A Dominant

A Dominant
Bergidik Ngeri



Ares merangkul Hana dengan erat dan memberikan perintah ke Handoko untuk menekan pedal gas mobil lebih dalam lagi dengan suara yang dalam dan sorot mata tajam dengan ekspresi wajah yang sangat dingin.


Hana bergidik ngeri dan hanya bisa diam mematung, namun keringat mulai mengucur di seluruh tubuhnya. Hana berharap, dia tidak dihukum di ruang ungu. Hana merasa sangat ketakutan membayangkan dirinya disentuh dengan alat-alat aneh yang tampak sangat menakutkan bagi Hana.


Sesampainya di area parkir kondominiumnya, Ares menarik paksa Hana untuk keluar dari dalam mobil mewahnya lalu ia memanggul Hana masuk ke dalam lift diikuti oleh Handoko.


Hana hanya bisa berdiam diri dan pasrah karena dirinya juga didera rasa bersalah selain rasa takut yang sangat luar biasa menyergap jiwa dan raganya. Hana merasa bersalah karena, ia telah nekat menemui sahabatnya yang adalah seorang laki-laki tanpa ijin dan tanpa sepengetahuan dari suaminya.


Ting! Pintu lift terbuka dan Ares langsung memanggil kedua asisten rumah tangganya dan segera berucap ketika kedua asisten rumah tangganya itu telah berdiri tegak di hadapannya, "Kalian pergi ke rumah yang baru aku beli!. Handoko akan mengantarkan kalian berdua. Aku ingin berduaan saja dengan istriku sekarang ini"


Handoko lalu memerintahkan kedua asisten rumah tangganya Ares untuk segera masuk ke dalam lift.


Asisten rumah tangganya Ares yang masih muda, bertanya ke Handoko, "Nyonya sepertinya akan mendapatkan hukuman yang sangat mengerikan dari Tuan Ares, ya Tuan Han?"


Handoko hanya diam dan menatap tajam asisten rumah tangganya Ares yang masih muda itu.


"Ssssttt! Jangan banyak tanya!" Sahut asisten rumah tangganya Ares yang lebih tua.


Ares lalu membawa Hana ke kamar pribadinya dan menurunkan Hana dengan pelan sampai kedua kakinya Hana, kembali menyentuh lantai. Lalu dengan cepat, Ares mendorong Hana sampai punggungnya Hana membentur pelan tembok kamar. Ia menaikkan kedua tangannya Hana di atas kepalanya Hana dan ia menahan tangan itu di sana dengan tangan kirinya.


Hana mulai ketakutan dan bertanya, "A....apa yang akan Anda lakukan, Tuan?"


Tangan kanan Ares menangkup wajahnya Hana dengan bertanya, " Tentu saja aku akan menghukum istri imutku ini karena dia tidak menuruti perintah suaminya Karena dia telah melanggar perintah suaminya"


Hana membeku, namun seluruh tubuhnya bergetar tanpa ia perintahkan.


Ares mengelus lembut pipinya Hana dengan ibu jarinya dan bertanya, "Permainan cinta yang seperti apa yang kamu sukai? Kamu pasti pernah berpacaran, kan?"


Hana menggelengkan kepalanya.


"Jawab! Jangan hanya menggelengkan kepala!" Ares membentak Hana.


"Sa.....saya nggak mengerti tentang permainan yang Anda maksud, Tuan. Sa.....saya belum pernah berpacaran dan belum pernah mengenal apa itu cinta" Hana berucap dengan suara bergetar menahan rasa takut yang begitu erat menyergap jiwa dan raganya.


Mata Ares meredup dan tatapan dinginnya mulai sedikit mencair dan berkatalah dia, "Tidak mungkin kamu belum pernah berpacaran. Pasti banyak laki-laki di luar sana yang menyukai gadis ayu alami seperti kamu ini" Ares mengelus kembali pipi mulusnya Hana dengan ibu jarinya, "Aku benar, kan? Jawab!"


Hana merinding merasakan.sentuhan di pipinya dan berkata, "Me....memang ada beberapa laki-laki yang menyatakan cinta ke saya. Tapi, tidak ada yang saya terima cintanya"


Ares menjatuhkan keningnya di keningnya Hana dan bertanya di sana, "Kenapa? Kenapa kau tidak menerima cinta mereka?"


"Ka....karena saya belum ingin berpacaran dan tidak siap untuk jatuh cinta"


"Kau bahkan belum pernah dicium atau berciuman?" tanya Ares.


Ares tersentak kaget mendengar semua ucapannya Hana. Dia tidak menduga kalau Hana benar-benar gadis yang sangat lugu. Bahkan berciuman pun belum pernah.


Apakah hadis ini sanggup menjadi Submissive-ku? Apa gadis ini sanggup memuaskan selera unik yang aku miliki? Apa aku sudah salah memilih Hana Prakas? Batin Ares yang masih menempelkan keningnya di keningnya Hana dan masih menahan kedua tangan Hana di atas kepalanya Hana.


Ares menarik keningnya dari keningnya Hana, lalu kedua matanya menyipit.


Kedua kaki Hana mulai bergerak-gerak gelisah.


Ares menyapukan jari jemari tangan kanannya dileher Hana menuju ke pelipis dan tubuh Ares menempel ke tubuh Hana. Hana bisa merasakan adanya ketegangan pada tubuh Ares dan dia tersentak kaget saat Ares mencium bibirnya dengan tiba-tiba.


Ares lalu merangkulkan kedua lengannya Hana ke lehernya lalu membopong Hana tanpa melepaskan bibirnya Hana. Ares lalu merebahkan Hana dengan pelan di atas kasur dan menaikan kembali tangannya Hana di atas kepalanya Hana dan ia berkata di atas tubuhnya Hana, "Tahan kedua tangan kamu di atas kepala kamu! Jangan menyentuh dadaku apapun yang kau rasakan!"


Hana hanya bisa menganggukkan kepalanya. Dia tidak memiliki keberanian untuk melawan Ares lagi.


Hana langsung memejamkan kedua matanya saat ia mendapati dirinya telah polos.


"Buka kedua mata kamu! Jangan pernah memejamkan mata tanpa aku perintah!"


Hana langsung membuka kedua matanya dan ia menatap otot perutnya Ares yang indah dan tampak seksi menggoda.


Ares membungkuk dan menghembuskan napas di atas perutnya Hana lalu turun dan bermain-main di lembah kenikmatan yang membuat Hana tersentak kaget dan tanpa sadar mengeluarkan suara-suara yang terdengar seksi di kedua telinganya Ares. Ares lalu menaikkan kepalanya dan menyergap bibirnya Hana lalu ia bermain di sana. Ares membuat Hana membalas ciumannya Ares yang awalnya lembut dan kemudian berubah liar dengan melibatkan lidah.


Tanpa menunggu lagi, Ares menyatukan raganya dengan Hana setelah ia memasang alat pengaman. Ares bergerak menyentak dan membuat Hana membeliak kaget dan terus melorot menatap langit-langit kamar saat ia merasakan rasa asing yang indah yang Ares tanamkan di dirinya.


Ares terus bergerak dan terus bergerak sampai ia dan Hana memekik puas beberapa kali. Hana lalu jatuh terkulai lemas dan tertidur pulas. Ares melihat ada bercak darah di sprei.


Entah kenapa, Ares tersenyum bangga, puas dan bahagia melihat bercak darah di sprei. Ares lalu mencium keningnya Hana dan berjalan ke luar kamar menuju ke pianonya tanpa sehelai kain pun. Dengan tubuh yang masih polos seolah tidak merasakan. dinginnya angin malam, Ares memainkan pianonya.


Melodi yang biasa ia mainkan adalah melodi yang mendayu-dayu dan penuh dengan kesedihan. Namun, di malam itu, Ares memainkan melodi yang ceria. Bahkan Ares yang tidak pernah bernyanyi saat ia bermain piano, bernyanyi di malam itu dengan wajah penuh kebahagiaan.


Hana terbangun, saat Ares memainkan melodi di lagu kedua yang dia pilih untuk ia mainkan dan nyanyikan di malam itu. Hana mengernyit karena ada rasa nyeri yang menyergapnya. Namun, rasa nyeri itu dikalahkan dengan rasa penasarannya akan suara indahnya melodi yang ia dengar. Hana lalu tanpa sadar bangkit, membalut tubuhnya dengan selimut dan melangkah keluar dari dalam kamar pribadinya Ares dengan langkah pelan.


Hana mendekati Ares dengan ragu-ragu dan Ares berkata, "Kemarilah! Nggak usah ragu dan takut! Aku tidak akan menyakitimu"


Hana melangkah mendekati Ares karena, ia menyukai melodi yang Ares mainkan.


Hana berdiri di sampingnya Ares dan Ares menoleh ke Hana, "Kau menyukainya?"


Hana menganggukkan kepalanya dan tanpa sadar, Hana memberikan senyum termanisnya untuk Ares.


Jantung Ares berdegup kencang menangkap senyum Hana yang sangat manis itu. Lalu, konglomerat muda itu menghentikan permainan pianonya. Dia kemudian bangkit, mengangkat Hana dan ia dudukkan Hana di atas pianonya. Dia melepas selimut yang membalut tubuh Hana lalu ia mengajak Hana berciuman dan kembali menyatukan raganya dengan Hana di atas piano dan baru pertama kalinya bagi Ares, dia menyatukan raganya dengan seorang wanita melibatkan rasa yang disertai dengan desiran indah di hati dan degup jantung yang membuatnya waras.