A Dominant

A Dominant
Gantungan Tas Couple



Ares menghisap jari jemari tangan kanannya Hana satu per satu dan Hana tertegun melihatnya.


"Nah! Tangan kamu udah bersih. Tinggal dilap pakai tissue" Ares lalu mengelap satu per satu jari jemari di tangan kanannya Hana memakai tissue dengan penuh rasa.


"Kenapa Mas mencuci jari jemariku dengan mulutnya Mas? Apa nggak ada tempat untuk mencuci tangan di sini?" Hana celingukkan.


Ares langsung menangkup wajah imutnya Hana sambil berucap, "Ada, di sana tuh"


Hana hendak bangkit dan Ares langsung menahannya, "Sudah bersih kan jari jemari kamu. Cuci tangannya nanti aja. Aku masih ingin duduk berdua dan mengobrol denganmu dulu"


Hana menghela napas panjang lalu berkata, " Baiklah, Mas" sembari mengambil paper cup besar berisi jus mangga untuk ia minum dan Ares langsung menarik tangannya Hana sebelum bibir paper cup yang terbuat dari kertas sekali pakai itu, sampai ke mulutnya Hana.


Ares menyesap isi paper cup besar yang ada di dalam genggaman tangannya Hana dan Hana langsung menyemburkan protes, "Kok Mas duluan sih yang minum?"


"Ah! Habisnya paper cup kita kok beda warna dan jenis? Makanya aku penasaran apa isi cup kamu. Ternyata jus mangga, ya? Kamu suka sama mangga?"


Hana menatap jus mangganya sambil menganggukkan kepalanya dan berkata, "Kita sama aja berciuman kalau aku minum ini setelah Mas menempelkan bibir Mas di paper cup ini"


"Kita berciuman langsung aja kalau gitu" Ares memajukan bibirnya dan langsung terhalangi paper cup berisi jus mangga yang Hana tempelkan di bibirnya Hana dengan sangat cepat.


Ares merengut karena ia gagal memagut bibirnya Hana dan Hana langsung tergelak geli.


Ares melihat Hana dan berucap, "Kamu seribu kali lebih cantik kalau kamu tertawa lepas seperti itu"


Hana merah wajahnya karena malu dan berucap, "Terima kasih atas pujiannya, Mas. Lalu Mas sukanya buah apa?"


"Apel dan anggur. Selain apel dan anggur aku sih doyan, tapi males makan dan nggak suka" sahut Ares.


"Kenapa Mas?" tanya Hana.


"Karena dulu, Mama kandungku sering dikasih sama pelanggannya buah-buahan seperti salak, jeruk, mangga, pisang dan aku diharuskan menghabiskannya. Itulah kenapa aku muak dengan buah-buahan itu"


"Tapi, tadi, Mas, tampak baik-baik saja menyesap jus mangga ini?" tanya Hana.


"Karena buah mangga adalah buah kesukaan kamu maka, mulai detik ini aku tambah buah mangga masuk ke dalam list buah kesukaanku"


Ares lalu tersenyum lebar ke Hana.


"Mas nggak kerja?" tanya Hana.


"Masih jam dua belas. Jam istirahat makan siang kan berakhir jam dua"


"Masak sih Mas? Setahu Hana, jam istirahat makan siang berkahir jam satu"


"Itu kalau orang lain. Kalau aku beda dong. Aku kan yang punya perusahaan ini" Sahut Ares sambil menyesap paper cupnya yang berisi es kopi kental tanpa krim.


Ares lalu menyodorkan paper cupnya ke Hana, "Kau mau cicipi juga punyaku?"


Hana menggelengkan kepalanya, "Aku nggak bisa minum kopi, Mas. Nggak suka dan kalau minum kopi, perutku pasti mulas"


"Oh! Lalu apalagi yang tidak kamu sukai?"


"Aku tidak menyukai cowok yang merokok. Aku alergi sama asap rokok, Mas. Mas, nggak merokok, kan? Aku belum pernah melihat Mas merokok sejak kita menikah"


"Lalu apalagi?" Tanya Ares. "Kita sedang belajar mengenal cinta kan? Jadi, kita perlu tahu kesukaan kita dan perlu tahu hal-hal yang tidak kita sukai"


"Selain itu, aku benci kebohongan"


"Aku nggak pernah berbohong. Seumur hidupku, aku nggak pernah berbohong" Sahut Ares dengan sangat cepat dan Hana langsung tersenyum lebar, "Iya. Mas memang selalu blak-blakan dan jujur"


"Kalau Mas? Apa yang Mas benci?'


"Aku masih membenci kaum Hawa kecuali, kamu, Mama, dan adik angkatku dan aku benci keterlambatan, aku benci ketidakdisiplinan, aku benci melihat orang tidak sportif, aku benci rumah kotor, aku benci petir......." Ares menghentikan kalimatnya saat ia melihat Hana menautkan alisnya, "Kenapa?"


"Banyak banget yang Mas benci"


"Itu karena, aku bukan orang baik, Hana" Sahut Ares dengan mata sendu.


"Bagiku, Mas yang sekarang ini adalah orang yang baik" Sahut Hana.


Ares tersenyum senang lalu ia mencium keningnya Hana.


"Lalu yang Mas sukai?"


"Aku suka apel, anggur dan baru aja suka sama mangga. Lalu, emm, aku suka ruangan yang rapi dan bersih, aku suka berolahraga, aku suka bermain di kamar ungu denganmu" Ares tersenyum penuh arti ke Hana


Hana langsung salah tingkah dan mengalihkan perhatian Ares dengan merogoh tasnya, lalu memberikan gantungan tas couple berbentuk aneh dan Ares langsung bertanya, "Apa ini? Kok aneh bentuknya?"


"Jeholornis. Jeholornis adalah salah satu jenis burung di jaman purba. Jaman Dinosaurus. Aku tadi beli pas ada pameran di kampus. Pameran makhluk purba" Sahut Hana.


Ares menatap gantungan tas itu dan berucap, "Kenapa kamu pilih burung jelek ini? Kenapa nggak pilih T-rex yang keren atau dinosaurus lainnya?"


"Karena aku suka aja bentuknya. Unik. Sama seperti hubungan kita, unik"


Ares masih memandangi gantungan tas berbentuk burung purba berjenis Jeholornis itu dengan kerutan di dahinya.


"Mas nggak suka? Kalau nggak suka, balikin ke aku! Biar nanti, aku kasih ke Mbak Mirna" Hana meraih gantungan tas dari tangannya Ares dan Ares langsung bangkit, mengambil tas kerjanya dan ia pasang gantungan tas itu di tas kerjanya.


Lalu ia melompati sofa dan duduk kembali di sebelahnya Hana. Ia merangkul Hana dan berucap, "Makasih ya, udah belikan aku gantungan tas dan kembaran sama kamu"


Hana tersenyum dan berucap, "Sama-sama, Mas"


"Gantungan itu bisa nyala kalau di kegelapan, Mas dan kalau dinyalakan sistem alarmnya, bisa.mengeluarkan bunyi yang sama persis dengan bunyi burung Jeholornis. Mas nggak ingin lihat?"


"Ah! Nggak usah" sahut Ares dengan cepat karena, di benak Ares, ia membayangkan wajah burung Jeholornis di kegelapan dengan mengeluarkan suara, dan pastinya akan terlihat aneh dan menyeramkan.


Selera Istriku memang unik. Tapi, aku suka. Batin Ares.


Berada di pelukan hangatnya Ares di dalam ruangan ber-AC, membuat Hana ketiduran dalam hitungan detik. Ares terkekeh geli melihat Hana ketiduran. Ares mencium pucuk kepalanya Hana dan sambil membopong Hana ia bergumam, "Bisa-bisanya dia tidur di saat suaminya masih ingin ngobrol panjang lebar dengannya. Istriku memang unik"


Ares lalu merebahkan Hana di atas ranjang yang ada di belakang tembok meja kerjanya.


Meja kerjanya Ares dan ranjang mewah itu terpisahkan tembok yang cukup tebal.


Ares lalu melepas sepatunya Hana, menyelimuti Hana, lalu ia mencium keningnya Hana dengan kata, "Selamat tidur Istriku"