A Dominant

A Dominant
Terpesona



Wintang menunggu Nora dengan sangat sabar dan satu jam kemudian, Wintang melihat Nora berlari kecil ke arahnya. Wintang berteriak, "Jangan lari! Kamu pakai high heels!"


Nora berhenti di depan Wintang yang tengah duduk di sebuah bangku yang ada di taman gedung F, dengan terengah-engah. Nora mengulas senyum cantiknya untuk Wintang lalu berkata, "Aku beneran nggak nyangka kamu masih menungguku di sini"


Wintang bangkit berdiri lalu berucap, "Dan aku beneran nggak nyangka kamu bisa berlari kencang dengan high heels setinggi itu" Wintang menurunkan pandangannya ke sepatunya Nora dengan tinggi lima centimeter itu. "Aku yakin tingginya lima centimeter"


Nora langsung menggemakan tawa cantiknya lalu berkata, "Aku sudah terbiasa hidup dengan high heels selama puluhan tahun, jadi jangan khawatirkan aku. Tapi, khawatirkan saja high heelsnya karena ia harus terus bersabar mengikuti kegilaanku"


Giliran Wintang yang menggemakan tawa, lalu ia berkata, "Oke. Lain kali aku akan mengkhawatirkan high heelsnya"


Nora menyelipkan rambutnya ke belakang telinganya dan kembali tertawa.


Wintang tertegun melihat tawa Nora dan berkata di dalam hatinya, cantik banget tawanya. Dia sempurna, sangat sempurna.


"Kita ke mana? Aku sepertinya harus mentraktirmu makan untuk semua kebaikan kamu ke aku hari ini"


"Tergantung ada berapa banyak kebaikan yang harus kamu bayar hari ini" Wintang menaikan kedua alisnya dengan senyum lebar di wajah tampannya.


Nora terkekeh geli dan berkata, "Ada banyak sepertinya. Kamu udah mengantarku ke sini, menungguku dan membuatku terus tertawa dari tadi. Jadi, restoran mana yang akan kita tuju?"


"Kita ke kelasku dulu, apakah kamu tidak keberatan? Emm, itu untuk bayaran karena aku sudah mengantarmu ke sini. Untuk bayaran atas kebaikanku yang lain, barulah kita ke restoran lalu aku ingin menonton milky way lagi denganmu. Impas,kan? Wintang tersenyum penuh arti ke Nora.


Nora tersenyum lebar lalu menganggukkan kepalanya dan berkata, "Oke. Aku milikmu seharian ini"


"Dan aku pria yang sangat beruntung hari ini, bisa memiliki bidadari secantik kamu" Wintang berucap sembari menaiki sepeda motor sportnya.


Nora melompat naik dan langsung berucap saat Wintang mulai melajukan motornya, "Sepeda motor semacam ini sangat cocok untuk seorang playboy"


"Dan aku bukan seroang playboy"


"Lalu kenapa kau punya motor macam ini?"


"Karena kalau menurut aku, motor ini justru akan membuat cewek kapok ikut denganku"


"Kenapa?" Nora memajukan wajahnya ke depan agar suaranya terdengar ke telinganya Wintang karena angin menerpa wajahnya dan membuat suaranya menjauh dari telinganya Wintang.


"Karena, capek. Mbonceng motor semacam ini, membuat cewek merasa pegal. Sadel boncengannya kecil, keras dan lebih tinggi, bikin badan pegal. Benar, tidak?"


Nora tertawa dan berkata, "Iya, kamu benar. Badanku udah mulai pegal nih"


Wintang tertawa dan berkata, "Itulah kenapa aku beli motor macam ini agar cewek kapok aku boncengin"


"Tapi, aku nggak kapok" Nora berbicara di samping helmnya Wintang dengan suara manja.


Deg! Jantung Wintang berdetak kencang saat itu juga dan Wintang langsung diam membisu.


Dan Nora tersenyum lebar karena ia bisa merasakan ucapannya telah memberikan pengaruh yang spesial.


Nora melompat turun dan menatap gedung di depannya, "Fakultas Ilmu dan Keguruan. Kamu kuliah Jurusan ini? Kamu ingin jadi guru atau dosen?"


Wintang tersenyum lebar sambil turun dari motor sportnya. Lalu tanpa menjawab pertanyaannya Nora, dia mengajak Nora masuk ke dala. gedung.


Nora menoleh ke Wintang sambil berjalan mengiringi langkahnya Wintang, lalu bertanya, emangnya aku boleh ikut masuk? Aku, kan, bukan mahasiswi di sini?"


"Boleh" Sahut Wintang.


Nora dan Wintang melangkah masuk ke dalam sebuah ruangan kelas yang cukup besar. Bahkan lebih besar dari auditorium di gedung F yang dipakai untuk rapat para pemegang saham.


Wintang mempersilakan Nora duduk di bangku paling depan, lalu dia melangkah ke depan, meletakkan tas selempangnya di kursi, lalu mengeluarkan laptop dari dalam tas itu dan menyiapkan semua alat penunjang mengajar yang ada di atas meja.


Nora menautkan alisnya dan bergumam lirih, "Dia mahasiswa teladan. Sebelum dosen datang, dia siapkan semua alat pengajar dosennya"


Beberapa menit kemudian, ruangan itu menjadi penuh dan Wintang membuka suara, "Selamat siang, Students. How are you today?"


Nora langsung ternganga dan bergumam, "What?! Dia dosen pengajarnya?"


Seorang siswi yang duduk di belakangnya Nora menyentuh pundaknya Nora dan berbisik, "Iya benar. Pak Wintang Devoss adalah dosen terpopuler di sini karena, kepandaiannya dalam mengajar dan karena, Pak Wintang sangat seksi dan tampan. Saya pun sangat menyukai kepala botaknya dan badannya yang seksi"


"Ehem!" Nora langsung berdeham kencang karena kesal. Entah kenapa ia merasa kesal ada seorang wanita yang memuji Wintang.


Nora mengamati Wintang dan terpesona dengan gaya santainya Wintang di dalam mengajar. Dan beberapa kali Nora mengulum bibir menahan senyum melihat Wintang sesekali menoleh ke arahnya dan memberikan tatapan singkat, namun terkesan penuh arti untuknya.


Ah, sial! Kenapa pria ini membuat hatiku kembang kempis tidak karuan kayak gini. Baru kali ini aku merasakan dadaku sesak seperti ini karena seorang pria. Batin Nora.


Hana mengompres kepalanya Ares yang demam sambil berucap, "Kenapa Mas nggak bilang kalau Pak Handoko dan Mbak Wulan cuti karena, Mbak Wulan ngidam parah di kehamilan anak kedua mereka?"


"Aku nggak ingin kamu kepikiran. Lagian aku bisa menangani sendiri semua urusan dan ........"


" Jatuh sakit kayak gini" Sambung Hana dengan wajah merengut.


Ares meringis sambil menggelungkan kedua lengannya di pinggang rampingnya Hana lalu berucap, "Sakit sedikit. Bentar juga sembuh. Lihat senyuman kamu pasti sembuh"


"Mulai deh lebaynya. Kalau gitu, mulai besok aku akan jadi asisten pribadi kamu menggantikan Pak Handoko"


Ares menggelengkan kepalanya, "Nggak. Aku nggak mau kamu kecapekkan. Aku bisa kok ngurus sendiri semuanya. Lagian ada Nora Dan kalau kamu bantuin aku, klinik kamu gimana?"


"Klinik bisa aku urus secara online. Dan Nora kan, khusus berkecimpung di bidang pangan dan pendidikan. Lalu urusan di bidang eletronik, alat medis dan properti? Kalau kamu nggak ijinkan aku kerja membantu kamu mulai besok, maka nanti malam tidur sendiri" Hana mulai bersedekap dengan wajah manyun.


Ares mengangkat wajah dan mengecup bibir manyunnya Hana, lalu menghela napas panjang dan berucap, "Oke. Mulai besok sampai Handoko dan Wulan masuk kerja kembali, kamu adalah asisten pribadiku"


Hana lalu tersenyum lebar, "Nah, kalau nurut kan, cakep. Aku cuma nggak ingin kamu jatuh sakit lagi, Mas"


Giliran Ares yang manyun. Ares sebenarnya nggak rela kecantikan Hana akan ia pamerkan ke kolega-kolega dan klien-kliennya kalau Hana menjadi asisten pribadinya, namun dia juga tidak mau tidur sendirian, jadi dengan sangat terpaksa ia menyetujui permintaannya Hana.