
Ares bangun di pagi-pagi buta dan langsung menelepon Handoko untuk segera datang ke Kondominiumnya.
Dan lima menit berikutnya, Ares tersentak kaget saat ia mendengar pintu kamarnya diketuk dan suara Handoko menggema di luar, "Boleh saya masuk, Tuan?"
"Masuklah!" sahut Ares dari dalam kamarnya.
"Selamat pagi ,Tuan"
"Kamu naik jet apa pinjam pintu ajaibnya Doraemon, sih, Han? Kok bisa cepet banget nyampe sini?"
"Tuan, kemarin malam, kan, Anda menyuruh saya pulang ke sini setelah menemui Nyonya Macarena" Handoko berucap dengan menautkan alisnya dan menguap, "Maaf, Tuan. Saya menguap" karena ia masih sangat mengantuk.
"Oh! Begitu, ya? Sori Han, mimpiku semalam terlalu indah, jadi aku lupakan semuanya yang ada di alam nyata" Ares tersenyum lebar ke Handoko dengan santainya.
Walaupun menyebalkan sekali senyumannya itu, tapi aku bersyukur Tuan Ares sudah banyak berubah sejak ditinggal pergi Non Hana. Batin Handoko.
"Ada apa, Tuan? Kenapa Tuan memanggil saya, sepagi ini?" Tanya Handoko dengan wajah yang masih tampak mengantuk dan lelah.
"Kita cari hewan, yuk!"
"Cari hewan? Pagi-pagi begini?"
"Hmm" Ares menganggukkan kepalanya dengan entengnya.
"Tapi, Tuan, pet shop belum ada yang buka di jam setengah empat pagi"
"Ngapain ke pet shop?"
"Lho! Lha mau cari hewan ke mana kalau tidak ke pet shop, Tuan? Lagian untuk apa cari hewan, Tuan?"
"Untuk menemui Hana. Kamu sekarang ini banyak nanya, Han. Ish! Kalau menemui Hana, kan, harus bawa hewan. Kau tahu, kan, Hana adalah dokter hewan sekarang ini Dan kau tahu, kan, aku alergi sama semua binatang yang berbulu"
"Iya Tuan, saya tahu" Sahut Handoko dengan masih menautkan alisnya.
"Makanya kita jangan cari binatang berbulu dan nggak usah ke pet shop!" Ares berucap dengan wajah serius tapi bernada santai.
"Lalu? Tuan mau cari binatang yang seperti apa?"
"Laba-laba aja kalau gitu. Di gudang, kan, banyak. Ayok kita ke gudang! Kita tangkap satu laba-laba yang besar dan gemuk"
"Tuan, laba-laba tuh sehat terus nggak pernah sakit. Ngapain di bawa ke dokter hewan?" Sahut Handoko dengan helaan napas panjang dan gelengan kepala
"Lalu hewan apa yang tidak berbulu dan bisa kita dapatkan dengan cepat, Han? Aku sudah sangat merindukan Hana dan ingin segera melihat wajah cantiknya" Ares mulai bersedekap dan mengerucutkan bibirnya.
"Non Hana, kan, buka prakteknya jam sembilan pagi, kita bisa mampir ke pet shop dulu. Jam tujuh, udah ada pet shop yang buka, Tuan" Handoko mencoba menenangkan Ares yang tengah dimabuk asmara.
"Lalu kita mau beli hewan apa?" Tanya Ares.
"Yang tidak berbulu, ya?" tanya Handoko dengan kening berkerut saat ia mencoba untuk berpikir keras di jam kantuk beratnya.
Ares yang masih bersedekap langsung menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat.
"Bagaimana kalau ular yang tidak berbisa, Tuan? Seperti piton kecil?"
"Hiihhhh! Kau gila, ya, Han?!" Ares langsung bergidik ngeri, "Aku, kan, takut sama ular. Kalau sama kalajengking, aku malah nggak takut. Aku pernah memelihara kalajengking waktu masih tinggal di panti asuhan. Gimana kalau kita cari kalajengking aja"
Handoko mulai memijit pelipisnya sambil berucap "Astaga, Tuan! Kalau kalajengking bukan hewannya yang butuh diobati tapi Tuan yang butuh diobati, nanti" Sahut Handoko. "Lagian Tuan, apa Tuan mau, Non Hana kena gigitan kalajengking dan kesakitan lalu masuk rumah sakit?"
Ares langsung menggelengkan kepalanya dengan sangat cepat dengan berkata, "Nggak! Aku nggak ingin Hana kenapa-kenapa. Lalu hewan apa yang harus aku bawa?"
"Emm, Bunglon aja atau Iguana?"
"Ngawur kamu! Hewan itu matanya besar dan melotot. Aku nggak suka ada hewan yang berani melototin aku, cih!"
Handoko kembali menghela napas panjang laku berucap, "Kita beli kucing yang tidak berbulu aja, Tuan. Ada kok kucing yang tidak berbulu"
"Benarkah? Wah! Kau memang pinter, Han. Ya sudah, kembali lah ke kamar kamu dan temui aku di ruang tamu jam enam, nanti!"
Handoko lalu menelepon Wulan sambil berjalan menuju ke kamarnya, "Halo, Lan, Maaf ya, kita nggak bisa sarapan bareng hari ini"
Handoko dan Wulan akhirnya jadian seminggu setelah Ares berpisah dengan Hana, namun Handoko dan Wulan menyembunyikan hubungan mereka demi untuk menjaga perasaannya Ares Laco.
"Yeeaaahh! Oke!" Wulan menyahut dengan nada kesal.
"Kau kesal?" tanya Handoko.
"Menurutmu?"
Handoko kembali memijit keningnya dan berkata, "Aku akan menggantinya dengan kencan selama seminggu. Aku akan ajukan cuti seminggu setelah........"
"Setelah apa? Setelah terus dan setelah terus" Klik! Wulan langsung menutup ponselnya.
Handoko menghela napas panjang, merebahkan diri di kasur sambil bergumam, "Entah apa salah dan dosaku terjebak di antara dua orang yang ruwet. Yang satu tuan besarku dan yang satunya lagi cewekku. Hadeeehh!"
Ares dan Handoko berada di pet shop dan Ares menatap satu per satu jenis ras kucing yang tidak memiliki bulu yang ternyata beragam jenisnya. Pemilik pet shop mulai menerangkan satu per satu jenis kucing tidak berbulu koleksinya ke Ares, "Ada jenis Donskoy. Kebetulan yang saya punya, cowok semua. Kucing Donskoy merupakan jenis kucing yang tak berbulu dan berotot. Mereka punya karakter cerdas sehingga mudah dilatih. Kucing ini bisa menjadi pilihan Anda untuk dipelihara, khususnya bagi yang memiliki alergi bulu. Untuk seekornya, kucing ras tanpa bulu ini dibanderol mulai dari lima belas hingga tiga puluh juta rupiah, Tuan"
"No! Big No! Jangan yang itu! Aku nggak mau ada makhluk jantan yang berotot dan cerdas ada di depannya Hana. Big No!" Ares langsung menautkan alis dan mengerucutkan bibirnya.
Pemilik pet shop menautkan alisnya dan Handoko langsung membuka suara, "Jangan banyak tanya! Lanjutkan aja ke jenis kucing yang berikutnya!"
Pemilik pet shop lalu berdiri di depan sebuah kandang dan berkata, "Ada jenis Peterbald. Saya hanya punya yang cowok juga untuk jenis yang ini. Peterbald adalah jenis kucing ras campuran hasil persilangan Sphynx dan Oriental Short hair. Kucing asli Rusia ini memiliki karakter setia dan penyayang lalu ........"
"No! Wah! Nggak akan kubiarkan cowok lain yang bertipe penyayang dan setia menemui Hana. Tzk! Kau ingin mencobai kesabaranku, ya?" Ares mulai mengeluarkan taringnya.
Pemilik pet shop semakin menautkan alisnya di depan Area dan Handoko langsung terkekeh dengan wajah kesal dan langsung mengajak pemilik pet shop untuk menjauhi Ares sambil berkata, "Tuan Ares memang unik dan jangan memancing emosinya! Tuan Ares mencari kucing yang tidak berbulu, tidak berotot, tidak setia dan penyayang, adakah?"
"Oh! Ada. Jenis Spinx. Dia kucing yang egois, manja, tapi cerdas dan ......."
Handoko langsung bilang, "Ssssttt!" Sambil menaruh jari telunjuknya di bibirnya, "Jangan katakan karakter kucingnya. Ambilkan kucing Spinx aja yang cewek jangan yang cowok. Ada, kan?"
"Kalau jenis Spinx memang saya punyanya cewek semua karena memang untuk disilangkan nanti dan......."
Handoko langsung berkata, "Jangan banyak ngomong lagi! Cepat ambilkan satu kucing Spinx dan masukkan ke dalam kandang yang paling bagus! Dan kalau bisa, pilihkan yang agak-agak flu"
"Hah!? Kucing saya semuanya sehat, Tuan"
"Pokoknya pilihkan yang agak nggak sehat, kamu pasti tahu mana kucing yang agak nggak sehat"
Pemilik pet shop hanya bisa menghela napas panjang dan berkata, "Baik, Tuan"
Ares memilih menunggu di mobil karena, kesal.
"Totalnya tiga puluh lima juta rupiah plus kandangnya"
Handoko langsung membayarnya dan membawa kandang terkeren dan termahal dengan kucing betina berjenis Spinx di dalamnya.
Handoko meletakkan kandang berisi kucing tanpa buku berwarna abu-abu di jok belakang dan Ares langsung menoleh ke belakang, "Kucing itu cewek apa cowok?"
"Cewek, Tuan" Sahut Handoko.
"Dia sakit kan, Han?"
"Agak nggak sehat kondisinya" Sahut Handoko
"Baguslah. Dia cewek dan wajahnya mengerikan dan sakit-sakitan, jadi aman"
"Kenapa aman, Tuan?" Handoko bertanya sembari mulai melajukan mobil menuju ke kliniknya Hana.
"Iya aman. Hana nggak bakalan cemburu karena, kucing itu memiliki wajah yang mengerikan dan sakit-sakitan" Sahut Ares dengan entengnya dan Handoko kembali menghela napas panjangnya.
"Injak gas, Han! Aku ingin segera ketemu dengan pujaan hatiku" Ares berucap dengan entengnya di jam sibuk di mana jalanan mulai ruwet dan ramai.