A Dominant

A Dominant
Senyum Penuh Arti



Wintang kembali mengajar sampai jam lima, di pulang sebentar untuk mandi dan setelah itu, seperti biasanya dia membantu mamanya mengurus klub malam milik keluarga mereka, warisan bisnis dari almarhum papanya.


Jenar Ayu, menyambut Wintang dengan senyum cerah dan sambil meraih tas kerjanya Wintang ia berucap, "Aku udah masak sayur gulai ayam kesukaanmu, Mas"


"Iya. Makasih" Wintang berjalan terus untuk masuk ke dalam dan bergegas ke kamarnya. Jenar Ayu mengikuti Wintang sampai ke dalam kamarnya Wintang dan Wintang tersentak kaget, "Untuk apa kamu mengikuti aku sampai ke sini?"


"Aku mau menaruh tas kerja kamu di sini dan bukankah wajar kalau Istri masuk ke kamar suaminya?" Jenar Ayu berucap sambil meletakkan tas kerjanya Wintang di atas meja yang berada tidak jauh dari pintu masuk kamarnya Wintang.


"Terserah kamu lah" Wintang membuka lemari untuk mengambil baju dan Jenar langsung berlari kecil untuk berdiri di sebelahnya Wintang dan berkata, "Biar aku ambilkan, Mas"


Wintang berkata tanpa menoleh ke Jenar Ayu, "Aku bisa sendiri, makasih"


"Aku akan membantu menggosok punggung kamu, Mas" Jenar Ayu bersitatap dengan Wintang.


Wintang berdeham, "Ehem!" Lalu mengabaikan Jenar Ayu dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi.


Jenar Ayu menghela napas panjang lalu duduk di tepi ranjangnya Wintang. Dia mengamati kamarnya Wintang dan bergumam, "Kamar ini tidak banyak berubah. Masih sama seperti dulu. Dulu aku sering main ke kamar ini, tapi justru setelah menikah dengan Mas Wintang aku nggak pernah lagi masuk ke kamar ini" Jenar Ayu tersenyum getir.


Wintang keluar dari dalam kamar mandi dan langsung mengerem langkahnya, "Kamu kok masih ada di sini?"


"Aku akan membantumu memakai baju, Mas"


Wintang menunduk untuk melihat dirinya sendiri lalu mengangkat wajahnya untuk melihat Jenar Ayu sambil berkata, "Aku sudah pakai baju lengkap"


"Oh" Jenar Ayu tampak kecewa saat ia melihat Wintang sudah memakai baju lengkap.


Wintang tersenyum canggung dan untuk membunuh suasana yang aneh di antara dia dan Jenar Ayu, Wintang segera berucap, "Kita makan, yuk!" Sambil berlari kecil keluar dari dalam kamarnya mendahului Jenar Ayu.


Jenar Ayu kembali menghela napas panjang dan melangkah pelan mengikuti Wintang menuju ke ruang makan.


Jenar Ayu bertanya saat ia dan Wintang duduk berhadapan di meja makan, "Enak nggak, Mas, masakanku?"


"Hmm. Masakan kamu memang selalu enak. Makasih, ya" Sahut Wintang dengan senyum tulus di wajah gantengnya.


"Mas mau ke mana? Ke klub? Apa aku boleh ikut?" tanya Jenar Ayu.


Wintang mengunyah makanan yang telah masuk ke dalam mulutnya sambil menjawab pertanyannya Jenar Ayu, "Terakhir kali kamu ikuti ke klub, kamu bikin aku dan Mama pusing. Kamu bahkan tidak bisa membedakan jus jeruk dan bir"


"Mas bisa ajari aku, kan?"


"Aku nggak ada waktu untuk mengajari kamu, maaf. Dan karena, aku menganggapmu adik, aku tidak akan pernah ijinkan kamu ke klub, lagi" Wintang berucap sembari menusukkan garpunya ke tahu goreng, lalu setelah menggigit tahu goreng itu, ia berucap, "Lagian aku akan ke melihat milky way dulu"


"Kenapa Mas sangat menyukai milky way? Hanya awan hitam dengan titik-titik kecil, apa bagusnya?" Jenar Ayu menatap Wintang dengan wajah heran.


"Percuma juga menjelaskan ke kamu. Kalau udah tidak suka, maka selamanya kamu juga nggak akan suka" Sahut Wintang


"Apa Mas mau menemaniku belanja kalau aku minta?"


Wintang meletakkan sendok dan garpunya lalu menatap Jenar Ayu, "Tentu saja aku mau. Kapan kamu mau pergi belanja?"


"Kalau sekarang?"


"Nggak bisa. Aku ada banyak urusan sekarang, Maaf" Sahut Wintang.


Jenar Ayu lalu menatap Wintang dengan sorot mata kecewa, "Kenapa Mas selalu aja ada urusan? Dan kenapa Mas, tidak pernah mengijinkan aku menjalankan kewajibanku sebagai seorang Istri, kecuali memasak?"


"Karena, aku tidak memilih kamu menjadi Istriku"


Jenar Ayu menatap Wintang dengan sorot mata penuh dengan kesedihan dan kecewa


Wintang yang tidak tega setiap kali melihat seorang wanita memasang wajah sedih, langsung berkata, "Maafkan aku. Kamu tahu, kan, aku ini orangnya blak-blakan, nggak bisa basa-basi. Aku memang tidak memilih kamu menjadi Istriku, kan? Dan kamu juga tahu kalau aku hanya menganggap kamu sebagai adikku, tidak lebih"


Jenar Ayu tersenyum lesu lalu bertanya, "Lalu, apakah kita tidak belajar untuk menjadi suami istri, Mas? Kita sudah menikah selama tiga bulan dan ........."


"Maafkan aku. Aku tidak bisa" Wintang langsung bangkit berdiri dan berlalu begitu saja meninggalkan Jenar Ayu sendirian di meja makan.


Jenar Ayu mengepalkan kedua tangannya di atas meja dan bergumam, "Apa aku cari orang untuk menghamiliku lalu menjebak Mas Wintang untuk tidur denganku setelah itu? Sepertinya gampang, aku tinggal masukkan pil tidur ke dalam makanan atau minumannya Mas Wintang. Iya. Aku rasa hanya itu satu-satunya cara agar Mas Wintang mau memperhatikan aku"


Wintang meraup wajah gantengnya lalu naik ke motor sportnya, "Maafkan aku Jenar. Aku tidak bisa menyentuhmu karena aku hanya menganggapmu sebagai adikku dan kita nggak pernah cocok. Untuk itulah aku tidak pernah bisa jatuh hati padamu, maafkan aku, Jenar"


Mamanya Wintang masih berada di perjalanan bisnisnya, membuat Wintang cukup kerepotan mengurusi klub malam.


Pukul tujuh lewat lima belas menit, saat Wintang akhirnya memiliki kesempatan untuk menatap jam tangannya. Wintang melepas celemek bartendernya dan bergegas keluar dari meja bar dengan mengumpat kesal, "Sial! Kenapa hari ini ramai sekali? Aku telat nih, semoga Nora masih menungguku di sana dan ........."


"Hai!" Nora melambaikan tangannya di depan Wintang.


Wintang tersenyum lebar dan dengan wajah tidak percaya, dia mendekati Nora untuk bertanya, "Kenapa kau ke sini?"


Nora memamerkan gigi putihnya ke Wintang dan berkata, "Aku lupa jalan menuju ke studio film yang kemarin"


Wintang tergelak geli lalu berkata, "Kau pikir aku akan memercayai ucapan kamu? Seorang wanita cerdas seperti kamu, lupa jalan?"


Nora memukul bahunya Wintang, lalu berkata, "Sstttt! Itu kelemahan yang aku dapatkan dari Papaku. Kalau belum pergi ke suatu tempat sebanyak dua kali, aku nggak bisa balik lagi ke tempat itu karena, lupa jalan"


Wintang tersenyum lebar, lalu berkata, "Oke. Hal baru bagiku dan cukup aneh, tapi menarik"


Nora berkacak pinggang dan bertanya, "Ini ejekan atau pujian?"


Wintang tergelak geli, kemudian berkata, "Pujian, Nona. Tentu saja pujian. Dan kita berangkat bersama?"


"Hmm"


"Naik apa?" Tanya Wintang, "Sepeda motor, mobil pickup, atau mobil kamu?"


"Mobilku aja gimana? Bukan mau pamer dan bukan karena aku tidak nyaman pakai mobil pickup dan sepeda motor kamu, tapi ini hanya biar adil saja. Kamu juga harus merasakan naik mobilku" Nora tersenyum lebar ke Wintang.


"Oke. Tapi, biarkan aku yang menyetirnya. Boleh?"


Nora menganggukkan kepalanya dan menyerahkan kunci mobilnya ke Wintang. Kemudian, Wintang dan Nora berjalan keluar dari klub malam, menuju ke mobilnya Nora.


Saat mobil melaju beberapa menit kemudian, Wintang bertanya, "Kenapa kau bisa tahu kalau aku masih ada di klub malam? Padahal udah jam tujuh lebih"


"Aku lihat kamu melintas di perempatan jalan Delima, tadi. Lalu aku mengikutimu dan ......."


Wintang menoleh kaget ke Nora, "Jadi, kau menungguku sejam jam lima sore?"


"Perhatikan jalan! Lihat ke depan!" Nora berteriak sambil menepuk bahunya Wintang dan Wintang langsung mengarahkan pandangannya ke depan.


Nora merona malu dan berkata tanpa berani menoleh ke Wintang, "Iya. Karena, aku nggak tahu jalan, jadi aku pikir aku mengikutimu saja"


"Tapi, kenapa nggak masuk?" tanya Wintang.


"Karena masih terlalu sore untuk menikmati segelas bir" Sahut Nora.


Wintang menoleh sekilas ke Nora untuk memberikan senyum manisnya.


Nora lalu berkata, "Aku lihat, kamu kerepotan tadi. Apa besok aku boleh datang ke klub malam untuk membantumu?"


"Apa kau tahu bagaimana menangani klub malam?" tanya Wintang


"Aku pernah jadi waitress di sebuah klub malam, saat aku kuliah di Amerika. Yeeaahh, tentu saja tanpa sepengetahuannya Mama dan Papaku. Aku cuma ingin mencoba merasakan bekerja menjadi bawahan dan ternyata cukup menyenangkan.


"Kamu hebat juga, ternyata. Padahal rumor yang beredar, Nora Laco itu manja, playgirl, dan arogan"


"Biarkan saja. Yang penting orang terdekatku tahu siapa aku yang sebenarnya" Sahut Nora.


"Jadi, kamu bisa membedakan beragam minuman?" tanya Wintang kemudian.


"Bisa"


"Tidak. Kalau nanti ada tamu yang memperlakukan kamu dengan tidak hormat, aku akan kesal dan ........."


"Aku bisa bela diri. Aku bisa menangani pria hidung belang dengan hanya menjentikkan jariku" Sahut Nora dan Wintang terkekeh geli lalu menoleh sekilas ke Nora dengan senyum penuh arti.


.