
Hana berhasil menggigit tangan laki-laki yang memegang gelas bir. Lalu dengan sisa kesadaran yang masih ia miliki karena pengaruh setengah gelas bir yang telah lolos masuk ke dalam tubuhnya, ia memukulkan gelas ke kening laki-laki tersebut lalu menggigit tangan laki-laki yang mencangarnya.
Saat kedua laki-laki yang menghimpit tubuhnya melonggarkan himpitan mereka karena kesakitan, Hana melompati ke atas meja di depannya lalu melompat turun dari atas meja itu dengan cepat dan mencoba berlari kencang, namun gagal karena kepalanya mulai terasa pening dan pandangannya mulai kabur. Dia tetap berusaha melangkah pergi walaupun dengan terhuyung-huyung dan bergumam, "Tolong saya!" Tapi, tidak ada satu orang pun menolongnya.
Laki-laki yang tidak tergigit oleh Hana segera berlari mengejar Hana. Dia berhasil memegang pergelangan tangan Hana tepat di saat dua sosok pria berdiri di depannya.
Hana menarik pergelangan tangannya, mulai terisak dan dengan lemas berusaha mendorong tubuh laki-laki asing yang masih berusaha menarik dia untuk kembali ke tempat duduknya semula. Hana memekik lemas,, "Astaga! Lepaskan aku! Aku tidak mau ikut denganmu, lepaskan!"
"Dia bilang lepaskan! lepaskan dia!" suara dalam dari seorang laki-laki menggema di antara Hana dan laki-laki asing yang masih mencengkeram pergelangan tangan kanannya.
"Kau siapa! Jangan ikut campur! Ini pacarku"
sahut laki-laki yang semakin kencang mencengkeram pergelangan tangannya Hana sampai Hana meringis kesakitan.
"Bohong!" Hana mencoba untuk berteriak tapi, hanya suara lirih yang terdengar karena pengaruh bir sudah mulai menguasainya mutlak.
"Urus dia Han!" Laki-laki bersuara bass itu mendorong laki-laki yang mencengkeram tangannya Hana dengan keras sampai cengkeramannya terlepas dan ia terjatuh di atas lantai.
"Baik Tuan" Handoko langsung berdiri di tengah-tengahnya Hana dan laki-laki yang masih terduduk kaget di atas lantai.
Ares Laco menatap Hana dan berkata, "Kau lagi? Kau benar-benar wanita nakal, ya?" Ares menatap Hana dengan wajah geram.
Hana menoleh ke asal suara dan menyipitkan kedua matanya untuk bisa melihat dengan jelas wajah laki-laki dengan suara bass itu, "Anda siapa? Kenapa Anda menolong saya? Apa kita saling kenal? Saya dijebak, dibawa ke sini dengan paksa dan Anda berputar-putar Tuan, saya akan tidur"
Bruk! Hana menjatuhkan kepalanya di atas dadanya Ares. Ares menggeram kesal lalu membopong Hana dan melangkah ke lift, masuk ke dalam dan memencet lantai delapan menuju ke kamar favoritnya yang dia pesan di malam itu, untuk keperluan rapat bisnis yang akan diadakan tepat jam tujuh malam di hotel Freed Diamond.
Deo sampai di lobi hotel Freed Diamond dan celingukkan mencari sosok Hana. Deo mulai panik saat ia bertanya ke resepsionis dan resepsionis mengatakan kalau gadis dengan ciri-ciri yang digambarkan oleh Deo telah pergi dengan tiga orang laki-laki.
Deo lalu berlari masuk ke dalam lift dan menuju ke lantai lima. Dia tahu ada bar di sana tempat para eksekutif muda menghabiskan waktu mereka dengan para gadis hiburan. Deo mengedarkan langkah dan pandangannya di dalam bar tersebut dan tidak menemukan sosoknya Hana. Deo meraup wajah tampannya dengan frustasi dan bergumam, "Kau di mana Hana?"
Setengah jam kemudian, Handoko bergegas masuk ke dalam lift dan menuju ke kamar favorit tuan besarnya. Handoko memencet bel yang ada di samping pintu besar kamar itu dan Ares membukakan pintu setelah ia merebahkan gadis asing dengan rambut dikepang di atas ranjangnya.
Handoko melangkah masuk ke dalam kamar mengikuti langkah tuannya menuju ke ranjang besar yang ada di kamar mewah itu lalu ia segera memberikan laporan saat tuan besarnya berdiri menatap dia, "Saya sudah membereskan laki-laki tadi dan kedua temannya, Tuan. Mereka mengaku kalau mereka yang memesan gadis itu tapi sepertinya mereka salah orang. Ada wanita dengan dress yang sama dengan gadis yang Anda bawa ke sini dan wanita itu.........."
"Aku paham. Jangan teruskan! Kamu pergi ke kafe tempat biasa aku bermain piano dan minta profil gadis itu!" Ares yang berdiri di samping ranjangnya, menunjuk ke gadis yang rebah di sana dan tanpa mengalihkan pandangannya dari Handoko, ia melanjutkan ucapannya, "Semua data tentang gadis itu bawa ke hadapanku malam ini juga!"
Ares menoleh ke ranjangnya. Ia tampak ragu meninggalkan gadis itu sendirian di kamar mewahnya.
Handoko sekilas melirik gadis yang rebah di atas ranjang mewah itu dengan heran. Ia meninggalkan tuan besarnya selama setengah jam bersama dengan seorang gadis tapi, gadis itu tertidur di atas ranjang tuan besarnya masih berpakaian lengkap dan ia diijinkan berdiri di depan ranjang itu.
"Kau suruh Rossa saja untuk mewakili aku datang ke rapa itu. Aku tidak bisa meninggalkan gadis ini sendirian di sini" sahut Ares.
"Baik Tuan"
"Dan kau segera ke kafe, kumpulkan semua data tentang gadis ini dan bawa ke hadapanku malam ini juga! Aku tunggu!"
"Baik Tuan"
"Oke! Kau pergilah!"
Handoko menganggukkan badannya lalu berputar pelan untuk melangkah meninggalkan tuan besarnya.
Deo pergi ke kantor polisi untuk melaporkan Hana, namun pihak kepolisian berkata, "Kau kembalilah dua puluh empat jam lagi ke sini dan bikin laporan! Kalau cuma selama dua jam teman kamu hilang, kami belum bisa ambil tindakan karena bisa saja saat ini, teman kamu sudah balik ke rumahnya"
Deo mendengus kesal dan kembali menaiki motornya pergi meninggalkan kantor polisi menuju ke rumahnya Hana. Sesampainya di sana, Deo tidak menemukan keberadaannya Hana dan dengan sangat terpaksa ia membohongi neneknya Hana dengan mengatakan bahwa Hana belajar kelompok di rumahnya Mira teman sekelasnya. Deo bernapas lega saat neneknya Hana memercayai ucapannya dan Deo meminta ijin, "Saya akan tidur di sini untuk menjaga Nenek menggantikan Hana, boleh?"
"Boleh. Tentu saja, boleh" sahut neneknya Hana dengan senyum hangatnya.
Ares menarik bangku dan duduk di depan ranjangnya. Ia terus menatap gadis yang rebah di atas ranjangnya dan mengernyit kaget saat ia melihat gadis itu bangun, berusaha turun dari ranjang.
"Kau mau apa?" Ares bergegas bangkit dan berlari memeluk gadis itu tepat di saat gadis itu hampir ambruk di atas lantai.
Gadis itu menyandarkan kepalanya di bahunya Ares dan berkata, "Aku ingin muntah dan.......hhooooeekkkk!"
Ares terkekeh geli saat melihat gadis itu kembali tertidur setelah memuntahkan seluruh isi perutnya. Lalu dengan telaten, Ares mendekap gadis itu, membopongnya dan merebahkannya kembali di atas ranjang. Ia lalu mencopot dress gadis itu yang berbau menyengat, penuh dengan muntahan.
Kemudian ia memakaikan kemeja yang ia ambil dari dalam koper yang belum sempat ia bongkar, ke gadis itu. Setelah itu, ia menyelimuti gadis itu, ia usap rambut gadis itu sambil berkata, "Kenapa kita berjumpa lagi? Dan kepangan rambut kamu telah menyihirku untuk bisa berlaku baik padamu padahal aku sama sekali tidak mengenalmu. Tapi, aku ingin lebih mengenalmu detik ini juga"
Ares lalu bangkit, membawa dress penuh tumpahan gadis itu ke keranjang baju kotor dan ia melepas kemejanya yang juga terkena sedikit tumpahan dari gadis itu lalu ia berjalan ke ruang tengah, duduk di sofa menunggu kedatangannya Handoko.