A Dominant

A Dominant
Memperjuangkan Cinta



Ares semakin mempererat pelukannya dan berbisik di telinganya Hana, "Wangi kamu masih sama. Kau tak berubah, Hana"


Mendengar namanya dipanggil, bulu roma Hana berdiri. Suara Ares terdengar lembut dan serak. Hana ingat seperti inilah dulu suara Ares terdengar, sewaktu Hana bertemu dengan A Dominant yang berbahaya itu di sebuah kafe mahal.


Hana lalu menundukkan kepalanya dan mendorong tubuhnya Ares karena, pelukan hangat dan suara serak berisi pujian dari Ares membuatnya sesak napas sekaligus malu.


Ares melonggarkan pelukannya, namun kedua lengannya masih ia kaitkan di punggungnya Hana, "Kenapa kau menundukkan wajahmu? Kamu masih menangis? Maafkan aku. Nenek dimakamkan di mana? Aku ingin mengunjungi makamnya"


"Nenek dimakamkan di makam keluarga Laco. Mama yang membawa Nenek ke sini dan dimakamkan secara private"


"Kenapa aku tidak dikabari?"


Hana mengurai kedua lengannya Ares lalu ia bangkit untuk berpindah tempat duduk setelah itu barulah ia berkata, "Karena, aku nggak ingin bertemu denganmu, Mas"


Ares melengkungkan badannya dengan wajah sedih saat ia mendengar jawabannya Hana. Lalu ia bertanya, "Kenapa kau berpindah tempat duduk?" Ares hendak bangkit untuk mendekati Hana dan Hana langsung memekik, "Stop! Duduklah di situ aja, Mas! Aku masih belum siap menerima Mas masuk kembali di kehidupanku"


Ares menatap Hana dengan sendu, "Apa karena kau masih trauma? Atau karena, kau tidak memercayaiku?"


"Entahlah. Mungkin keduanya" Sahut Hana sambil mengangkat kedua bahunya.


"Baiklah aku mengerti. Tapi, ijinkan aku untuk memperjuangkan cintaku ini, Hana. Jangan menolak kalau aku mengajakmu berkencan, aku mohon" Ares menatap Hana dengan sorot mata memohon dan wajah memelas.


Hana bisa melihat ada kesungguhan di nada suaranya Ares dan di kedua bola mata birunya Ares, Hana melihat ada cinta. Namun, Hana masih merasa takut terlibat kembali dengan seorang Ares Laco.


"Aku bisa merasakan dan mendengar debaran jantungmu pas kita berciuman tadi. Aku yakin kau pun memiliki rasa yang sama denganku. Aku hanya perlu membuatmu percaya padaku dan membuatmu nyaman berada di sampingku, Hana. Maka ijinkan aku memperjuangkan cintaku ini. Aku bersumpah demi apapun di dunia ini, kalau aku sangat mencintaimu dan hanya kamu wanita yang bertahta di hatiku saat ini dan selama-lamanya" Ares menatap Hana dengan penuh cinta.


"Aku belum pernah mencintai siapapun. Aku belum pernah berpacaran. Aku belum pernah berkencan seperti wanita normal di luar sana. Aku butuh banyak waktu untuk merenungkan semuanya, Mas" Hana sebenarnya merasa kasihan melihat wajah memelasnya Ares yang sungguh-sungguh mengharapkan cinta dan dirinya.


"Aku bersedia untuk menunggumu. Selama apapun aku akan menunggumu. Tapi, ijinkan aku mendekatimu lagi untuk memperjuangkan dan membuktikan ketulusan cintaku ini ke kamu, oke?"


Hana menatap Ares cukup lama lalu ia akhirnya menghela napas dan menganggukkan kepalanya.


"Terima kasih, Hana. Aku akan tunjukkan ke kamu, Ares Laco yang baru" Ares memekik senang lalu dan seketika itu, wajahnya menjadi semringah.


"Aku harus pulang. Susan, asistenku mengirimiku pesan kalau klinik ia tutup karena, aku sakit. Jadi, aku pulang aja"


"Kenapa pulang? Kenapa nggak tidur aja di sini dan ........"


"Mas, kita ini bukan suami istri lagi. Nggak baik kalau tinggal satu atap"


"Kenapa?"


"Iya nggak sesuai dengan norma yang ada. Aku akan pulang, Mas"


"Aku anter, ya? Aku juga ingin tahu rumah kamu. Please?" Ares mengatupkan kedua tangannya di depan dada dan dengan wajah memohon dia menatap Hana.


Hana menghela napas panjang dan karena tidak tega melihat wajah memelasnya Ares, dia akhirnya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Ares mengikuti langkahnya Hana keluar dari dalam ruang keluarga sembari mengerikan pesan text ke Handoko, bawa mobilnya Hana ke rumahnya Hana. Kau tunggu aku keluar dari rumah dan ikuti aku!


Handoko yang sudah sampai di teras depan dan hendak turun, membaca pesan text yang masuk ke dalam ponselnya. Handoko memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku kemejanya dengan helaan napas panjang dan akhirnya, setelah memasang kembali sabuk pengamannya, ia memutar kembali mobilnya Hana menuju ke pinggir jalan sembari menunggu mobil tuan besarnya keluar dari dalam rumah megah itu.


Mobil Ares akhirnya keluar dari dalam rumah megahnya. Handoko langsung mengikutinya.


"Di belakang kita itu sepertinya mobilku, Mas" ucap Hana.


"Iya benar. Aku perintahkan Handoko membawa mobilmu"


"Laki-laki yang sedang jatuh cinta, akan mengetahui semuanya tentang wanita yang ia cintai" Ares menoleh sekilas ke Hana untuk menunjukkan senyum bangganya.


"Preeett" Sahut Hana.


Ares terkejut mendengar kata Preeett keluar dari mulutnya Hana dan konglomerat muda itu kembali menolah sekilas ke Hana lalu bertanya,"Oleh-oleh yang kau bawa dari Jepang, cuma kata Preeett, itu, ya?"


Hana tersentak kaget, "Kok Mas tahu kalau aku pulang dari Jepang?"


"Itu bukti kalau aku mencintaimu. Aku tahu semuanya tentang kamu" Ares menoleh sekilas ke Hana dengan senyum hangatnya yang hangat penuh cinta.


Hana menghela napas panjang dan memilih mengalihkan pandangannya ke padatnya arus lalu lintas di sore itu alih-alih merespons celotehannya Ares.


Elizabeth Laco menemui Macarena terkait laporan dari Nancy soal pertemuan Macarena dengan Ares Laco.


Kedua sahabat yang sama-sama cantik dan modis di usia menjelang senja, saling menatap dalam diam.


"Aku masih menganggap kita bersahabat sampai saat ini, Beth" Macarena akhirnya membuka suaranya untuk melenyapkan kesunyian yang ada di antara dia dan Elizabeth Laco.


"Tapi maaf, aku nggak bisa menganggapmu sebagai sahabatku lagi. Aku tidak memusuhi kamu dan tidak memiliki dendam atas kamu, tapi aku memilih menjauhimu karena kamu tidak pantas untuk aku dekati lagi dan tidak pantas untuk menjadi sahabatku lagi" Elizabeth Laco berucap dengan wajah datar.


"Apa yang ingin kau bicarakan kali ini?" Tanya Macarena.


"Jangan pernah mengusik Hana dan Ares lagi! Mereka berdua sangat berharga bagiku dan aku ingin mereka memperoleh kebahagiaan sejati yang belum pernah mereka dapatkan sejak mereka masih kanak-kanak. Aku mohon demi hati nurani kamu sebagai manusia jika kau masih layak disebut sebagai manusia"


"Aku tidak bisa berjanji. Aku bertindak berdasarkan intuisiku selama ini dan bukan berdasarkan janji" Macarena tersenyum sinis ke Elizabeth Laco.


Elizabeth Laco langsung bangkit dan berkata, "Aku seorang Ibu. Jangan pernah mencobai seorang Ibu! Jika kau nekat mengusik anak-anakku, kau akan lihat seberapa menakutkannya diriku! Camkan itu!" Elizabeth lalu berputar badan dan pergi meninggalkan Macarena begitu saja.


"Kau juga belum melihat siapa Macarena yang sebenarnya" Gumam Macarena dengan seringai khasnya.


Hana membuka pintu rumahnya lebar-lebar lalu menunggu Ares di depan teras rumahnya. Ares membuka bagasi mobil dan mengeluarkan dua rantang makanan dari dalam bagasi.


Handoko membantu Ares membawa rantang tersebut.


Hana menautkan alisnya lalu bertanya, "Jadi, Mas tadi menyuruhku menunggu lama di mobilnya Mas, karena dua rantang ini?"


Ares tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya.


"Apa isi kedua rantang itu, Mas?"


"Semua masakan kamu, tadi. Aku mau makan di sini. Aku kan belum mencicipi masakanmu, tadi" Ares langsung mengajak Handoko masuk ke dalam rumahnya Hana tanpa menunggu perintah masuk dari sang empunya rumah.


"Hei! Mas! Siapa yang mengijinkan Mas untuk masuk ke rumahku, aku belum mempersilakan Mas, masuk. Sial! Mas! Siapa yang mengundang Mas untuk makan di sini?!" Hana terus berteriak sembari bergegas masuk ke dalam rumah dan menyusul Ares ke ruang makannya dengan wajah kesal.


Ares mengabaikan teriakannya Hana. Pemilik Graha Laco itu, asyik menata semua makanan di atas meja makannya Hana.


Handoko menata piring dan gelas sambil menatap wajah kesalnya Hana dan Handoko langsung berucap, "Saya cuma mengikuti perintahnya Tuan Ares, Non. Jangan melotot ke saya, Non"


Hana hanya bisa menghela napas panjang berulangkali sambil bersedekap.


"Nah! Udah beres Ayok kita makan bareng. Aku lapar" Ares duduk di sebelahnya Hana dengan santainya sembari mengambilkan sepiring nasi bumbu untuk Hana.


Hana kembali menghela napas panjang.


Aku akan cari alasan setelah makan agar aku bisa menginap di sini malam ini. Aku akan tunjukkan perjuangan cintaku ke Hana, mulai malam ini. Batin Ares.