
"Tenang, Mas. Ada aku di sini. Cup, cup, cup" Hana terus menepuk-nepuk pelan bahunya Ares. "Ada sinar senter nih, Mas. Udah ada cahaya walaupun kecil, jadi jangan takut lagi, ya?!"
Ares memegang tangannya Hana lalu memutar badan kemudian menyusupkan kepalanya ke dalam pelukannya Hana sembari bergumam, "Jangan tinggalkan aku sendirian, aku mohon. Jangan tinggalkan aku, Hana!
Beberapa menit kemudian, Ares tertidur di dalam pelukannya Hana. Hana lalu merebahkan kepalanya Ares dengan pelan di atas bantal setelah itu ia menarik selimut guna menyelimuti tubuhnya Ares.
Hana mengusap keringat di keningnya Ares dengan telapak tangan kanannya kemudian tersenyum geli dan bergumam,"Dasar bayi gede. Katanya mau jagain aku. Kalau begini ini, siapa yang jagain siapa, coba?" Hana menarik tangannya dari dalam genggamannya Ares, namun tidak berhasil. Ares menggenggam erat tangannya Hana bahkan di dalam tidur nyenyaknya.
Hana menghela napas panjang lalu berjongkok di depan sofa tepat di saat lampu kembali menyala.
Suara ayam jantan berkokok membangunkan Ares. Laki-laki tampan itu menunduk dan melihat tangannya menggenggam sebuah tangan. Pemuda berbadan tegap dan atletis itu kemudian menoleh ke kanan dan menangkap Hana, kepalanya rebah miring di atas sofa dan tertidur dengan posisi duduk miring.
Ares bangun dengan pelan lalu ia berjongkok tanpa bersuara dan langsung membopong Hana untuk ia bawa ke kamarnya Hana. Ares merebahkan Hana di atas ranjang lalu merapikan sebagian dari rambutnya Hana yang menutupi wajah putih bersihnya Hana yang berhidung mungil yang menjulang tinggi ke atas dengan pas.
Ares terus memandangi wajahnya Hana dan ia lalu memutar-mutar jari telunjuknya di depan wajahnya Hana sambil bergumam lirih, "Tidur yang lama dan jangan bangun, sampai aku puas memandangi dirimu, Hana" Ares lalu menurunkan kembali jari telunjuknya.
"Terima kasih sudah mau menjagaku semalaman. Aku bisa merasakan kalau kamu sebenarnya memiliki rasa yang sama denganku, tapi kamu masih belum bersedia membuka tabir hatimu untuk aku karena, kamu masih belum sepenuhnya percaya padaku. Dan itu adalah kesalahan terbesarku, membuatmu ragu padaku. Aku sangat mencintaimu" Ares lalu diam membeku dan beberapa detik kemudian, wajah tampannya mengulas senyum riang lalu Cup! dia mencium bibirnya Hana dengan sangat lembut
Dan sambil terkekeh geli dia bergumam lirih, "Begini ternyata sensasinya mencuri sebuah ciuman. Lagi, ah!" Cup! Ares kembali mencium bibirnya Hana dan setelah itu, ia meletakkan tangan kanannya di atas dada bidangnya, "Ah! Sensasinya keren juga ternyata. Hatiku berdebar indah. Aku suka, aku suka!" Ares tanpa sadar meninggikan nada suaranya di suka yang terakhir saking girangnya dan suara itu membuat Hana langsung membuka kedua kelopak matanya karena, kaget.
Hana dan Ares saling pandang dalam diam.
Hana langsung bertanya, "Apa yang Mas suka?"
Ares tersenyum geli dan menjawab, "Kamu"
"Mas, jangan aneh-aneh! Ini masih pagi"
Ares tersenyum lebar dan kemudian berkata, "Aku nggak aneh-aneh. Aku berkata jujur kalau aku menyukai kamu. Emm, bukan suka ding, tapi cinta"
Hana mendorong dada Ares lalu ia bangun dan duduk bersila di atas ranjang, "Mas, takut gelap, ya?"
"Iya. Aku takut gelap" Ares memandang Hana dengan sorot mata sayu dan Hana melihat ada kesedihan yang sangat mendalam di sana.
"Kenapa, Mas?"
Ares diam membeku. Karena, dia selalu menutup rapat kisah di masa lalunya yang mengerikan dan tidak ingin mengingat dengan cara menceritakan kisah itu kepada orang lain.
"Baiklah. kalau Mas belum mau bercerita, aku akan ke dapur untuk masak lalu bersiap bekerja" Hana beringsut rurun dari ranjang dan Ares langsung menangkap pinggangnya Hana dengan kedua lengannya dengan kata, "Jangan pergi! Aku masih ingin memandangimu lebih lama lagi. Aku akan cerita"
Hana memutar badan lalu mengurai lengannya Ares sembari berkata, "Berceritalah Mas, tapi nggak usah pakai peluk-peluk!"
"Mau kasih tunjuk ke kamu luka di dadaku ini. Laki-laki itu melukai dadaku di gelapnya ruangan. Dia menorehkan luka ini agar aku tidak mengingat dia sebagai papa kandungku" Ares menatap Hana dengan mata sayu dan bertanya, "Kalau kamu ingin menyentuhnya, sentuhlah! Aku sudah siapkan hatiku sejak kau tinggal pergi untuk mengijinkan kamu menyentuh dadaku"
Hana tertegun beberapa detik lamanya menatap bekas luka sepanjang sepuluh centimeter di dadanya Ares sebelah kanan. Lalu tangan kanannya Hana terangkat pelan dan ia daratkan telapak tangannya di luka itu. Hana merabanya pelan dengan ibu jarinya sambil bertanya, "Cukup panjang juga lukanya, Mas. Pasti sakit sekali waktu itu"
Ares menggelengkan kepalanya sembari berkata, "Aku bahkan tidak merasakan sakit di luka ini. Karena, hatiku lebih terasa sakit melihat Papa kandungku, tega membunuh Mama dan melukaiku secara fisik dan melukaiku secara mental dengan kata-katanya. Dia menolak aku, membuangku, dan meninggalkanku begitu saja" Ares menyentuh tangannya Hana yang masih menempel di dada bidangnya.
"Berapa umur Mas waktu itu?" Tanya Hana sambil terus mengusap luka di dada bidangnya Ares.
Ares mengusap punggung tangannya Hana sambil berucap, "lima tahun. Kurang lebih lima tahun"
"Lalu? Apakah laki-laki brengsek itu, ah! Maafkan aku, Mas. Aku menyebut Papa kandungnya Mas, dengan sangat kasar"
Ares tersenyum sambil terus mengusap lembut tangannya Hana yang masih menempel di dada bidangnya sambil berkata, "Panggil saja dia sesuka hati kamu. Dia memang brengsek bahkan dia pantas mendapatkan umpatan yang lebih kasar dari itu"
"Aku terus terang marah saat ini. Dia tega melukai Mas seperti ini, saat Mas masih berumur lima tahun. Tega sekali dia. Dasar brengsek!"
Ares langsung mengecup bibirnya Hana.
Hana tersentak kaget dan langsung mematung saat kedua bola mata hitamnya beradu pandang dengan kedua bola mata birunya Ares. Hati Hana mulai berdebar dan darahnya kembali berdesir hebat. Untuk sepersekian detik, Hana menjadi linglung hanya karena satu kecupan singkat di bibirnya.
Hana langsung menarik tangannya dari atas dada bidangnya Ares, namun tangannya Ares langsung meremas tangannya Hana dan menahan tangan itu untuk tetap di sana sambil berucap, "Kecupan yang kudaratkan barusan, bukan suatu kesalahan. Dan kau bisa merasakannya, kan, dadaku berdebar kencang saat ini dan dada ini selalu berdebar kencang seperti ini setiap kali aku berada di dekat kamu" Suara Ares terdengar serak dan tatapannya berubah sendu.
Hana mematung dan linglung. Dia tidak berdaya tersihir oleh pesona tatapan dan suara seraknya Ares.
"Aku juga bisa mendengar debaran di dada kamu. Aku juga melihat ada rona merah di wajah kamu"
"Ro....rona merah apa? Ini buka rona merah seperti yang kau pikirkan, Mas. Wajahku memerah karena, aku marah pada Papa kandungnya Mas yang tega membunuh Mamanya Mas dan tega melukai Mas" Hana berhasil berkelit saat ia akhirnya bisa tersadar dari pesona laki-laki tampan, berbadan atletis dan berbola.mqta biru yang terus menatapnya dengan sendu.
"Kamu bohong. Itu bukan memerah karena marah tapi memerah karena seluruh indra perasa kamu ingin memiliki diriku, tapi akal sehat kamu berkata jangan" Ares menatap Hana lebih dalam dan berucap dengan suara yang semakin berat karena menahan gairah
Detak jantung keduanya semakin kencang dan beradu sangat cepat.
Ares menggerakkan tangan Hana yang masih menempel di dada bidangnya sembari berkata, "Sentuhlah dada ini sesuka hati kamu! Sepuasnya. Aku tidak akan keberatan. Aku justru senang merasakan sensasi sentuhan tangan kamu di dada bidang ini. Di bekas lukaku ini. Kau tahu, ternyata saat tangan kamu menyentuh bekas lukaku ini, segala rasa dingin kenangan buruk di masa laluku terkait dengan bekas luka ini, berangsur berubah menjadi hangat" Ares terus menggerakkan tangan Hana dengan lembut dan pelan di atas dada bidangnya.
Badan Hana menjadi panas dingin dan tubuhnya mendadak kaku. Debaran dan desir di hatinya semakin membelit dirinya hingga membuat dia sesak napas. Tanpa Hana sadari, ia membuka pelan mulutnya, menghela napas panjang lalu menutup kedua kelopak matanya.
Di saat itulah, Ares menarik tengkuknya Hana dan mencium bibirnya Hana yang terbuka. Ares terus menekan, mengusap, mencium bibirnya Hana dengan bibirnya dengan tanpa henti. Permainannya Ares belum sampai ke belitan lidah, namun sudah berhasil membuat Hana kelimpungan. Ares tersenyum saat ia menarik bibirnya dan Hana tidak mendorongnya. Ares.kemudian mengalihkan ciumannya ke lehernya Hana, sambil terus mengelus punggungnya Hana, terus dan terus...................