A Dominant

A Dominant
Mas Ares



"Mbak Hana, aku pamit ke kamar ya, mau ngerjain Pe-Er" Nancy tersenyum ke Hana lalu setelah ia memeluk Hana, ia segera berlari menuju ke kamarnya.


"Papa juga pamit. Papa ada dinas malam di rumah sakit" Christian Laco tersenyum penuh kasih sayang yang tulus ke Hana dan Hana langsung mencium punggung tangannya Christian Laco, kemudian berucap, "Hati-hati di jalan, Pa"


Christian Laco berkata, "Terima kasih" ke Hana, kemudian ia menoleh ke istrinya dan menatap istrinya dengan penuh cinta. Christian mencium kening istrinya,memeluknya sebentar lalu meninggalkan istri dan menantunya untuk mengobrol berdua di ruang keluarga.


Hana tanpa sadar berdoa di dalam hatinya, semoga Ares Laco bisa mencintainya seperti Papa Christian Laco mencintai istrinya.


Ares berpapasan dengan Papanya dan mengantarkan Papanya sampai di depan rumah


"Ah! Mama malu sama kamu. Papanya Ares memang selalu mengecup kening Mama setiap kali Papanya Area itu berangkat dinas" Elizabeth Laco berucap sembari mengajak Hana untuk duduk di sofa.


Hana tersenyum lebar ke Mama mertuanya, lalu berucap, "Hana justru merasa senang melihat kemesraannya Papa dan Mama"


Elizabeth Laco mengelus rambutnya Hana sambil berucap, "Ares sangat berbeda dengan Papanya. Ares hanya bisa bersikap manis terhadap wanita itu, ya hanya sama Mama dan Nancy. Asal kau tahu, Hana, Ares tidak pernah membawa satu pun wanita ke sini. Kami prihatin akan hal itu. Dia selalu dingin terhadap siapa pun dan dingin pada apa pun jadi, aku sebagai Mama yang membesarkan Ares langsung merasa lega dan merasa sangat bahagia karena, kamu berhasil membuat Ares mengajak kamu ke sini. Akhirnya Ares bisa membuka hatinya untuk seorang wanita dan Mama senang, wanita itu adalah kamu, Hana. Kamu wanita yang berhati baik, Mama bisa merasakan itu""


Hana tersenyum dan menggelengkan kepalanya, kemudian berucap, "Saya tidak melakukan apa pun. Tuan Ares yang mengajak saya ke sini dan........"


"Tuan? Kamu memanggil Ares dengan Tuan? What?! Are you kidding me?" Elizabeth langsung menutup mulutnya yang ternganga.


"Ah! Maksud saya.....emm, anu, sa......."


"Panggil dia, Mas! Kamu orang Jawa, kan? Panggilan Mas adalah panggilan yang paling tepat untuk Ares. Jangan panggil Tuan lagi! Dia suami kamu bukan Bos kamu. Kalau dia memperlakukan kamu dengan buruk, lapor ke Mama!"


"Ah iya, Ma" Hana tersenyum canggung ke Mamanya Ares.


"Nah! Itu Ares. Res, sini!" Elizabeth Laco melambaikan tangannya ke Ares dan Ares langsung melangkah mendekati Mama asuhnya, lalu duduk di depan Mama dan istrinya


Elizabeth Laco menoleh ke Hana dengan senyum lebar, kemudian berkata, "Coba panggil Ares, Mas Ares, ayok!"


Hana menatap Ares dengan canggung. Ares pun sama.


Ares langsung membuka suara dengan terus mengamati Hana, "Ma! Dia belum terbiasa. Dia selalu memanggilku Tuan tanpa aku minta, sejak pertama kali aku bertemu dengannya"


"Itu karena, kamu itu kaku dan dingin jadi, Hana takut sama kamu dan memanggilmu Tuan. Mulai sekarang, jangan kaku dan dingin lagi sama Hana. Dia ini Istri kamu. Nah! Hana, ayo coba panggil Mas ke Ares, ayok!" Elizabeth Laco menyentuh bahunya Hana dengan pelan sambil tersenyum lebar penuh harap.


"Mas..........Mas Ares"


Deg! Tanpa Ares sangka, dia diserang debaran jantung lagi, yang sangat menyiksa baginya. Dan Ares membenci debaran jantung itu. Namun, jika boleh jujur, dia benci sekaligus suka dengan debaran jantung itu dan tanpa ia ijinkan, wajahnya memanas dan mamanya langsung berkata, "Lihat! Ares menyukainya, kan? Lihatlah, wajahnya merona malu. Ah! Putraku sangat imut kan, Hana?"


Hana langsung menundukkan wajahnya mendapatkan tatapan mata tajamnya Ares dan Ares langsung berdeham, "Ehem!" untuk mengusir rasa aneh yang mengikat hatinya, kemudian ia berucap, "Ma, udah cukup kan, ngobrol dengan Istriku? Hana sudah capek tuh dan butuh untuk istirahat"


"Oh! Iya benar. Maafkan Mama, Hana. Mama telah membuatmu lelah. Tidurlah, Sayang dan mimpi indah" Elizabeth Laco memeluk Hana dan berbisik, "Cepat bikin Cucu untuk Mama"


Ares menutup pintu kamarnya dan langsung menguncinya. Lalu ia duduk di sofa dan merebahkan dirinya di sana. Hana berdiri di depan meja sofa dan menatap Ares, "Tuan, Anda tidak tidur di kasur?"


"Aku sudah bilang ke kamu, kan? Aku tidak pernah tidur dengan wanita manapun di atas kasur tanpa kecuali, kamu. Dan kamu tadi sudah memanggilku Mas, kenapa sekarang memanggilku Tuan? Panggil Mas lagi!" Ares berucap tanpa menoleh ke Hana. Pandangannya lurus ke atas menatap langit-langit kamar.


"Iya Mas" Hana lalu berjalan menuju ke ruang ganti baju untuk memakai baju tidur dan dia tersentak kaget, "Wow!! Apa ini?!" saat ia membuka lemari di kamar ganti, hanya ada lingerie seksi yang dia sendiri tidak tahu bagaimana cara memakainya.


Ares tersentak kaget dan meloncat bangun dari sofa dan langsung berlari ke kamar ganti saat ia mendengar teriakannya Hana. Adam berdiri mematung lalu ia bersandar di tembok sambil bersedekap, ketika kedua bola matanya menangkap Hana tengah mengamati lingerie yang masih terpasang di hanger dan Ares mengulum bibir menahan geli, ketika kedua telinganya menangkap gumamannya Hana, "Bagaimana cara pakainya?"


"Kau mau aku ajari cara pakainya?"


Hana tersentak kaget dan menjatuhkan hanger baju dan lingerie berwarna merah darah yang terbuat dari kain satin kualitas super, meluncur turun dari hanger tersebut dan jatuh di atas lantai, hampir bersamaan dengan hanger-nya.


Hana lalu mematung, tidak berani menoleh dan tidak berani berputar badan.


Ares menghela napas panjang lalu melangkah pelan dan memungut lingerie yang Hana jauhkan di atas lantai, lalu Ares membawa lingerie itu dan ia menghentikan langkahnya di belakang Hana.


Ares memegang lingerie itu dan menundukkan wajahnya untuk berbisik di telinga kanannya Hana, "Aku ingin dan akan mengajari kamu cara memakainya"


Hana diam membeku, namun raganya bergetar hebat seiring dengan debaran jantungnya. Hana ingin berlari, namun dia teringat akan pesan neneknya bahwa seorang Istri tidak boleh menoleh keinginan suaminya. Hana juga tidak ingin menimbulkan keributan di rumah mertuanya jika ia berlari keluar.


Ares menegakkan wajahnya dan secara perlahan, ia melepas dressnya Hana. Lalu ia memasangkan lingerie berwarna merah darah di tubuhnya Hana. Ares tertegun menatap Hana di depan cermin. Ares mengelus-elus kedua bahunya Hana sambil terus mengamati bayangan Hana di cermin yang tampak di depannya.


"Angkat wajahmu dan lihatlah! Kamu pantas memakainya dan kamu terlihat sangat cantik dan seksi. Aku tidak menyangka, kamu punya lekuk tubuh yang sangat indah"


Hana mengangkat wajahnya secara perlahan dan tercekat oleh bayangan dirinya yang ada di cermin. Untuk sesaat, Hana tidak mengenali bayangan dirinya sendiri di cermin. Hana merasa, dirinya tampak berbeda.


"A.....aku seperti wa....wanita nakal?" gumam Hana lirih.


Dan gumaman Hana itu, membangkitkan naluri dominan yang ada di dirinya Ares Ares langsung memutar tubuhnya Hana untuk menghadap ke dirinya, lalu ia mencium bibirnya Hana dengan lembut dan sensual.


Hana terkejut, namun akhirnya ia memilih untuk berpasrah diri daripada melawan. Dan dengan malu-malu, dia mencoba mengimbangi ciumannya Ares. Balasan ciuman dari Hana membuat rasa dominan di diri Ares semakin terpancing keluar untuk menyatakan kekuasaannya atas submissivenya secara mutlak


Ares mengangkat pinggul Hana dan mendudukkan Hana di atas meja kaca berbentuk bundar yang memamerkan beraneka ragam aksesoris wanita.


Hana terkejut merasakan dinginnya kaca, namun, entah kenapa Hana justru merasakan sensasi yang baru lagi bagi dirinya dan tanpa sadar ia mengerang berkali-kali menikmati permainan cinta dan cumbuannya Ares.


Ares bergegas membuka alat pengaman yang sudah terbiasa ia bawa di dalam saku celana kainnya dan setelah memakainya, ia melakukan penyatuan raga dengan istrinya di sana beberapa kali.


Hana terkulai lemas saat Ares melepaskannya dan Ares langsung menangkap tubuh Hana, lalu membopong Hana untuk ia rebahkan di atas kasur. Ares menyelimuti Hana.


Dan tanpa Ares sadari, ia naik ke atas ranjang, masuk ke dalam selimut dan memeluk Hana. Itu adalah pertama kalinya bagi Ares Laco, tidur di ranjang sambil memeluk wanitanya.