A Dominant

A Dominant
Kaget



Ares berlari menyusul Hana yang berlari kencang masuk ke dalam kamar. Ares berhasil menahan pintu kamar sebelum Hana menutup dan menguncinya.


Hana melangkah lebar ke ranjang dan duduk di tepi ranjang dengan melengos, bersedekap dan mengerucutkan bibirnya selancip mungkin.


Ares menghela napas panjang dan duduk di sebelahnya Hana. Saat ia ingin merangkul bahu istrinya itu, Hana menggeser pantatnya menjauh dari Ares.


Ares meraup wajah tampannya dengan kasar, karena ia berusaha menahan kekesalannya. Jika ia tidak memikirkan Hana, dia sudah menuruti kedagingannya untuk marah besar dan mengabaikan Hana, karena dia sejujurnya merasakan lelah yang luar biasa dan otaknya panas, selama Handoko tidak ada di sampingnya, dia mengerjakan semua pekerjaan sendirian. Namun, demi cinta, dia lebih memikirkan Hana daripada lelah yang mendekap erat raganya.


Setelah menghela napas panjang beberapa kali, Ares berkata, "Apa kau masih cinta sama aku?"


Hana menganggukkan kepalanya penuh semangat.


"Lalu kenapa marah?" Ares tersenyum lebar melihat keluguannya Hana.


"Karena kamu ngawur. Kamu mengatakan cantik ke cewek lain dan ......"


"Dan aku bahkan udah lupa wajah cewek itu dan aku pun lupa siapa namanya" Ares langsung memotong ucapannya Hana.


Hana menoleh ke Ares, menyipitkan kedua kelopak matanya sambil merengut, lalu bertanya, "Benarkah?"


"Hmm. Aku bersumpah demi apapun di du......."


Hana langsung melompat dan menutup mulutnya Ares dengan telapak tangan kanannya, "Nggak baik bersumpah. Jangan pernah bersumpah kalau kamu nggak bisa memenuhinya"


Ares menarik tangannya Hana untuk berucap, "Aku bisa memenuhinya. Aku benar-benar sudah lupa sama cewek tadi. Karena, yang ada di kedua bola mata dan hatiku, hanyalah dirimu Hana"


Hana merona malu dan langsung memeluk suaminya, "Jangan buat aku kesal lagi! Jangan tersenyum sama cewek lain, jangan memuji cewek lain, dan jangan menatap cewek lain terlalu lama!"


Ares langsung mendekap erat tubuhnya Hana, "Iya baiklah. Maafkan aku, ya, aku udah buat kamu kesal hari ini. Aku janji, aku nggak akan mengulanginya lagi"


Hana mempererat pelukannya dan berkata, "Maafkan aku, tadi aku berteriak di depan kamu"


"Kamu boleh teriak di depanku kalau aku ngawur lagi. Karena, aku ini adalah suami kamu" Ares mencium pucuk kepalanya Hana.


Hana langsung berucap, "Aku sangat mencintaimu, Mas.


Ares merebahkan tubuh Hana dengan pelan, lalu mencium keningnya Hana dan berucap di sana, "Aku juga sangat mencintaimu"


"Apakah kita akan berlanjut ke hotel?" Nora menengadah untuk melihat ekspresi wajahnya Wintang.


Wintang menunduk, mencium keningnya Nora dan berkata, "Aku nggak akan melangkah lebih jauh sebelum kita menikah"


Nora menemukan keseriusan di kata dan kedua bola matanya Wintang. Lalu ia tersenyum puas dan berkata di dalam hatinya, bagus kalau kau menjawab seperti itu. Kalau kau menjawab sebaliknya, aku akan membantingmu di tanah dan pergi meninggalkanmu.


Wintang melepaskan Nora dari pelukan hangatnya sambil berkata, "Masuklah! Jam malam kamu tinggal sejam lagi. Kita masih harus ke klub malam untuk mengambil motorku"


Nora tersenyum, menganggukkan kepalanya lalu berlari kecil memutari mobil sedan keluaran terbarunya untuk masuk ke jok penumpang.


Wintang pun masuk ke dalam mobil, memasang sabuk pengamannya dan langsung melajukan mobilnya Nora dengan masih membawa pertempuran sengit di batinnya.


Nora melirik Wintang dan melihat Wintang diam seribu bahasa. Lalu Nora menghadapkan dirinya ke Wintang di tengah lajunya mobil menyusuri jalan raya, untuk bertanya, "Kenapa diam? Ngantuk ya?"


"Oh, emm, nggak kok" Wintang melirik sekilas ke Nora dan meninggalkan senyuman di kedua bola matanya Nora.


"Mau dengar musik?" Tanya Nora yang masih menghadapkan wajahnya ke Wintang.


"Boleh" Sahut Wintang dengan sekali lirikan karena dia harus fokus menyetir.


"Ada Compact Disc yang terus terpasang di player ini dan nggak pernah aku ganti" ucap Nora dengan senyum cantiknya dia terus memandangi wajah Wintang dari arah samping.


"Oh, lagu apa itu? Pasti lagu kesukaan kamu, ya?" Sahut Wintang tanpa menoleh dan tanpa melirik Nora, karena jalanan mulai macet.


"Iya" Sahut Nora.


Nora menghidupkan Compact Disc Playernya yang terpasang manis di dashboard mobilnya, lalu memencet tombol player dan lagu Pesan Terakhir-Lyodra mengalun indah memanjakan telinganya Nora dan Wintang.


Wintang melirik Nora dan bertanya, "Kenapa suka dengan lagu ini?"


"Aku pernah mengalaminya. Cinta pertama, cinta monyet waktu aku masih SMP kelas tiga dan cinta monyetku itu tidak pernah terungkapkan" Sahut Nora.


"Wow, what a surprise! Seorang putri konglomerat yang sangat cantik, pernah memiliki cinta monyet yang tak terungkap" sahut Wintang.


"Aku dulu pendiam, pemalu dan memakai kacamata yang cukup tebal, jadi nggak pede naksir cowok populer di sekolahku kala itu. Kalau ingat masa itu, aku malu sendiri" Nora terkekeh geli.


"Oke. Aku cemburu saat ini. Hentikan cerita kamu soal cowok itu di kala lagu ini masih mengalun" Wintang merengut sambil terus fokus menyetir dan menjaga jarak aman di tengah kemacetan.


Nora tergelak geli, lalu berkata, "Aku bahkan nggak pernah ketemu lagi sama cowok itu, jadi nggak perlu cemburu"


Wintang tersenyum dan berkata, "Semoga selamanya nggak pernah bertemu lagi"


"Kalau ketemu juga nggak akan ada apa-apa, karena aku udah menjadi milikmu"


Wintang tersenyum lalu mengusap pucuk kepalanya Nora dan berkata, "Sepertinya kau perlu menelepon Mama kamu, kita kejebak macet dan kamu dipastikan pulang terlambat malam ini"


"Oh, baiklah. Terima kasih sudah mengingatkan aku" Nora langsung mengambil ponsel dari dalam tas kerjanya dan menelepon mamanya, "Ma, aku terjebak macet. Pulangnya pasti telat banget"


"Oh, oke lah. Ati-ati di jalan" Sahut Hana.


"I Love You, Ma. Mmuuaahh, mmmuuaahh!"


"Mmmuuaahh! Love you too" Sahut Hana.


Klik! Nora mematikan sambungan ponselnya dan kembali menoleh ke Wintang, "Kamu bukan hanya baik hati, ramah, enak diajak ngobrol, punya selera humor yang aku suka. Kamu juga dewasa dan sangat perhatian"


Wintang menoleh sekilas ke Nora dan hanya bisa tersenyum, karena pikiran dan hatinya masih kacau yang sama kacaunya dengan jalan raya yang macet parah di malam itu.


"Oh, iya. Kamu belum pernah cerita soal keluarga kamu" Nora menatap Wintang dari arah samping dengan penuh selidik.


"Emm, Papaku sudah lama meninggal dan aku hanya hidup dengan Mamaku dan anak dari sahabatnya Mamaku" Wintang memilih jujur, tapi hanya sebatas itu.


"Oh, emm, apa Mama kamu akan menyukaiku?"


Wintang kembali mengusap pucuk kepalanya Nora dan berkata, "Siapapun yang kenal langsung dengan kamu, pasti akan menyukaimu"


"Ah, benarkah? Aku jadi nggak sabar pengen ketemu sama Mama kamu. Emm, setelah besok kita ketemu dengan Mama dan Papaku, kita ketemu dengan Mama kamu, boleh?"


Wintang mengembuskan napas beratnya, karena rasa bersalah masih membebani hati dan pikirannya, lalu ia menoleh sekilas ke Nora dan menganggukkan kepalanya.


Nora lalu mengarahkan pandangannya ke depan dan tersenyum lebar. Hatinya membuncah bahagia.


Tepat jam sebelas malam, Nora merebahkan tubuh lelahnya dan alhasil, kedua bola matanya tidak bisa terpejam mengingat besok, dia akan mengenalkan pujaan hatinya ke papa dan mamanya.


Wintang membuka pintu rumah mamanya tepat di jam dua belas dan tersentak kaget saat ia melihat mamanya duduk di ruang tamu, "Kok udah pulang, Ma?"


"Kenapa? Nggak suka lihat Mama udah pulang?"


"Bukan begitu, cuma, kan, rencananya lusa, pulangnya" Sahut Wintang.


"Gimana perkembangan kamu dengan anaknya Ares Laco? Kau sudah meninggalkannya di hotel dengan rasa malu?" Mamahya Wintang bersedekap dan menyilangkan kakinya.


"Aku punya rencana lain, Ma. Aku ingin menikah dengannya"


"What?! Kau gila!? Menikah? Kau sudah menikah, Wintang!" Mamanya Wintang langsung bangkit berdiri, karena kaget.


Itu karena, aku pikir adil untuk gadis sebaik Nora Laco, Ma. Meskipun aku harus balas dendam, paling nggak aku tetap menghormati gadis sebaik Nora Laco, Ma. Batin Wintang.