
Wintang berlari kecil menghampiri Nora. Laki-laki tampan berkepala botak dan berbadan bagus itu, menepuk tangannya lalu bertanya, "Oke, kita akan ke mana?"
Nora tersentak kaget dari lamunannya lalu dengan cepat ia tersenyum dan mengangkat kedua bahunya.
Wintang terkekeh geli kemudian berkata dengan gaya santai, "Kalau ingin makan dan minum, kita bisa kembali masuk ke dalam"
Nora tergelak geli sambil menundukkan kepalanya.
Wintang ikutan terkekeh geli. Dia tidak menyangka kalau Nora Laco ternyata wanita yang asyik tidak sama seperti rumor yang beredar.
Nora mengangkat kembali wajahnya, menyisakan senyum lebar dan berkata, "Kalau kembali lagi ke dalam, lalu untuk apa kita keluar sekarang ini?"
"Lalu, kita akan ke mana?" Wintang berkacak pinggang dan mengulas senyum lebar di wajah tampannya.
Nora kembali mengangkat kedua bahunya lalu berkata, "Kamu yang mengajakku berkencan, aku ngikut aja"
Wintang mengerutkan keningnya sambil menarik seulas senyum.
Nora menyemburkan tanya, "Apa? Ada yang salah di ucapanku tadi?"
"Kita boleh pakai kata aku dan kamu? Kita, kan, baru saja kenal dan........"
"Aku dan kamu aja, tapi belum jadi kita dalam tanda kutip karena, kita baru saja kenal" Sahut Nora dengan senyum penuh arti.
Wintang langsung tergelak geli lalu berkata, "Oke, aku dan kamu aja, tapi belum menjadi kita dalam tanda kutip. Aku setuju"
Nora melebarkan senyumnya lalu bertanya, "Oke. Lalu kita akan ke mana?"
"Apakah kamu ada jam malam?" tanya Wintang.
Nora menganggukkan kepalanya, "Aku masih tinggal dengan Mama dan Papaku, jadi jam sepuluh harus sudah sampai di rumah"
"Begitu ya. Berarti kita nggak bisa pergi ke pantai dan melihat sunrise dari dalam mobil" Wintang tersenyum ke Nora.
Nora tersenyum dan berkata, "Menarik sih, tapi jangan sekarang. Mungkin pas aku dan kamu udah jadi kita dalam tanda kutip, kita bisa menikmati sunrise bersama dari dalam mobil"
Wintang tergelak geli lalu ia mengayunkan tangannya, "Kalau gitu, ayok ikut aku! Aku akan ajak kamu ke tempat yang tidak kalah asyiknya dengan pantai"
Nora mengikuti langkahnya Wintang dan bertanya, "Kita nggak naik mobilku?"
Wintang berdiri di depan mobil pickup-nya dan menoleh ke Nora, "Aku yang ajak kamu berkencan bukankah seharusnya emang seperti ini? Kita naik mobilku. Apa kamu keberatan naik mobil pickup?"
"Tidak keberatan" Nora berjalan memutari mobil pickup-nya Wintang dan membuka pintu, lalu berucap, "Cuma, aku pakai rok pendek dan ketat. Bukankah agak sulit naiknya karena......tinggi" Nora tersenyum dan bersedekap di depan.
Wintang berlari kecil memutari mobil pickup-nya dan tanpa Nora duga, Wintang memegang kedua sisi pinggang rampingnya Nora dengan kata, "Maaf" Lalu ia mengangkat Nora naik ke mobilnya.
"Ah!" Nora tersentak kaget.
Wintang tersenyum sambil membantu Nora duduk dengan nyaman. Bahkan, Wintang membantu Nora memasang sabuk pengamannya.
Wangi tubuh Wintang yang segar berbalut maskulin memanjakan indra penciumannya Nora. Untuk sejenak Nora memejamkan kedua kelopak matanya saat wangi yang ia sukai itu menusuk hidungnya.
Dan di saat Wintang menutup pintu mobil dengan pelan dan sopan, Nora tersentak kaget lalu secara spontan wanita cantik itu membuka kedua kelopak matanya dengan semburat merah di kedua pipinya akibat dari fantasi liar yang sempat berkelebat singkat di benaknya.
Wintang menoleh ke Nora, "Apakah kau memercayaiku?"
Nora menoleh ke Wintang dan menganggukkan kepalanya dengan senyum.
Wintang membalas senyumannya Nora lalu pria berkepala plontos itu melajukan mobilnya.
Suasana sepi membuat keduanya merasa canggung. Wintang menoleh sekilas ke Nora, "Kau boleh menghidupkan tape. Ada beberapa Compact Disc yang berisi lagu-lagu hitam jaman now dan ada pula lagu lawas. Kau boleh pilih. Buka aja laci dashboardnya!"
Nora tersenyum sambil membuka laci dashboardnya. Nora memilih Compact Disc yang bertajuk 'Lagu Hits Jaman Now'
Lagu pertama yang terdengar adalah lagu mesin waktu milik Budi Doremi.
Wintang menoleh sekilas ke Nora dan melihat Nora bergumam pelan ikut menyanyikan lagu itu. "Kamu punya suara yang bagus"
"Ah, maaf. Aku suka lagu ini, jadi aku menyanyikannya"
Wintang tersenyum dan berkata, "Nyanyi aja. Yang keras dikit nggak papa. Suara kamu enak didengar kok. Termasuk di dala. kategori suara bagus"
"Iya, aku serius. Aku kasih tahu rahasia ke kamu. Aku orang yang nggak suka basa-basi. Kalau suka aku akan bilang suka. Kalau bagus aku akan bilang bagus" Sahut Wintang.
Nora tersenyum malu dan berkata, "Terima kasih. Karena, selama ini yang bisa menerima suara aku apa adanya dan tidak pernah protes adalah dinding di kamar mandiku"
Wintang langsung tergelak geli dan berkata, "Kamu humoris juga, ya? Aku suka sense of humor kamu, Nona manis"
"Kita sama dalam hal ini. Aku juga suka selera humor kamu"
Hana menghela napas panjang saat Ares terus merajuk meminta jatahnya lagi. "Mas, kamu udah empat puluh tiga tahun lebih, kenapa malah semakin ke sini semakin manja dan minta jatah terus, sih?"
Ares memeluk pinggangnya Hana dan menciumi rambutnya Hana lalu berkata di sana, "Salah sendiri kamu makin ke sini makin imut dan menggoda"
"Siapa yang menggoda?"
Ares terkekeh geli, "Kamu. Kamu masih sangat muda dan makin cantik setelah melahirkan. Sayangnya kamu udah nggak bisa punya anak lagi. Kalau bisa, kita pasti udah punya tim kesebelasan saat ini"
Hana terkekeh geli lalu menepuk pelan punggung tangan suaminya yang masih melekat di atas perut rampingnya.
Ares langsung memutar.tubuhnya Hana dan tanpa meminta persetujuan dari Hana, ia mencium bibirnya Hana dengan tangan yang mulai bergerilya liar di setiap sudut tubuh istri tercintanya dan melakukan penyatuan raga kembali dengan Hana.
Hana akhirnya terkulai lemas di dalam pelukan suaminya dan bergumam, "Kau makin tua makin menjadi, Mas"
Ares tergelak geli dan berkata, "Salah sendiri kau semakin seksi, imut dan cantik"
Hana menghela napas panjang dan jatuh tertidur di dalam pelukan hangat suaminya.
"Indahnya! Aku baru tahu kalau ada tempat seperti bioskop, tapi yang dilihat bukan film biasa melainkan melihat milky way (Bimasakti, galaksi kita) Nora memandang takjub layar di depannya.
"Kamu beneran suka?"
"Hmm. Baru kali ini aku lihat milky way dan aku suka"
Wintang memandang Nora dengan pandangan tidak biasa. Ada rasa kagum, suka, dan sedikit tidak rela jika ia harus berpisah dengan Nora di malam itu karena, baru pertama kalinya Wintang menemukan seorang wanita yang juga menyukai milky way seperti dirinya dan wanita itu juga mengetahui beberapa nama rasi bintang. "Kamu bukan hanya cantik tapi juga cerdas"
Nora menoleh dan deg! Jantungnya berdebar tidak karuan saat ia bersitatap dengan Wintang dalam jarak yang sangat dekat.
Keduanya lalu memutar wajah mereka secara bersamaan ke arah layar sambil berdeham.
Jantung Wintang pun berdebar kencang dan melupakan misi dari mamanya.
Dan di malam itu, di kencan pertamanya dengan Nora Laco, Wintang tidak melakukan apapun. Dia mengantarkan Wintang pulang dengan selamat dan berkata, "Temanku otewe ke sini mengantarkan mobil kamu. Terima kasih sudah membantuku mengakhiri malam ini dengan indah. Selamat malam"
Nora melepaskan sabuk pengamannya dan menatap Wintang, "Selamat malam. Apa kita bisa bertemu lagi?"
"Entahlah" Sahut Wintang
"Apa karena aku membosankan?"
"Bukan. Kamu wanita yang cerdas dan asyik, tapi ada hal lain yang tidak bisa aku katakan ke kamu yang membuatku merasa ragu untuk bertemu lagi denganmu"
Nora tersenyum tipis lalu berkata, "Baiklah. Aku tidak akan memaksa kamu"
Di saat Nora membuka pintu dan hendak melompat turun, Wintang menahan lengannya Nora dan berkata, "Biarkan takdir untuk selanjutnya. Jika memang takdir mendukung kita, maka kita akan bertemu kembali"
"Sebenarnya nggak usah menunggu takdir. Kalau aku ingin bertemu denganmu, aku bisa ke klub malam tempat kamu bekerja, kan?" Nora tersenyum.
Wintang terkekeh geli lalu berucap, "Tapi, itu tidak asyik"
"Iya. Kamu benar. Kita tunggu kesempatan berikutnya saja, kita akan dipertemukan oleh takdir di mana?"
"Dan di saat itu, aku mungkin tidak akan pernah melepaskanmu lagi" Sahut Wintang sambil melepaskan lengannya Nora.
Nora tersenyum dan berkata, "Oke, deal" Lalu Nora melompat turun dari mobilnya Wintang.
Alhasil, Wintang kena damprat mamanya, "Kenapa jam segini kau sudah pulang? Kau tidak tidur dengan Nora Laco di hotel?"
"Aku akan lakukan sesuai dengan caraku, Ma. Yang penting Mama bisa balas dendam, kan?" Sahut Wintang sambil melangkah masuk ke kamarnya.
Mamanya Wintang hanya bisa menghela napas panjang.