
Ares mencium bibirnya Hana dengan lembut dengan terus mencekal kedua pergelangan tangannya Hana yang ia naikkan ke atas kepalanya Hana karena, ia tidak suka jika Hana sampai menyentuh dada bidangnya Lalu ia menarik tubuhnya Hana sampai Hana berdiri di depan ranjang.
"Kenapa Mas? Kenapa Mas menarikku untuk berdiri di depan ranjang?"
Ares menyuruh Hana untuk memilih alat mana yang Hana ingin ia gunakan pada Hana dan Hana menjawab, "Yang mana yang sering digunakan oleh Macarena?"
"Kau yakin?"
Hana menganggukkan kepalanya dengan wajah serius tanpa rasa takut. Hana sendiri juga merasa heran pada dirinya sendiri darimana dia mendapatkan keberanian seperti itu.
Ares mengambil sebuah cambuk yang terbuat dari kulit berwarna cokelat dengan ujung berbulu. Konglomerat dengan perilaku unik itu, lalu melangkah untuk berdiri di depannya Hana.
Hana bertanya, "Lalu aku harus bagaimana sekarang?"
Ares berkata dengan masih memegang cambuknya, "Buka semuanya dan naik ke atas ranjang dengan posisi merangkak"
Hana menurunkan dressnya dan Ares berkata, "Kau memiliki tubuh yang sangat bagus, Hana"
Hana tersenyum tipis lalu ia berputar badan untuk naik ke ranjang dan saat Hana merangkak sebanyak dua kali, Ares berkata, "Stop! Dan tetaplah seperti itu!"
Hana mematung dalam posisi seperti anak kucing yang menggemaskan yang tengah berdiri dengan keempat kakinya.
Ares yang telah polos sedari awal setelah ia melempar Hana di atas ranjang naik ke ranjang dan berkata, "Aku akan memukul pantat kamu dengan cambuk ini sebanyak sepuluh kali. Kalau kamu tidak kuat menerima sepuluh kali cambukan, bilang stop! Kalau kamu tidak bilang stop, aku akan selesaikan cambukanku sampai genap sepuluh hitungan, mengerti?"
Hana menganggukkan kepalanya tanpa merubah posisinya.
"Kau harus menjawab Hana! Jangan hanya menggeleng atau menganggukkan kepala kamu!"
"Mengerti" Sahut Hana kemudian.
Ares mencambuk Hana di hitungan pertama dan Hana tersentak kaget menerima sensasinya.
"Apakah sakit?" Ares bertanya sambil mengelus kulitnya Hana yang terkena cambukannya.
Hana menggigit bibir bawahnya dan menggelengkan kepalanya.
"Jawab! Kau harus menjawab setiap kali aku bertanya!" Ares berucap dengan nada cukup tinggi dan Hana langsung berteriak, "Tidak sakit, Tuan!"
Ares meneruskan cambukannya di hitungan kedua dan kembali bertanya, "Kau masih mau aku meneruskannya?"
"Iya Tuan" Pekik Hana dengan suara yang mulai bergetar menahan tangisannya. Hana ingin menangis bukan karena cambukannya Ares, tapi lebih karena rasa sakit di harga dirinya. Dia membayangkan Macarena melakukan hal yang sama pada Ares dan itu membuat Hana merasa harga dirinya telah dikoyak dan disakiti.
Ares mencambuk Hana lagi di hitungan ketiga dan berkata, "Hana, kau yakin masih belum mau bilang stop? Karena di hitungan keempat sampai genap sepuluh nanti, aku tidak akan bertanya lagi. Itu artinya aku sudah nggak bisa berhenti walaupun kamu menangis"
Ares meneruskan cambukannya sampai genap di hitungan ke sepuluh lalu ia langsung membuang cambuknya ke lantai untuk membalikkan tubuhnya Hana yang mulai tampak gemetar dan ia rebahkan tubuh indah itu di atas kasur sambil menaikkan ke dua tangan Hana di atas kepala dan mengikat kedua pergelangan tangan Hana dengan dasinya.
Hana menahan semua rasa sakit di dirinya baik secara psikis maupun fisik dan ia memberanikan diri menatap Ares.Saat itu Hana melihat ada bekas luka di dadanya Ares. Bekas luka yang cukup panjang. Hana bertanya, "Apa karena bekas luka itu, Mas nggak mau disentuh di bagian dada?"
Ares menganggukkan kepalanya sambil memasang alat pengaman.
Dan di saat Hana ingin mengajukan pertanyaan lagi, Ares langsung membungkam bibir Hana dengan bibrinya dan tanpa bisa mengendalikan dirinya lagi, Ares langsung menyatukan raganya dengan raga Hana. Ares membenamkan ketegangan yang ada dirinya di dalam tubuhnya Hana tanpa ampun.Ares bergerak lebih liar, lebih ganas dan Hana mulai terisak menangis, namun semuanya sudah terlambat. Ares sudah lupa diri dan tidak bisa dikendalikan lagi dan Hana hanya bisa pasrah mengikuti semua permainannya Ares.
Jantung pasangan pengantin muda itu berdetak sangat cepat dan tidak beraturan mengiringi aktivitas panas mereka di atas ranjang.
Ares terus bergerak dengan peluh yang bercampur dengan peluhnya Hana dan ia berhenti saat ia memekikkan kepuasannya sebanyak tiga kali di udara bebas. Lalu ia melihat Hana terkulai lemas. Ares mulai panik dan ia menepuk pelan pipinya Hana, "Sayang, kau baik-baik saja?"
Hana menjawab dengan suara lirih, lemas, dan tak berdaya, "Iya Tuan"
Ares lalu memakai celana kolornya kemudian membungkus tubuh polos istrinya dengan selimut. Setelah itu ia membopong tubuhnya Hans, Hana langsung tertidur lelap di dalam dekapannya Ares. Ares lalu melangkah keluar dari dalam ruang rahasianya dan merebahkan Hana di atas ranjang.
Ares kemudian berdiri di tepi ranjang dan memandangi Hana dengan wajah sendu dan ia bergumam, "Maafkan aku!" Lalu Ares berjalan ke balkon. Dia menghirup udara segar di sana untuk mengumpulkan kembali kewarasannya yang selalu saja hilang jika ia berada di dalam kamar ungu.
Ares berkali-kali meraup kasar wajah tampannya dengan menghela napas panjang. Dia merasa menyesal telah memperlakukan Hana seperti Macarena memperlakukan dirinya. Dan baru pertama kalinya bagi seorang Ares Laco merasa begitu menyesal setelah ia bermain sangat liar dengan submissivenya di kamar ungu. Dia belum pernah merasa menyesal dulu, bersama dengan wanita lain sebelum ia bertemu dengan Hana Prakas.
"Sial! Ada apa dengan diriku? Kenapa perasaanku jadi kacau begini? Kenapa hatiku merasa sesak nggak jelas seperi ini? Dan kenapa aku meneteskan air mata saat ini?" Ares menjumput air mata yang jatuh dari kedua kelopak matanya lalu memandangi air mata yang ada di ujung jari telunjuk dan ibu jarinya. "Air mata apa ini?"
Ares tidak pernah menangis dan bersumpah tidak akan pernah menangis sejak papa kandungnya memberikan tanda kenang-kenangan di dadanya. Oleh karena itu Ares bertanya saat tanpa ia sadari, ia meneteskan air mata. "Dan kenapa aku menangis?" Ares bertanya kepada dirinya sendiri.
Ares melonjak berdiri dan langsung membalikkan badannya saat ia mendengar suara Hana memanggil dirinya.
Hana terbangun dengan rasa sakit dan pegal di sekujur badannya. Lalu ia bangkit melangkah pelan menuju ke lemari. Dia membuka lemari dan melihat ada beberapa dress wanita yang terlihat agak sedikit kebesaran jika ia yang memakainya. Hana bergumam, "Baju-baju ini, baju-bajunya siapa? Apakah semua ini bajunya Macarena?"
Ares dan Hana berdiri saling berhadapan dan Hana langsung bertanya, "Baju-baju siapa yang ada di dalam lemari ini, Mas?"
"Macarena" Ares menjawab dengan jujur dan sisi positif yang masih Ares miliki adalah, kejujurannya itu. Dia tidak pernah berkata bohong.
"Mas bahkan masih menyimpan baju-bajunya Macarena? Apa Mas masih menemuinya secara diam-diam di sini?"
Ares menggelengkan kepalanya dengan wajah panik karena ia melihat ada gelagat aneh di diri Hana.
Hana lalu berkata, "Aku tidak bisa meneruskannya. Aku akan meninggalkanmu, Mas. Dan jangan ikuti aku! Jangan mencariku! Dan jangan menghubungiku lagi!" Hana berputar badan dan melangkah keluar dari dalam kamar itu.
Ares hanya bisa mematung melihat kepergiannya Hana.