
Setelah pekik kepuasan meluncur mulus dari bibir sepasang suami istri itu, sang suami kemudian membopong istrinya yang langsung jatuh tertidur lemas di dalam dekapannya.
Ares merebahkan Hana di atas kasur mewahnya dengan pelan, menyelimuti Hana, mengecup keningnya Hana lalu ia menatap Hana sambil bergumam, "Apa yang sudah kau lakukan padaku? Ini pertama kalinya aku bercinta dengan seorang wanita di kamar ini dan bukannya di kamar ungu"
Ares kemudian merebahkan diri di sampingnya Hana dan tertidur pulas dengan memeluk pinggang ramping istrinya.
Ares hanya bisa tertidur selama dua jam karena dia selalu bermimpi buruk. Masa lalunya yang kelam selalu menyusup masuk ke alam mimpinya dan membuat Ares seringkali terbangun dengan napas tersengal-sengal.
Ares menoleh ke samping kirinya dan melihat Hana tidur dengan beralaskan lengannya. Ares menarik pelan lengannya lalu menyibak selimut dan berjalan ke kamar mandi. Ares mengguyur kepalanya dengan air hangat. Kemudian keluar dari dalam kamar mandi dengan jubah mandi dan berjalan ke ruang ganti baju.
Ares memakai setelan baju dinasnya dan keluar dari dalam kamarnya. Ares duduk di sofa ruang tamu sambil terus menatap jam dinding dan mengetuk-ngetukkan jari jemarinya di sofa. Ares menunggu jarum jam menyentuh angka lima dan dia akan ke kantor. Ares memilih pergi ke kantor di pagi buta karena ia merasa belum siap menyapa Hana di pagi hari di ranjang yang sama.
Hana terbangun tepat di saat jam mewah super besar yang menghiasi pojok kamarnya Ares, berdenting enam kali. Hana mengernyit lalu mendesis kala ia merasakan sekujur badannya remuk redam, terasa pegal semuanya. Pangkal pahanya berdenyut perih di saat ia bangun dan bangkit sambil melilitkan selimut di tubuhnya. Dia tidak mendapati Ares di sana.
Hana melangkah pelan ke kamar mandi karena seluruh badannya mengajukan protes keras untuk diajak berjalan cepat.
Hana terpaku menatap leher dan dadanya saat ia berdiri di depan kaca yang ada di toilet mewahnya Ares Laco. Hana tersenyum, namun ia bingung memahami rasa yang ada di dalam hatinya di pagi hari itu. Sedih, bahagia, ataukah penuh cinta? Entahlah. Namun, yang pasti, Hana ingin mengulas senyum kala ia menatap tanda merah keunguan di leher dan dadanya.
"Aku sekarang udah dewasa, Nek. Sudah menjalankan kewajiban sebagai seorang Istri semalam. Doakan Hana kuat menjalani pernikahan yang masih membingungkan bagi Hana ya, Nek!" Hana berucap pada bayangan dirinya yang tampak di depan cermin besar.
Hana kemudian mandi dan menghela napas panjang, "Kenapa udah aku gosok beberapa kali dengan sabun, tanda ini belum hilang juga. Huufftt! Berarti aku harus pakai kaos berkerah tinggi di hari ini untuk menutupi semua tanda di leher dan dadaku ini"
Hana keluar dari dalam kamar mandi dengan memakai jubah mandi lalu keluar dari kamarnya sambil celingukkan. Dia tidak menemukan satu orang pun di seluruh sudut lantai satu kondominium mewah milik Ares Laco. Hana lalu berlari dengan bertelanjang kaki ke lantai dua, menuju ke kamarnya. Hana bergegas memakai baju dan saat ia menapakkan kaki kembali di lantai satu, kedua asisten rumah tangganya Ares sudah berdiri di dekat meja makan dan menyapa Hana, "Selamat pagi Nyonya. Silakan sarapan!"
Hana sarapan sendirian tanpa ditemani Ares Laco. Dan gadis manis itu tidak mengetahui di mana Ares Laco berada.
Setelah menyelesaikan sarapannya, Hana masuk ke lift menuju ke area parkir lantai bawah tanah kondominium mewah itu dan langsung menyapa Mirna, "Selamat pagi Mbak Mirna" yang telah siap mengantar Hana ke kampus.
"Selamat Pagi, Nyonya. Sudah siap berangkat?" tanya Mirna.
Hana menganggukkan kepalanya sembari tersenyum manis.
"Nggak ada yang ketinggalan, Nyonya?"
"Kalau gitu, kita siap berangkat" Mirna masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang kemudi, memasang sabuk pengamannya lalu melajukan mobil hadiah dari Ares Laco untuk Hana.
Sesampainya di kampus, Hana lanagung disambut senyum cerianya Sandra, sahabat barunya yang tulus menerima dia sebagai seorang sahabat setelah Doni.
"Kenapa di hari yang sepanas ini, kamu pakai kaos berkerah panjang menutupi leher?" Sandra berucap sembari mengiringi langkahnya Hana menuju ke ruang kuliah mereka.
Hana tersentak kaget lalu sambil berjalan pelan, ia berkata, "Aku agak sedikit meriang jadi, pakai kaos berkerah panjang, hehehehe"
"Oh! Kalau sedikit meriang mendingan cuti aja nggak usah masuk kuliah" Sahut Sandra dengan polosnya.
Hana tersenyum dan menggelengkan kepalanya, lalu berucap, "Aku malas di rumah sendirian dan nggak ada kegiatan. Lebih baik masuk kuliah, kan bisa bertemu denganmu"
Sandra tergelak geli lalu gadis kuliahan berambut hitam lurus itu menggandeng lengannya Hana dengan langkah riang.
Ares duduk diam di ruang kantornya sejam jam lima pagi. Laki-laki muda nan tampan itu, tengah bingung dengan perasaannya sendiri. Dia masih butuh waktu untuk mencerna rasa gelitikan aneh di hatinya yang mampu membuat darahnya berdesir hebat dan jantungnya berdebar-debar setiap kali ia melihat senyumannya Hana, sorot mata polosnya Hana, dan rasa manisnya Hana yang berhasil ia teguk sepuas-puasnya semalam, membuat pikirannya bertambah kacau.
Nalar sehat dan rasa asing yang menyusup ke dalam jiwanya dan memaksa berkuasa penuh atas seluruh hatinya itu, membuat Ares terus membisu, duduk mematung, dan terus mengetuk-ngetukkan jari jemarinya di atas meja kerjanya.
Handoko yang sejak jam enam pagi berdiri tegap di depannya Ares, terpaksa berdiam diri dan tidak berani mengusik kebekuan tuan besarnya di pagi itu.
"Dia manis. Sangat manis, tapi aku tidak mungkin menyukainya. Apa benar aku menyukainya? Han, menurut kamu, rasa suka itu yang seperti apa?" tanya Ares saat ia mulai menyadari keberadaannya Handoko di ruang kerjanya.
"Rasa suka itu, selalu bahagia kalau melihatnya, senang berbincang dengannya, dan ingin selalu berada di dekatnya, terbayang-bayang terus sosok dia dan dada kita terasa sesak saat kita memikirkannya. Itu rasa suka yang saya tahu, Tuan. Apa Tuan belum pernah merasakannya pada wanita-wanita teman kencan Anda yang sebelum-sebelumnya?"
"Dengan semua wanitaku yang sebelumnya, aku hanya butuh mereka untuk melampiaskan gairahku. Tapi, pada Hana, aku merasakan rasa asing yang menggelitik dan membuatku bingung. Aku ingin terus berada di sampingnya, tapi aku malu mengakuinya di depan Hana. Saat ini pun dadaku sesak ingin bertemu dengannya, tapi aku tahan karena malu. Baru kali ini aku merasa malu berada di samping seorang wanita, Han"
"Itu berarti, Anda mulai menyukai Nyonya, Tuan" Sahut Handoko.
Ares menatap Handoko dengan gamang, "Apa benar begitu, Han? Lalu, aku harus bagaimana?"