A Dominant

A Dominant
Andai



Beberapa menit kemudian, Handoko masuk ke dalam ruang kerjanya Ares lalu meletakkan dua paper bag di atas sofa dengan kata, "Ini pesanan Anda, Tuan"


"Hmm" Sahut Ares tanpa mengangkat wajahnya dari berkas-berkas yang ada di atas mejanya.


"Ini sudah jam empat sore, Tuan. Jam enam sore, Anda ada rapat dengan Presdir Graha Buana, Tuan Leonard Buana"


Ares mengangkat wajahnya, "Aku nggak mau rapat dengan Leon hari ini. Mundurkan jadwalnya! Aku lelah banget hari ini, Han. Hari ini aku bekerja seribu kali lebih berat dari biasanya"


Handoko mengernyit dan berkata di dalam hatinya, bekerja seribu kali lebih berat apanya? Wong Anda sedari tadi cuma ngomel, makan siang, terus bermesraan dengan Istri Anda.


"Lagipula, kau ada kencan dengan sekretarisku, kan? Siapa namanya?" Tambah Ares dengan santainya.


Ares yang tidak pernah menyukai kaum Hawa karena, rasa kecewanya yang sangat besar kepada almarhum Mama kandungnya di masa lalu, membuat Ares selalu lupa nama wanita yang ada di sekitarnya kecuali nama Elizabeth, Nancy Laco, Macarena dan daftar nama wanita baru yang tidak atau belum ia lupakan dan semoga tidak akan pernah ia lupakan adalah, nama Hana Prakas. Bahkan Ares tidak bisa mengingat satu pun nama puluhan wanita yang pernah menjadi submissive-nya.


"Wulan, Tuan" Sahut Handoko dengan kerutan di keningnya


"Ah! Kamu harus berkencan dengannya agar itu tuh" Ares mengarahkan jari telunjuknya ke wajah Handoko, "Kerutan di kening kamu itu hilang. Kalau kau sering kayak gitu, kau akan cepat tua, Han"


"Ah! itu, bukan seperti yang Anda........"


"Kau harus ajak sekretarisku ke tempat yang spesial Han! Dan kau harus pilih salah satu" Ares langsung memotong ucapannya Handoko dengan seenaknya.


"Pilih salah satu?"


"Iya! Kau harus pilih salah satu, wanita yang selalu duduk di depan pintu kerjaku atau wanita yang ada di ruang kerja kamu saat ini. Wah! Han! Kau seorang Cassanova ternyata. What a big surprise! Aku suka!" Ares mengacungkan ibu jarinya ke Handoko.


"Wanita yang ada di ruang kerja saya? Maksud Anda, Mirna pengawalnya Non Hana?"


"Hmm! Pergilah sekarang dan buat pilihan sekarang juga! Jangan suka permainkan wanita, Han!"


Handoko lalu berputar badan untuk melangkah keluar dari dalam ruang kerjanya Ares dengan wajah kesal karena ia tidak bisa memberikan penjelasan ke tuan besarnya. Handoko berjalan keluar sambil berkata di dalam hatinya, Siapa sih yang sebenarnya suka mempermainkan wanita? Ah! Pusing aku memikirkan Tuan Ares Laco.


Ares lalu bangkit dan membawa dua paper bag ke belakang tembok untuk duduk di tepi ranjang.


Ares memandangi wajah Hana, "Dia menggemaskan sekali saat tidur. Kenapa aku baru bertemu denganmu? Kenapa nggak dari dulu? Andaikan aku bertemu denganmu dari dulu, aku nggak akan terjerat A Dominant yang bernama Macarena" Gumam Ares sambil terus melihat wajahnya Hana.


Hana menguap, merentangkan kedua tangannya ke atas sampai selimut yang menutupi tubuhnya yang masih polos, melorot ke bawah sedikit dan membuat Ares langsung memalingkan wajahnya. Ares tidak ingin gairahnya timbul kembali karena, dia tidak ingin membuat Hana kelelahan dan Hana kesulitan untuk berjalan.


Hana membuka kedua matanya dan langsung menarik selimutnya ke atas dan segera ia lilitkan selimut itu di tubuh rampingnya. Gadis yang memiliki wajah cantik alami tanpa riasan wajah itu, kemudian menoleh dan memanggil Ares, "Mas, Kenapa duduk di situ?"


"Ah! Ini baju ganti untuk kamu dan mandilah!" Ares memberikan paper bag ke Hana tanpa menoleh ke belakang.


Hana menerima paper bag tersebut sambil bertanya, "Mas, marah?"


Ares menggelengkan kepalanya dengan masih memunggungi Hana.


"Kenapa Mas nggak mau menatapku?"


"Karena, aku nggak mau tergoda lagi dengan tubuh indah dan wajah imut kamu. Kalau aku tergoda dan melahapmu lagi, aku takut kamu tidak akan bisa berjalan selama seminggu"


Hana langsung pucat wajahnya mendengar ucapannya Ares itu dan ia langsung bangkit untuk berlari ke kamar mandi, tak lupa membawa paper bag pemberiannya Ares.


Ares terkekeh geli lalu ia merebahkan diri di atas kasur, menunggu Hana keluar dari dalam kamar mandi.


Bebeapa menit kemudian Hana keluar dan tampak sangat segar mengenakan dress berwarna hitam dengan panjang selutut dan bermotif kuncup bunga melati. Ares langsung menegakkan badannya untuk berucap, "Kau sangat cantik, Hana"


Hana langsung menundukkan wajahnya karena malu Lalu istri imutnya Ares Laco itu bertanya, "Mas tidak mandi? A.....apa ingin aku bantu mandi, Mas? Salah satu tugas Istri kan, membantu suaminya mandi?"


Hana menatap punggungnya Ares dengan bergumam, "Kenapa ia tidak suka disentuh dadanya? Ada apa, ya?" Hana lalu memukul pelan keningnya sambil berkata, "Kenapa aku selalu menutup mata dan tidak pernah memperhatikan dadanya Mas Ares selama ini? Ah! Bodohnya kau, Hana! Mulai besok, aku akan perhatikan dadanya Mas Ares" Hana lalu melangkah ke depan dan duduk di sofa sembari menyisir rambutnya dengan sisir rambut mungil yang selalu ia bawa.


Ares yang sudah segar dan tampak tampan dengan setelan kaos bermerk berwarna cokelat susu dipadukan dengan celana pendek jins bermerk, melompati sofa untuk duduk di sebelahnya Hana sambil berucap, "Tolong sisir rambutku" Ares menundukkan kepalanya di depan Hana.


Hana tersenyum lebar lalu dengan penuh kelembutan ia menyisir rambut suaminya.


"Nah! Udah tampan" sahut Hana.


Ares terus menatap wajah Hana.


Hana memasukkan kembali sisirnya ke dalam tas sambil bertanya, "Ada apa, Mas? Ada yang aneh di wajahku?"


"Apa kamu merasakan rasa yang aneh di hati kamu bebeapa hari ini? Emm, saat kamu bersama denganku seperti ini? Atau saat kita berjauhan?"


"Berjauhan?" Hana menautkan alisnya.


"Maksudku saat kau kuliah dan aku kerja. Kita berjauhan, kan?"


"Oh itu! Aku pikir berjauhan karena pergi ke mana gitu, mas. Emm, merasakan apa memangnya?" Hana masih menautkan alisnya.


"Entahlah. Rasa aneh yang......Entahlah aku nggak bisa menggambarkannya karena, rasanya sangat......aneh!" Ares meninggikan nada suaranya di kata, aneh.


Hana diam beberapa detik lamanya, lalu ia menggelengkan kepalanya. Tanpa sadar, Ares ikutan menggelengkan kepalanya dan wajah tampannya Ares langsung melemas dan kecewa.


"Aku tidak merasakan rasa yang aneh, Mas. Memangnya Mas merasakan rasa aneh itu?" tanya Hana dengan kerutan di keningnya.


Ares memerah wajahnya tanpa sebab yang jelas. Lalu sambil bangkit ia berkata, "Lupakan saja! Aku juga asal nanya" Ares melangkah menjauhi Hana menuju ke meja kerjanya untuk menutupi rasa aneh yang kembali muncul di dalam hatinya.


Ares duduk di atas meja kerjanya dan untuk mengabaikan tatapan penuh tanya dari Hana, ia memencet intern phone-nya untuk meminta Handoko masuk ke ruang kerjanya untuk menanyakan perihal rapatnya dengan Presdir Graha Buana.


Beberapa menit kemudian, Handoko masuk ke dalam ruang kerjanya Ares dan berkata, "Tuan, Tuan Leonard Buana, menuju kemari"


Ares langsung bangkit dan panik. Dia langsung menoleh ke Hana.


"Ada apa? Siapa Leonard Buana, Mas? Kenapa Mas, tiba-tiba sepanik itu?" tanya Hana.


"Leon itu seorang Cassanova, Don Juan kelas kakap dan sangat tampan, aku tidak ingin Leon melihatmu"


"Tapi kenapa?" Tanya Handoko dan Hana secara bersamaan.


"Aku tidak ingin Leon melihat Hana dan......."


"Dan apa?" Pintu ruang kerjanya Ares terbuka dan seorang laki-laki tampan melangkah masuk dengan langkah santai dan senyum ramah.


Leonard Buana



Ares tersentak kaget dan langsung memutari mejanya dengan cepat untuk merangkul bahunya Hana.


Hana tersentak kaget melihat laki-laki tampan yang berdiri di depan pintu.


Laki-laki tampan itu langsung memekik kegirangan saat ia bersitatap dengan Hana, "Ah! Gadis nasi uduk! Kamu sekarang bekerja di sini ternyata. Pantes aja aku ke pasar beberapa kali tidak bertemu denganmu"


Ares langsung mencengkeram bahunya Hana dengan tanpa sadar dan menggertakkan gerahamnya melihat laki-laki lain menyapa Isttrinya dengan sangat akrab.