
kling,kling,kling, lonceng berbentuk kepala sapi nan imut itu berbunyi dan membuat Hana kembali mengangkat wajahnya dan beradu pandang dengan Handoko.
Handoko langsung menutup untuk masuk kliniknya Hana, melangkah lebar dan berdiri di depan meja prakteknya Hana, ia menundukkan kepalanya sambil berkata, "Non Hana, apa kabar?"
Hana menganggukkan kepalanya, tersenyum saat Handoko mengangkat wajah dan menatapnya dengan senyum lalu Hana berkata, "Saya baik-baik saja, Pak Han" Hana kemudian melanjutkan memberikan suntikan ke seekor iguana besar dan berkata kepada remaja pria sang pemilik iguana besar itu, "Sudah selesai. Igo akan sehat kembali setelah ini"
"Terima kasih banyak, Dok" Sahut pemuda itu sembari memasukkan iguananya yang ia beri nama Igo ke dalam kandang. Lalu ia pamit ke Hana dan melangkah ke mejanya Susan untuk melakukan pembayaran sekaligus mengambil obat untuk binatang kesayangannya. Iguana besar bernama Igo itu, adalah pasiennya Hana dengan nomer antrean tujuh dan merupakan pasien terakhirnya Hana tepat di jam istirahat makan siang.
"Ada apa, Pak Han?" Hana menatap Handoko kembali.
"Tuan Ares di mana, Non? Kok sudah setengah jam tidak keluar dari sini dan di sini kok nggak ada?"
"Mas Ares kena alergi. Mas Ares tidur di kamar saya"
"Oh! Kalau begitu, saya......."
"Anda tunggu saja di dalam sini, Pak Han. Nunggu di dalam mobil, kan, panas. Saya akan suruh Susan mengambilkan minum untuk Pak Han. Mau minuman panas atau dingin?" tanya Hana.
"Panas aja kalau ada, Non. Terima kasih" Sahut Handoko sambil duduk di depan meja kerjanya Hana yang letaknya tidak jauh dari meja prakteknya Hana.
"Kopi atau teh?" Tanya Hana.
"Kopi kalau ada. Terima kasih, Non" Sahut Handoko dengan senyum lebarnya.
Hana lalu melangkah menuju ke meja kerjanya Susan, "Tolong buatkan kopi hangat satu dan setelah ini, tolong belikan makan siang untuk kita. Emm, nasi goreng empat bungkus"
"Baik, Dok" Sahut Susan.
Setelah meletakkan satu cangkir kopi hangat di atas meja kerjanya Hana, Susan pamit untuk membeli makan siang.
Hana duduk di depannya Handoko dan bertanya, "Saya baru tahu kalau Mas Ares alergi bulu kucing. Pantas saja Mas Ares memelihara kucing Spinx yang tidak berbulu dan anehnya kenapa kucingnya dibawa ke sini kalau kucing itu baik-baik saja?"
Wah, penjual kucing itu kok ya kasih ke aku kucing yang sehat, sih. Padahal aku, kan, minta kucing yang agak sakit, tadi. Batin Handoko kesal.
Handoko lalu menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak terasa gatal lalu berkata, "Emm, kucing itu butuh vitamin. Dia malas makan kemarin" Handoko memberikan jawaban sekenanya.
"Iya. Saya udah kasih vitamin, tadi. Oh, iya nama kucingnya siapa?"
"Hana" Suara Ares terdengar menggelegar. Hana dan Handoko langsung menoleh ke sumber suara.
"Kok Mas seenaknya aja kasih nama kucing Mas, dengan namaku?" Hana menautkan alis dan mengerucutkan bibirnya ke Ares.
Ares duduk di sebelahnya Hana dan dengan santainya ia merangkul bahunya Hana dan berkata, "Karena aku merindukanmu. Semua yang ada di dekatku, aku kasih nama Hana"
Hana menepis tangannya Ares dari bahunya lalu menggeser letak duduknya.
Ares mengerutkan keningnya dan langsung bertanya, "Kenapa kau menjauh dariku?"
"Kita nggak ada hubungan apa-apa. Jadi, nggak baik kalau duduk berdekatan dan Mas, nggak boleh merangkulku seenaknya!" Sahut Hana dengan wajah dingin.
Handoko langsung menyesap kembali kopinya dan berpura-pura tidak melihat ataupun mendengar apapun.
"Hana, aku butuh bicara dengan kamu empat mata. Aku akan menjelaskan beberapa hal ke kamu dan............."
Bruk! Hana jatuh pingsan di bahunya Ares. Ares langsung memeluk Hana dan memegang pipinya Hana, "Astaga! Kenapa badannya panas banget, Han? Siapkan mobil! Kita harus bawa Hana ke rumah sakit sekarang juga!"
"Lalu kliniknya? Apa kita tunggu asistennya Non Hana balik dulu, Tuan?"
"Kamu tunggu di sini aja kalau gitu! Aku akan bawa Hana ke rumah sakit sekarang juga" Ares langsung membopong Hana dan berlari keluar lalu merebahkan Hana dengan pelan di jok mobil, memasangkan sabuk pengamannya Hana lalu berlari memutari mobilnya untuk segera masuk ke jok kemudi, memakai sabuk pengaman dan menginjak pedal gasnya menuju ke rumah sakit terdekat.
Sesampainya di UGD dia berpapasan dengan Nancy yang jadi Koas (Ko-asisten) dokter di sana, "Kau apakan lagi kak Hanaku?" Nancy mendelik dan berkacak pinggang di depannya Ares.
"Kenapa sekarang Hana lebih penting daripada aku? Aku, kan, kakak kamu?" Ares menatap Nancy dengan penuh tanda tanya.
"Oh! Ternyata Kak Hana belum bisa beradaptasi dengan benar di perubahan cuaca yang cukup ekstrem. Di Jepang, kan, musim dingin sekarang ini, sedangkan di sini musim panas" Nancy bergumam sembari menyiapkan troli obat dan di saat Nancy hendak mendorong troli itu menuju ke bilik nomer tujuh di mana Hana dibaringkan, Ares langsung mencekal lengannya Nancy, "Hana tinggal di Jepang selama ini?"
Nancy menarik lengannya dengan kasar lalu mendorong troli obat ke bilik nomer tujuh dan meninggalkan Ares begitu saja tanpa sebuah jawaban.
Ares mendengus kesal, "Sial! Kenapa Nancy sekarang ini juga ikutan ketus padaku" Ares berucap sembari melangkah pelan mengikuti Nancy. Ares menyibak tirai bilik nomer tujuh dan masuk ke dalamnya tepat di saat ia mendengar Hana mengigau, "Mas Ares, Kau jahat, Mas"
Ares mengernyit dan Nancy langsung menoleh ke Ares, "Kenapa Kak Ares masuk ke sini?"
"Aku suaminya" Sahut Ares dengan santainya.
"Mantan" Sahut Nancy sembari memeriksa tensi, suhu badan, dan saturasi oksigen ke Hana.
"Dia menyebutkan namaku. Dia merindukan aku, kan?"
"Kak Hana ngigau kalau Kak Ares jahat, kan, tadi. Jadi, nggak mungkin kalau Kak Hana merindukan Kak Ares.
"Ish! Kau masih kecil. Tahu apa kau soal cinta?" Sahur Ares.
"Cih! Bicara Kakak seolah Kakak tahu soal cinta. Yang Kakak tahu cuma mempermainkan perasaan wanita" Nancy melangkah keluar dari dalam bilik tersebut sambil mendorong troli obat untuk menyerahkan hasil pemeriksaannya atas Hana ke dokter jaga UGD yang bertugas di hari itu.
Ares langsung diam membisu dan di saat dokter masuk ke bikin tersebut, Ares tetap diijinkan berdiri di sana dan dokter berkata ke Ares, "Pasien ini ada hubungan apa dengan Anda, Tuan Ares?"
"Dia Istri saya. Selamanya adalah Istri saya" Sahut Ares dengan wajah bangga dan nada serius.
Dokter jga UGD tersenyum simpul lalu berkata, "Istri Anda hanya kelelahan dan sepertinya benar kata koas Nancy kalau Istri Anda belum bisa beradaptasi dengan benar dengan perbedaan cuaca yang sangat ekstrem. Saya akan resepkan vitamin saja, nanti dan setelah pasien sadarkan diri, Anda bisa........"
"Apa saya boleh membawanya sebelum ia sadarkan diri?" Ares lanagung memotong ucapan dokter jaga itu karena ia sangat ingin membawa Hana pulang ke rumahnya dan kalau Hana sadarkan diri, pasti Hana tidak akan mau ikut dia pulang ke rumahnya.
"Boleh saja dan........"
Ares langsung membopong Hana, "Antarkan saja obatnya ke alamat rumah saya, saya udah tuliskan alamat rumah saya di form pendaftaran pasien tadi dan soal biaya, saya juga udah deposit. Kembaliannya, kasih ke Nancy aja" Ares nyerocos tanpa henti sembari melangkah lebar dengan membopong Hana dan pergi begitu saja meninggalkan dokter jaga UGD yang masih termangu melihat tingkah anehnya Ares.
Nancy berlari ke dokter jaga UGD dan langsung bertanya, "Kakak saya mana, Dok?"
Dokter UGD yang masih menatap arah perginya Ares dengan terbengong-bengong, menoleh ke Nancy dengan terkejut, "Hah?! Apa?"
"Kakak saya, mana?"
"Oh, dibawa pulang sama Kak Ares kamu, barusan" Sahut dokter jaga UGD dan Nancy hanya bisa menghela napas panjang.
Ares membawa Hana ke rumahnya bukan ke Kondominiumnya. Dia merebahkan Hana dengan penuh kasih sayang di atas ranjang mewahnya bergaya klasik yang terbuat dari besi berkualitas tinggi dan anti karat.
Ares merapikan rambutnya Hana, melepas sepatunya Hana lalu ia mencubit dagunya untuk mempertimbangkan niat dia mengganti bajunya Hana lalu ia menggelengkan kepalanya, "Lebih baik nggak usah aku ganti aja bajunya. Nanti kalau aku ganti bajunya, dia akan salah paham lagi, nanti" Ares lalu mengatur suhu AC kamarnya dan menyelimuti Hana, "Selamat tidur, cintaku" Ares mengecup keningnya Hana lalu melangkah keluar dari dalam kamarnya dengan wajah ceria.
"Aku harus masak sendiri nih karena Evi dan Susi ada di kondominiumku. Emm, ada apa aja di dalam lemari es, ya" Ares membuka lemari esnya dan langsung menepuk jidatnya, "Astaga!Kenapa hanya ada botol air mineral di dalam sini? Ah! Sial!" Ares menutup kembali pintu lemari esnya lalu ia bergegas menelepon Susi dan menyuruh Susi berbelanja daging sapi, daging, ayam, beras, wortel, pokcoy, bawang merah, bawang putih, telur, dan menyuruh Susi mengantar semuanya itu ke rumahnya.
Ares menunggu kedatangan Susi di teras depan rumahnya dengan tidak sabar.
Satu jam berikutnya Susi datang dan Ares langsung berkata, ""Kembalilah ke kondominum lagi!"Ares berucap sembari merebut tas belanjaan yang dibawa oleh Susi.
"Anda akan memasak semuanya sendiri, Tuan?"
"Hmm" Ares langsung berputar badan, masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Susi begitu saja.
"Tuan, kan, nggak pernah masak dan nggak bisa masak?" Gumam Susi sambil berputar badan dan melangkah pergi dari rumahnya Ares.
Ares memasak sambil sesekali menoleh ke tablet pintarnya.. Dia memasak dengan panduan dari seorang Chef ternama lewat tablet pintarnya dan dalam waktu dua jam, Ares berhasil menanak nasi memakai rice cooker,memasak nasi goreng ayam, membuat omelet, membuat capcay, dan semur daging sapi.
Ares menata semua masakan hasil karyanya di atas meja makan dengan bangga dan dia kemudian duduk di depan meja makan menunggu Hana bangun.