A Dominant

A Dominant
A Dominant dan Submissive



"Tuan Handoko yang baik, tolong antarkan saya ke rumah Nenek saya sebentar saja. Saya ingin melihat kondisi Nenek saya dan bisakah saya meminta tas selempang saya? Saya mau mengecek ponsel saya. Apakah ada panggilan penting untuk saya dan........."


"Deo. Ada telepon dari Deo dan saya sudah mengatakan kalau Anda baik-baik saja"


"Dan Deo percaya?"


"Dia percaya karena orang yang diutus Tuan Ares ke rumah Nenek Anda juga mengatakan hal yang sama dan orang yang bernama Deo ada di rumah Anda, dia mendengar semua yang dikatakan oleh orang utusannya Tuan Ares makanya ia percaya kalau Anda saat ini baik-baik saja?"


"Deo di rumah Nenek? Untuk apa? Apa saya boleh meminta ponsel saya?"


"Saya tidak berani memberikan barang-barang Anda tanpa ijin dari Tuan Ares, Nona"


Hana menghela napas panjang dan bergumam, "Apa aku baik-baik saja sekarang ini?"


"Anda sehat, sudah sarapan dan tidak pingsan kan, Nona?" Handoko melongok ke rear-mirror vision untuk melihat Hana yang duduk di jok belakang mobil mewah miliknya Ares Laco.


Hana bersitatap dengan Handoko di rear-mirror vision dan ia menganggukkan kepalanya beberapa kali. Handoko langsung berucap, "Berarti Anda baik-baik saja"


Beberapa jam berikutnya, Handoko masuk ke basement di sebuah kondominium berlantai lima yang sangat mewah.


Di basement tampak berjejer sepuluh jenis mobil mewah. Hana mengikuti langkah Handoko turun dari mobil mewah dan bertanya, "Saya lihat hanya ada lima lantai di Kondo ini. Tapi, kenapa ada sebelas mobil jika ditambah dengan mobil yang barusan Anda parkirkan? Berarti pemilik kelima unit apartemen di Kondo ini, orang kaya semua dong ya?"


Hana melangkah masuk ke dalam lift menuju ke lantai 1. Handoko kemudian berkata, "Semua mobil tadi miliknya Tuan Ares Laco dan semua unit apartemen dari lantai satu sampai ke lantai lima, juga milik Tuan Ares Laco.


Hana hampir pingsan mendengar jawabannya Handoko. Lalu ia diam mematung.


Pintu lift terbuka dan mereka melangkah ke sebuah ruangan yang sangat besar dan mewah. Setelah melangkah sebanyak lima langkah, Hana melihat di sebelah kanan ada tangga meliuk indah. Ruangan itu didominasi warna gelap. Silver, abu-abu dan hitam.


Ada sebuah piano besar di sudut kiri dan ada sofa mewah terbuat dari kulit asli berwarna hitam, di dekat jendela besar. Hana dipersilakan duduk.


Hana melirik jam di dinding, jam itu berbentuk hati yang retak dan berwarna merah darah tampak mencolok terpasang di dinding ruangan yang berwarna silver. Jam dinding menunjukkan pukul delapan pagi.


"Kapan Tuan Ares datang?"


"Jam dua belas tepat. Dia tidak pernah terlambat" sahut Handoko.


"Dan aku duduk aja seperti ini menunggu dari jam delapan ke jam dua belas?"


"Anda bisa berjalan-jalan di taman, atau tiduran di sofa, terserah Anda, Nona. Saya sudah meminta Nyonya Susi membawakan Anda minuman dan camilan"


"Siapa Nyonya Susi?"


"Dia kepala pelayan di sini. Pelayan di sini tidak banyak. Hanya ada dua orang, Nyonya Susi dan asistennya yang bernama Evi. Saya tinggal dulu Nona" Handoko lalu pergi meninggalkan Hana sendirian.


Hana menghela napas panjang. Kepala pelayan yang bernama Nyonya Susi tersenyum ke Hana, "Selamat pagi Nona cantik. Selamat datang di kediamannya Tuan Ares Laco. Nama saya Nyonya Susi. Ini beberapa minuman dan camilan untuk Anda"


Hana tersenyum, "Terima kasih. Apa saya boleh mengobrol dengan Anda, Nyonya Susi?"


Wanita yang bernama Nyonya Susi menggelengkan kepalanya, "Maaf Nona. Semua pelayan di sini tidak diijinkan mengobrol dengan tamunya Tuan Ares Laco. Saya permisi"


Hana kembali menghela napas panjang. Lalu ia bangkit dan membuka pintu kaca transparan yang memisahkan sofa dengan taman mungil yang sangat cantik.


Satu jam Hana berada di taman itu lalu ia masuk kembali ke dalam dan mencari dapur untuk mencari keberadaannya Nyonya Susi tapi, tidak ia temukan. Dia hanya ingin bertanya, apakah ada buku yang bisa dia baca untuk membunuh kebosanannya, namun Nyonya Susi tidak ada di seluruh sudut lantai satu itu.


Saat Hana menatap pintu lift yang tertutup rapat, ia menepuk keningnya, "Kenapa aku tidak kepikiran dari tadi, kalau aku bisa lari lewat lift dan pergi dari sini untuk pulang menemui Nenek" Hana lalu berlari ke lift dan saat ia memencet tombol yang ada di sana, dia tersentak kaget dengan adanya suara yang cukup keras, berbunyi, "Masukkan password!"


Hana langsung memejamkan kedua matanya dan mendengus kesal, "Dasar password sialan"


"Ada yang bisa saya bantu, Nona?"


Hana kembali terkejut dan langsung berputar badan. Dia dan Nyonya Susi menjadi saling pandang. Hana lalu berucap, "Emm, saya bosan tidak ada kegiatan. Boleh saya pinjam beberapa buku dan majalah?"


"Baik Nona. Duduklah di sofa! Saya akan bawakan beberapa buku dan majalah untuk Anda" Nyonya Susi kemudian berlalu dari hadapannya Hana dan tidak begitu lama kemudian, Nyonya Susi meletakkan beberapa tumpuk buku novel dan beberapa tumpuk majalah di atas meja sofa.


Hana mengucapkan terima kasih dan Nyonya Susi kembali meninggalkan Hana seorang diri di sofa.


Hana hanyut dalam buku-buku yang ada di depannya hingga ia tidak menyadari kedatangannya Ares Laco bersama dengan Handoko. Ares Laco lalu duduk di depannya Hana dan bertanya, "Kau suka baca buku?"


Hana tersentak kaget dan buku yang tengah ia pegang, hampir saja melompat dari genggaman tangannya. Hana lalu meletakkan buku itu di atas meja dan menatap Ares, "Iya Tuan. Saya suka membaca buku"


Ares menyilangkan kakinya dan bersedekap, "Aku tidak akan berbasa-basi. Aku ingin kau tinggal di sini mulai hari ini dan menandatangani kontrak untuk menjadi wanitaku selama satu tahun"


"Hah?! Apa?! saya masih berumur delapan belas tahun, Tuan. Saya belum ingin menikah"


Ares memberi isyarat ke Handoko untuk meninggalkannya berdua saja dengan Hana dan Handoko langsung pergi.


"Aku tidak mengatakan soal menikah tapi, menjadi wanitaku"


"Apa bedanya?"


"Tentu saja beda. Menikah itu mengikat sedangkan menjadi wanitaku, kau hanya perlu menuruti semua mauku, mengikuti permainanku dan........"


"Berpacaran, gitu?" Hana menautkan kedua alisnya.


"Aku tidak berpacaran"


"Tinggal satu atap, tidak menikah, tidak berpacaran, lalu apa?" Hana semakin mengerutkan keningnya.


"Aku si Dominan dan kau Submissive. Itulah hubungan kita nanti jika kau setuju tinggal di sini dan menandatangani kontrak"


"Maaf, Tuan. Saya tidak bisa"


"Kau butuh uang,kan? Aku akan berikan lebih dari yang kau butuhkan jika kau bersedia tinggal di sini"


"Dengar Tuan, saya memang miskin dan saya memang butuh uang tapi, Nenek mengajarkan ke saya kalau saya tidak boleh menghalalkan segala cara untuk memperoleh uang" Hana lalu bangkit, "Maaf saya menolak permintaan Anda dan bisakah saya pulang sekarang?"


Ares yang masih ingin melihat wajahnya Hana ikutan bangkit dan berkata, "Aku akan mengantarmu pulang. Aku akan bertanggung jawab ke Nenek kamu karena sudah menahanmu di sini"


Handoko membukakan pintu lift untuk Hana dan Ares. Handoko hendak melangkah masuk ke dalam lift, namun ditahan oleh Ares, "Kau tidak usah ikut, Han!" Handoko mundur kembali dan menutup pintu lift itu.


Di dalam lift, Hana yang hobi menggigit bibir bawahnya, membuat Ares mengerang tak berdaya lalu dengan nekat, Ares mendorong tubuh Hana ke dinding lift, menaikkan kedua tangan Hana di atas kepalanya Hana menahan kedua tangannya Hana dengan tangan kanannya lalu ia mencium bibirnya Hana...................