A Dominant

A Dominant
Luapan Emosi



"Mas, masuklah ke kamar. Mas, kan, alergi bulu hewan. Nanti kalau........."


"Aku nggak peduli. Aku akan tetap di sini. Aku nggak mau dua orang itu* Ares mengarahkan jari telunjuknya ke Deo dan Leon, lalu berkata lagi, "Mereka hanya akan modusin kamu"


Deo tersenyum tipis lalu berucap, "Tuan Ares Laco, saya terus terang nggak tahu kalau Hana adalah dokter hewan di sini. Saya kaget waktu tadi saya masuk dan melihat ada Hana di depan mata saya. Saya ke sini karena, Goldy, anjing saya ini, kakinya terluka pas bertugas kemarin"


Di saat Ares hendak menyemburkan protes, Hana langsung mengeluarkan suara, "Bertugas?" Hana menatap Deo dengan kerutan di keningnya.


"Aku komandan polisi sekarang ini. Bertugas di narkotika dan Goldy ini" Deo mengusap kepala anjing kesayangannya, lalu membuka suara kembali, "Goldy adalah partnerku. Sahabat terbaik sekaligus partner kerjaku"


Hana lalu berjongkok dan memeriksa kakinya Goldy yang diperban dengan asal. Hana lalu berdiri kembali dan berkata ke Deo, "Letakkan Goldy di meja praktekku dan tunggulah di sana sebentar!"


Deo tersenyum dan menganggukkan kepalanya ke Hana dan langsung mendapatkan sorot mata tajam dari Ares. Ares mengikuti arah perginya Deo dengan wajah cemberut dan bersedekap.


"Dan aku? Mini butuh diobati juga sama dokter.cantik dan ......"


Ares langsung melangkah maju ke Leon dan Hana langsung menahan tubuhnya Area, "Mas, ingat alergi kamu. Kamu sudah berada di jarak yang aman. Jangan nekat mendekati Leon. Kalau kamu mendekati Leon secara otomatis kamu juga mendekati anjingnya Leon"


Ares melotot tajam ke Leon dengan napas menderu menahan amarah.


Hana mengusap dadanya Ares lalu sambil berkata, "Duduklah di meja kerjaku dulu! Ada masker dan sarung tangan di sana. Mas pakai dulu masker dan sarung tangannya, aku akan memeriksa Goldy"


Ares langsung merasa tenang merasakan usapan tangan hangatnya Hana di dada bidangnya dan seketika itu juga ia melunak dan mau menuruti perintahnya Hana.


Hana kemudian menoleh ke Leon, "Kamu ke meja pendaftaran dulu dan nunggu giliran. Aku akan periksa Goldy"


Leon tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Dan aku mengawasi kalian semua! Awas saja kalau kalian berani modusin Hana!" Ares berteriak kesal ke Deo dan Leon.


Hana menoleh ke Ares dan mendelik, "Mas, jangan teriak-teriak! Nggak enak kalau sampai kedengaran dari luar"


Ares lalu diam membisu dengan melancipkan bibir dan menautkan alisnya sambil bersedekap karena, kesal.


Ares lalu menelepon Handoko, "Han! Kenapa Deo bisa tahu kalau aku udah bercerai dengan Hana? Padahal, kan, perceraianku dengan Hana itu tersembunyi. Hanya keluargaku saja yang tahu"


"Bukan hanya keluarga Anda yang tahu, Tuan. Saya dan Nyonya Macarena juga tahu" Sahut Handoko.


"Lalu siapa yang membocorkannya? Apa Macarena?"


"Saya rasa begitu, Tuan" Sahut Handoko, "Saya akan menyelidikinya" Tambah Handoko.


"Eh, kok ada suara cewek? Kamu sama cewek?"


Handoko menoleh ke Wulan dan memberi kode ke Wulan untuk diam. Lalu Handoko menjawab pertanyannya Ares dengan nada kikuk, "Emm, itu, anu, Tuan, emm ........"


"Emm, emm, terus. Kalau sama cewek ya nggak papa, to. Aku malah senang kamu ternyata normal, jadi aku aman" Sahut Ares lalu klik! Ares memutuskan sambungan teleponnya dengan Handoko.


Handoko menatap layar ponselnya dengan bergumam kesal, "Normal! Apa maksud Tuan Ares aku tidak normal selama ini?" Lalu Handoko menggeleng-gelengkan kepalanya dan memasukkan kembali ponselnya ke saku kemejanya.


"Kamu kelihatan cantik kalau pakai blazer dokter, Hana. Aku senang akhirnya kamu berhasil mencapai cita-cita kamu" Bisik Deo karena dia tidak ingin Ares mendengar ucapannya dan Ares akan menimbulkan keributan yang pasti akan membuat Hana kerepotan.


"Terima kasih" Sahut Deo.


Ares tiba-tiba meletakan kepalanya di tengah-tengahnya Hana dan Deo lalu di balik maskernya ia bertanya, "Apa yang kau katakan ke Hana barusan?"


Deo menarik kepala menjauh dari kepalanya Ares karena kaget dan langsung komandan gagah dan tampan itu menyemburkan protes, "Saya tidak memiliki hak untuk melaporkan semua perkataan saya ke Anda, kan, Tuan Ares Laco yang terhormat. Anda,kan, bukan Bos saya dan bukan atasan saya"


Ares menarik kepalanya dan menegakkan tubuhnya lalu ia berdiri di sebelahnya Hana berhadapan dengan Deo yang berdiri di seberang meja prakteknya Hana dengan sorot mata tajam dia terus mengawasi Deo.


"Nah, Goldy udah selesai diobati lukanya. Cepat sembuh ya Goldy" Hana mengusap kepalanya Goldy dan Goldy langsung mengangkat kaki kiri bagian depannya yang tidak terluka ke Hana dan Deo langsung tersenyum lalu berkata, "Goldy ingin mengucapkan terima kasih ke kamu, Hana"


Ares yang menggenggam tangannya Goldy dan Goldy langsung menggeram dan menarik kaki depannya.


Ares melotot ke Goldy, "Apa Elo melotot?! Aku juga bisa melotot" Ares melotot ke Goldy, lalu berkata, "Aku tidak akan biarkan kamu menyentuh tangannya Hana karena kamu berjenis kelamin jantan. No! Big No!"


Goldy terus menggeram di depannya Ares dan Deo langsung mendekap Goldy dan berbisik di telinganya Goldy, "Sssttt! Kalau mau gigit orang menyebalkan yang ada di depan kamu ini, kamu harus nunggu di waktu yang sangat tepat"


Hana hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya dan menghela.napas panjang karena ia sudah terlalu capek menasehati Ares.


Deo kemudian menurunkan Goldy dari atas meja kerjanya Hana dan Hana lalu menoleh ke Leon, "Mini sudah bisa aku periksa. Tolong bawa ke sini!"


Leon langsung bangkit dan dengan wajah cerah ceria, ia melangkah ringan menuju ke meja prakteknya Hana sembari membopong Mini.


Deo masih berdiri di depannya Hana dan bertanya, "Aku harus ngapain sekarang?"


"Pergi dan jangan ke sini lagi besok!" Sahut Ares.


Hana langsung menepuk bahunya Ares dengan wajah kesal lalu ia berkata ke Deo, "Ambil obat dan lakukan pembayaran di meja itu" Hana menunjuk meja kerjanya Susan.


"Ah! Baiklah. Terima kasih, Hana. Dan kapan kau pulang kerja?"


"Hana akan aku ajak kencan. Jadi, pulang kerja, Hana akan aku jemput" Sahut Leon dengan wajah cerah ceria seolah polos tanpa dosa.


Deo langsung menatap Leon dengan wajah tidak suka dan bertanya, "Kenapa Hana bisa berkencan dengan Anda? Anda siapanya Hana?"


"Pacarnya Hana" Sahut Leon dengan santainya.


"Hah?! Sejak kapan?!" Hana, Deo,.dan Ares memekik berbarengan ke arah Leon.


Leon terkekeh geli lalu menatap Hana dan berucap, "Sejak kamu menggenggam tanganku di restoran waktu itu. Kau berkata ke Ares kalau aku adalah............"


Bug! Ares tanpa permisi langsung mendaratkan bogem mentah ke wajah tampannya Leon dan berteriak, "Ayok kita duel di luar! Dasar bocah brengsek! Jangan usil Hana! Aku sudah pernah katakan itu ke kamu, kan? Jangan usil Hana!"


Leon mengusap sudut bibirnya dengan senyum ringan sambil menatap Ares dan Hana langsung memeluk Ares dan mendorong Ares menjauhi Leon.


Luapan emosinya Ares sudah tidak bisa dikendalikan lagi dan ia terus mengepalkan kedua tinju dan menghunus tatapan tajam ke Leon.


Deo pun menghunus tatapan tajamnya ke Leon dan berkata, "Kalau kamu nekat memaksa Hana untuk pergi berkencan denganmu, aku juga akan mendaratkan bogem mentahku ke wajah kamu, dasar brengsek!"