
Wintang sampai di kelasnya dan karena ia datang terlalu awal, ia duduk di kursi kerjanya lalu melamun dan berkata di dalam hatinya, isi otakku emang beda dengan isi otak orang pintar. isi otakku seringkali nyleneh karena aku ini bodoh dan yang bisa memahaminya, iya hanyalah diriku sendiri yang bodoh ini.
Seorang mahasiswi cantik berdiri di depan mejanya Wintang dan suara merdunya membuyarkan lamunannya Wintang.
"Apa ini?" Wintang menatap kotak berbentuk love dan ada tulisan Chocolate di atas.
Mahasiswi cantik dan tampak masih sangat muda itu tersenyum ke Wintang dengan malu-malu, kemudian berkata, "Cokelat, Pak"
"Saya tahu itu coklat. Tapi, untuk apa kamu meletakkannya di atas meja saya?"
"Itu untuk Bapak" Sahut mahasiswi berpenampilan modis dan cantik itu dengan tersipu malu.
"Untuk saya? Dalam rangka apa?" Wintang mulai mengerutkan keningnya.
"Saya ingin Bapak menjadi pacar saya. Saya menyukai, Bapak" Wanita itu langsung menundukkan wajahnya.
Wintang memejamkan kedua matanya, menghela napas panjang lalu membuka kembali kedua matanya untuk berkata, "Maafkan saya. Saya sudah menikah"
Wanita itu mengangkat wajahnya dan berkata, "Bapak bohong, kan? Saya lihat nggak ada cincin pernikahan di jari Bapak"
"Itu karena, saya belum sempat membelinya. Tapi, saya nggak bohong. Saya sudah menikah. Kamu ambil lagi cokelat kamu dan berikan ke pria lain yang lebih baik" Wintang tersenyum sambil menyodorkan kotak berbentuk love yang berisi cokelat.
Wanita itu menerima kotak cokelatnya dan berkata, "Makasih, Pak. Maafkan kelancangan saya"
"Nggak papa, santai aja" Sahut Wintang.
Hana sarapan di kamar karena, kelelahan membantu Ares seharian kemarin dan dihajar beberapa ronde oleh Ares.
Ares masuk ke kamar membawakan roti bakar mentega dan susu cokelat hangat untuk Hana.
Hana langsung bangun, membalut tubuh polosnya dengan selimut dan bersandar di ranjang sambil mengulas senyum untuk suami tercintanya dia berkata, "Makasih Mas Bojoku"
Ares duduk di tepi ranjang dan dengan menautkan alisnya ia bertanya, "Kok Mas Bojo?"
Hana tersenyum riang, lalu memeluk pinggangnya Ares dan menempelkan kepalanya di dada bidangnya Ares dengan kata, "Bojo itu artinya suami. Jadi, kalau kita berduaan kayak gini, aku ingin memanggilmu Mas Bojo mulai dari beberapa detik yang lalu, hehehehe"
Ares memeluk erat tubuh ramping istrinya yang terbalut selimut dengan gelak tawa bahagianya, lalu ia berucap, "Aku senang dengan panggilan itu. Kedengarannya cute dan romantis"
Hana mendongak dan mengecup bibir suaminya, lalu berkata, "Mas bojo, Aku ingin makan bubur kacang hijau"
"Sekarang?" Ares mencium keningnya Hana lalu menatap Hana dengan tautan alisnya.
Hana melancipkan bibir dan menganggukkan kepalanya.
"Oke, kamu mandi dulu sana! Masak beli bubur kayak lemper gini modelnya" Ares tersenyum geli melihat istrinya masih terbalut selimut.
Hana tertawa renyah laku bangun dan berlari ke kamar mandi.
Lima menit kemudian, Hana sudah keluar dari kamar mandi dan memakai dress.
"Lho, kok cepat sekali mandinya?" Ares yang masih duduk di tepi ranjang, langsung mengerutkan keningnya.
"Aku cuma cuci muka dan gosok gigi. Kalau mandi entar kelamaan. Bubur kacang hijaunya keburu habis dan Abang penjualnya udah pergi entar"
"Oke, ayo kita berangkat sekarang!" Ares langsung menggandeng tangannya Hana.
"Mas, kita beda tujuh tahun. Aku lebih muda tujuh tahun dari kamu, tapi udah jadi dokter di usia yang masih sangat muda, Kalau kayak gini kelihatan nggak, sih, siapa yang lebih pinter?" Hana melirik mas bojonya dengan mengulum bibir menahan tawa.
Mas bojonya Hana yang bernama Ares Laco, menoleh sekilas ke Hana karena, ia masih harus fokus menyetir. Lalu, ia memberikan komentar, "Yang penting hasil akhir. Di awal kamu ngoyo (memaksakan diri melakukan sesuatu tanpa pertimbangan), tapi hasil akhirnya, siapa yang jadi juaranya?" Mas Bojonya Hana tersenyum bangga untuk dirinya sendiri.
Jawab Hana, "Iya, deh. Kamu memang pantas jadi juaranya. Aku juga nggak ingin jadi juara di bidang apapun, kok" Hana pura-pura jengkel dengan melancipkan bibirnya.
Ares menoleh sekilas ke Hana dan langsung panik saat ia melihat bibir lancipnya Hana, "Lha piye to?" Sahut Mas bojonya Hana, kemudian.
"Aku cuma ingin jadi juara di hatimu" Sahut Hana dengan senyum lebar.
Mas bojonya Hana menoleh sekilas ke Hana dan langsung mengerem laju mobilnya lalu dengan sigap, ia memutar balik mobilnya.
Hana langsung memekik kaget, "Kok putar balik?!"
"Karena kamu udah jadi juara di hatiku, maka aku perlu pulang dulu untuk memberikan 'hadiah' ke kamu" Sahut Ares sambil menekan lebih dalam pedal gas mobilnya agar cepat sampai di rumah mewahnya.
"Kita belum jadi beli burjo, Mas!!!!!!" Hana berteriak kesal.
"Salah sendiri kamu jahil!!!!!!" Ares ikutan berteriak lalu Hana dan Ares tertawa bersamaan.
Nora Laco pulang ke rumah dan menemukan rumahnya sepi, "Mama sama Papa ke mana Bi?" tanyanya kepada asisten rumah tangganya.
"Tadi, keluar Non. Kata Nyonya, Nyonya pengen beli bubur kacang hijau"
"Ah, Mama nggak bilang sih, kalau bilang, kan, bisa aku belikan" Gumam Nora, lalu ia menoleh ke asisten rumah tangganya yang masih berdiri di depannya menunggu instruksi darinya. Nora tersenyum dan berkata, "Ya udah, Bi. Bibi boleh lanjutkan pekerjaan Bibi, saya mau mandi"
"Baik Non"
Hana menepuk pelan bahu asisten rumah tangganya, lalu ia berlari kecil menuju ke lantai dua.
Nora berangkat ke kantor sebelum mama dan papanya sampai ke rumah.
Ares akhirnya menelepon Handoko, "Han, aku cuti hari ini. Aku ingin berduaan dengan Hana seharian karena, hari ini, ada acara makan siang penting sama putriku"
"Saya juga masih cuti, kan, Tuan?" Sahut Handoko.
"Kalau aku ganti cuti kamu dengan sebuah mobil sport keluaran terbaru, mau?" tanya Ares.
"Siap Tuan, saya masuk kerja hari ini juga" Sahut Handoko dan klik! Ares memutuskan sambungan ponselnya, lalu menoleh ke Hana dan berkata, "Beres, kan?"
Hana hanya bisa tersenyum lebar dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Ares lalu mencium pelipisnya Hana dan beruap, "Aku akan turun ke bawah. Aku akan minta chef pribadi kita masak bubur kacang hijau untuk kamu"
Beberapa jam kemudian, Ares dan Hana berhadapan langsung dengan Wintang Devoss dan Nora Laco di sebuah restoran mahal, langganannya Ares Laco.
Hana menyambut Wintang dengan ramah dan langsung mempersilakan Wintang untuk duduk. Sedangkan Ares, terus menatap tajam ke Wintang dengan penuh selidik.
"Ini Wintang Devoss, Pa. Dia seorang dosen dan bekerja sebagai bartender di malam hari" Nora membuka suara untuk mencoba mencairkan ekspresi dinginnya Ares Laco.
Ares masih belum berniat mencairkan suasana. Ares merasa ada sesuatu yang tidak ia sukai dari Wintang Devoss.
Wintang terus menatap Ares dengan menelan ludah dan berkata di dalam hatinya, Ares Laco memang bukanlah orang sembarangan. Kenapa dia terus menatapku dengan sangat tajam? Apa dia sudah tahu siapa aku sebenarnya?