A Dominant

A Dominant
Kenyataan Mengejutkan



Setelah selesai membersihkan diri, Wintang mengunjungi Adam Baron, pengacara terkenal yang dia kenal saat pengacara tersebut merayakan keberhasilan kasusnya bersama timnya, di kelab malam milik mamanya. Wintang ingin berdiskusi soal perceraiannya dengan Jenar Ayu yang belum terdaftar secara hukum.


Adam Baron mengajak Wintang Devoss ketemuan di sebuah restoran. Wintang datang ke restoran tersebut dan langsung berkenalan dengan Istri dan putra tunggalnya Adam Baron. "Silakan duduk! Maaf saya ajak Anda ke sini. Pikir saya, sekalian saya makan malam dengan keluarga kecil saya dan Istri saya kebetulan ngidam makan udang goreng di restoran ini"


Alba tersenyum ke Wintang, lalu ia berkata, "Saya akan pindah meja dengan putra saya, agar Anda bisa mengobrol dengan suami saya secara santai"


Wintang tersenyum, mengangguk, lalu mengucapkan kata terima kasih ke istri manisnya Adam Baron yang tengah hamil muda.


"Saya antarkan Istri dan anak saya ke meja sana dulu sebentar ya?" Adam bangkit lalu menggendong Noah, putranya, dan memeluk pinggangnya Alba, istrinya.


Wintang tersenyum sambil bangkit dan menganggukkan kepalanya. Bola matanya Wintang mengikuti langkahnya Adam Baron dan dia langsung bergumam di dalam hatinya, Semoga aku dan Nora Laco, nanti, bisa memiliki keluarga yang bahagia seperti keluarganya Pak Adam Baron. Amin.


Setelah mencium pucuk kepala istri dan putranya, Adam Baron kembali ke meja di mana Wintang Devoss tengah menunggunya. "Maafkan, saya. Saya hanya ingin memastikan kalau Istri dan anak saya nyaman dan tidak jauh dari pandangannya saya, duduknya"


Wintang tersenyum, lalu berkat, "Saya yang justru berterima kasih pada Anda. Pengacara sehebat dan setenar Anda, bersedia bertemu dengan saya hanya untuk membahas soal perceraian"


"Bagaimana permasalahan Anda?" Tanya Adam kemudian.


"Saya dipaksa menikah dengan Mama saya. Saya tidak pernah mencintainya. Saya tidak pernah menyentuh Jenar Ayu, wanita yang menikah dengan saya selama tiga bulan ini dan untuk itu, saya ingin menceraikannya. Apakah bisa cepat prosesnya? Pernikahan saya dan Jenar baru dilakukan secara agama dan belum kami daftarkan secara hukum"


"Anda cukup membawa surat nikah asli, fotokopi KTP Anda berdua, surat keterangan kelurahan, meterai, Kartu Keluarga dan saya akan memprosesnya. Dalam seminggu surat pembatalan pernikahan Anda sudah keluar" Sahut Adam Baron.


Wintang menyesap kopi pesanannya yang sudah datang, lalu berkata, "Saya sudah siapkan semua dokumennya" Wintang memang sudah menyiapkan semuanya sedari awal,.karena memang ia selalu menunggu saat yang tepat untuk bisa menceraikan Jenar Ayu.


Adam menerima map dari Wintang dan setelah memeriksa isi map itu, Adam tersenyum dan sambil memasukkan map tersebut ke dalam tas kerjanya, ia berucap, "Saya akan segera memprosesnya, besok dan seminggu lagi, surat pembatalan pernikahan Anda sudah bisa Anda terima"


"Nggak bisa lebih cepat lagi Pak?" tanya Wintang.


"Saya akan coba percepat. Tapi, seminggu itu sudah waktu yang paling cepat" Sahut Adam Baron.


Wintang tersenyum lalu bertanya, "Berapa biayanya?"


"Setelah surat pembatalan pernikahan Anda sudah ada di tangan Anda, saya akan katakan total biayanya" Sahut Adam Baron.


Wintang lalu bangkit dan menyalami Adam Beron, "Terima kasih banyak, Pak Adam Baron. Kalau begitu saya pamit pulang. Salam buat Istri dan putra tampan Anda"


"Hati-hati di jalan" Sahut Adam Baron sambil tersenyum ramah ke Wintang Devoss.


Mamanya Wintang pulang ke rumah dan menautkan alisnya saat ia melihat ada tangan merah di lehernya Jenar, "Kenapa leher kamu merah seperti itu?"


Jenar langsung menutup lehernya dan berkata, "Oh, tadi pas masak, ada semut yang menggigit lehernya Jenar"


"Oh" Sahut mamanya Wintang sambil bangkit lalu melangkah pergi ke kamarnya.


Setelah penyatuan raga yang liar dan ganas dengan Hana, Are mengajak Hana dan Nora berkumpul di ruang makan dan sebelum makan malam dimulai, Ares membuka suara, "Wintang Devoss adalah putra dari Amara Devoss. Wanita itu memiliki akar kepahitan denganku. Aku banyak melakukan kesalahan pada wanita itu tanpa aku sengaja. Aku takut Wintang mendekati kamu karena, ada maksud terselubung dan aku takut kalau kamu dipakai sebagai alat balas dendam wanita itu. Jangan temui Wintang lagi, sebelum Papa menemui wanita itu dan membereskan masalah yang ada di antara Papa dan wanita itu"


Hana langsung menoleh ke Ares dengan wajah kaget dan panik, lalu ia menoleh ke Nora, "Kalau itu kenyataannya. Mama juga melarang kamu bertemu lagi dengan Wintang Devoss. Jangan temui anak itu sebelum masalah Papa kamu dan Mamanya Wintang, kelar"


Nora menjadi ragu akan Wintang, karena dia memang anak yang selalu memercayai kedua orangtuanya lebih dari siapapun di dunia ini. Nora menjadi takut jika Wintang ternyata benar seperti yang dikatakan oleh Papanya, Wintang mendekati dia,.karena ada maksud terselubung.


"Nora? Kenapa malah bengong?" Hana menautkan alisnya ke Nora.


Nora langsung berkata, "Aku akan menghindari Wintang sebelum masalah Papa dan Mamanya Wintang kelar"


"Bagus. Papa tahu kamu anak yang cerdas dan akan mengambil keputusan yang tepat. Papa janji akan membereskan masalah Papa dan wanita itu besok"


Nora menganggukkan kepalanya dan tersenyum lesu, lalu ia bangkit dan berkata, "Aku masuk ke kamar dulu, Pa, Ma"


Ares dan Hana menganggukkan kepalanya ke Nora dengan senyum penuh cinta


Nora masuk ke dalam kamarnya dan rebahan di atas kasur mewahnya dengan lamunan. Dia takut kalau Wintang hanya mempermainkan dirinya saja padahal Nora sudah sangat mencintai Wintang Devoss.


Dering ponsel sebanyak tiga kali, menyentak Nora dari lamunannya, namun Nora biarkan saja. Dia tidak ada niat untuk menerima panggilan masuk di malam itu.


Ponselnya Kemabli berdering dan cukup lama, Akhirnya Nora meraih ponselnya ia letakkan di atas nakas dan dia terkejut mendapatkan nama Wintang di layar ponselnya.


"Gimana, nih? Aku terima nggak, ya, panggilan telepon dari Wintang ini? Kalau aku terima, aku akan semakin sakit hati kalau ternyata Wintang hanya ingin mempermainkan diriku" gumam Nora sambil terus menatap layar ponselnya yang masih menampilkan. nama Wintang dan masih bergetar di dalam genggaman tangannya dengan bunyi yang cukup terdengar mengganggu di kupingnya Nora Laco.


Akhirnya dering ponsel terhenti dan nama Wintang hilang dari layar ponselnya. Kemudian, ting! bunyi pesan text masuk ke da. ponselnya dan ia buka pesan itu. "Dari Wintang?" Nora menghela napas panjang kemudian membaca pesan texr itu dengan bersuara, "Aku sangat merindukan kamu. Besok kita ketemuan, ya?! Ada banyak hal yang ingin aku katakan ke kamu. Jangan pernah meragukan cintaku padamu. Cintaku padamu, itu tulus"


Nora bergeming di depan pesan text itu, namun tanpa sengaja jari jempolnya melakukan panggilan telepon ke ponselnya Wintang.


"Halo, Halo? Nora?" Suara Wintang terdengar di ponselnya Nora dan Nora masih bergeming.