A Dominant

A Dominant
Belah Dadaku!



Ares mengangkat tangan kanannya untuk ia tempelkan di atas pundaknya Handoko lalu ia mencengkeram pundaknya Handoko dan dengan nada panik, "Han! Dia beneran Hana. Apa yang harus aku lakukan, Han?"


Handoko meringis.dan mengaduh saat Ares terus mempererat cengkeramnya di pundak Handoko. Ares langsung mengangkat tangannya dari pundaknya Handoko dengan berucap, "Ah! Maaf"


"Tidak apa-apa, Tuan. Anda bukankah menantikan momen seperti ini selama.tiga tahun. Anda sangat merindukan Non Hana, kan, Tuan? Kenapa Anda.ridak langsung turun dan menyapa Non Hana?"


"Aku takut, Han" Sahut Ares tanpa mengalihkan pandangannya dari klinik dokter hewan yang memiliki kaca transparan tembus pandang, untuk itulah, Ares bisa melihat wajah ayu alami wanita yang sangat ia rindukan dari dalam mobilnya.


"Kenapa takut, Tuan?"


"Aku tidak pandai basa-basi dan apa yang harus aku ucapkan ke Hana setelah aku dan dia berpisah cukup lama? Kalau dia membenciku gimana, Han? Kalau dia masih marah, gimana? Ah! Han! Kenapa cinta itu menyebalkan begini sih?! Bikin frustasi aja!" Ares mulai uring-uringan dengan sendirian sembari meraup kasar wajah tampannya.


Handoko menggaruk kepalanya dengan helaan napa panjang lalu asisten pribadi yang sangat setia pada tuan besarnya itu berucap, "Anda masuk aja dulu dan berucap sesuai dengan situasi dan kondisinya, nanti"


Ares menepuk bahunya Handoko cukup keras setelah ia menghirup napas dalam-dalam lalu mengeluarkannya pelan-pelan untuk menghimpun keberanian, kemudian berucap, "Oke! Aku akan masuk, Han" Ares lalu membuka pintu mobil, turun dari dalam mobil mewahnya dan melangkah pelan menuju ke kliniknya Hana.


Hana mengangkat wajah saat pintu kliniknya terbuka dan ia langsung terpaku.


Ares melangkah masuk dengan pelan dan duduk di depannya Hana dengan wajah tegang. "Apa kabar?"


Deg! Jantung Hana langsung berdebar-debar dan Hana masih terpaku.


"Kenapa kamu menatapku seperti melihat hantu? Apa aku tampak mengerikan sekarang ini?" Tanya Ares dengan hati-hati.


Hana langsung bangkit berdiri dan mendorong mundur kursi kerjanya yang beroda dan dengan wajah dingin Hana menunjukkan jari telunjuknya ke pintu sembari berucap, "Kalau tidak membawa seekor hewan pun untuk aku periksa, maka keluarlah!"


"Hewan? Hewan apa? Kenapa aku harus membawa hewan?" Ares berucap sambil berdiri dan menautkan alisnya.


"Tuan Ares Laco yang terhormat, Anda tidak melihat papan nama di depan? Atau Anda hanya ingin modusin saya?!" Hana melotot kesal ke Ares dan kemudian kembali berucap, "Tapi, maaf Tuan Ares Laco yang terhormat, saya bukan wanita bodoh di masa lalunya Anda lagi. Saya sudah banyak berubah sekarang"


"Aku juga udah banyak berubah" Sahut Ares dengan mimik wajah serius.


"Aku nggak peduli. Keluar!" Hana mendelik ke Ares dan Hana terlonjak kaget, hanya di dalam dua langkah lebarnya, Ares telah memutari meja kerjanya Hana dan berdiri menjulang di depannya Hana.


Hana mundur selangkah dan hampir jatuh terantuk kaki kursinya yang beroda


Dengan sigap, Ares menarik pinggangnya Hana dengan lengannya hingga tubuh mereka menempel erat.


Hana tersentak kaget langsung menarik dirinya dari dalam pelukannya Ares, namun Ares menahannya.


"Lepaskan aku, Mas!" Hana mendesis geram.


Area mengabaikan hunusan tajam sorot mata dan desisan kerasnya Hana. Konglomerat muda yang masih tampak muda di usianya yang sudah menginjak kepala tiga itu, menggenggam tangannya kirinya Hana dengan tangan kanannya lalu ia letakkan telapak tangan kirinya Hana di atas dada bidangnya.


Hana terlonjak kaget dan kembali menarik dirinya dari dalam pelukannya Ares karena, ia semakin lama merasa tidak kuat lagi menahan debaran kencang di hatinya.


Hana memerah wajahnya saat ia merasakan debaran yang tidak kalah dahsyatnya di dadanya Ares.


Deg.......deg ......deg .......deg. Bunyi degup jantung mereka berdua berpacu dengan sangat cepat.


Dua kulit mereka yang menyatu, menimbulkan sensasi percikkan kerinduan yang sangat dahyat dan membuat keduanya membisu dan mematung dengan saling beradu pandang.


Hana dengan tidak sadar berucap, "Mas, sudah ijinkan aku menyentuh dada, Mas?"


Ares menganggukkan kepalanya dengan sorot mata menggelap dan wajah sendu yang mampu membuat Hana tanpa sadar, menggigit bibir bawahnya dan memerah wajahnya karena menahan gairah.


Ares berucap masih dengan suara yang terdengar berat, "Aku sudah melatihnya bertahun-tahun dan aku akan membiarkan dada ini kamu sentuh saat kita berjumpa kembali"


"Kenapa kau menggigit bibir kamu Hana? Kau tahu, kan, akibatnya bagiku jika kau menggigit bibir kamu?"


Deg .....deg ........deg .......deg, jantung Hana berdegup semakin kencang dan ucapan Ares membuat Hana tanpa sadar mengeluarkan helaan napas yang terdengar, lembut, seksi dan menggoda di kedua indra pendengarnya Ares


"Kau telah mengundangku, Hana" Ares berucap sembari mempererat dekapannya hingga Hana menempel erat di badannya lalu ia semakin menundukkan wajahnya, untuk mencari bibirnya Hana. Dengan pelan, namun pasti, wajah Ares semakin mendekati wajahnya Hana


Brak! suara pintu terbuka lebar dan pekikan kaget dari seorang wanita membuat Ares dan Hana pun terlonjak kaget.


Ares langsung melonggarkan pelukannya dan Hana langsung mendorong tubuhnya Ares ke belakang.


"Dok? Ah! Maaf kalau saya masuk di waktu yang tidak tepat. Saya akan kembali lagi nanti" Susan tampak canggung berdiri di depan pintu masuk.


"Jangan pergi! Dia yang akan pergi" Hana langsung menunjukkan jari telunjuknya ke Ares tanpa menoleh ke Ares.


"Aku, kan, ingin memeriksakan hewan yang ada di dalam da............"


Hana langsung menoleh ke Ares, "Jangan bercanda lagi, Mas! Pergilah dan jangan ganggu hidupku lagi!"


Ares terpaksa memutar badannya dan berjalan pelan meninggalkan kliniknya Hana.


Susan memandang punggung laki-laki asing yang telah berani memeluk Hana. Lalu ia memutar kepalanya untuk memandang Hana, "Siapa dia, Dok? Tampan dan gagah sekali. Semua outfit yang di kenakan, mahal semuanya dan wangi parfumnya, elegan"


"Mantan suamiku" Sahut Hana sambil duduk kembali di atas kursi kerjanya dengan wajah lemas. Kedua kakinya pun terasa lemas setelah ia merasakan kembali kehangatan tubuhnya Ares yang tidak bisa ia pungkiri, sangat ia dambakan selama ini.


"Hah! Dokter Hana, kan, masih sangat muda. Masih dua puluh tiga tahun, kan? ternyata udah pernah menikah?" tanya Susan.


"Itu kebodohanku di masa lalu. Sudahlah jangan bahas cowok lagi! Mana nasi goreng babat gongso dan jus mangga yang aku pesan?"


Susan meletakkan makanan yang ia beli untuk Hana dan dirinya sendiri di atas meja kerjanya Hana, lalu ia makan siang bersama dengan Hana dengan diselingi obrolan santai.


"Aku diusir dan Hana malah makan siang dengan gadis itu. Aku benci gadis itu. Dia berani muncul di saat yang tidak tepat. Kalau ia pegawaiku, aku udah pecat dia. Ah! Han! aku ingin menggantikan gadis itu! Aku ingin makan siang berdua dengan Hana, Han" Ares mewek di depannya Handoko dan Handoko hanya bisa berucap, "Entah apa yang harus saya lakukan, Tuan?"


...❤️❤️❤️❤️❤️...


Buat sahabat2ku para Author dan para pembaca yang Budiman, selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankannya🙏❤️ Semoga ibadah puasanya berjalan lancar, penuh berkah, dan diberikan kesehatan selalu, amin🙏🤗❤️