
Ares Laco menelepon Rossa. Rossa adalah direktur keuangan utama di perusahaan miliknya Ares."Ros? Rapatnya lancar?"
"Lancar, Tuan"
"Tidak ada masalah, kan?"
"Tidak ada, Tuan"
"Bagus" Klik. Ares mematikan sambungan telepon itu begitu saja.
Lalu Ares memencet ponsel mewahnya dan menempelkannya kembali ke telinganya, "Han, kau sampai mana?"
"Saya hampir tiba, Tuan"
"Belikan baju untuk gadis yang ada di kamarku. Ukurannya? Aku rasa, emm.......Belikan saja ukuran M"
"Baik, Tuan" Sahut Handoko.
Klik. Ares mematikan lagi ponsel canggihnya lalu melemparkannya begitu saja di meja yang ada di depannya.
Beberapa menit kemudian, Han datang dan langsung meletakkan paper bag bertuliskan nama butik termahal di kota itu. Ada setelan blus putih dan celana kain berwarna cokelat tua di dalamnya yang Han pilihkan untuk seorang gadis yang sudah membuat tuan besarnya menjadi penasaran.
Han kemudian memberikan sebuah map berwarna putih dan berkata, "Dia bernama Hana Prakas, umur delapan belas tahun, masih duduk di bangku SMA. Yatim piatu sejak kecil dan sampai sekarang hanya tinggal berdua saja dengan neneknya. Neneknya sakit dan butuh biaya untuk operasi. Itulah kenapa ia bekerja banting tulang ke sana kemari. Hana Prakas berjualan nasi uduk di pasar tradisional sepulang sekolah. Dia mendapatkan beasiswa tapi, belum menandatangani beasiswa masuk ke universitas bergengsi jurusan kedokteran. Anda bisa baca semuanya di dalam map itu, Tuan. Saya permisi" Handoko lalu menganggukkan kepalanya dan pergi meninggalkan tuannya.
"Hmm" Sahut Ares tanpa melihat arah perginya Handoko karena ia lebih tertarik untuk membuka map pemberiannya Handoko dan membaca semua informasi yang ada di dalamnya terkait dengan gadis yang memiliki nama Hana Prakas, "Menarik" Lalu ia melemparkan map itu begitu saja di atas meja sembari bangkit dan berjalan ke ranjangnya dan tidur di sampingnya Hana Prakas.
Ares mencium pelipisnya Hana lalu ia memejamkan kedua matanya dan tertidur lelap. Dan baru sekali sejak mama kandungnya meninggal, Ares Laco tidur satu ranjang dengan seorang wanita.
Deo menjaga neneknya Hana semalaman bahkan ia membantu neneknya Hana memasak bubur dan membantu neneknya Hana minum obat. Setelah neneknya Hana tertidur pulas, Deo tidur di bangku yang terbuat dari kayu yang berada di ruang tamu sempit di rumahnya Hana. Bangku panjang itu hanya ada satu berhadapan dengan meja dari kayu berkaki tiga, bertaplak kain dan bermotif batik. Deo tidak bisa tidur dengan tenang malam itu bukan karena kerasnya bangku yang ia pakai untuk merebahkan tubuh lelahnya tapi, ia tidak bisa tidur karena memikirkan Hana yang masih belum ia ketahui keberadaannya.
Keesokan harinya, Hana terbangun membuka kedua kelopak matanya dengan perlahan dan mendesis lirih kala pening yang sangat hebat menyerangnya. Dia lalu duduk di atas ranjang menoleh ke kanan dan melihat tulisan, di secarik kertas, "minum aku!"
Hana lalu mengambil kapsul kecil itu dan meminumnya. Dia kemudian bersandar sejenak di ranjang dan kemudian menegakkan kepalanya, "Sial! Aku di mana ini?" Hana lalu menyibak selimut dan tertegun saat ia melihat dirinya telah berganti baju dan memakai kemeja laki-laki yang kedodoran. Hana menarik lagi selimut itu sampai ke batas lehernya dan ia cengkeram erat ujung selimut itu dengan tatapan kosong.
Ceklek! Suara pintu terbuka dan seorang laki-laki melangkah masuk mendekatinya. Hana kaku badannya dan menatap sosok laki-laki yang tengah mendekatinya dengan tatapan nanar.
Laki-laki itu duduk di tepi ranjang, meletakkan piring berisi dua potong sandwich di atas pangkuannya Hana dan berkata, "Selamat pagi Hana Prakas. Makan sandwich ini"
"An.....anda tahu nama saya?"
"Aku tahu semua tentang kamu Hana Prakas" sahut laki-laki yang masih duduk di tepi ranjang dan terus menatap Hana.
"A.....apa Anda yang membawa saya ke sini?"
Laki-laki itu menganggukkan kepalanya.
"Dan Anda yang mengganti baju saya?"
"Aku terpaksa. Karena kau muntah"
"Di......di mana Anda tidur semalam?"
Laki-laki itu menunjuk kasur sembari berucap, "Di samping kamu"
Hana semakin kaku dan mempererat cengkeraman tangannya di kedua ujung selimut. Ia kemudian berusaha mengeluarkan kata untuk bertanya, "A....apa kita sudah.............?"
"Aku tidak menjamah kamu. Aku tidak suka bermain dengan orang yang tidak sadarkan diri"
Hana menatap tajam kedua bola mata laki-laki itu, "Benarkah?"
"Hmm"
Hana menangis terisak karena lega dan ia kemudian menyembunyikan wajahnya di balik selimut dan berkata, "Bisakah Anda meninggalkan saya? Saya butuh privasi untuk berjalan ke kamar mandi"
"Privasi? Aku bahkan sudah melihat seluruh inci tubuhmu kemarin pas aku mengganti dress kamu"
"I....itu beda, Tuan. Saya mohon, saya butuh privasi saat ini" ucap Hana dari balik selimut.
Ares menyukai sikap polosnya Hana dan tanpa ia sadari, ia tersenyum melihat Hana bersembunyi di balik selimut. Ares kemudian berkata, "Baiklah aku akan berikan provasi. Makan sandwichnya, mandi, ganti baju di dalam paper bag ini dan temui aku di ruang depan!" Ares lalu bangkit dan meninggalkan Hana.
"Kau.......cantik Hana Prakas. Handoko pintar memilihkan setelan yang pas untuk kamu"
Ucap laki-laki tampan itu tanpa merubah posisi duduknya.
"Siapa Handoko?" Hana masih berdiri di depan laki-laki yang sangat tampan itu.
"Handoko adalah asisten pribadiku. Duduklah!"
Hana duduk dengan gemetar. Entah kenapa tatapan dari laki-laki tampan itu membuatnya merasa harus waspada dan membuatnya merasa takut.
"Sudah kau makan sandwichnya?"
Hana menganggukkan kepalanya.
"Kau gugup"
"Sa.....saya takut pada Anda, Tuan" sahut Hana jujur.
"Memang seharusnya kau takut padaku. Kenapa kau bisa ada di hotel ini?"
"Teman saya mengatakan kalau ada lowongan pekerjaan di hotel Prince tapi, supir taksi yang saya tumpangi semalam salah dengar dan mengantarkan saya ke sini, ke hotel Freed Diamond" Hana menjawab dengan suara yang masih terdengar gugup.
"Kenapa kau butuh pekerjaan?"
"Karena Nenek saya ada masalah di jantungnya dan harus segera dioperasi dan saya butuh uang untuk membayar biaya operasi itu"
"Aku ada lowongan di perusahaanku. Kau bisa bekerja di perusahaanku"
Hana menggelengkan kepalanya, "Saya tidak pantas bekerja di kantor. Saya tidak suka terikat dengan aturan-aturan yang ada dan saya tidak punya setelan blazer untuk bekerja di kantor. Lihatlah saya! Saya tidak pantas kan berada di kantor"
"Dari tadi aku melihatmu"
Hana semakin dibuat gugup mendengar ucapan laki-laki itu. Lalu ia segera berucap, "Apa saya boleh pulang sekarang? Saya harus segera merawat nenek saya lalu pergi bersekolah"
"Aku sudah mengurus seseorang ke rumah Nenek kamu untuk memberitahukan keberadaanmu dan memberitahu Nenek kamu kalau kamu pulang telat. Aku juga sudah mengutus seseorang untuk minta ijin ke wali kelas kamu kalau kamu tidak masuk sekolah hari ini"
Hana semakin bergidik ngeri mendengar kalimat demi kalimat yang dikeluarkan oleh laki-laki dengan setelan santai tapi tampak elegan itu. Hana lalu berkata, "Anda selalu sewenang-wenang seperti ini?"
"Aku terbiasa mendapatkan apa yang aku mau"
"Apa itu tidak membosankan?"
Ares tersenyum tipis lalu ia berkata, "Namaku Ares Laco. Ini kartu namaku"
Hana menerima kartu nama yang disodorkan oleh Ares Laco.
"Dan kardus di depan kamu itu isinya sebuah ponsel. Bawalah! Itu ponsel khusus untuk kita"
"Pon.....ponsel? Untuk kita?" Hana menatap laki-laki tampan itu dengan mengerutkan keningnya.
"Handoko akan mengantarmu ke apartemenku. Kita akan bahas lebih rinci nanti siang di apartemenku. Aku harus ke kantor dulu. Nah! Itu Handoko"
Hana menoleh ke pintu sambil menggenggam kartu nama dan Kardus yang masih tersegel yang berisi ponsel. Lalu ia menoleh ke Ares, "Kenapa saya harus ke apartemen Anda?"
"Karena aku ingin mengenalmu lebih dekat"
"Ke......kenapa saya?" Hana menatap Ares dengan penuh tanda tanya di wajahnya.
Ares hanya diam membisu dan terus menatap Hana.
Handoko langsung berkata, "Anda harus ikut saya sekarang, Nona!"
Hana bangkit dengan wajah kebingungan lalu bertanya, "Di mana tas selempang saya?".
"Saya sudah amankan" Sahut Handoko.
Hana lalu melangkah keluar dari kamar itu mengikuti laki-laki yang bernama Handoko dengan wajah kebingungan.