
Laura dengan cepat melepas sabuk pengamannya dan turun dari dalam mobil saat ia melihat dari rear mirror vision, Ares membuka bagasi.
Laura sengaja menyentuh tangannya Ares dan berkata, "Biar saya yang bawakan kopernya"
Ares terkejut dan langsung menarik tangannya dari genggaman tangannya Laura lalu berbalik badan merangkul Hana dan pergi meninggalkan Laura begitu saja. Hana mulai kesal dengan sikap Laura yang semakin nekat.
Laura mengumpat kesal melihat Ares sama sekali tidak meliriknya.
Pengawalnya Ares yang berjaga di depan pintu kamar hotel president suite langsung menahan Laura.
"Kenapa aku nggak boleh masuk? Aku penerjemah mereka Tour guide mereka" Laura menghentakkan kakinya di atas karpet berbulu yang menutupi sepanjang lantai di selasar kamar president suite.
"Tuan dan Nyonya butuh privasi. Mereka sedang berbulan madu saat ini" sahut salah satu dari anak buahnya Ares.
"Iya. Lagian kau mau apa di dalam? Mau menerjemahkan kegiatan mereka? Pffttt! Dasar aneh" ucap pengawalnya Ares yang lainnya.
Laura langsung berbalik badan dengan wajah kesal dan melangkah ke sudut selasar lalu duduk di sofa sudut yang ada di sana.
Ares tersenyum senang saat ia melihat Hana mengeluarkan beberapa alat permainan dari dalam tas ranselnya Hana. Dan bertambah semringah mendengar Hana berkata, "Kau boleh memakai alat permainan ini padaku. Cuma ini alat permainan yang bisa aku tolerir"
Ares langsung memeluk Hana dan melancarkan serangannya.
Dua jam berlalu sejak Laura menunggu di sudut sofa. ",Kenapa mereka lama sekali berada di dalam?" Laura mulai menggerutu.
Setelah melihat Ares benar-benar tertidur lelap setelah bermain sangat dahyat dengannya, Hana membersihkan diri di toilet dan memakai baju bersih, kemudian dia melangkah keluar dari dala. kamar dan bertanya ke salah satu pengawalnya Ares yang berjaga di depan pintu, "Apakah tour guide nya pergi?"
'Tidak Nyonya. Dia menunggu dari tadi di ujung sofa sebelah sana" Sahut salah satu dari pengawalnya Ares.
Hana mengucapkan terima kasih lalu berjalan menuju ke Laura.
Laura langsung berdiri dengan senyum dan tanpa malu ia bertanya, "Di mana Tuan Ares? Kenapa Kak Hana keluar sendirian?"
Hana langsung menempelkan amplop putih besar dan tebal di dadanya Laura dan berkata, "Suamiku kelelahan setelah bermain cukup liar denganku selama dua jam dan suamiku adalah urusanku. Jangan pernah menanyakan dia lagi! Ini uang yang lebih dari cukup untukmu sebagai bayaran jasa tour guide kamu selama kami di sini"
Laura menerima amplop tersebut dengan ucapan, "Terima kasih, Kak Hana" dengan wajah penuh tanda tanya.
Dan Hana langsung menarik tangannya kemudian berkata, "Jangan Kembali lagi! Pergilah!"
"Ta......tapi, saya sudah menerima bayaran di muka. Saya tidak bisa.menerima bayaran tanpa bekerja" sahut Laura dengan wajah heran.
"Aku nggak suka saat melihatmu menatap suamiku dengan penuh genit, aku nggak suka melihatmu menempelkan tangan kamu di pundak suamiku dan melihatmu memegang tangannya. Pergilah! Kami nggak butuh tour guide. Dan jangan panggil aku Kak Hana lagi, jika kita nanti bertemu lagi secara tidak sengaja karena aku bukanlah Kakak kamu! Sekarang pergilah sebelum aku nekat melakukan sesuatu yang akan membuatmu menyesal seumur hidup, Nona Laura" Hana melotot dan menggertakkan gerahamnya di depan Laura.
Laura bergidik ngeri dan langsung berbalik badan lalu berlari pergi meninggalkan Hana.
Hana kembali ke kamarnya dan mendengar Ares berteriak memanggil-manggil namanya. Hana langsung berlari menuju ke ranjang sambil berkata, "Aku di sini, Sayang"
"Kau darimana, Sayang?" Ares langsung menarik Hana dan memeluknya.
Hana memainkan jari jemarinya di dadanya Ares yang masih polos tanpa kaos sambil berkata, "Aku mengusir lalat pengganggu"
Ares mencium keningnya Hana dan bertanya, "Lalat pengganggu?"
Ares langsung melepas tawa riangnya lalu ia menatap Hana dan berkata, "Kau cemburu?" Kedua bola mata Ares langsung menari indah saat ia melihat Hana menganggukkan kepalanya.
Ares langsung membanting pelan tubuh Hana di atas kasur dan berkata, "Aku akan kasih kamu ribuan ciuman sebagai hadiah karena kamu udah cemburu padaku. Aku senang melihatmu cemburu, Hana" Ares kembali melancarkan serangannya.
Satu Bulan Kemudian............
"Hoooeeekkkk! Hana berlari ke wastafel dan muntah-muntah di kliniknya, di saat ia tengah memeriksa seekor hamster.
Sedangkan Ares di di ruangannya mulai gelisah dan terus melirik Handoko saat kliennya terus berbicara di depannya. Entah kenapa, Ares bisa merasakan ada sesuatu yang terjadi pada Hana.
Handoko hanya bisa menatap Ares dengan senyum lebarnya.
Ponsel pribadinya Ares yang hanya tersimpan nomernya Hana, Handoko dan keluarganya, tiba-tiba berbunyi sangat nyaring. Ares langsung mengangkatnya saat nama Hanaku tertera di layar ponselnya, "Halo, ada apa?"
"Ini saya Susan. Dokter Hana pucat sekali, Tuan dan........"
Ares langsung bangkit berdiri sambil mematikan ponselnya dan melangkah pergi begitu saja meninggalkan Handoko dan kliennya yang belum selesai membahas kontrak kerja sama mereka.
"Lho, Pak Ares! Anda mau pergi ke mana?! Saya belum selesai!" kliennya Ares bangkit berdiri menatap punggung Ares yang berlari menjauhinya.
Handoko melebarnya senyuman di wajahnya dengan kedua alis terangkat, kemudian ia menoleh ke klien tersebut dan berkata, "Saya yang akan melanjutkan pembicaraan kita"
Ares menekan pedal mobilnya dalam-dalam dan hanya dalam waktu kurang dari biasanya, Ares telah sampai di depan kliniknya Hana. Saat Ares membuka pintu mobil dan turun, seorang petugas polantas menghadangnya dan memberikan surat tilang dengan kata, "Anda harus saya tilang karena, Anda mengebut di jalan raya dan membahayakan pemakai jalan raya lainnya. Ini surat tilang Anda, Tuan. Jadwal sidang tertera di surat tilang itu"
Ares menerima surat tilang itu dan menarik dan menggeram ke petugas polantas tersebut, "Minggir atau saya akan membuat Anda menyesal telah menghalangi jalan saya. Dan jika Istri saya keadaannya semakin parah, maka saya tidak akan segan membuat Anda hancur"
Petugas polantas tersebut bergidik ngeri dan dengan segera ia menggeser langkahnya untuk memberikan jalan ke Ares. Dan sambil terus mengikuti arah perginya Ares, petugas polantas itu bergumam, "Dia siapa, ya? Kenapa memliki aura yang sangat menakutkan"
Ares masuk dan langsung berlari mendekap Hana di saat Hana limbung ke belakang dengan wajah pucat. Ares langsung membopong Hana dan melarikan Hana ke rumah sakit. Hana bersandar lemas di kaca mobil dan Ares semakin panik, dia makin menekan pedal gas mobilnya.
Petugas polantas yang masih berdiri di depan kliniknya Hana langsung mengikuti mobilnya Ares dengan gelengan kepala dan bergumam, "Baru aja dapat surat tilang kok ngebut lagi, ealah!"
Ares sampai di depan pintu IGD rumah sakit milik Papa asuhnya hanya dalam hitungan menit dan langsung membopong Hana masuk. Semua dokter dan perawat bergegas menangani Hana saat mereka melihat yang masuk adalah Ares Laco putra pemilik sekaligus direktur utama rumah sakit swasta tersebut
Petugas polantas tersebut menunggu di depan pintu IGD dan terus mengawasi Ares yang tampak panik mondar mandir di depan sebuah bilik yang tirainya tertutup.
Ares lalu berlari menyusul Hana yang terbaring di atas bed dan didorong menuju ke suatu tempat.
Petugas polantas tersebut lalu memutuskan untuk pergi dengan bergumam, "Dia benar-benar mengkhawatirkan Istrinya dan ternyata dia ngebut karena itu. Ya sudahlah, yang penting ia sudah aku kasih surat tilang tadi"
Ares menggenggam terus tangan Hana sambil berlari kecil di samping bed-nya Hana. Hana di bawa ke ruang VVIP dan Ares menunggu dokter yang akan memeriksa Hana di ruang VVIP tersebut dengan terus menggenggam tangannya Hana.
Seorang dokter laki-laki yang masih sangat muda dan tampan masuk ke ruang VVIP tempat di mana Hana dan Ares telah menunggu, dengan senyum semringah.
Ares langsung bangkit dan menggeram kesal, "Istri saya pucat, lemah tak berdaya seperti ini, tapi kenapa Anda malah tersenyum nggak jelas kayak gitu? Anda mau berakhir di UGD, ya?"
Dokter muda dan tampan itu terkekeh geli dan langsung berkata, "Saya tersenyum seperti ini karena saya ikut berbahagia, Tuan Ares Laco. Selamat, Istri Anda telah hamil. Usia kandungannya masih sangat muda masih berumur tiga Minggu. Selamat untuk kalian berdua"
Ares langsung melongo tak percaya dan ia menoleh ke Hana. Hana langsung tersenyum bahagia sambil mengelus perutnya yang masih rata. Ares tanpa sadar menitikkan air mata.