A Dominant

A Dominant
Dia Istriku



Hana bisa bernapas lega karena, teman-teman kuliahnya lebih ramah dan baik kepadanya dibandingkan dengan teman-teman SMA-nya dulu. Dalam sekejap, Hana yang sebenarnya memiliki karakter yang mudah bergaul karena enak untuk diajak ngobrol dan murah senyum, Hana bisa mendapatkan banyak teman baru. Baik wanita maupun pria.


Toa besar yang tergantung di atas ruang kerjanya rektor Abdul, mendengungkan kata-kata ajakan atau lebih tepatnya kata yang memaksa yang ditujukan ke para mahasiswa dan mahasiswi untuk berkumpul di Balairung Utama untuk mendengarkan kata-kata penuh motivasi dari pemilik Graha Laco, Ares Laco.


Hana tersentak kaget mendengar Graha Laco dan nama Ares Laco dikumandangkan di udara.


Hana langsung ditarik tangannya oleh teman barunya yang bernama Sandra ke Balairung Utama. Sandra lebih tua tiga tahun dari Hana tapi, mereka berada di angkatan yang sama dan menyandang mahasiswi baru di kampus ternama itu.


Hana berlari kecil mengikuti Sandra karena Sandra terus mengandeng Hana sambil terus berharap di dalam hatinya, semoga kedatangan Ares Laco menjadi motivator di kampus tempat ia baru saja menapakkan kakinya.


Sandra mengajak Hana duduk di bangku paling depan dan saat Hana hendak bangkit untuk berpindah ke bangku paling belakang, tangan Sandra menahannya dengan kata, "Duduk di sini saja. Aku dengar Ares Laco itu pria yang sangat seksi dan tampan" Sandra tampak antusias menunggu kedatangannya Ares Laco, namun tidak demikian dengan Hana.


Hana berkali-kali menghela napas dan menyeka keringatnya karena terus terang ia merasa gugup bakalan bertemu dengan Ares Laco, suami yang baru menikahinya selama sehari, di kampus tempat ia menimba ilmu dan mencoba mengecap manisnya hidup bersosialisasi.


Dalam waktu singkat, semua mahasiswa dan mahasiswi, baik dari angkatan tua sampai mahasiswa dan mahasiswi baru memenuhi Balairung Utama.


Beberapa menit kemudian, Ares Laco dengan setelan kemeja warna biru muda, jas abu-abu dengan dasi yang berwarna senada dengan jasnya dan memakai celana berwarna cokelat tua, tampak gagah melangkah menuju ke podium Dan berdiri di mimbar kecil yang ada di tengah podium. Setelah mengetes mikrophone yang ada di depannya, dia memulai aksinya untuk membuat Hana yang ia lirik duduk di depan, bangga padanya dan tidak takut lagi padanya.


Ares Laco memperkenalkan dirinya, perusahaannya dan semua tentang dirinya. Semua itu ia tujukan untuk Hana Prakas seorang dengan tujuan, agar Hana lebih mengenali dirinya dan tidak menjaga jarak lagu dengannya. Namun, semua perkataannya Ares yang meluncur lewat mikrophone, justru membuat Hana menjadi semakin tidak percaya diri menjadi istrinya Ares Laco. Apalagi suara-suara wanita di sekitarnya yang terus menggumamkan ketertarikan mereka pada sosoknya Ares Laco yang memang sangat seksi, sangat cerdas, dan sangat tampan.


Hingga tibalah pada sesi tanya jawab. Ares mempersilakan para mahasiswa dan mahasiswi yang memenuhi Balairung Utama untuk mengajukan pertanyaan, apa saja, pada dirinya.


Ada yang menanyakan kenapa Ares berinvestasi di Afrika, ada yang menanyakan kenapa Ares tidak pernah menampakkan diri di depan publik tapi tiba-tiba hadir dan menjadi motivator di kampus mereka, ada yang menanyakan apa rahasia sukses Ares Laco di usianya yang masih dua puluh delapan tahun sudah memiliki perusahaan yang sangat besar dan berhasil menjadi konglomerat muda. Semua pertanyaan itu berhasil dijawab Ares Laco dengan sangat brilian.


Dan ada satu pertanyaan tidak terduga yang diajukan dari seorang mahasiswi yang sangat cantik dan seksi. Mahasiswi yang cantik dan seksi itu menanyakan, "Apa Anda pecinta lawan jenis Tuan Ares Laco?"


Hana terperangah mendengar pertanyaan itu.


Ares menatap Hana dengan tajam lalu menjawab pertanyaan itu, "Saya buka pencinta lawan jenis"


"Tapi, kenapa Anda tidak pernah terlihat berfoto dengan seorang wanita ataupun terlihat berkencan dengan seorang wanita?" tanya mahasiswi yang sangat cantik dan seksi itu.


Ares Laco masih menatap Hana dengan tajam lalu ia berkata, "Karena, saya telah memiliki Istri"


Mahasiswi cantik dan seksi yang sepertinya memiliki minat khusus pada Ares Laco itu melemparkan tanya kembali, "Anda bohong, kan? Kalau Anda memiliki seorang Istri, kenapa Anda tidak pernah mengajak Istri Anda?"


Ares terus menatap Hana dan itu membuat Hana merasa canggung dan menundukkan kepalanya. Ares menjawab pertanyaan mahasiswi itu, "Karena saya sibuk dan Istri saya masih kuliah jadi, jam kami selalu bertabrakan. Itulah kenapa, saya tidak pernah mengajak Istri saya ke manapun" Ares mengucapkan kalimat sepanjang itu, tanpa melepaskan pandangannya dari Hana Prakas.


"Kuliah? Apa saya boleh tahu, Istri Anda berkuliah di mana supaya kita semua di sini yakin Anda tidak berbohong dengan pernyataan Anda"


Ares masih menatap Hana lalu ia mengulas senyum penuh arti di wajah tampannya dan berkatalah dia, "Istri saya Ada di sini. Saya merindukannya dan itulah kenapa saya mencuri waktu di tengah kesibukkan saya untuk berbicara di sini karena, saya sebenarnya ingin terus bisa menatap wajah Istri saya"


Hana langsung mengangkat wajahnya dan menggelengkan kepalanya dengan keras ke Ares Laco. Dia berharap, Ares Laco tidak menyebutkan namanya.


Ares tersenyum lebar melihat gelengan kepalanya Hana lalu ia berucap, "Hana Prakas, silakan naik ke podium!"


Hana tersentak kaget. Sandra ikutan tersentak kaget dan menoleh ke Hana dengan menautkan alisnya.


"Hana Prakas, suami kamu tidak suka menunggu lama lho" ucap Ares kemudian.


Semua mata langsung tertuju ke Hana saat Hana bangkit dari tempat duduknya dengan ragu dan melangkah pelan menuju ke podium karena kakinya bergetar dengan sangat hebat.


Hana naik ke podium Dan berkali-kali hampir jatuh dan tanpa Hana duga, Ares berlari menghampirinya dan membopong tubuhnya Hana untuk dibawa naik ke podium.


Semua yang hadi di Balairung Utama terkejut melihat kemesraan yang ditunjukkan oleh Ares lalu berdengunglah suara mereka memenuhi Balairung Utama.


Ares lalu menurunkan Hana pelan-pelan di depan mimbar lalu ia memeluk pinggangnya Hana dan berucap di depan mikrophone, "Ini Istri saya. Manis sekali, bukan?" Ares berucap dengan wajah santai dan berseri-seri tanpa menghiraukan wajah Hana yang memerah karena malu.


Mahasiswi cantik dan seksi yang masih berdiri kembali mengajukan pertanyannya, "Apakah benar itu Istri Anda? mana buktinya?"


Ares menangkup wajah Hana dan mencium bibirnya Hana.


Semua yang hadir di Balairung Utama kembali mendengungkan suara mereka.


Ares lalu berucap di depan mikrophone, "Itu tadi bukti secara visual dan untuk bukti sahnya, Kalian semua bisa melihat di postingan Graha Laco yang terbaru, sekarang juga! Ada foto buku nikah Ares Laco dengan Hana Prakas"


Mahasiswi cantik dan seksi itu langsung duduk dengan wajah kecewa. Niatnya untuk menggaet Ares Laco, lenyap sudah.


Ares segera berbisik di telinganya Hana, "Jangan tundukkan wajahmu! Kau Istri Ares Laco" Ketika Ares melirik Hana dan Hana secara perlahan menundukkan wajahnya. Hana langsung menegakkan kembali wajahnya dengan cepat dan ia berharap bisa menghilang dari sana saat itu juga. Hana merasa sangat malu karena Ares tiba-tiba nekat mencium bibirnya di depan orang banyak. Gadis manis itu hanya bisa mengulas senyum kaku yang terpaksa untuk menutupi rasa malu dan canggungnya.


Setelah tidak ada pertanyaan lagi, Rektor Abdul mempersilakan para mahasiswa dan mahasiswi untuk kembali ke kelas mereka masing-masing.


Ares lalu mencium pelipisnya Hana melepaskan gelungan lengan kekarnya di pinggang Hana dengan berucap, "Selamat belajar. Aku akan kembali ke kantor" Ares berbalik badan meninggalkan Hana yang masih melongo.


Rektor Abdul lalu berkata ke Hana, "Saya akan mengantarkan Anda ke........"


Ares kembali lagi ke Hana dan mendelik ke Rektor Abdul, "Jangan pernah mengantarkan Istriku ke kelas dan jangan pernah mengajaknya berbicara!" Ares lalu menggenggam tangan Hana dan mengajak Hana pergi dari Balairung Utama sambil berucap, "Aku akan mengantar kamu ke kelas kamu"


Hana hanya bisa menghela napas panjang dan kembali mengikuti perintah dan kemauannya Ares dengan pasrah.