
Ares menyusul Hana masuk ke dalam kliniknya Hana yang masih sepi. Hana tersentak kaget dan menoleh ke belakang saat ia mendengar lonceng berbentuk kepala sapi nan imut berbunyi, kling, kling, kling.
"Lho, Mas kok malah nyusul ke sini? Mas nggak kerja?"
Ares duduk di depan meja kerjanya Hana dengan gelengan kepala dan berucap, "Handoko cuti maka aku pun cuti"
"Lho kok gitu? Kalau Mas dan Pak Han cuti, perusahaannya Mas, gimana dong?"
"Aku bisa memantaunya dari laptop. Pinjam laptop kamu, bisa?"
"Nih! pakai aja" Hana memutar layar laptopnya hingga layar laptopnya berhadapan dengan Ares.
"Kalau pinjam hati kamu boleh?" Ares menopang dagu dengan kedua telapak tangannya dan menatap wajah putih mulusnya Hana dengan senyum jenaka dan kedipan mesra
"Mulai deh" Hana bersedekap di depannya Ares dengan wajah kesal.
Ares terkekeh geli di depannya Hana lalu ia berucap, "Aku serius. Hati aku ini butuh bersandar di hati kamu. Hatiku ini udah terlalu lelah merindukanmu, Hana"
"Mau aku pukul pakai ini, biar sadar dan nggak ngelindur lagi?" Hana mengangkat telapak tangan kanannya di depan Ares.
"Pukul aja. Paling sakitnya tidak sesakit jatuh cinta" Ares meringis ke Hana.
Hana mendelik ke Ares dan di saat Ares hendak mengecup bibirnya Hana.............
Kling,kling,kling, lonceng yang terpasang di pintu masuk kliniknya Hana berbunyi kembali dan Susan langsung menyapa Hana, "Selamat pagi, Dok"
"Pagi" Hana tersenyum ke Hana dan Ares langsung mencabut kabel laptop dan sambil bangkit membawa laptopnya Hana ia berucap, "Aku akan masuk ke kamar kamu" Ares melangkah dengan wajah kesal dan bergumam, "Kenapa cewek berisik itu selalu muncul di saat yang tidak tepat, Huuffttt! Sabar Res, sabar!"
Susan menatap punggungnya Ares dengan wajah penuh tanda tanya lalu ia menoleh ke Hana, "Kok mantan suaminya Dokter ada di sini sepagi ini?" Susan lalu duduk di depan meja kerjanya Hana dengan senyum lebar dan sorot mata penuh dengan keingintahuan.
"Ah! Itu, emm, tidak seperti yang kamu pikirkan. Sudahlah ceritanya panjang. Kita mulai kerja aja,yuk"
"Tapi, Dok? Mantan suaminya Dokter kok pakai kaos sponsor obat hewan? Apa semalam, dia tidak pulang dan........."
"Susan" Hana mulai menggeram di depannya Susan dan Susan langsung menegakkan badannya dan ngacir ke meja kerjanya.
Hana mengikuti arah perginya Susan dengan gelengan kepala.
Ares melongok di depan pintu kamarnya Hana, yang berada tepat di belakang meja kerjanya Hana dan bertanya, "Aku boleh hidupkan AC?"
Hana yang tengah merekap pemasukannya kemarin, menoleh ke belakang dan menganggukkan kepalanya.
Ares tersenyum dan masuk kembali ke dalam kamar. Ares mulai bekerja di dalam kamarnya Hana, tapi kenyataan bahwa ada Hana di luar membuat Ares tidak bisa berkonsentrasi dalam bekerja. Ares lalu menutup laptop dan mulai mengulas senyum jahil di wajah tampannya. Dan beberapa detik berikutnya, Ares kembali melongok, "Hana, My Honey"
Hana yang tengah mengecek obat, menghela napas panjang dan menoleh ke belakang, "Ada apalagi, Mas?"
"Kalau aku hidupkan tv, boleh?"
Hana menganggukkan kepalanya dengan senyum manisnya.
Ares kembali masuk ke kamar dan bergumam, "Ah! Kenapa dia tersenyum barusan, bikin aku ingin melihatnya lagi dan lagi"
Ares lalu terkikik geli dengan sendirinya, kemudian, ia bergumam, "Emm, apalagi ya? Aku nggak ingin kerja hari ini, aku hanya ingin terus melihat Hana, hanya ingin mengajak dia ngobrol dan aku hanya ingin melihat wajahnya terus di sepanjang hari ini. Aku nggak mau sendirian di kamar ini tanpa Hana, tapi dia kan harus kerja dan kalau aku keluar dari dalam kamar, aku akan terserang alergi lagi jika pasiennya Hana sudah mulai berdatangan"
Ares mencubit dagunya dan berjalan mondar-mandir di dalam kamar untuk mencari alasan agar dia bisa melongokkan kepalanya keluar dan bisa membuat Hana menoleh kembali kepadanya dengan senyuman.
Kling,kling,kling, Hana mengangkat wajah cantiknya dan langsung bangkit berdiri saat ia melihat sosok laki-laki yang berdiri di depan pintu masuk kliniknya.
Laki-laki itu membawa anjing besar berjenis Labrador Retriever. Anjing jenis itu memiliki bulu berwarna cokelat dan sangat lebat. Anjing itu anjing pemburu, namun anjing Labrador Retriever, jenis yang ramah dan mudah akrab dengan orang yang memiliki hati yang baik dan yang memperlakukannya dengan tulus dan baik.
"Kamu, Deo, kan? Apa kabar?" Hana berucap sembari memutari meja kerjanya dan melangkah ke arah laki-laki yang dia panggil dengan nama Deo.
Deo melangkah pelan ke depan untuk mendekati Hana tanpa melepas tali kekang anjingnya.
"Kamu tampak......" Hana memandangi Deo.
Deo tersenyum dan bertanya, "Tampak apa?"
"Emm, beda, hehehehe" Hana tersenyum lebar ke Deo.
Dan saking senangnya melihat Hana. Sahabatnya di masa SMA dan wanita yang selalu ia cintai dan rindukan itu, Deo memeluk Hana dan berucap, "Aku sangat senang akhirnya bisa bertemu lagi denganmu"
Hana mematung di dalam pelukannya Deo karena kaget
Sementara itu, di dalam kamarnya Hana, Ares menjentikkan jarinya dan dengan senyum lebar dia melangkah ke arah pintu dan di saat ia melongokkan kepalanya ke luar, Ares langsung menegakkan badan dan sambil melangkah lebar ia berteriak kencang "Jangan peluk Hana!"
Deo tersentak kaget dan langsung melepaskan pelukannya sementara itu anjingnya Deo menggeram, melotot dan memperlihatkan semua gigi taringnya ke Ares.
Ares melotot ke anjing di depannya tanpa rasa takut dan langsung berteriak, "Apa kau melotot? Hah!? Kau pikir aku takut sama kamu, cih! Aku akan ajak duel semua makhluk berjenis cowok yang berani mendekati Hana, termasuk kamu! Sini! Maju lah! Dan kau juga!" Ares mengalihkan pandangannya ke pria tegap dan gagah yang telah berani memeluk Hana. "Siapa kau? Aku akan bikin perhitungan denganmu karena kau telah berani memeluk Hana, dasar brengsek!"
Hana tersentak kaget dan langsung berputar badan, meletakan kedua telapak tangannya di dada bidangnya Ares lalu mendorong Area untuk kembali masuk ke dalam kamar. Hana lalu bersedekap dan mendelik ke Ares, "Mas, bisa nggak bersikap dewasa?"
"Dia yang mulai. Dia berani memeluk kamu. Aku akan membuat dia berakhir di UGD sekarang juga" Ares melangkah maju dan Hana langsung menahan dada bidangnya Ares dengan teriakan, "Mas yang justru akan berakhir di UGD"
"Kenapa aku?" Ares menautkan alisnya ke Hana.
"Mas alergi sama bulu hewan, kan? Mas lihat tadi, kan, dia bawa anjing berbulu lebat dan anjing itu adalah anjing pemburu"
"Aku tidak peduli. Pokoknya aku akan bikin perhitungan dengannya, dasar cowok brengsek!"
"Mas! Kalau mas nekat keluar dan mengajaknya duel, aku akan pergi"
Ares langsung memeluk Hana, "Jangan pergi! Jangan tinggalkan aku lagi Hana!"
Hana melepaskan diri dari dalam pelukannya Area dan berucap, "Kalau tidak ingin aku pergi, maka Mas harus duduk tenang di sini. Aku akan memeriksa anjing itu dulu. Mas harus memantau kerjaannya Mas juga, kan"
"Tapi, jangan biarkan dia memelukmu lagi" Ares mengerucutkan bibirnya di depan Hana. Dia terpaksa menahan emosinya, menahan kecemburuannya, karena dia tidak ingin Hana pergi.
"Aku nggak membiarkan dia memelukku, Mas. Aku kaget tadi karena dia tiba-tiba memelukku"
"Kamu kenal sama dia? Kok dia bisa tiba-tiba memeluk kamu"
"Dia Deo. Sahabatku dulu pas masih duduk di bangku SMA. Mas lupa sama Deo? Mas,kan, yang dulu mengusirnya"
"Sial! Deo?! Wah! Karena dia Deo, aku akan ikut keluar dengan kamu dan mengawasinya" Ares langsung menggenggam tangannya Hana dan mengajak Hana keluar dari dalam kamar dengan langkah lebar.
Dan tepat di depannya Deo, Ares menunjukkan tautan tangan dia dan Hana di depannya Deo sambil berucap, "Hana adalah milikku. Selamanya adalah milikku. Jangan mendekatinya dengan berbagai macam modus nggak jelas kamu, ngerti?!"
Deo tersenyum lalu berkata, "Aku mengerti kalau Hana udah bercerai. Jadi, siapa pun punya hak untuk mendekatinya dan......."
Kling, kling,kling, pintu terbuka dan Leon melangkah masuk dengan senyum riang sambil menggendong anjing miliknya berjenis pudel yang berbulu keriting berwarna putih bersih.
Ares melotot ke Leon dan dia langsung mengumpat, "Sial! Datang satu lagi nih makhluk nggak jelas"
Hana hanya bisa menghela napas panjang dan menundukkan wajahnya ke bawah dengan kesal.