih tampak rata.
Hana tertegun dan menatap wajah gadis manis itu dengan prihatin.
"Mbak juga hamil? Mbak, kan, juga masih muda" Tanya gadis manis itu.
"Oh! Tidak!" Hana melambaikan kedua tangannya beberapa kali didepan gadis manis itu lalu berkata kembali, "Aku menikah karena aku sadar kalau ternyata aku sangat mencintainya"
"Yang mana calon suaminya, Mbak?" tanya habis manis yang bernama Ayu itu.
Hana menunjuk ke baris keenam, seorang pria yang berdiri mengantre dan sesekali menoleh ke dia, "Itu yang pakai kaos dan celana kolor berwarna oranye bertuliskan sponsor obat hewan"
"Hah?! Mbak akan menikah dengan pria miskin? Yeeeeah dia memang gagah dan tampan, tapi tetap aja miskin, kan, Mbak"
Hana menautkan alisnya bertanya ke gadis berambut lurus dan hitam yang mengaku bernama Ayu, "Kok Adik bisa berasumsi kalau dia miskin?"
"Lihat aja bajunya dan lihat aja alas kakinya. Calon suaminya Mbak, memakai sandal yang beda di kedua kakinya. Kasihan, kan, apa dia tidak bisa membeli alas kaki?"
Hana melihat kaos dan celana kolor pendeknya Ares dan melihat alas kakinya Ares. Lalu ia tertawa lepas dan bergumam, "Oh! Astaga! Mas Ares, kenapa bisa memakai sandal yang beda, sih? Ppffttt! kenapa yang kanan pakai sandalnya sendiri, tapi yang kiri pakai sandal jepitnya Susan" Hana terus tertawa sembari menggerakkan kedua ibu jarinya di atas layar ponselnya.
Gadis manis itu memandangi Hana dan bertanya, "Kenapa Mbak malah ketawa?"
"Tidak papa, Dek. Aku tertawa karena merasa sangat bahagia saat ini"
Hana melepaskan tawanya lagi saat ia mendengar kata miskin keluar dari mulut gadis yang duduk di sebelahnya itu.
Ayu, gadis manis yang duduk di sebelahnya Hana kembali menatap Hana dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kalau calon suamiku, pegawai Bank, Mbak. Dia anak orang kaya. Untung saja, dia mau bertanggung jawab menikahiku dan untung saja orang tuanya bersedia menerimaku. Dia tuh yang mengantre di depannya calon suaminya, Mbak. Berdiri persis di depan calon suaminya, Mbak" Gadis manis itu menunjuk ke pria yang memakai setelan jas mahal dan memakai sepatu hitam yang mengkilat. "Cakep, kan, calon suamiku?"
Hana tersenyum lebar ke gadis manis itu dan berkata, "Aku tidak bisa menilai pria lain karena di mataku, pria paling tampan, ya, calon suamiku"
"Ah! Iya. Mbak benar. Bagi semua gadis ,pria yang paling tampak tampan, ya, tentu saja calon suaminya" Gadis manis itu tersenyum lebar ke Hana.
Gadis manis itu lalu bangkit berdiri dan pamit ke Hana saat ia melihat lelakinya telah selesai mengantre dan mengajaknya ke ruang foto
Ares lalu berjalan ke bangkunya Hana dan tanpa.ragu ia mengecup bibirnya Hana setelah ia duduk di sebelahnya Hana karena ia gemas, Hana terus tertawa di depannya.
"Ada apa sih? Aku lihat kamu ketawa terus tadi" Ares menautkan alisnya ke Hana.
"Mas, lihat deh kaos Mas!"
Ares menunduk dan berkata, "Ah! Sial! aku lupa ganti baju"
"Dan lihatlah alas kakinya, Mas!" Hana mengulum bibir menahan tawa.
"What! Kenapa bisa beda gini sandalnya? Wah! Gimana nih? Kita pulang dulu ke rumahku yuk, aku mau ganti baju dan pakai sepatu"
Hana tersenyum lebar lalu ia mengelus bahunya Ares, "Kita kalau pulang pas balik lagi, kantor ini pasti udah tutup. Aku udah mengirim pesan ke Pak Han untuk membawakan setelan jas dan sepatunya, Mas. Aku juga udah bilang ke petugas yang ada di ruang foto untuk menunggu kita sebentar aja"
Ares langsung merangkul Hana dan menciumi rambutnya Hana sambil berucap, "I Love You"
Hana bertanya sambil meletakkan telapak tangan kanannya di dada bidangnya Ares, "Mas nggak malu pakai kaos sponsor dan alas kaki beda?"
"Nggak. Aku justru senang" Sahut Ares sambil terus menciumi rambutnya Hana.
"Kenapa senang!" sahut Hana dengan nada heran.
"Karena kamu tertawa saat melihatnya. Aku senang melihat tawa kamu. Aku bahkan rela jika harus tampak bodoh dan konyol di depan kamu karena dengan begitu, aku bisa melihat tawa kamu" sahut Ares.
Hana lalu mengangkat wajahnya dan mengecup bibirnya Ares, "I love you"
Ares langsung memeluk Hana lebih erat dan mendaratkan ciuman bertubi-tubi di keningnya Hana dan Hana tertawa bahagia di dalam dekapan hangatnya Ares.
Handoko yang tengah bermesraan dengan Wulan di kost-nya Wulan, langsung melepaskan Wulan dan melompat keluar dari kama kost-nya Wulan untuk segera melaksanakan permintaannya Hana saat ia membaca tulisan kantor pencatatan sipil di pesan text yang Hana kirimkan ke dia.
Wulan kembali merengut dan mengehla napas panjang, "Yeeaahhh! Inilah derita berpacaran dengan pria yang gila kerja. Aku harus ekstra sabar, Huuffttt!"
Handoko langsung meluncur ke kantor pencatatan sipil karena di dalam mobil manapun, ia terbiasa menyiapkan baju ganti dan sepatu untuk Ares Laco, bahkan di dalam mobilnya sendiri pun, ia menyiapkan satu setelan jas dan sepatunya Ares Laco.
Dan akhirnya, beberapa jam kemudian, Ares Laco dan Hana Prakas telah mengantongi surat nikah mereka dan mendapatkan kata selamat yang pertama kalinya dari Handoko.
"Han, aku dan Hana akan berbulan madu setelah ini. Kamu batalkan cuti kamu ya?! Maaf, Han. Aku akan belikan kamu mobil sport impian Kamu sebagai gantinya, gimana?"
"Deal, Tuan" Sahut Handoko dengan senyum lebarnya. Handoko melambaikan tangannya dan berteriak ke Ares dan Hana, "Selamat berbulan madu"
Hana menoleh ke Ares, "Kita ke mana, Mas?"
Ares menoleh ke Hana, "Karena yang terdekat dari sini adalah kondominiumku. Kita ke kondominiumku, dulu, mau?"
"Aku akan mengikuti ke mana pun kamu pergi, Mas. Aku kan Istrimu sekarang. Tapi, kenapa ke kondominium?"
"Kita selesaikan dulu yang tadi tertunda. Aku sudah nggak tahan lagi ingin meluapkan kerinduanku padamu dan aku juga udah lelah setiap malam memeluk ayam"
"Ayam!?" Hana memekik kaget.
"Iya. Celengan ayam kamu, Sayang" Ares terkekeh geli dengan sendirinya saat ia melihat Hana merona malu.
Ares lalu meluncurkan mobilnya Hana dan berucap, "Aku akan membuatmu tidak mampu berdiri lagi, Hana"
Hana langsung menepuk bahunya Ares dengan rona merah di wajah putih bersihnya.