
"Ini kan, jalan arah ke pantai?" Area langsung meminggirkan mobilnya dan keempat
mobil lainnya yang mengikuti di belakangnya mengerem dadakan mobil mereka.
Handoko langsung turun dari mobil yang ia kendarai dan melangkah maju menuju ke mobil sport kesayangan tuan besarnya. Handoko mengetuk kaca mobilnya Ares. Ares menurunkan kaca mobilnya dan bertanya, "Ada apa, Han?"
"Saya yang justru ingin bertanya Tuan. Kenapa Anda menghentikan mobil Anda secara mendadak?"
"Nggak papa! Kembalilah ke tempatmu! Aku ingin bicara dengan Hana"
Handoko lalu menegakkan kembali badannya,menganggukkan kepala lalu berputar badan untuk kembali ke dalam mobil yang ia kemudikan di hari itu.
Ares menoleh ke Hana sambil berucap, "Aku nggak suka pantai. Aku akan kita balik dan pulang!" Ares meninggikan nada suaranya karena, kesal.
Hana langsung mendudukkan wajahnya karena takut. Dia takut menghadapi kemarahan dan hukumannya Ares.
Ares menghela napas panjang saat melihat Hana menunduk dan tampak ketakutan. Ares langsung melepas sabuk pengamannya dan memegang kedua bahu Hana dan memaksa Hana menghadap ke dia dengan kata, "Jangan takut padaku! Aku udah bilang kan ke kamu, jangan takut padaku!"
Hana masih menunjukkan wajahnya dan Ares langsung menggeram kesal, lalu berkata, "Bukankah aku juga pernah katakan ke kamu, kamu itu Istrinya Ares Laco, jangan menundukkan wajah kamu di depan siapa pun termasuk di depanku!"
Hana mulai mengangkat pelan-pelan wajah ayu alaminya, wajah putih bersih tanpa polesan make-up, hanya terkena sentuhan bedak bayi, dan itu sudah membuat wajah Hana tampak ayu alami dan memancarkan sinar yang bisa menyihir semua Kaum Adam yang menatapnya.
Ares tercekat, dia menatap Hana secara dekat dan baru menyadari betapa cantiknya seorang Hana Prakas sehingga tanpa Ares sadari ia mengucapkan kata, "Tuhan Mahabesar"
Hana menatap Ares dengan rona merah di wajah karena Ares terus memandanginya dengan sorot mata syahdu dan penuh arti.
Ares membelai pipinya Hana lalu mengusap bibirnya Hana dengan ibu jarinya sambil berucap, "Kenapa baru sekarang ini aku menyadari, betapa cantiknya dirimu"
Hana semakin memerah wajahnya dan di saat ia hendak menundukkan Kemabli wajahnya, Ares mencubit dagunya Hana dan mencium bibirnya Hana dengan penuh perasaan dan baru pertama kalinya bagi seorang Ares Laco, mencium Submissive-nya dengan memakai perasaan.
Hana membelalak, lalu di saat ia mencoba membalas ciumannya Ares, kedua kelopak matanya terpejam dengan pelan-pelan.
Kedua suami istri itu kemudian terhanyut di dalam ciuman mereka dan di saat Ares hendak membuka kancing blusnya Hana, Hana menahan tangannya Ares, dan berkata, "Mas, aku akan menemani Mas bermain di kamar ungu nanti malam. Aku janji. Bukankah Mas bilang, kita belajar mengenal cinta dengan dimulai membuang rasa takutku padamu, kan, Mas. Dan jujur, hal yang paling aku takutkan adalah kamar ungu, tapi aku akan mulai belajar menghadapi kamar ungu nanti malam"
"Benarkah?" Mata Ares menatap Hana penuh rasa terima kasih.
"Iya, aku janji. Tapi, Mas harus menuruti keinginanku untuk pergi ke pantai favoritku. Dan Mas, juga harus mengatakan kepadaku alasan Mas kenapa Mas tidak menyukai pantai"
Ares mengecup keningnya Hana dan berucap, "Baiklah" sambil menegakkan tubuh, lalu memasang kembali sabuk pengamannya.
Ares kembali melajukan motor sportnya dan keempat mobil di belakangnya langsung mengikuti mobilnya Ares.
"Mas selalu membawa bodyguard ya?" Hana berucap sambil menatap kaca spion mobil sebelah kiri.
"Hmm. Karena, aku ini memiliki banyak musuh dalam selimut dan di setiap detik langkahku aku harus selalu waspada dan berhati-hati" sahut Ares.
"Terkadang aku iri melihat orang kaya. Iri melihat para pebisnis yang sukses kayak Mas, tapi sekarang aku merasa nggak iri lagi" sahut Hana.
"Kenapa?" Ares melirik Hana sekilas.
"Karena, kehidupan orang miskin macam aku ini, ternyata lebih damai. Rasa cukup bisa makan tiap hari bisa membuat kita selalu mengucap syukur. Apa Mas juga selalu mengucap syukur tiap hari?" tanya Hana.
Ares menoleh ke Hana lalu diam termangu sebentar dan menggelengkan kepalanya, "Aku akan mengucap syukur mulai detik ini"
Ares melirik Hana dan berucap, "Aku senang, kamu sudah mulai bisa sering tersenyum saat berada di sampingku"
"Aku juga senang, Mas mulai bisa menunjukkan. emosi Mas di depanku. Seperti menangis"
"Sial! Aku benar-benar menangis di depan kamu ya, tadi? Kau tahu Hana, baru pertama kalinya diriku menangis di depan seorang cewek selain Mama asuhku dan aku bersyukur cewek itu adalah kamu dan Nenek Kamu"
"Benarkah?" Hana kembali menoleh ke Ares dengan senyum lebarnya.
Ares melirik Hana, lalu konglomerat muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali sambil mengulas senyum lega dan bahagia di wajah tampannya.
"Wah! Kalau aku sampaikan hal ini ke Nenek, Nenek pasti senang banget"
"Benarkah? Kalau gitu, besok kita kunjungi lagi Nenek. Aku juga senang kalau melihat Nenek tersenyum senang" Nada suara Ares terdengar begitu tulus dan membuat Hana tanpa sadar menitikkan air mata.
Ares melirik Hana dan langsung bertanya dengan nada panik, "Kenapa kau menitikkan air mata? Apa yang sakit? Sebentar, aku akan pinggirkan lagi mobilku"
"Nggak usah, Mas. Aku nggak papa. Aku menitikkan air mata karena, terharu. Terima kasih Mas sudah menyayangi Nenek"
Ares melirik Hana dengan senyum lebar dan wajah memerah karena malu. Ares sejak kecil sangat jarang mendapatkan pujian dan rasa terima kasih yang tulus dari seseorang, itulah kenapa setelah menerima ucapan terima kasih yang tulus dari Hana, wajahnya memerah malu.
Beberapa jam kemudian, Hana dan Ares sudah duduk di atas pasir dan menghadap ke pantai. Beberapa kali, kaki mereka tersapu air pantai karena, mereka memilih duduk agak dekat dengan bibir pantai.
Handoko dan kedelapan anak buahnya duduk tidak jauh dari tuan dan nyonya besar mereka.
Handoko menatap kebersamannya Ares dan Hana dengan senyum bahagia dan bergumam, "Saya bahagia, akhirnya Anda bisa memiliki rasa layaknya manusia normal, Tuan dan semoga selamanya Anda bisa bahagia bersama dengan Nyonya Hana Prakas. Saya berjanji pada.diri saya sendiri kalau saya akan membabat habis segala rintangan yang menghalangi langkah Anda dan Nyonya menuju ke kebahagiaan. Amin"
Ares terus memeluk Hana dan sesekali mencium kening dan pucuk kepalanya Hana.
Hana berucap, "Setiap kali aku merasakan lelah, sedih dan merindukan kedua orang tuaku, aku pasti naik bus untuk pergi ke pantai ini"
"Sendirian?" tanya Ares.
"Iya sendirian dan ini pertama kalinya aku ditemani oleh seseorang" Hana mendongakkan wajahnya untuk menatap Ares.
Ares menunduk dan berucap, "Wah! Aku tersanjung" lalu ia mengecup bibirnya Hana.
"Sekarang Mas bisa bercerita, kenapa Mas tidak menyukai pantai?"
"Karena, pantai memberikan banyak kenangan buruk di hidupku. Sejak kecil, aku hidup dekat dengan pantai, di kawasan wanita-wanita nakal, Mamaku adalah kupu-kupu malam primadona di sana, kala itu. Dari tempat kumuh aku lahir dan dibesarkan, ke pantai hanya dibutuhkan waktu sepuluh menit dengan berjalan kaki"
"Wah! Enak dong bisa setiap hari ke pantai" Hana memekik riang"
"Awalnya aku suka, tapi kemudian aku membenci pantai karena, Mamaku dibunuh oleh Papa kandungku diiringi oleh deburan ombak pantai. Suara deburan ombak membuat perasaanku terasa sesak"
Hana langsung menarik diri dan menatap Ares. Dan tanpa Ares duga, Hana menangkup wajah tampannya Ares, lalu Hana berkata, "Aku akan memberikan kenangan yang baru dan indah. Dengan diiringi deburan ombak pantai, aku akan mencium kamu, Mas dan lupakanlah kenangan buruk itu" Hana lalu mencium Ares dengan lembut dan penuh dengan perasaan.
Ares langsung memeluk punggung Hana, mengusap, membelai, sambil membalas permainan bibir yang Hana tawarkan. Ares merasakan hatinya berdebar indah dan kenangan buruk di benaknya secara perlahan menguap ke udara bebas dan diganti dengan kenangan indah yang Hana tanamkan ke dalam benaknya.
Indah terasa Indah kala deburan ombak terdengar mengiringi sapuan, kecupan, dan belaian lembut bibirnya Hana di atas bibirnya dan Ares tanpa sadar mengucapkan kata, "Terima kasih, Sayang"