A Dominant

A Dominant
Dasi dan Kemeja Favorit



Ares mencium seluruh jengkal tubuh bagian belakangnya Hana, lalu ia memutari tubuh Hana tanpa menarik bibirnya dari kulit manisnya Hana sampai bibirnya menemukan bibirnya Hana.


Ares menciumi setiap sudut tubuh polosnya Hana di bagian depan dan bermain cukup lama di lembah kenikmatan. Hana tersentak kaget lalu berteriak, merintih indah merasakan kenikmatan yang diberikan oleh Ares.


Napas Hana menderu menahan gairah, melenguh menikmati setiap sentuhan bibir dan telapak tangannya Ares dan kenyataan ia tidak bisa menggerakkan tangannya sama sekali karena kedua tangannya terikat di atas kepalanya memberikan sensasi unik yang justru Hana sukai.


Ares bergerak pelan ke atas dengan bibirnya dan menghentikan ciumannya dengan menempelkan keningnya di atas keningnya Hana, lalu berkata, "Buka mata kamu!"


Hana membuka pelan kedua kelopak matanya dengan napas terengah-engah.


Ares menatap Hana dengan sendu, "Kau ingin aku teruskan atau sampai di sini saja? Karena kau baru belajar menjadi submissiveku jadi, kurasa kau harus belajar pelan dan bertahap"


"Teruskan Mas! Jangan berhenti!" Hana mengucapkan pinta itu dengan sorot mata sendu, napas menderu, dan peluh bercucuran di sekujur tubuhnya.


Ares lalu menggendong Hana. Hana mengaitkan kedua kakinya di pinggangnya Ares bak seekor koala yang menempel pada sebatang pohon yang kokoh.


Dan dengan posisi kedua tangan Hana masih terikat di atas kepalanya Hana, Ares melakukan penyatuan raga dengan posisi menggendong tubuhnya Hana.


Dan di saat gema kepuasaan dari sepasang suami istri itu melengking tajam di udara secara bersamaan, Ares membuka ikatan tangannya Hana dan Hana langsung memeluk lehernya Ares dengan terkulai lemas.


Ares menggendong Hana keluar dari dalam kamar bermainnya sampai ke kamar pribadinya. Ares merebahkan Hana di atas ranjang mewahnya, menyelimuti Hana, lalu ia merebahkan dirinya di samping Hana dan memeluk tubuh rampingnya Hana sambil bertanya, "Apa yang kau rasakan sekarang?"


"Ternyata tidak menakutkan. Dan aku rasa permainannya asyik, Mas. Aku ingin mencoba permainan yang lainnya" Hana menatap Ares dengan wajah sendu.


Ares terkekeh senang lalu ia mencium keningnya Hana dan berkata di sana, "Tidurlah! Kau sudah bekerja sangat keras"


Ares dan Hana tidur dengan berpelukan. Wajah keduanya tampak lega, puas dan bahagia.


Ares terbangun dan melirik jam di dinding, "Sudah jam enam pagi?"


Ares menoleh ke ranjang, "Hana ke mana?" Ares lalu menyibak selimutnya, bangkit dan tertawa lirih, "Sial! Semua bajuku masih tertinggal di kamar ungu" Ares lalu melangkah ke kamar ganti baju untuk mengambil celana kolornya.


Hana telah mengambil baju dia dan baju suaminya yang berserakan di kamar ungu dan telah ia cuci di mesin cuci.


Setelah itu, Hana memasak nasi dan memasak nasi goreng. Hana juga membuat omelet.


Ares tersenyum lebar saat ia melihat Hana menggoreng sesuatu di penggorengan dengan bergoyang riang sambil bersenandung. Hana memakai kemejanya Ares di pagi hari itu untuk memasak. Kemeja itu menjadi dress pendek yang tampak seksi menggoda di tubuh Hana.


Gairah Ares kembali timbul melihat pemandangan menggoda itu dan ia langsung memeluk Hana dari belakang dan menciumi lehernya Hana dengan penuh kerinduan.


Hana memekik kaget, "Mas! Aku lagi nggoreng nih. Entar gosong"


Ares langsung mematikan kompor elektrik mewahnya dan melanjutkan aksinya sambil berkata di atas lehernya Hana, "Aku belum mendaratkan tanda kepemilikan di leher cantik kamu ini kan, kemarin malam?" Ares lalu menghisap kulit lehernya Hana hingga membuat Hana mendesis dan menengadahkan kepalanya ke atas.


Ares langsung memutar tubuhnya Hana dan memagut bibirnya Hana dan..............


"Ah! Maafkan Mama! Mama datang di waktu yang tidak tepat, ya?"


Ares langsung menghentikan aksinya dan menoleh ke asal suara, Hana pun menoleh ke ara yang sama. Keduanya menatap wajah ayunya Elizabeth Laco dengan canggung.


Hana langsung mendorong tubuh Ares dan berkata, "Maaf, Ma. Saya mau mandi dulu" Hana langsung berlari sambil menundukkan wajahnya karena, malu dengan rambut tercepol asal, memakai kemejanya Ares dan belum mandi.


Elizabeth Laco mengikuti arah perginya Hana dan melihat ekspresi konyolnya Ares sambil tertawa lebar.


"Kenapa Mama kemari sepagi ini dan nggak nelpon dulu?" Ares menyemburkan protes ke Mama asuhnya sembari meraup kasar wajah tampannya untuk meredakan gairahnya.


"Maafkan Mama! Lain kali kalau mau ke sini sepagi ini, Mama akan telpon dulu. Mama pikir, Mama ingin kasih kejutan untuk kamu dan Hana. Mama bikin puding kesukaan kamu semalam dan Mama ke sini mau belajar cara bikin nasi uduk. Hana kan pinter bikin nasi uduk"


Ares menerima puding pemberian Mamanya dan memasukkan puding cokelat cheese ke dalam lemari pendingin khusus untuk puding dan es krim.


Setelah menutup pintu lemari pendingin, ia duduk di meja makan berhadapan dengan mamanya.


"Nasi goreng dan omelet aku kira. Tapi, omeletnya masih di penggorengan"


Hana langsung berlari ke penggorengan, menghidupkan kompor kembali dan melanjutkan menggoreng omelet sambil menoleh ke meja makan, "Maaf Ma! Hana lanjutkan dulu menggoreng omeletnya"


"Iya santai aja. Apa perlu Mama bantu?"


"Nggak usah, Ma. Bentar lagi selesai kok"


Beberapa menit kemudian, Hana telah selesai menyajikan nasi goreng ayam dan omelet hasil kreasinya di atas meja makan.


"Wah! Enak banget. Asli ini enak banget, Hana. Ares! Kau pinter pilih Istri. Udah cantik, lembut, baik hati, ramah, pinter, dan pandai memasak. Kau harus jaga baik-baik Istri kamu" pekik Elizabeth Laco dengan wajah semringah.


Ares menoleh ke samping kanannya untuk melihat istrinya dan berucap, "Tentu saja Ma. Aku akan jaga baik-baik Istriku" Dan Hana langsung tertunduk malu.


Selesai makan, Elizabeth Laco langsung bangkit, "Mama pulang dulu. Kelamaan di sini, Papa kamu bisa nangis nyari Mama"


Ares dan Hana mengantarkan Elizabeth Laco sampai di depan mobilnya Elizabeth Laco.


Sepeninggalnya Elizabeth Laco, Ares mandi dan saat ia keluar dari dalam kamar mandi, ia melihat Hana tengah memasukkan buku-buku ke dalam tas kuliahnya.


Ares bertanya ke Hana, "Kamu ada kuliah jam berapa?"


"Jam sepuluh Mas"


"Aku akan antarkan kamu"


"Tapi, Mas nggak berangkat kerja?"


"Aku akan anter kamu dulu baru ke kantor" teriak Ares dari dalam kamar ganti.


Beberapa menit kemudian, Ares berdiri di depannya Hana dengan membawa dasi berwarna abu-abu dan bertanya, "Kau bisa memasang dasi?"


"Bisa Mas" Hana memasangkan dasi berwarna abu-abu di kerah kemejanya Ares yang berwarna putih.


"Kau tidak mengenali kemeja dan dasi yang aku pakai ini?" Ares bertanya sembari mengelus dasi yang sudah terpasang cantik di lehernya.


Hana menautkan alisnya dan menggelengkan kepalanya.


Kemeja putih kan kemeja yang tadi kamu pakai dan dasi abu-abu ini adalah dasi yang aku pakai untuk mengikat tangan kamu kemarin malam. Kemeja putih dan dasi abu-abu ini, mulai detik ini, menjadi favoritku" Ares menatap Hana dengan sorot mata penuh arti dan Hana langsung tertunduk malu.


Hana Prakas



Ares Laco



Macarena Lordess



Elizabeth Laco



Mellisa Lordess