
Saat Nora menggelungkan kedua lengannya di leher kokohnya pria yang sudah menjadi pacarnya selama dua hari dan duduk di atas pahanya Pria itu, pria berkepala botak itu segera berucap, "Tunggu dulu! Apakah kamu serius ingin bermain Dominan dan Submissive denganku?"
Nora mengecup bibirnya Wintang beberapa kali lalu menganggukkan kepalanya dengan senyum ceria dan wajah serius.
Wintang lalu bertanya, "Apakah ada alat pengaman di sini?"
Nora menggangguk dengan rona merah di wajah karena, malu.
"Berarti, kamu pernah membawa seorang pria ke sini?" Wintang langsung menautkan alisnya dan memasang wajah kesal.
"Belum pernah" Nora menggelengkan kepala dan dengan masih menggelungkan kedua lengannya di leher kokohnya Wintang, ia berucap lagi, "Kamu yang pertama"
"Kenapa aku? Kenapa kau ijinkan aku untuk menjadi yang pertama melihat kamar spesial kamu ini dan akan menjadi pria pertama yang bermain dominan dan submissive di sini?" Wintang mengangkat kedua pergelangan tangannya yang sudah diborgol untuk ia gelungkan ke lehernya Nora dengan tautan erat di kedua alisnya.
"Karena, aku sangat menyukaimu. Kita memiliki banyak sekali kesamaan. Dan aku mengikuti kata hatiku, kalau kamu pantas menjadi yang pertama di dalam segala hal yang ada di hidupku" Nora kembali mengecup bibirnya Wintang beberapa kali.
"Apa orangtua kamu tahu soal kamar ini?" Wintang menempelkan keningnya ke keningnya Nora Laco.
Nora menggelengkan kepalanya.
"Kenapa kau membuat kamar ini?"
"Karena, aku mengikuti desakan kuat yang ada di hatiku untuk membuat kamar ini. Tapi, aku belum menemukan pria yang tepat untuk aku ajak bermain, sampai aku Kemuduan bertemu denganmu.
Wintang merasakan rasa aneh di dalam hatinya dan bertanya-tanya di dalam hatinya, apakah ini cinta? kenapa selalu terasa aneh rasa di hatiku setiap kali aku berada di dekatnya Nora?
Nora lalu menarik wajahnya lalu menarik lehernya Wintang. Di saat bibirnya menyentuh bibirnya Wintang, Wintang langsung merespons dengan memagut bibir atasnya Nora, menariknya pelan, lalu memagut bibir bawahnya Nora, menariknya pelan sembari merebahkan Nora secara perlahan di atas kasur.
Wintang masih bisa menggerakkan jari jemarinya dengan lincah di atas titik-titik sensitifnya Nora walaupun kedua pergelangan tangannya dalam kondisi terborgol.
Nora kemudian memutar posisi. Dia duduk di atas perutnya Wintang dan berkata, "Naikkan tangan kamu di atas kepala kamu dan jangan gerakkan tangan kamu apapun yang kamu rasakan nanti!"
Wintang mengangguk dengan senyum lebarnya sembari menaikkan kedua tangannya yang diborgol ke atas kepalanya.
Nora bergerak lincah, menarikan lidah, bibir, dan tangannya di setiap lekuk badannya Wintang sampai di titik sensitifnya Wintang. Nora menggerakkan kepalanya di sana dan Wintang mengerang tak berdaya karena, dia tidak diijinkan untuk menurunkan kedua tangannya yang diborgol.
Di saat Nora hendak menyatukan raganya dengan Wintang karena, dilihatnya Wintang sudah sangat siap, pria ganteng di bawah kungkungannya Nora itu segera menyemburkan peringatan, "Maafkan aku! Aku rasa kau perlu membuka borgol ini"
"Kenapa? Kau ingin berhenti bermain sampai di sini?" Wajah Nora tampak kecewa.
Nora tersenyum lalu mengambil kunci borgol dan membuka kunci borgol itu dan Wintang langsung membanting tubuhnya Nora di atas ranjang setelah ia mengambil alat pengaman dari laci di bawah nakas dan memakainya.
Wintang memberikan kenyamanan terlebih dahulu ke Nora dengan cara menciumi setiap sudut tubuhnya Nora lalu di saat ia melakukan penyatuan raga, Wintang menautkan alisnya dan menatap Nora, "Kamu nggak bohong, Sayang. Kamu benar-benar masih tersegel. Apa kamu yakin, untuk meneruskan permainan ini? Kalau kamu ingin aku berhenti, aku akan berhenti"
Nora menggelengkan kepalanya dan berkata dengan nada lemas karena, gairah telah mengurus habis tenaganya, lalu ia berucap, "Teruskan! Aku ingin kamu meneruskannya"
"Kamu yakin?" Wintang menatap Nora dengan serius.
Nora mengangguk lemah.
Wintang langsung memperdalam penyatuannya sambil berkata, "Tahan! Di awal akan terasa sedikit nyeri, tapi selanjutnya akan aman" Wintang yang lebih berpengalaman, bergerak pelan dan hati-hati demi menjaga Nora Laco.
Dan di saat itu, Wintang tidak memikirkan lagi misi balas dendam yang harus ia emban dan ekseskusi, dia tidak lagi memikirkan perasaan mamanya, dia tidak memikirkan perasaan wanita yang sudah berstatus istrinya. Wintang hanya memikirkan perasaannya Nora Laco. Dan di saat itu juga, Nora menjadi yang paling penting dan berarti bagi hidupnya.
Nora tidak sanggup memejamkan mata karena, sensasi penyatuan raga yang perdana baginya, sangat sayang untuk tidak dihayati dan dinikmati. Nora terus menatap langit-langit kamarnya dengan dada penuh rasa bahagia yang baru baginya. Dan Nora belum pernah menemukan rasa yang seperti itu sebelumnya.
Penyatuan raga yang kedua, mengambil jeda yang cukup panjang karena, Nora terus meringis kesakitan. Wintang terus mendekap dan menciumi wajah dan bibirnya Nora dengan berucap, "Aku akan menunggumu siap di ronde kedua dan kalau kamu memang nggak sanggup, kita sudahi saja"
Nora berkata, "Aku beruntung memiliki kekasih yang sangat pengertian seperti kamu, aku rasa, aku mencintaimu detik ini juga, Win"
Wintang mendekap erat tubuh polosnya Nora, menarik selimut dan berucap tanpa ia sadari, "Aku juga sangat mencintaimu detik ini juga. Sangat mencintaimu, Nora"
Kedua sejoli yang sudah mereguk manisnya madu penyatuan raga dan sudah mencicipi asyiknya permainan dominan dan submissive dengan orang yang tepat, jatuh ke alam mimpi secara bersamaan tanpa ronde kedua.
Wintang terbangun karena bunyi denting jam raksasa kuno yang ada di sudut Utara kamar oranye miliknya Nora dan menoleh ke jam itu untuk melihat jarum jam yang ditunjukkan oleh jam raksasa itu menunjuk ke angka berapa. Wintang tersentak kaget, "What?! Sudah jam tujuh?" Wintang langsung menoleh ke jendela dan melihat langit sudah berubah menjadi gelap sepekat jelaga
Wintang lalu menunduk dan menemukan Nora tidur lelap dengan beralaskan pergelangan tangannya. Wintang lalu merapikan rambutnya Nora dan berucap di dalam hatinya, mulai detik ini, aku akan melindungimu dari niat jahat mamaku. Kamu nggak akan aku biarkan menjadi korban perseteruan di antara papa kamu dan mamaku. Aku akan pasang badan untuk melindungimu, Nora. Karena, aku sangat mencintaimu.
Nora terbangun dan pandangan matanya bertubrukan dengan kedua bola matanya Wintang di saat ia mengangkat wajahnya. Nora tersenyum dan berkata, "Aku takut bangun, Mas"
Wintang tersentak kaget mendengar Nora memanggilnya, mas.
Nora terkekeh lirih dan berucap, "Kamu lebih tua dariku dan kita akan menikah, kan? Aku rasa, aku harus membiasakan diriku terlebih dahulu untuk memanggilmu, Mas"
Wintang tersenyum senang lalu mendekap erat tubuh polosnya Nora dengan berucap penuh dengan kesadaran, "Aku sangat mencintaimu"