A Dominant

A Dominant
Alergi



Ares menoleh ke Handoko sembari melepas sabuk pengamannya, "Wah, good job, Han! Warung makannya udah beroperasi"


Handoko melukis senyum lebar di wajah tampan lokalnya dengan perasaan bangga.


"Kau sudah perintahkan koki di hotel kita untuk memasak semua menu yang sesuai dengan makanan favoritnya Hana?"


"Sudah, Tuan"


"Camilan dan minumannya juga?" Ares bertanya dengan wajah yang semakin mengembang ceria.


"Iya Tuan" Sahut Handoko dengan nada bahagia. Dia memang selalu merasa bahagia kalau melihat tuan besarnya bahagia.


"Kau ingin bonus apa? Kalau uang udah pasti aku kasih tambah. Selain uang, apa?"


Handoko tersenyum lebar dan berkata, "Apa saya boleh ambil cuti, Tuan? Seminggu aja"


"Boleh, dong. Mulai kapan?" Ares berkata dengan entengnya karena hatinya tengah berbunga-bunga. Semua cara (modus) untuk memenangkan hati wanita yang ia cintai, berjalan dengan lancar di hari itu.


"Mulai besok, Tuan? Boleh?" tanya Handoko dengan sorot mata penuh harap.


"Hmm" Ares menganggukkan kepalanya sembari meraih kucing yang ada di dalam kandang dari jok belakang mobilnya.


Handoko langsung memeluk Ares saking bahagianya. Setelah bertahun-tahun ikut Ares dengan segala keruwetannya, akhirnya dia bisa mengambil cuti selama seminggu.


Ares mendelik ke Handoko, "Jomblo sih jomblo, Han. Tapi, jangan naksir aku!" Ares masih belum mengetahui kalau Handoko sudah berpacaran dengan Wulan, di saat itu.


Handoko langsung melepaskan pelukannya dan sambil meringis dia berucap, "Maafkan, saya, Tuan"


"Aku akan masuk ke kliniknya Hana. Doakan modusku berhasil dan aku bisa mengajak Hana berkencan malam ini"


"Amin" Sahut Handoko dengan wajah cerah ceria secerah wajah tampan tuan besarnya, di saat itu.


Kling, kling, kling, lonceng yang dicantolkan di atas daun pintu kliniknya Hana sebagai tanda kalau ada yang masuk, membuat Hana yang tengah memeriksa seekor anjing berjenis pudel,.mengangkat wajahnya dan ia langsung beradu pandang dengan kedua bola mata birunya Ares.


Susan langsung menyambut Ares, "Silakan duduk dulu Tuan! Di sana!"


Ares mengikuti arah jari telunjuk asistennya Hana dan ia tersentak kaget saat ia melihat ada lima orang duduk di sana dengan membawa binatang yang berbulu. "Ngapain aku harus duduk di sana?"


"Anda harus mengantre, Tuan. Anda nomer enam dan yang mengantre, duduknya di sebelah sana. Saya akan mencatat apa keluhan dari binatang kesayangan Anda itu, Tuan"


Ares menunduk ke kandang yang ia tenteng lalu bergumam lirih, "Cih! Kesayangan apa? Kenal aja nggak"


"Apa Tuan? Apa yang Anda katakan barusan? Saya tidak mendengarnya, maaf"


Ares mengangkat wajah tampannya dan menatap asistennya Hana dengan sorot mata kesal. Lalu Ares bersandar di dinding di sebelah pintu masuk.


"Kenapa Anda justru bersandar di sana, Tuan. Anda akan kelelahan kalau berdiri terus. Antreannya lumayan banyak, lho"


"Diam kamu! Urus saja pekerjaan kamu" Ares mendelik ke asistennya Hana.


"Tapi, Anda belum memberitahukan ke saya, kucing Anda sakit apa?"


"Nggak tahu" Sahut Ares dengan wajah merengut.


"Lho kok nggak tahu? Anda ke sini, kan, pasti kucing Anda mengalami gangguan kesehatan"


"Aku nggak tahu. Dibilangin nggak tahu kok nanya terus. Aku ke sini justru mau nanya ke Hana, kucing ini sakit apa"


Tampan, sih, tampan, tapi kok aneh. Batin Susan sambil ngeloyor pergi dengan helaan napas panjang.


Hana memanggil Susan, "Ada apa? Kenapa dia tampak kesal dan bersandar di dekat pintu masuk? Kucingnya sakit apa?"


"Dia nggak tahu kucingnya sakit apa dan dia justru ke sini karena mau nanya ke Dokter, kucingnya sakit apa. Aneh, kan?" sahut Susan.


Hana menghela napa panjang dan menggelengkan kepalanya, "Oke, biarkan saja dia kayak gitu"


Ares menoleh ke kanan dan melihat ada lima antrean di sana. Ares langsung menelepon Handoko, "Han, kenapa banyak hewan sakit di pagi ini? Ada lima antrean dan semuanya membawa hewan berbulu. Aku nggak berani mendekat dan aku benci situasi ini. Andai aku berani mendekat, aku akan kasih mereka semua uang untuk pergi dari sini, tapi, hiks, hiks, kenapa mereka semua membawa hewan berbulu?"


"Saya juga nggak tahu harus bagaimana, Tuan"


Salah satu pasiennya Hana di nomer antrean lima, melihat Ares dan ia merasa kasihan melihat Ares mewek. Dia yang tidak mengetahui kalau Ares alergi dengan hewan berbulu, berdiri dengan membawa kucingnya yang berbulu lebat mendekati Ares.


Sial! Kenapa wanita itu berdiri dan mendekatiku dengan makhluk bulat berbulu, itu? Dia mau apa? Ares langsung menegakkan badannya dan berteriak, "Stop! Jangan mendekat lagi! Jauhkan makhluk bulat berbulu dan jelek itu darikuuuuuuuu!


Hana dan asistennya yang tengah ke belakang mengambil suntikan, tidak bisa mendengar teriakannya Ares.


Tapi, terlambat. Wanita muda yang tampak tertarik dengan ketampanannya Ares dan merasa kasihan karena ia melihat Ares mewek beberapa detik yang lalu, menggendong kucingnya dan berdiri dekat sekali di depannya Ares dan berkata, "Anda bisa duduk di bangku Saya. Saya akan ........."


Hatchiiiii! Ares mulai bersin. Dan terus bersin-bersin,hidungnya mulai berair dan terasa gatal, dan hidungnya mulai mengalami iritasi, akibat sering bersin.


"Anda kenapa?" Wanita muda itu bertanya sambil melangkah lebih dekat lagi ke Ares dengan kucingnya yang gembul dan berbulu sangat lebat di dalam gendongannya.


Alih-alih menjawab pertanyaan dari wanita muda yang beridri di depannya dengan seekor kucing berbulu lebat, ia melotot dengan rasa gatal pada mulut bagian atas.


"Tuan, Anda tampak pucat dan berkeringat" Wanita muda itu mengangkat tangannya untuk menyentuh keningnya Ares dan Ares langsung mendesis, "Jangan sentuh aku!" sembari menepis tangan wanita muda itu dengan sangat kasar


Ares ingin berteriak dan mengusir wanita muda dengan kucing berbulu yang tampak menyebalkan bagi Ares, namun Ares tidak bisa berteriak karena, hidungnya mulai tersumbat. Hidungnya mengeluarkan ingus yang cukup banyak, matanya terasa berair dan napasnya tersengal-sengal.


Hana berlari mendekati Ares saat ia melihat ada keanehan pada dirinya Ares saat ia melihat dari kejauhan, Ares kesulitan bernapas, matanya berair dan bengkak lalu ada Bintik-bintik merah (urtikaria) atau ruam (kulit memerah).


Ares langsung menjatuhkan kepalanya di atas pundaknya Hana dan berkata lirih, "Usir makhluk bulat berbulu dan jelek itu! Aku alergi bulu hewan"


"Oh! Astaga! Maaf, Mbak. Mbak bisa kembali duduk di bangku Mbak? Orang ini alergi bulu binatang"


"Oh! Gitu ya. Maafkan saya, saya tidak tahu" Wanita muda itu langsung melangkah lebar kembali ke tempat duduknya dengan perasaan bersalah.


Hana langsung memapah Ares menuju ke kamarnya. Kamar itu dipakai Hana untuk beristirahat dan tidur siang di jam istirahat.


Hana mengambil kandang berisi kucing Spinx dan menyerahkannya ke Susan, "Tolong jaga sebentar kucing ini! Dan katakan ke semua pasien kalau aku akan kembali sebentar lagi"


"Baik, Dok" Susan segera keluar dari dalam kamarnya Hana sambil menenteng kandang berisi kucing Spinx.


Hana lalu membantu Ares rebahan di kasurnya dan Ares terus mengulas senyum lebar melihat Hana tampak mengkhawatirkan dirinya.


Hana mengusap keringat di keningnya Ares dengan telapak tangannya dan Ares langsung menggenggam tangan itu. Hana mendelik dan menarik tangannya dengan berucap, "Mas, aku akan mengobati Mas, jadi tangannya harus dikondisikan, ya! Jangan usil!"


Ares tersenyum lebar dan berkata, "Kau tahu Hana, kau semakin cantik. Aku suka melihat kau memakai seragam dokter. Kau tampak seksi dan......."


Hana langsung menjejalkan Alat pemeriksa suhu badan di mulutnya Ares sambil berkata, "Diam atau akan aku suntik Mas dengan jarum yang sangat besar, mau?"


Ares menggelengkan kepala dengan termometer di mulutnya.


"37,7. Agak tinggi juga" Hana mengambil termometer dari mulutnya Ares dan ia mengecek alat itu dengan wajah mendekati wajahnya Ares.


Ares mengangkat kepala dan mencium pipinya Hana. Hana tersentak kaget dan langsung mendelik ke Ares.


"Apa? Aku ini bisa sukses menjadi pebisnis karena, aku selalu cepat dan sigap dalam mengambil tindakan dan......aduuuhhh!!! Hana!! Sakit, nih!!"


Hana menyuntik lengan atasnya Ares dengan kesal dan Ares langsung melotot ke Hana setelah ia mengaduh dengan sangat kencang.


"Makanya diam kalau diperiksa jangan cerewet!" Hana berucap sambil bangkit dan berputar badan.


"Kau mau ke mana?" Ares langsung memekik kencang melihat Jana melangkah pergi meninggalkannya


"Memeriksa pasienku. Tidurlah! Aku akan kembali lagi, nanti" Hana berucap tanpa menoleh ke belakang.


Dan Ares menggerakkan kedua kakinya dengan wajah riang gembira, "Ah! Senangnya Hana mengkhawatirkan diriku dan Hana merawatku. Oh, Astaga! Jantungku berdebar-debar lagi nih, dan aku suka!"