A Dominant

A Dominant
Unik Tapi Asyik



Ares berhasil melepas ikatan di kedua pergelangan tangannya, lalu Ares menarik lepas dasi yang menutup kedua matanya, di saat Hana tengah asyik mencium, menghisap, menjilat dan menggigit kulit Ares dari ujung kepala hingga ujung kaki dan di saat Hana kembali lagi di ujung kepalanya Ares, Ares langsung mendekap Hana dan membaringkan Hana di bawah kungkungannya sembari berkata, "Aku rasa kau sudah lelah, Nyonya Ares Laco. Gerakanmu mulai melemah dan sekarang giliranku untuk membuatmu bergelinjang, melenguh, dan mendesis tak berdaya seperti diriku tadi"


Hana membeliak kaget, "Kapan Mas bisa melepaskan semua ikatannya?"


"Itu tidak penting" Ares langsung membungkam mulut Hana dengan mulutnya dan tangannya mulai bergerilya di setiap jengkal tubuhnya Hana. Ares terus mengajak Hana berciuman dengan jari jemari tangan asyik bermain di titik kenikmatannya Hana.


Hana mengulum bibir menahan teriakan di saat Ares terus asyik memainkan jari jemarinya dengan wajah menyusup ke lehernya Hana. Ares berkata, "Teriak saja jika kau ingin teriak"


Ares lalu mengecup bibirnya Hana dan langsung mendesak menyatukan dirinya dengan Hana.


Hana membeliak kaget dan langsung merintih cukup keras. Ares tersenyum dengan gairah yang menggebu lalu ia membungkam bibirnya Hana dengan bibirnya.


Penyatuan raga itu tidak cukup satu kali. Penyatuan raga tanpa alat pengaman ternyata lebih dahsyat rasanya dan itu membuat Ares ketagihan. Dia menghajar Hana dalam berbagai gaya dan tempat berkali-kali sampai membuat Hana kelimpungan dan lemas tak berdaya. Ares lalu membopong Hana setelah penyatuan raga di ronde terakhir, di meja kerjanya Ares yang ada di kamarnya. Ares membaringkan Hana di atas ranjang lalu menarik selimut untuk menyelimuti tubuh polos istri cantiknya itu.


Ares masih berkeringat dan napasnya masih menderu kencang di saat ia merapikan rambutnya Hana lalu ia mengecup bibirnya Hana sambil berucap, "Kau sudah membangunkan singa, Hana. Kau mengerti sekarang akibatnya karena telah berani membangunkan singa?"


Hana tersenyum lemas lalu berucap, "Aku tahu dan aku menyukai akibatnya" sembari secara perlahan memejamkan kedua kelopak matanya,


Ares tertawa geli mendengar ucapannya Hana lalu ia berkat, "Kau menyukai akibatnya, ya? Dasar kucing liar, aku sangat mencintaimu, Istriku" Ares mengecup keningnya Hana, lalu ia memakai kembali kaos dan celana kolornya.


Ares berbalik badan keluar dari dalam kamarnya dan mencari Handoko, "Han, aku akan ajak Hana bulan madu yang kedua besok"


"Hah?! Lagi?" Handoko langsung menarik rahang bawahnya.


Ares terkekeh geli lalu berkata, "Iya, lagi. Ternyata menyatu dengan Hana tanpa alat pengaman itu bikin aku ketagihan dan aku ingin menikmatinya tanpa diganggu dengan kerjaan dan hal ribet lainnya"


"Dan bulan madu kedua ini, Anda akan pergi ke mana dan berapa lama?"


"Aku ingin pergi ke Korea. Hana kan menyukai drama Korea, jadi aku akan ajak Hana mengunjungi tempat-tempat romantis yang ada di drama Korea. Seperti pulau Jeju, Cheonggyecheon Stream, pulau Nami, Namsan Seoul Tower, dan tempat romantis lainnya yang ada di sana"


"Berarti akan memakan waktu lebih lama dari bulan madu yang pertama dong"


"Iya, kamu benar. Aku butuh waktu yang sangat lama sepertinya karena Hana sudah bikin aku semakin ketagihan untuk terus berduaan dengan Hana, Istriku"


Handoko hanya bisa menghela napas panjang lalu berucap, "Baiklah, Tuan"


"Dan setelah aku pulang dari bulan madu, aku ingin kau melamar Wulan. Aku ingin melihat menikah, Han. Aku akan membiayai semuanya dan aku akan hadiahkan sebuah rumah untukmu"


Handoko kembali menghela napas panjang dan berkata, "Baiklah, Tuan"


Handoko lalu pamit pulang dan melepaskan lelahnya dengan cara menemui Wulan sekalian untuk menyampaikan niatnya melamar Wulan setelah tuan besar mereka pulang dari bulan madu. Wulan langsung memeluk Handoko dan memekik senang.


Keesokan harinya, Hana terkejut saat ia membuka kedua matanya, Ares langsung membopong, membawanya ke alamat mandi, memandikan Hana dan tidak lupa meminta jatah, tapi hanya satu ronde saja. Ares dengan cepat memakai setelan kaos dan celana kolor bermerk-nya lalu ia segera memakaikan dress ke Hana, membopong Hana kembali dan langsung berlari menuju ke mobilnya. Ares menurunkan Hana di depan pintu mobil dan dengan wajah ceria ia berkata, "Masuklah ke mobil!"


"Ta.....tapi kenapa?"


"Kita akan ke bandara lalu terbang ke Korea. Kita akan bulan madu lagi"


Hana langsung masuk ke dalam mobil dan Ares langsung memasangkan sabuk pengamannya Hana, menutup pintu lalu memutari mobilnya dan masuk ke dalam mobil, memasang sabuk pengamannya dengan tidak sabar dan langsung menekan pedal gas dengan wajah cerah ceria.


Handoko hanya bisa menatap kepergian mobil tuan besarnya dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.


Mobil Ares menuju ke bandara dengan diikuti dua mobil Van yang berisi pengawal pribadinya. Hana terkejut saat mobilnya Ares berhenti di depan sebuah pesawat yang tampak lengang. Dua orang pilot dengan dia orang pramugari menyambut kedatangannya Ares dan Hana di depan tangga di pintu masuk pesawat jet tersebut.


"Ini punya kamu, Mas?"


"Punya kita. Maaf kalau aku baru sempat mengajakmu ke hangar pribadiku dan memperkenalkanmu dengan Thunder"


"Siapa Thunder?" tanya Hana.


"Private jetku ini aku kasih nama Thunder" Ares langsung membopong Hana dan menaiki anak tangga untuk masuk ke dalam private jetnya.


Ares hanya menganggukkan kepala untuk membalas sapaan dari kedua pilot dan kedua pramugari.


"Lalu Thunder ke mana pas kita bulan madu ke pulau Lombok kemarin?" tanya Hana sembari melangkah menuju ke tempat duduk paling belakang.


"Thunder masuk angin" Ares menjawab dengan asal dan Hana langsung tertawa dibuatnya.


"Mas, lalu kopernya? Aku, kan, belum packing semalam?"


"Semuanya udah aku urus" Ucap Ares sembari duduk di sebelahnya Hana.


"Ini baru pertama kalinya, aku naik private jet, Tapi lebih asyik naik helikopter, Mas" Hana menoleh ke Ares dan tersenyum manis.


Ares menempelkan bibirnya di telinga Hana dan bertanya di sana, "Kalau naik aku? Enak, nggak?"


Hana langsung menunduk malu dan menepuk bahunya Ares dengan menggigit bibir bawahnya. Ares tertegun saat ia menarik bibirnya dari telinga Hana dan menangkap Hana menggigit bibir.


Ares menggeram kesal dan berkata dengan suara serak, "Kau tahu benar akibatnya bagiku kalau kau menggigit bibir kamu seperti itu, kan Hana?"


Hana mengangkat wajahnya dan menoleh ke Ares, "Tahu"


"Kenapa kau nekat melakukannya?" Ares bertanya dengan suara serak sembari menatap lekat kedua bola mata hitamnya Hana, mengelus pipinya Hana, lalu menempelkan keningnya di keningnya Hana.


"Itu karena Mas jahil. Aku spontan aja menggigit bibirku dan......."


Ares langsung mencekal pergelangan tangannya Hana dan menarik Hana untuk bangkit berdiri dari tempat duduknya sambil berdiri.


Hana langsung bertanya, "Mas, mau ajak aku ke mana?"


"Kau harus bertanggung jawab atas perbuatanmu berani menggigit bibir di depanku" Ares lalu menarik Hana untuk masuk ke toilet dan langsung mencium bibirnya Hana, mengajak Hana berciuman sembari tangannya bergerak liar di setiap titik sensitifnya Hana, lalu ia menyatukan raga di sana. Hana hanya bisa pasrah menuruti kemauan suaminya yang memang unik tapi asyik.