
"Kita perlu membersihkan diri terus makan dan pulang. Ini sudah jam tuju lewat, Sayang" Wintang mengelus rambutnya Nora dan berkata di sana, "Aku suka wangi rambut kamu"
Nora membalas ucapannya Wintang dengan lirih, "Aku takut bangun. Ada bercak darah dan di area itu, masih terasa nyeri"
Wintang mencium pucuk kepalanya Nora lalu bangun untuk membopong Nora dan langsung membawa lari Nora ke kamar mandi.
Wintang menurunkan Nora di bawah shower. Tangan kirinya memeluk pinggang rampingnya Nora, dagu menempel di atas pundaknya Nora dan tangan kanannya ia pakai untuk memutar leran air di posisi tengah agar air hangat yang mengalir untuk Nora. Lalu, Wintang mengambil botol sabun, membuka tutup botol sabun dan menuangkan isi botol itu di atas pundak kanannya Nora. Dan dengan penuh kelembutan, Wintang mengusapkan sabun ke seluruh tubuhnya Nora.
Tanpa Wintang duga, Nora tiba-tiba berbalik badan dan menghadap ke Wintang dan langsung mengajak Wintang berciuman.
Wintang meladeni ciumannya Nora untuk beberapa detik lamanya lalu ia mendorong pelan tubuhnya Nora dengan bertanya, "Apa boleh kalau aku menginginkan lebih? Karena menyatu denganmu sekali saja, bagiku masih kurang"
Nora tersenyum penuh cinta lalu menganggukkan kepalanya.
Wintang memegang kedua bahunya Nora dan bertanya, "Apa kau yakin? Kau tidak takut sakit?"
Nora tersenyum dan berkata, "Aku percaya padamu. Kamu nggak mungkin menyakiti aku"
Wintang langsung memeluk Nora dengan sangat erat dan berkata, "Aku sangat mencintaimu, Nora"
Alhasil, karena keasyikan bermain dominan dan submissive, Nora dan Wintang keluar dari kamar oranye jam delapan malam lebih sedikit.
Dan jam sembilan tepat, mereka duduk berhadapan di meja makan setelah makanan yang mereka pesan tersaji semuanya. Nora terlalu lelah untuk pergi keluar dari kamar dan Wintang langsung menyetujui keputusan Nora untuk makan malam di dalam kamar saja.
Wintang dan Nora menikmati makan malam mereka dengan terus beradu pandang.
"Kenapa menatapku terus?" Nora tersenyum geli ke Wintang sambil mengunyah udang goreng hasil kupasannya Wintang. Wintang dengan penuh kesabaran membuka kulit udang goreng mentega untuk Nora.
Nora berkata, "Terima kasih"
"Selama ini, siapa yang mengupaskan kulit udang untukmu?" Wintang bertanya dan ada semburat kecemburuan di wajahnya.
"Siapa ya enaknya?" Nora berucap dengan senyum jahilnya.
"Nora. Aku serius"
"Hahahaha. Wajah kamu lucu kalau cemburu. Tentu saja asisten rumah tanggaku kalau nggak Mama yang ngupasin. Kalau makan di luar, sendirian aku selalu menghindari udang karena, aku nggak suka mengupas kulitnya"
Wintang mengelap tangannya dengan serbet dan berucap tanpa melepaskan tatapannya dari wajah ayunya Nora, "Dan kenapa kau menatapku terus?"
"Karena kamu ganteng" Sahut Nora dengan senyum seksi menggodanya.
Wintang terkekeh geli, lalu berkata, "Kalau aku tidak melihat gurat lelah di wajah kamu, aku akan mengajakmu bermain lagi"
Nora melebarkan senyumnya dan berkata setelah menyesap anggur merah, "Aku rasa aku butuh tidur panjang setelah ini"
Wintang langsung menggemakan tawanya dan berkata dengan wajah sendu, "Aku sangat mencintaimu, Nora"
Nora memandangi wajah Wintang dengan senyum seksinya, lalu berkata, "Aku juga sangat mencintaimu, Mas"
"Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk memenangkan hati Papa kamu dan setelah Papa kamu menerima aku, aku akan langsung melamar kamu, Nora"
Malam itu, ditutup oleh Nora dan Wintang dengan saling memeluk penuh perasaan cinta yang membuncah.
Mamanya Wintang pulang dari kelab miliknya tepat jam dua belas malam dan mendapati Jenar, istrinya Wintang ketiduran di meja makan. Mamanya Wintang menyentuh pelan bahunya Jenar agar Jenar terbangun. Tepat di saat Jenar terbangun dan menegakkan kepalanya, mamanya Wintang langsung menyemburkan tanya, "Kenapa tidur di sini? Dan kenapa piringnya masih tertelungkup? Wintang nggak mau makan?"
"Mas Wintang, belum pulang, Ma" Sahut Jenar sembari mengusap kelopak matanya dan bangkit berdiri.
"Dan kau belum makan?" tanya mamanya Wintang.
Jenar berbohong, "Belum, Ma" Padahal yang sebenarnya terjadi, dia sudah makan, lalu segera mencuci piring bekas dia pakai dan berakting ketiduran di atas meja makan karena, ia ingin menarik simpati dari mamanya Wintang dan ingin bisa terus tampak baik di depan matanya mamanya Wintang,
Mamanya Wintang menelepon ponselnya Wintang dengan bergumam kesal, "Ke mana anak itu? Udah pergi dari pagi, nggak pamit dan sekarang malah nggak pulang"
Setelah beberapa kali menelepon Wintang dan tidak tersambung, mamanya Wintang memasukkan kembali ponselnya ke dalam dompet dan berkata ke Jenar, "Pergilah ke kamar kamu dan tidurlah! Wintang nggak bisa dihubungi dan semoga dia baik-baik saja"
"Baik, Ma" Jenar lalu berjalan pelan menuju ke kamarnya untuk mengundang rasa iba dari mamanya Wintang dan dia berhasil. Mamanya Wintang menatap punggungnya Jenar dan bergumam lirih, "Kasihan Jenar"
Begitu masuk ke dalam lemari dan menguncinya, Jenar membuang bantalnya ke lantai dan menggeram lirih penuh amarah, "Kalian belum tahu siapa Jenar. Kalian akan merasakan kemarahanku tidak lama lagi"
Keesokan harinya, Wintang bangun pagi-pagi sekali. Dia mencium keningnya Nora dan menuliskan pesan di atas kertas yang tersedia di samping pesawat telepon intern yang pasti selalu ada di dalam kamar hotel. Wintang menuliskan pesan, Kita akan bertemu sebentar lagi, tapi aku sudah sangat merindukanmu. Maaf aku meninggalkanmu sebelum kamu bangun, aku harus mengajar jam delapan pagi.
Wintang kemudian meletakkan kertas di atas nakas dengan ditindih sebatang pensil yang terbuat dari kayu, mencium kembali keningnya Nora cukup lama, dan akhirnya di pergi meninggalkan Nora yang masih tertidur lelap di dalam kamar oranye di sisi rahasia kamar president suite hotel Grand Laco.
Wintang memutuskan untuk mandi di kamar mandi di luar kamar oranye agar tidak menganggu Nora. Di memakai bajunya kembali dan mencium bajunya, "Agak asem juga, ya" Baju Wintang tercium agak asem karena, dia memakai baju yang sama dengan yang kemarin dia pakai. Wintang lalu celingukan dan menemukan botol parfum wanita di sana. Wintang menyemprotkan parfum itu ke seluruh bajunya lalu memakai deodorant-nya sendiri yang selalu ia bawa di dalam tas kerjanya. Wintang mencium kembali bajunya dan tersenyum lebar sembari melangkah keluar dari kamar president suite hotel Grand Laco.
Wintang mencoba mencari terlebih dahulu motornya di parkir. sepeda motor karena, kemarin siang, dia pergi ke hotel memakai mobilnya Nora dan Nora bilang kalau motornya akan diantarkan ke hotel. Wintang tersenyum lega saat ia menemukan motornya dan setelah menepuk dia kali tas selempangnya, dia naik ke atas motor kesayangannya dan melaju menuju ke kampus tempat ia.mengajar.
Banyak mahasiswa dan mahasiswi yang dia ajar adalah mahasiswa dan mahasiswi yang sama dengan yang ia ajar kemarin. Mereka mulai berbisik karena, mereka mencium bau parfum wanita di bajunya Wintang dan mula bertanya-tanya karena, Wintang memakai baju yang sama dengan yang kemarin Wintang pakai. Namun, tidak ada satu pun yang berani bertanya ke Wintang soal itu.
Nora bangun dan menemukan pesan yang ditinggalkan oleh Wintang. Dia tersenyum dan membaca pesan itu berulangkali, lalu mendekap surat itu dengan bergumam, "Mas Wintang romantis juga, ternyata"
Nora lalu bangun dan berjalan keluar dari kamar oranye untuk berenang sejenak karena, ia terbiasa berolahraga di pagi hari sebelum ia memulai aktivitasnya.
Wintang menghela napas panjang setelah ia menyelesaikan kelasnya. Dia bisa merasakan kalau banyak pasang mata menatapnya dengan tanya yang tersirat saat banyak pasang mata itu melihat bajunya. Wintang lalu memutuskan untuk pulang dan begitu sampai di rumah, mamanya langsung menariknya masuk ke dalam kamar mamanya dan langsung mendapatkan interogasi panjang lebar.
"Aku bersama Nora" Sahut Wintang dengan santainya.
"Bagus! Dan kau tidak lupa merekam kebersamaan kalian, kan? Mana rekaman itu?" mamanya wintang menengadahkan tangannya di depan Wintang.
"Nggak ada" Sahut Wintang dengan wajah datar.
"Hah?! Apa kau bilang?" mamanya Wintang tersentak kaget mendengar ucapannya Wintang.
"Aku nggak merekamnya"
"Mama, kan, udah bilang berulangkali, balasan dendam Mama dengan cara merusak masa depannya wanita sialan itu dan merusak nama baik wanita brengsek.........."
"Jangan hina Nora Laco! Aku tidak akan biarkan Mama menyakitinya!"
Plak! Tamparan keras mendarat di pipinya Wintang. Dan Wintang mengusap pipinya dengan kata, "Tampar saja aku! Bunuh saja aku, jika Mama ingin membalas dendam, tapi jangan sentuh Nora Laco?"